Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan di Dalam Kelompok Vancort
Suasana di dalam helikopter yang membawa Leon dan Ailen menuju panti asuhan terasa mencekam. Suara baling-baling yang menderu seolah menjadi latar belakang dari badai yang sedang berkecamuk di dalam pikiran Leon. Ancaman terhadap panti asuhan bukan sekadar gertakan; Black Cobra tahu bahwa itu adalah satu-satunya tempat yang bisa menghancurkan pertahanan emosional Leon dan Ailen sekaligus.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Leon. Bagaimana bisa Black Cobra mengetahui lokasi persis gudang penyimpanan logistik panti yang baru saja dirahasiakan? Bagaimana mereka bisa tahu waktu peresmian yang bahkan belum dipublikasikan?
"Marco," panggil Leon melalui intercom.
"Ya, Tuan?"
"Periksa kembali semua akses komunikasi tim Alpha dalam enam jam terakhir. Aku mencium bau bangkai di dalam rumah kita sendiri."
Ailen, yang duduk di samping Leon sambil memegang erat tas ranselnya yang berisi "amunisi" darurat, menatap Leon dengan cemas. "Mas, maksudnya ada pengkhianat lagi? Bukannya Donovan sudah beres?"
"Donovan hanyalah kepala ular yang terlihat, Ailen. Terkadang, ular punya banyak kepala yang bersembunyi di balik semak yang sama," jawab Leon dingin.
Setibanya di markas taktis sementara dekat panti asuhan, Marco segera melakukan audit forensik digital. Di tengah kegelapan malam, layar-layar monitor menampilkan ribuan baris kode dan log percakapan.
Ailen duduk di pojok, mencoba membantu dengan caranya sendiri—memberikan kopi instan kepada para operator yang kelelahan. Namun, matanya yang jeli menangkap sesuatu pada salah satu layar pemantau posisi GPS anggota tim.
"Mas Marco, kok itu ada satu titik yang gerakannya aneh? Dia bolak-balik dari perimeter luar ke arah hutan belakang panti, tapi laporannya bilang dia lagi jaga di gerbang depan," tunjuk Ailen pada sebuah titik hijau berkode Alpha-7.
Marco tertegun. Ia memperbesar layar tersebut. Alpha-7 adalah Jaka, salah satu penembak jitu kepercayaan Leon yang sudah mengabdi selama lima tahun.
"Tuan, lihat ini," Marco memanggil Leon. "Alpha-7 melakukan pergerakan yang tidak terdaftar dalam protokol. Dia mengirimkan sinyal ping pendek ke frekuensi luar setiap sepuluh menit."
Wajah Leon mengeras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Jaka... Salah satu orang yang aku selamatkan dari jalanan."
Tanpa menunggu lama, Leon memutuskan untuk menjebak sang pengkhianat. Ia memerintahkan seluruh tim untuk berpura-pura melanjutkan rencana evakuasi sandera, sementara ia sendiri, bersama Marco dan Ailen (yang bersikeras ikut karena ia tahu jalan pintas di hutan tersebut), bergerak memutar.
Hutan di belakang panti asuhan sangat gelap dan lembap. Suara jangkrik mendadak berhenti saat mereka melangkah. Ailen memimpin di depan, bergerak tanpa suara layaknya seekor kucing hutan.
Di sebuah kliring kecil yang menghadap langsung ke gedung panti yang baru, mereka melihat sosok pria dengan seragam taktis Vancort sedang memegang radio satelit. Itu Jaka.
"Ya, mereka akan masuk lewat pintu samping dalam lima menit. Pastikan peledak diaktifkan saat Leon Vancort berada di lobi," bisik Jaka ke dalam radionya.
"Aku tidak menyangka harga kesetiaanmu semurah itu, Jaka," suara Leon menggema dari balik pepohonan, dingin dan menusuk hingga ke tulang.
Jaka tersentak, ia menjatuhkan radionya dan segera meraih pistol di pinggangnya. Namun, sebuah peluru dari Marco lebih cepat menghantam pergelangan tangannya.
"Argh!" Jaka tersungkur, memegangi tangannya yang bersimbah darah.
Leon melangkah keluar dari kegelapan, berdiri di depan Jaka dengan tatapan yang bisa membunuh. Ailen berdiri di samping Leon, matanya berkaca-kaca. Ia mengenal Jaka sebagai orang yang sering memberinya cokelat saat ia baru pertama kali pindah ke Mansion.
"Kenapa, Jaka? Apa yang mereka berikan padamu?" tanya Ailen lirih.
Jaka tertawa pahit, wajahnya penuh keringat dingin. "Uang? Tidak, Nona. Mereka tidak memberiku uang. Mereka memegang adikku! Black Cobra menculiknya sebulan lalu. Mereka bilang jika aku tidak memberikan lokasi Leon, mereka akan mengirimkan potongan tubuh adikku setiap hari!"
Leon terdiam sejenak. Di dunia hitam, ini adalah taktik klasik yang paling dibencinya. Namun, bagi Leon Vancort, alasan pribadi bukanlah izin untuk mengkhianati seluruh kelompok dan membahayakan puluhan nyawa anak yatim piatu.
"Kau bisa datang padaku, Jaka. Aku akan menyelamatkan adikmu," ucap Leon.
"Dan membiarkanmu tahu kelemahanku? Kau adalah Iblis, Leon! Kau tidak akan mengerti rasa takut kehilangan keluarga karena kau tidak pernah memilikinya sampai gadis ini datang!" teriak Jaka putus asa.
Belum sempat Leon menanggapi, suara ledakan besar terdengar dari arah panti asuhan. Bukan di lobi, tapi di bagian sayap kiri bangunan. Tampaknya Black Cobra menyadari bahwa penyamaran Jaka telah terbongkar dan memutuskan untuk menyerang lebih awal.
