"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
"Clubing, Wa?"
Dewa menggeleng. "Gue pulang aja."
"Tumben." Luky sedikit heran. Dewa yang biasa ada masalah lari ke kelab malam, kini justru memilih pulang. "Nggak mungkin kan karena sekarang di rumah ada Rea?"
Dewa berhenti dari mengisap rokok. Ia menatap sang manager tajam. "Gue capek."
Dewa mematikan rokoknya ke dalam asbak. Lalu berdiri mengambil jaket yang ia letakkan di sandaran kursi. Melenggang pergi begitu saja dari Luky.
Ia tahu Dewa ada masalah, pertemuan di cafe ini pun terjadi untuk membahas hal itu. Dewa sudah cerita semua ke Luky, sebagai manager ia harus tahu masalah yang akan menyangkut karir artisnya. Membicarakan untuk mencari solusi bersama.
Dewa segera mengemudikan mobilnya pulang. Tengah malam ia sampai di rumah.
"Mami kok belum tidur?" Sedikit terkejut saat Dewa masuk dan melihat maminya masih sendiri di atas kursi roda. Menunggu di ruang tamu.
"Mami nunggu kamu pulang."
"Kenapa harus ditunggu? Dewa udah gede, Mi." Dewa seolah protes, tapi jujur ia senang saat pulang dan mendapati maminya menunggu. Dewa langsung memeluk maminya.
Rasa haru tiba-tiba menyeruak, tat kala ingat bagaimana perjuangan maminya membesarkannya seorang diri. Menjadi single mother yang tak mudah. Tapi mereka berdua berhasil melewati semua, sampai Dewa ada di titik ini sekarang. Secara materi, Dewa lebih dari cukup untuk menjamin kehidupan maminya ke depan.
"Lain kali Mami nggak usah nunggu Dewa. Kan ada Bi Narti."
Dewa langsung teringat jika penghuni rumah ini bertambah satu. "Ada Rea, juga. Biar Rea aja yang nunggu Dewa. Mami istirahat aja."
"Kamu nggak boleh gitu, Rea udah capek seharian. Setelah konferensi pers, ia sibuk sama Narti beres-beres rumah. Belum lagi ngurusin Mami. Biar dia istirahat."
Dewa mengernyit. Sedikit heran dengan ibunya yang begitu perhatian dengan Rea. Selama ini setiap kali Dewa digosipkan dengan artis wanita, Maminya selalu bilang tidak setuju jika Dewa punya hubungan dengan wanita yang tengah digosipkan itu. Selalunya mewanti-wanti Dewa agar memilih pasangan yang tepat. Berbanding terbalik saat ia mengenalkannya pada Rea. Sang ibunda langsung sreg dan bilang kalau Rea itu jodoh yang tepat buat Dewa.
Dewa menatap ibunya, lalu menarik napas perlahan. Terbetik rasa bersalah karena telah membohongi wanita yang sudah melahirkannya itu. Kalau saja maminya tahu pernikahan ini hanya pura-pura, pasti maminya akan sangat kecewa.
"Kamu kenapa, Wa, kok bengong?"
Dewa tersenyum samar, mengaburkan kegelisahan yang mendadak terlintas. "Enggak ada apa-apa, Mi. Dewa cuma mikir aja, kok Mami bisa sih langsung suka gitu sama Rea. Bahkan sekarang perhatian banget?"
Yunita tersenyum juga. "Karena dari semua wanita yang dekat sama kamu, cuma Rea yang Mami rasa baik buat kamu. Dari pertama kali ketemu, Mami lihat dia tulus sama kamu. Semakin kenal, Mai merasakan ketulusannya juga dalam merawat Mami. Apa lagi sekarang udah jadi mantu, Rea tuh telaten banget merawat Mami."
Yunita dengan semangat menceritakan kebaikan Rea.
"Wa, kamu jaga Rea baik-baik, ya. Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga, harus kalian hadapi sama-sama. Tidak ada rumah tangga yang tanpa ujian. Semua rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing, jadi tetaplah bersama untuk menghadapinya. Jaga Rea."
Dewa tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk mengiyakan. Ia hanya menepuk punggung tangan Yunita yang ada di sandaran kursi roda.
"Udah malem, Mami istirahat, ya? Dewa anter ke kamar."
Yunita mengangguk. Dan Dewa pun mendorong kursi roda Yunita ke kamar wanita itu.
"Istirahat ya, Mi, Dewa juga mau istirahat." Dewa mencium kening ibunya sebelum keluar kamar.
Ia naik ke kamarnya yang ada di lantai dua. Begitu pintu terbuka, ia lihat Rea tengah tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Dewa mendekat. Memperhatikan Rea dengan jarak yang sangat dekat. Ia tersenyum penuh ironi. Gadis yang terbaring di sofa kamarnya ini adalah istrinya, istri yang ia nikahi bukan karena cinta. Namun, ternyata mampu mencuri hati maminya.
