NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan dan Audisi

Hari-hari menjelang awal bulan berlalu begitu cepat.

Jadwal latihan Mireya padat sampai nyaris tidak memberi ruang untuk bernapas.

Pagi hingga sore di gedung agensi.

Malam kembali ke penthouse dengan naskah di tangan.

Kadang bahkan sambil makan pun matanya masih menelusuri dialog.

Bibirnya komat-kamit pelan.

Menghafal.

Mengulang.

Menghafal lagi.

Sampai suatu malam—

“Mireya.”

Suara Zevran membuatnya tersentak.

Ia mengangkat kepala dari meja makan.

Di depannya, Zevran berdiri sambil membawa segelas air hangat dan obat pereda pusing.

“Kamu belum tidur?”

Mireya berkedip.

“Masih latihan…”

Zevran melirik lingkaran samar di bawah matanya.

Tatapannya sedikit menyipit.

“Kamu kelihatan lelah.”

Ia meletakkan obat itu di samping naskah.

“Minum.”

Mireya menatapnya sebentar.

Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.

“Terima kasih…”

Sejak saat itu, perhatian kecil itu mulai muncul semakin sering.

Kalau Mireya terlalu lama menatap naskah sampai matanya merah—

Zevran akan meletakkan teh hangat di dekatnya.

Kalau ia lupa makan—

Zevran akan mengetuk pintu kamarnya.

“Ayo makan.”

Tidak ada pilihan.

Nada suaranya datar seperti biasa.

Namun anehnya—

Mireya mulai terbiasa.

Bahkan lelaki itu yang biasanya suka menggoda dengan soal matematika kecil—

benar-benar berhenti.

Tak ada lagi soal,

“berapa total harga ini?”

atau

“coba hitung cepat.”

Karena dia melihat sendiri.

Mireya benar-benar serius.

Sampai kadang tertidur di sofa sambil memeluk naskah.

Zevran yang baru pulang larut malam hanya berdiri di ambang pintu, memandangnya cukup lama.

Lalu pelan-pelan mengambil selimut dan menyelimutinya.

“Hm.”

Gadis ini benar-benar keras kepala.

Kadang saat melihat Mireya terlalu tegang, Zevran akan tiba-tiba berkata,

“Ayo pergi.”

Mireya yang masih memegang naskah langsung mengangkat kepala.

“Hah?”

“Makan di luar.”

“Aku… masih latihan.”

Zevran menghela napas pendek.

“Kalau otakmu terus dipaksa bekerja, nanti rusak seperti kaset tua.”

Mireya langsung menatapnya tidak percaya.

“Kamu nyebut aku kaset rusak?”

“Kalau kamu terus latihan tanpa henti, iya.”

Lalu tanpa menunggu protes lagi—

ia mengambil kunci mobil.

“Ayo.”

Restoran.

Kafe kecil dengan pemandangan malam ibukota.

Atau sekadar dessert shop yang tenang.

Kadang hanya makan malam sederhana.

Kadang sekadar duduk sebentar sambil melihat lampu kota.

Zevran tidak banyak bicara.

Namun justru itu membuat kepala Mireya terasa lebih ringan.

Fresh.

Lebih tenang.

Dan tanpa sadar—

Mireya mulai menunggunya.

Setiap malam.

Sebelum makan malam, ia sering berdiri di dekat pintu masuk.

Menoleh ke arah lift pribadi.

Belum pulang?

Masih lama?

Kadang ia duduk di sofa sambil melihat jam.

Kadang bahkan mengirim pesan.

{Masih lama tah pulangnya?}

Beberapa menit kemudian balasan masuk.

{Sedang di jalan. Jangan tidur dulu kalau belum makan.}

Jantung Mireya menghangat aneh.

Tanpa sadar senyumnya muncul.

Bibi dapur sampai terkekeh pelan.

“Neng ayeuna sering nungguin A’ Zevran, nya?”

Mireya langsung tersedak.

“E-enggak, Bi!”

“Cuma nanya…”

Bibi cuma tersenyum penuh arti.

...****************...

Dan inilah hari yang ditunggu-tunggu.

