NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 — Qing Jiao

Di ujung Utara, jauh dari hiruk-pikuk kota kultivator dan jauh dari jangkauan para penguasa Tanah Suci, terbentang pegunungan terpencil yang diselimuti kabut abadi. Di sanalah Qing Jiao, Raja Naga Biru, membangun sarangnya. Ia bukan makhluk dari Zona Terlarang, bukan pula kultivator yang bercita-cita menjadi Kaisar. Ia adalah salah satu dari Tiga Belas Perampok Utara—sekelompok kultivator yang memilih hidup di luar aturan sekte-sekte besar, mengambil apa yang mereka inginkan, dan membunuh siapa pun yang menghalangi.

Qing Jiao sendiri memiliki nama yang cukup ditakuti. Dalam wujud manusianya, ia tampak seperti pria paruh baya dengan rambut panjang biru tua dan mata yang menyala seperti api dingin. Dalam wujud aslinya, ia adalah ular naga biru raksasa yang panjangnya mencapai ratusan meter, sisiknya berkilau seperti batu safir, dan napasnya mampu membekukan lautan kecil. Namun ia bukanlah keturunan naga sejati—ia hanyalah seekor ular yang tekun berkultivasi selama ribuan tahun hingga mencapai ranah di mana batas antara manusia dan iblis menjadi kabur.

Wilayah kekuasaannya disebut Yunze Zhou, sebuah distrik pegunungan terpencil yang di dalamnya tersembunyi dunia kecil peninggalan seorang Saint kuno. Di tempat itulah ia menyimpan hartanya, melindungi anak buahnya, dan sesekali menerima tamu dari kalangan bawah tanah dunia kultivasi.

Pada suatu malam, saat kabut menggulung lebih tebal dari biasanya, seorang prajurit yang berjaga di gerbang istana melihat sesuatu yang aneh.

Sebuah keranjang anyaman bambu tergeletak di tangga batu.

Prajurit itu mendekat dengan hati-hati, pedangnya setengah terhunus. Di daerah seperti ini, tidak ada yang bisa dianggap remeh. Bisa jadi itu jebakan, atau bom spiritual, atau kutukan dari musuh yang ingin mencelakakan tuannya.

Namun ketika ia menyentuh keranjang itu dengan ujung pedangnya, keranjang itu hanya bergoyang pelan, dan dari dalamnya terdengar suara napas kecil—lembut, teratur, dan sama sekali tidak mengancam.

Prajurit itu membungkuk, membuka anyaman bambu yang sedikit basah oleh embun.

Di dalamnya, seorang bayi laki-laki tertidur pulas.

Tidak ada surat, tidak ada tanda pengenal, tidak ada formasi pelindung yang melingkupinya. Hanya bayi itu sendiri, dengan kulitnya yang bersih, rambut hitamnya yang tipis, dan tangannya yang sesekali mengepal dalam mimpi.

Prajurit itu bingung. Membawa bayi ke hadapan Qing Jiao tanpa izin bisa berisiko, tapi membuangnya juga bukan pilihan. Akhirnya, ia memutuskan untuk melapor ke kepala istana.

Berita itu akhirnya sampai ke telinga sang Raja Naga Biru.

Qing Jiao sedang duduk bersila di ruang kultivasinya ketika seorang pelayan mengetuk pintu dengan hati-hati dan menyampaikan laporan tentang bayi misterius di gerbang.

"Aku tidak ingin diganggu urusan sepele," jawab Qing Jiao tanpa membuka mata.

"Maafkan saya, Yang Mulia," kata pelayan itu dengan suara gemetar, "tapi bayi itu... tidak biasa. Ia tidak menangis, tidak takut, dan saat para prajurit mencoba merasakan auranya, mereka tidak mendeteksi apa pun."

Qing Jiao membuka matanya. "Tidak mendeteksi apa pun?"

"Tidak ada yang aneh, Yang Mulia. Ia seperti bayi biasa. Tapi justru karena itulah... aneh."

Keheningan sesaat. Lalu Qing Jiao berdiri.

Ia melangkah menuju gerbang istana dengan langkah santai, namun setiap orang yang melihatnya tahu bahwa ia sedang serius. Ketika sampai di depan keranjang bambu itu, ia menunduk.

Bayi itu terbangun.

Mata hitam pekat menatap lurus ke arah Qing Jiao. Tidak ada tangisan, tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang aneh, seolah bayi ini telah bertemu dengan Qing Jiao ribuan tahun yang lalu dan hanya mengingatkannya sekarang.

Qing Jiao mengerutkan alis. Ia mengulurkan jarinya, menyentuh dahi bayi itu dengan lembut, dan mengirimkan seberkas kecil energi spiritualnya untuk menyelidiki.

Tidak ada reaksi.

Biasanya, bayi berbakat akan merespons dengan fluktuasi energi, atau setidaknya menangis karena tekanan. Bayi ini tidak melakukan apa pun. Energi Qing Jiao masuk, lalu menghilang seperti diserap oleh kekosongan.

"Ini... aneh," gumam Qing Jiao.

Seorang penasihat tua yang berdiri di sampingnya berkata pelan, "Raja, mungkin ini hanya bayi biasa yang ditinggalkan orang tuanya karena kemiskinan. Bukan hal langka di daerah ini."

"Bayi biasa tidak akan setenang ini," jawab Qing Jiao. "Bayi biasa akan menangis saat lapar, saat kedinginan, saat melihat orang asing. Tapi anak ini?"

Ia menatap bayi itu lagi.

"Dia hanya menatapku. Seolah dia sudah tahu sejak awal bahwa aku akan datang."

Penasihat itu terdiam. Ia tidak bisa membantah.

Qing Jiao mengangkat bayi itu dari keranjang bambu. Tubuh kecil itu ringan di tangannya, tidak lebih berat dari sekeranjang sayuran. Namun ketika telapak tangannya menyentuh kulit bayi itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—bukan energi, bukan tekanan, melainkan sebuah kesadaran yang sangat dalam, seperti menyentuh permukaan danau yang ternyata tidak memiliki dasar.

"Mulai hari ini," kata Qing Jiao, "anak ini akan tinggal di istanaku. Namanya... Li Yao."

Para prajurit dan penasihat saling berpandangan. Tidak ada yang berani membantah, namun beberapa dari mereka jelas tidak setuju. Mengangkat anak angkat dari kalangan biasa adalah satu hal. Mengangkat bayi yang tidak memiliki bakat terdeteksi sama sekali adalah hal lain.

Namun Qing Jiao tidak peduli.

Ia adalah raja di sini. Keputusannya mutlak.

Dan di dalam dadanya, sebuah firasat aneh tumbuh—bahwa bayi sederhana ini, suatu hari nanti, akan menjadi sesuatu yang jauh melampaui apa pun yang bisa ia bayangkan.

Ia membawa bayi itu masuk ke istananya, meninggalkan keranjang bambu kosong di tangga batu.

Angin malam berhembus, membawa kabut menutupi jejak kaki yang ditinggalkan.

Di balik tirai istana, di sudut yang gelap, beberapa pasang mata mengawasi dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Kabar tentang bayi misterius yang diangkat oleh Qing Jiao akan segera menyebar ke seluruh Yunze Zhou, dan dari sana ke tempat-tempat yang lebih jauh.

Tapi untuk saat ini, Li Yao hanya tertidur di pangkuan ayah angkatnya, mendengarkan detak jantung seorang kultivator ular tua yang tidak tahu bahwa ia baru saja mengambil sesuatu yang sangat berbahaya ke dalam sarangnya.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!