Tangan Dewa terulur, menyingkirkan rambut panjang Rea yang jatuh menutupi wajah gadis itu. Semakin lekat ia menatap wajah mulus Rea. Tak menyangka kalau akhirnya ia punya istri. Padahal selama ini ia memilih untuk tidak menikah.
Bukan tanpa alasan. Masa lalu membuatnya tak percaya dengan pernikahan. Ia lebih memilih tanpa ikatan. Bebas, dan tak terikat tanggung jawab, yang akhirnya bisa melukai satu sama lain.
Nyatanya Tuhan punya kehendak lain. Ia menikah, dengan gadis yang baru ia kenal dalam waktu singkat. Dewa tak percaya jika ini jodoh. Ia hanya yakin kalau hubungan ini hanyalah simbiosis mutualisme. Rea butuh uang, dan ia butuh status.
Rea melenguh dalam tidurnya. Menggerakkan tubuh hingga satu kancing atas piyama gadis itu terbuka.
Dengan sadar Dewa melihat bagian atas tubuh Rea yang terbuka. Ia pikir reaksinya akan sama saja. Ini bukan pertama kali ia melihat bagian tubuh wanita. Fashion di dunia selebriti membuat ia sering kali melihat wanita dengan bagian atas tubuh yang terbuka.
Tapi, tidak dengan kali ini. Tubuh Dewa memberikan reaksi yang berbeda. Ia sampai menelan ludah saat melihat tubuh Rea.
"Please, Dewa, Rea nggak menarik sama sekali," batinnya berusaha mendistrak pikiran liar Dewa.
"Enggak, Dewa. Rea nggak buruk sama sekali, coba lihat deh. Rea cantik." Entah suara dari mana, seolah membujuk Dewa untuk bisa memuaskan h*srat yang muncul tiba-tiba.
"Jangan Dewa, jangan rusak Rea. Lo akan kembalikan dia dalam keadaan utuh dan tersegel aman. Sesuai janji lo sebelumnya."
"Dia istri lo, Dewa. Istri yang sah di mata hukum dan agama. Kalau lo cerai, orang tetap akan menganggap statusnya janda. Biar lo campuri dia atau enggak, tetep sama statusnya. Janda! Lagian, siapa juga yang bakal percaya kalau setelah cerai Rea masih per*wan. Kalau dia masih perawan saat cerai, pasti lo yang diragukan."
Kalimat terkahir sangat mengusik Dewa. Bagaimana mungkin Rea masih perawan saat nanti bercerai. Apa kata orang-orang kalau tahu? Bisa-bisa dia dianggap lemah, atau justru dianggap belok.
"Udahlah Dewa, sama-sama jadi janda mendingan lo pakai aja. Dari pada nama lo yang dipertaruhkan."
"Jangan Dewa, Rea gadis baik-baik. Jangan hancurkan dia hanya karena n*fsu sesaat kamu!"
Dua suara dalam hati Dewa seolah bertarung untuk mempengaruhi Dewa.
"Berisik!" teriak Dewa.
Membuat Rea terhenyak dari tidurnya. Ia mengerjap. Menatap Dewa yang ada di sampingnya. "Mas Dewa, ada apa?"
"Enggak ada apa-apa, kok. Maaf, udah bikin lo bangun. Lo tidur lagi aja gue cuma lagi latihan akting," jawab Dewa salah tingkah.
"Oh ...." Rea mengangguk paham. Ia kembali merebahkan diri, tapi mendadak ingat jika sofa ini tempat tidur Dewa.
Rea langsung bangun, berniat pindah ke ranjang.
"Mau ke mana?"
"Pindah, Mas. Mas Dewa mau tidur, kan?"
Rea langsung berdiri. Begitu pun Dewa. Baru juga akan melangkah, kaki Rea justru tersandung kaki Dewa yang membuatnya langsung jatuh kembali ke sofa. Saking paniknya ia cari pegangan apa saja yang bisa ia raih, dan itu adalah Dewa.
Alhasil, ia jatuh bersamaan dengan Dewa yang tak siap jadi pegangan.
"Argh!" pekik Rea dan Dewa begitu jatuh. Dewa jatuh tepat di atas tubuh Rea. Menind*h gadis itu dengan keras karena tak siap.
"Maaf, Mas," ujar Rea yang sadar telah membuat Dewa jatuh.
Berbeda dengan Rea yang merasa bersalah, Dewa justru merasa ini jawaban takdir dari semua perang suara di hatinya.
Tatapan mata Dewa tertuju pada bibir merah muda Rea. Tanpa ijin dan permisi, Dewa mengecup lembut bibir gadis itu.
Kontan Rea memberontak. Tapi Dewa lebih berkuasa. Dari sebuah kecupan, Dewa justru merubahnya menjadi pagutan.
Rea tak berteriak, tapi ia terus berusaha lepas. Ini sudah melenceng dari pernjanjian.
Dewa tak berhenti, ia terus kembali menyerang bibir Rea, sampai turun ke leher gadis itu.
Saat itulah, kesempatan Rea bicara. "Mas Dewa ...."
Dewa berhenti dari apa yang ia lakukan. Menatap mata Rea yang berkaca-kaca.
"Jangan teruskan ...."