Hari audisi akhirnya tiba.

Sejak pagi Mireya sudah terbangun.

Bukan karena alarm.

Tapi karena jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat.

Hari ini.

Hari ini benar-benar dimulai.

Ia duduk di depan meja rias kamar barunya, menatap bayangannya di cermin.

Semalam ia bahkan sudah memakai masker wajah, essence, dan beberapa perawatan lain yang direkomendasikan Kak Rhea.

Ia tidak ingin terlihat lelah.

Tidak ingin wajahnya tampak kusam.

Tidak boleh ada lingkar mata yang mengganggu ekspresinya.

Hari ini wajahnya harus segar.

Matanya harus hidup.

Ia mengingat kembali ucapan Zevran saat makan malam tadi.

“Jaga dirimu sendiri.”

“Karier tidak akan berarti kalau tubuhmu tumbang duluan.”

Nada suaranya memang tetap datar.

Tetap seperti sedang membicarakan laporan kerja.

Namun entah kenapa— kata-kata itu terus terngiang di kepala Mireya.

Dan seperti biasa, ia hanya mengangguk sambil menahan senyum kecil.

Setelah berpakaian rapi, ia segera turun dengan naskah yang masih dipeluk erat di dada.

Bibi sudah menyiapkan sarapan.

“Neng, makan dulu atuh, jangan tegang begitu.”

Mireya tertawa kecil.

“Iya, Bi…”

Meski begitu, sendok di tangannya bergerak lebih cepat dari biasanya.

Tidak tenang.

Pikirannya sudah lebih dulu berada di ruang audisi.

Tak lama kemudian—

ting.

Suara lift pribadi terdengar.

Terminal di ruang tamu menyala.

Notifikasi kedatangan kendaraan.

Mata Mireya langsung membesar.

“Kak Rhea!”

Ia hampir saja bangkit terlalu cepat dari kursinya.

Bahkan napasnya ikut memburu.

Tanpa sadar langkahnya berubah menjadi lari kecil menuju pintu.

Sandal rumahnya nyaris terlepas saat ia terburu-buru masuk ke lift.

Akhirnya.

Akhirnya hari ini datang juga.

Pintu lift terbuka.

Dan di sana, Rhea sudah berdiri dengan setelan rapi, tangan menyilang di dada.

Melihat Mireya yang datang dengan wajah penuh semangat, wanita itu mengangkat alis.

“Wah.”

“Semangat sekali.”

Mireya tersenyum lebar.

Matanya berbinar.

“Karierku dimulai hari ini.”

Rhea menatapnya beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Bukan dimulai.”

“Ini adalah langkah pertamamu untuk merebut kembali apa yang hampir dirampas orang lain.”

...****************...

“Jangan gugup.”

Suara Rhea terdengar tegas di sampingnya.

Mobil baru saja berhenti di depan gedung audisi yang megah.

“Jangan biarkan emosimu rusak hanya karena melihat banyak orang.”

Rhea menatap Mireya lurus.

“Tetap tenang.”

“Pikirkan satu hal saja.”

“Bahwa hari ini kamu datang untuk memberikan yang terbaik.”

Mireya menarik napas dalam.

Lalu mengangguk.

“Iya, Kak.”

Begitu pintu gedung terbuka—

Mireya langsung terpaku.

Rame.

Rame banget.

Astaga.

Rasanya seperti pasar induk.

Orang-orang memenuhi ruang tunggu audisi. Bahkan hingga keluar dari ruang tunggu nya.

Suara obrolan, tawa, langkah kaki, bahkan suara pembacaan dialog bercampur jadi satu.

Beberapa trainee sedang latihan ekspresi di depan cermin.

Beberapa lagi membaca novel asli sambil menghafal adegan favorit.

Ada yang datang dengan stylist.

Ada yang membawa manager.

Ada pula yang sudah memakai kostum trial untuk lebih mendalami karakter.

Mireya menelan ludah.

novelnya memang sebesar ini ya…

Wajar.

Adaptasi Anak Emas Dewa Menjadi Iblis Batu memang sedang sangat dinanti.

Fandom-nya besar.