"Sial! Mereka mempercepat rencana!" Marco berteriak.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak, belasan tentara bayaran Black Cobra muncul, mengepung Leon, Ailen, dan Marco. Jaka yang terluka mencoba merangkak pergi, namun ia justru tertembak oleh salah satu tentara Black Cobra.
"Saksi mata tidak dibutuhkan," ucap salah satu tentara tersebut.
Situasi menjadi kacau. Baku tembak terjadi di tengah hutan. Leon menarik Ailen ke balik pohon besar, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Ailen, dengarkan aku. Kau harus lari ke arah gudang air. Marco akan melindungimu. Aku akan memancing mereka ke arah seberang," perintah Leon.
"Nggak! Saya nggak mau ninggalin Mas lagi!"
"Ini perintah, Ailen! Aku harus memastikan panti asuhan tidak hancur. Pergi!"
Ailen akhirnya mengalah. Ia berlari bersama Marco menuju area panti, namun otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia melihat Jaka yang tergeletak lemas namun masih bernapas. Ailen berhenti sejenak, merogoh tasnya, dan melemparkan sebuah alat pelacak kecil ke saku Jaka sebelum melanjutkan lari.
Sambil berlari, Ailen mengeluarkan "amunisi" rahasianya. Kali ini bukan tepung atau deterjen. Ia memiliki serangkaian petasan bertenaga tinggi yang sudah ia modifikasi dengan bubuk cabai dan perekat super.
Saat para pengejar mulai mendekat, Ailen memasang benang nilon tipis di antara dua pohon. Di tengah benang itu, ia menggantungkan petasannya.
Brak!
Tentara Black Cobra yang berlari paling depan tersandung benang tersebut. Petasan meledak tepat di depan wajah mereka, melepaskan awan debu cabai yang sangat pekat.
"Mata saya! Panas!" teriak mereka.
"Rasakan itu! Itu namanya 'Sambal Matah Dadakan'!" teriak Ailen sambil terus berlari.
Di gedung panti, Leon bertarung layaknya singa yang terluka. Ia berhasil melumpuhkan tiga orang di koridor utama. Namun, ia menyadari bahwa pengkhianatan Jaka bukanlah satu-satunya. Beberapa instruksi radio dari pusat kendali di Mansion sengaja dikacaukan.
"Marco, pangkas semua jalur komunikasi eksternal sekarang! Gunakan frekuensi analog cadangan!" perintah Leon.
Ternyata, ada penyusup di dalam tim IT pusat yang selama ini merupakan orang suruhan klan Moretti yang bekerja sama dengan Black Cobra. Pengkhianatan ini sistematis dan berlapis.
Leon menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus pada musuh di luar, hingga lupa membersihkan karat di dalam mesinnya sendiri. Dengan bantuan kode akses yang hanya diketahui olehnya, Leon mengunci seluruh sistem Mansion dari jarak jauh, mengisolasi si pengkhianat di ruang server.
Ailen dan Marco berhasil sampai di lobi panti tepat saat tim Black Cobra hendak memasang detonator terakhir. Dengan keberanian luar biasa, Ailen melemparkan tas ranselnya ke arah sang pemegang detonator.
"Ambil ini!"
Musuh yang mengira itu adalah bom sungguhan langsung merunduk. Padahal, isi tas itu hanyalah tumpukan batu bata dan lem tikus yang sudah dibuka tutupnya. Saat tas itu pecah, lem tikus yang sangat lengket menyebar ke seluruh tangan musuh dan senjata mereka, membuat mereka tidak bisa menarik pelatuk maupun menekan tombol detonator.
Leon muncul dari arah belakang, menghabisi sisa-sisa musuh dengan efisiensi yang mengerikan.
Setelah situasi terkendali, Leon menghampiri Ailen yang gemetar karena adrenalin. Ia memeluk gadis itu erat. "Kau melakukannya, Ailen. Kau menyelamatkan panti ini."
Jaka ditemukan masih hidup, namun kondisinya kritis. Leon memerintahkan tim medis untuk menyelamatkannya, bukan karena ampunan, tapi karena Jaka harus memberikan informasi tentang di mana adik perempuannya disekap.
Malam itu, di tengah reruntuhan sayap kiri panti yang terbakar, Leon berdiri menatap anak-anak buahnya yang tersisa. Wajahnya terlihat lebih tua dan lebih keras.
"Pengkhianatan adalah racun," ucap Leon di depan mereka semua. "Mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia. Siapa pun yang merasa terancam keluarganya, bicaralah. Jika kau memilih diam dan berkhianat, kau tidak akan menemukan lubang kubur yang cukup dalam untuk bersembunyi dariku."
Ailen mendekati Leon, menggandeng tangannya. "Mas, jangan jadi monster lagi ya? Kita cari adiknya Jaka, kita selamatkan dia. Itu cara terbaik untuk balas dendam pada Black Cobra."
Leon menatap Ailen, dan perlahan es di matanya mencair. "Kau benar. Kita akan menyelamatkannya."
Bab ini ditutup dengan Leon yang akhirnya menyadari bahwa meskipun organisasinya retak karena pengkhianatan, ia memiliki satu fondasi yang tidak akan pernah goyah: Ailen. Pengkhianatan Jaka memang melukai hatinya, namun keberanian Ailen memberikan perban yang lebih kuat dari sebelumnya.
Namun, di balik layar, si penyusup di ruang server Mansion berhasil melarikan diri sebelum sistem terkunci sepenuhnya, membawa satu data yang paling rahasia: Lokasi sebenarnya dari orang tua kandung Ailen.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