NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9:Luka di balik kemilau

Sore itu, mansion keluarga Wiraguna tampak sangat sunyi meskipun ada lima pelayan yang berlalu-lalang. Arlan baru saja sampai di rumah setelah sekolah. Ia melempar tasnya ke atas sofa kulit asli yang harganya ratusan juta, lalu merebahkan diri dengan mata menatap langit-langit yang dihiasi lampu kristal.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Lulu.

Lulu: Arlan, makasih ya buat makan siangnya tadi. Aku udah siap-siap buat acara pameran nanti sore. Aku nggak sabar ketemu kamu lagi.

Arlan menatap pesan itu dengan datar. Tidak ada senyum. Tidak ada debaran. Baginya, pesan Lulu hanyalah bukti bahwa rencananya berjalan sempurna. Ia baru saja akan membalas dengan kata-kata manis yang sudah ia siapkan, ketika suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga.

Tuan Wiraguna turun dengan setelan jas seharga ribuan dolar, tampak sangat otoriter.

"Jangan mempermalukan saya nanti sore, Arlan," ujar ayahnya tanpa menoleh, sambil merapikan jam tangan mahalnya. "Relasi dari Singapura akan datang. Kalau kamu masih terlihat seperti anak remaja bodoh yang cuma tahu hura-hura, saya akan tarik semua fasilitas kamu, termasuk mobil BMW itu."

Arlan berdiri, mencoba menjaga posturnya agar tetap tegak. "Aku tahu, Pa. Aku sudah siapkan semuanya."

"Termasuk gadis itu?" ayahnya berhenti melangkah dan menatap Arlan dengan tajam. "Saya dengar kamu membawanya ke kafe langganan rekan saya kemarin. Apa kamu sudah gila? Memamerkan gadis kelas bawah seperti itu?"

Arlan menelan ludah. Egonya terluka, tapi ia terlalu takut pada ayahnya. "Itu strategi, Pa. Dia anak terpintar di sekolah. Aku menggunakannya untuk mengerjakan beberapa proyek kompetisi agar nama keluarga kita tetap harum di bidang akademik. Papa tenang saja, aku tahu cara membuang sampah kalau sudah tidak terpakai."

Tuan Wiraguna hanya mendengus, lalu berjalan pergi tanpa sepatah kata penyemangat pun.

Di dalam kamar mandinya yang luas, Arlan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia membenci perasaan tidak berdaya ini. Setiap kali ia ditekan oleh ayahnya, ia merasa harus menekan orang lain agar ia merasa "berkuasa" kembali. Dan hari ini, korbannya tetap sama: Lulu.

Pukul empat sore, Arlan menjemput Lulu. Seperti janjinya, ia bersikap sangat gentle. Ia membawakan sebuah kado kecil untuk Lulu.

"Ini buat kamu, Lu. Pakai ya buat acara nanti sore," Arlan memberikan sebuah kotak kecil.

Lulu membukanya dengan mata berbinar. Isinya adalah sebuah gaun satin berwarna nude yang sangat elegan dan mahal. "Ini... ini terlalu bagus, Arlan. Aku nggak pantes pake ini."

"Kamu pantes dapet apa aja, Lu. Apalagi setelah kamu setuju buat lepas kacamata pas sesi foto nanti. Kamu nggak tahu betapa itu berarti buat aku di depan Papa," ucap Arlan sambil menggenggam tangan Lulu, memberikan rasa aman yang palsu.

Sesampainya di acara pameran mobil mewah, Lulu merasa seperti ikan yang keluar dari air. Semua orang di sana tampak begitu berkilau, begitu berkelas. Arlan terus merangkul pinggang Lulu, memperkenalkannya kepada beberapa orang sebagai "temannya yang sangat spesial".

Lulu merasa bangga. Ia merasa Arlan sedang melindunginya. Namun, saat sesi foto keluarga dan relasi dimulai, Arlan berbisik dengan sangat lembut di telinga Lulu.