Bahkan perang kapal antar istri sudah terkenal di forum.

Area paling penuh adalah tiga karakter utama wanita.

Di layar hologram terpampang daftar peran. sebagai penanda kalau gedung ini sedang membuka audisi besar besaran.

Paling ramai :

tunangan politik

putri bangsawan, aura kerajaan, calon permaisuri vibes

teman masa kecil

lembut, cinta pertama, favorit pembaca

gadis yang pernah dia tolong

loyal, setia, tipe “ride or die”

Di area itu antreannya sampai memanjang.

Hampir seratus orang.

Benar-benar sengit.

Area kedua tak kalah penuh.

ketua sekte perempuan

putri klan naga

mantan musuh

penyihir kerajaan

Para peserta di sini juga terlihat kuat auranya.

Beberapa bahkan sudah terkenal sebagai aktor senior.

Lalu area berikutnya.

assassin yang jatuh cinta

tabib suci

ratu iblis

Yang ini tidak kalah penting.

Semua punya fandom besar.

Sementara area terakhir lebih tenang.

putri negeri es

roh penjaga batu

jenderal wanita

wanita misterius dari kehidupan sebelumnya

Tetap ramai.

Tapi tidak sepadat yang lain.

Dan akhirnya—

Mireya menatap layar bagian paling bawah.

Aurelia Veyna – istri ke-11

Jumlah peserta:

3 orang

Ia terdiam.

Sedikit.

Benar-benar sedikit.

Rhea di sampingnya mendecih.

“Wajar.”

“Karakter ini dibenci.”

“Banyak orang tidak mau mengambil risiko.”

Mireya justru menggenggam naskahnya lebih erat.

Baginya—

ini kesempatan.

Namun belum sempat ia bicara—

terminal milik Rhea berbunyi.

ting.

Wajah wanita itu langsung berubah.

Sedikit tegang.

Mireya melirik.

“Kak?”

Rhea menghela napas.

“Sial.”

“Salah satu artis yang kupegang sedang kena masalah.”

“Sepertinya aku harus ke tempat nya sekarang.”

Mireya langsung mengerti.

Rhea memang bukan hanya mengurus dirinya.

Ia punya artis-artis besar lain.

Mireya tersenyum lembut.

“Kak, kalau sibuk pergi dulu aja.”

“Aku bisa nunggu sendiri.”

Rhea langsung menoleh.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Nanti kalau audisi ku selesai aku telepon.”

Rhea menatapnya beberapa detik.

Lalu akhirnya mengangguk.

“Jaga diri baik-baik.”

“Jangan mudah terpancing.”

Kalimat itu terasa seperti firasat.

Mireya mengangguk.

“Iya, Kak.”

Dan akhirnya ia ditinggal sendiri di pojok ruang tunggu.

Tak lama kemudian—

suara heels seseorang mendekat.

Tap.

Tap.

Tap.

Mireya menoleh.

Dan matanya langsung membesar.

Luna.

Rambutnya ditata sempurna.

Makeup flawless.

Aura percaya diri memenuhi sekelilingnya.

Di dadanya tertempel papan peserta audisi.

Dan semua peserta audisi diwajibkan mendaftar awal untuk memilih peran mana yang mereka inginkan, dan semua itu akan terlihat di hologram yang ada di atas kepala mereka dengan sebuah alat.

Roh Penjaga Batu

Ah.

Jadi dia mengambil peran itu.

Karakter yang terkenal paling cantik.

Sering dipuji fandom hanya karena “diam pun cantik”.

Salah satu karakter wanita paling digilai.

Luna menatap Mireya dari atas ke bawah.

Lalu tersenyum tipis.

“Oh?”

“Kamu juga datang?”

Senyumnya tajam.

“Ambil peran mana?”

Saat melihat daftar peran Mireya—

matanya sedikit terangkat.

“Istri ke-11?”

Lalu tawanya kecil keluar.

“Pantas.”

“Memang cocok buat karakter yang dibenci.”

...****************...

Tap.

Tap.

Tap.

Luna berhenti tepat di depan kursi Mireya.

Tatapannya menyapu dari atas ke bawah.