"Lu, inget janji kita? Lima menit tanpa kacamata?"

Lulu mengangguk. Ia melepas kacamatanya dan memberikannya pada Arlan. Seketika, pandangannya menjadi buram. Kilatan lampu kamera (flash) mulai menyambar-nyambar, membuat matanya yang sensitif terasa perih. Lulu mencoba tersenyum, meski ia tidak tahu ke arah mana ia harus melihat.

"Jangan goyang, Lu. Tetap di situ," perintah Arlan yang kini berdiri sedikit menjauh darinya untuk berfoto bersama ayahnya dan relasi lainnya.

Lulu berdiri sendirian di tengah ruangan yang buram. Ia tidak bisa melihat bahwa Arlan dan ayahnya sedang tertawa bersama rekan bisnis mereka, sementara ia ditinggalkan mematung seperti properti pajangan.

Tiba-tiba, seorang pelayan yang membawa nampan minuman tidak sengaja menyenggol Lulu. Karena tidak bisa melihat dengan jelas, Lulu kehilangan keseimbangan.

BYUR!

Minuman berwarna merah tumpah ke gaun satin barunya. Lulu tersentak, ia mencoba mencari pegangan tapi ia justru menabrak salah satu replika mesin mobil yang dipajang.

"Aduh!"

Suara keributan itu membuat seluruh ruangan menoleh. Lulu panik. Di tengah penglihatannya yang kabur, ia hanya bisa mendengar suara bisikan-bisikan orang kaya yang menghinanya.

"Siapa sih itu? Kok ceroboh banget?"

"Pacarnya Arlan ya? Kok penampilannya aneh banget tanpa kacamata?"

Lulu meraba-raba sekitarnya, air mata mulai jatuh. "Arlan... Arlan, kamu di mana?"

Arlan berdiri tidak jauh dari sana. Bukannya menolong, ia justru merasa sangat malu. Ia melihat ayahnya menatapnya dengan pandangan "Saya sudah bilang, dia cuma sampah".

Ego Arlan meledak. Ia merasa dipermalukan di depan relasi penting ayahnya. Ia berjalan menghampiri Lulu, tapi bukan untuk memeluknya.

"Lu! Kamu ngapain sih?!" bentak Arlan, kali ini suaranya tidak lembut lagi. "Gini aja nggak bisa? Kamu bener-bener bikin malu aku di depan Papa!"

Lulu tertegun. Suara bentakan Arlan terasa lebih tajam daripada pecahan gelas. "Maaf, Arlan... aku nggak liat tadi..."

Arlan menarik kasar tangan Lulu, membawanya keluar dari ruangan pesta tanpa peduli Lulu yang kesulitan berjalan karena penglihatannya buram. Di parkiran yang sepi, Arlan melempar kacamata Lulu ke pangkuan gadis itu setelah mereka masuk mobil.

"Pake! Pake kacamata sialan kamu itu!" teriak Arlan. "Gue pikir lu pinter, ternyata lu cuma cewek cupu yang nggak bisa diajak ke tempat bener!"

Lulu memakai kacamatanya dengan tangan gemetar. Begitu dunianya kembali jelas, ia melihat wajah Arlan yang merah padam karena marah. Arlan yang gentle tadi siang sudah hilang. Yang ada hanyalah monster narsistik yang terluka egonya.

"Arlan, maaf... tadi ada yang nyenggol aku..."

"Diem, Lu! Jangan banyak alasan! Harusnya gue dengerin kata Papa kalau lu itu cuma bakal ngerusak reputasi gue!" Arlan memukul setir mobilnya dengan keras.

Lulu menangis sesenggukan. Ia tidak marah pada Arlan. Ia justru merasa sangat bersalah karena telah menjadi "beban" bagi Arlan yang "sempurna". Ia menatap gaun mahalnya yang kotor, merasa dirinya memang tidak pantas berada di dunia Arlan

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!