Bibirnya terangkat tipis, penuh ejekan.

“Oh ya…”

Seolah baru teringat sesuatu, Luna memiringkan kepala.

“Aku baru sadar.”

“Kenapa kamu bisa muncul di sini?”

Mireya mengangkat wajah.

Alis Luna terangkat lebih tinggi.

“Bukannya kamu sudah dipecat?”

Kalimat itu seperti jarum tipis yang menusuk.

Beberapa orang di sekitar langsung menoleh.

Bisik-bisik kecil mulai terdengar.

Mireya menegang, namun tetap berusaha menjaga wajahnya tenang.

Luna tersenyum puas melihat reaksinya.

“Jangan bilang…”

“kamu bahkan tidak mampu membayar penalti kontrak di agensi lama?”

Nada suaranya dibuat pelan, tapi cukup keras untuk didengar orang-orang sekitar.

“Oh, atau mungkin kamu diusir?”

Tawanya lirih.

“Kasihan sekali.”

Ia melirik ke kanan dan kiri, memastikan ada orang yang mendengar.

“Mana manajer mu?”

“Murah sekali sampai meninggalkan artisnya sendirian di tempat audisi?”

Luna lalu menatap layar hologram di atas kepala Mireya.

Tatapannya jatuh pada nama karakter.

Aurelia Veyna – istri ke-11

Ia tertawa lagi.

Kali ini lebih terang-terangan.

“Serius?”

“Kamu datang jauh-jauh hanya untuk audisi karakter ini?”

Senyumnya berubah jadi seringai tipis.

“Karakter yang setiap muncul dihujat pembaca?”

“Yang selalu dibilang pengkhianat?”

“Kalau kamu hanya bisa berakting untuk peran jelek seperti ini…”

Luna mendekat sedikit.

Lebih rendah.

Lebih menusuk.

“…lebih baik kamu tidak usah masuk lagi ke dunia hiburan.”

Mireya menggenggam naskahnya erat.

Namun matanya tetap lurus.

Luna melanjutkan.

“Kamu memang tidak pernah berguna.”

“Dulu hanya jadi figuran.”

“Sekarang bahkan audisi pun memilih karakter yang dibenci.”

Ia tertawa kecil.

“Benar-benar cocok.”

Lalu Luna mengibaskan rambutnya dengan anggun.

“Sudahlah.”

“Aku pergi dulu.”

“Antrian ku masih panjang, lebih baik aku menghafal lebih banyak dialog daripada mengurusi wanita sepertimu.”

Ia menatap daftar karakter miliknya dengan bangga.

Roh Penjaga Batu

“Peran putri ke-13 sudah pasti milikku.”

Tatapannya kembali jatuh pada Mireya.

“Karakter tercantik di novel.”

“Setidaknya aku tahu harus memilih peran yang punya nilai.”

Tap.

Tap.

Tap.

Luna berjalan pergi.

Meninggalkan Mireya sendirian di sudut ruang tunggu.

Namun yang tidak Luna ketahui— peran itu justru pernah disarankan Rhea untuk Mireya.

Karakter cantik.

Elegan.

Disukai fandom.

Pilihan aman.

Pilihan yang lebih mudah untuk comeback.

Tapi Mireya menolak.

Karena setelah membaca novel asli—

ia tahu.

Karakter yang paling berbobot…

bukan istri ke-13.

Melainkan—

istri ke-11.

Wanita yang dibenci semua orang.

Wanita yang tidak pernah diberi kesempatan menjelaskan dirinya.

Mireya menunduk, menatap naskah di tangannya.

Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat.

“Kalau begitu…”

“aku akan membuat mereka melihatnya.”

...****************...

Di dalam ruang audisi—

suasananya jauh lebih tegang.

Ruangan lebar dengan lampu putih terang.

Di depan terdapat meja panjang.

Bukan hanya satu atau dua orang.

Tapi beberapa juri sekaligus.

Tim casting.

Sutradara.

Asisten sutradara.

Penata naskah.

Tim produksi.

Dan di kursi tengah— duduk seseorang yang aura kesalnya bahkan terasa dari jauh.

Pria itu menyandarkan siku di meja, jemarinya menekan pelipis.

Wajahnya tampak letih.

Jelas tidak puas.

Itulah penulis novel asli.

Orang yang menciptakan dunia Anak Emas Dewa Menjadi Iblis Batu.

Tatapannya dingin.

Sedikit jenuh.

Sedikit kesal.

Dalam hati ia sudah hampir mengeluh sejak tadi.

apa-apaan ini…

kenapa mereka menangkap karakter Aurelia seperti ini?

Dua peserta sebelumnya baru saja keluar.

Dan tidak ada satupun yang sesuai.

Yang satu terlalu dibuat jahat.

Tatapan licik.

Nada penuh racun.

Seolah Aurelia hanyalah antagonis murahan.

Yang satu lagi terlalu lemah.

Menangis terus.

Padahal bukan itu inti karakternya.

Penulis itu mendecih pelan.

Salahnya sendiri.

Ia memang tidak terlalu menggembar-gemborkan istri ke-11.

Padahal— kalau tidak ada wanita itu,

tokoh utama novelnya sudah berkali-kali mati dalam takdir tragis.

Aurelia bukan karakter biasa.

Ia adalah simpul nasib.

Pusat tragedi.

Penyelamat yang tidak pernah dipahami.

Dan sejauh ini— tidak ada satupun yang mengerti.

“Peserta berikutnya, Mireya.”

Pintu terbuka.

Mireya melangkah masuk.

Punggungnya tegak.

Naskah di tangannya digenggam erat.

Penulis novel bahkan tidak terlalu berniat menoleh.

Tatapannya masih turun ke berkas peserta.

Namun sutradara memberi isyarat.

“Silakan perkenalkan diri.”

Mireya membungkuk sopan.

“Nama saya Mireya.”

“Saya mengikuti audisi untuk peran Aurelia Veyna, istri ke-11.”

Nada suaranya tenang.

Tidak gemetar.

Sutradara menyilangkan tangan.

“Baik.”

“Coba jelaskan.”

“Menurutmu, apa yang paling kamu dalami dari karakter istri ke-11 ini?”

Ruangan mendadak sunyi.

Pertanyaan ini cukup menjebak.

Banyak orang biasanya menjawab dari permukaan.

Dingin.

Jahat.

Dibenci.

Namun Mireya menarik napas.

Lalu menjawab perlahan.

“Menurut saya…”

“Aurelia bukan wanita jahat.”

Kalimat itu membuat penulis novel yang tadi tidak peduli— akhirnya mengangkat kepala.

Matanya menoleh.

Untuk pertama kalinya.

Benar-benar melihat Mireya.

Mireya melanjutkan.

“Dia adalah seseorang yang melihat terlalu jauh.”

“Dia tahu akhir buruk yang akan datang.”

“Tapi tidak memiliki hak untuk menjelaskannya.”

“Setiap tindakan yang terlihat seperti pengkhianatan…”

“sebenarnya adalah bentuk perlindungan.”

Ia mengangkat pandangan.

Matanya mantap.

“Masalahnya bukan karena dia salah.”

“Melainkan karena tidak ada seorang pun yang pernah mencoba memahami alasannya.”

Hening.

Benar-benar hening.

Penulis novel itu membeku.

Jemarinya yang tadi mengetuk meja perlahan berhenti.

Dalam hati—

dia mengerti…

dia benar-benar mengerti…

Sutradara melirik ke arah penulis.

Melihat perubahan ekspresinya.

Lalu tersenyum tipis.

Menarik.

“Baik.”

“Kalau begitu kita lanjut ke adegan.”

Ia menyerahkan hologram script.

“Perankan adegan saat Aurelia melarang Kaizar pergi ke Gerbang Utara.”

Sutradara memutuskan adegan yang akan mereka lihat.

“Semua orang mengira dia sedang menghalangi tokoh utama.”

“Padahal sebenarnya…”

Penulis novel sengaja bergumam pelan.

Mireya mengangguk.

Ia tahu adegan ini.

Salah satu adegan yang paling banyak dibenci pembaca.

Namun justru yang paling ia pahami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!