Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEPULUH
Gedung Wiratama Law Firm menjulang megah di kawasan bisnis Jakarta, dinding kacanya memantulkan cahaya malam seperti istana modern yang tak tersentuh. Di lantai paling atas, ruang kerja Rakha lebih menyerupai private lounge daripada kantor hukum. Dinding kayu gelap dipadu dengan rak buku tinggi berisi literatur hukum klasik, lampu gantung elegan menggantung tepat di atas meja marmer hitam berukuran besar. Aroma cerutu premium bercampur dengan wangi Bourbon yang menguap dari gelas kristal di tangannya.
Rakha duduk santai di kursi kulit hitam, menyalakan televisi layar lebar yang menyiarkan berita prime time. Di layar, wajah Maharani muncul dengan label tebal:
“Skandal Video 3 Menit 24 Detik Diduga Maharani Soetomo & Risyad.”
“Saham Soetomo Hotel Anjlok 11% dalam Sehari.”
Wajah Rakha berubah. Senyum miringnya muncul perlahan, bukan sekadar puas—tapi lebih seperti seekor serigala yang mencium bau darah di udara. Ia mengisap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap perlahan, membiarkan kabut putih tipis menyelimuti wajah dinginnya.
“Menarik sekali…” gumamnya, suaranya berat, nyaris seperti bergumam pada dirinya sendiri. “Bahkan aku belum menggerakkan satu pion pun, tapi papan sudah mulai berantakan.”
Ia meraih remote, memperbesar volume. Reporter berita menjelaskan bagaimana saham Soetomo Hotel terjun bebas setelah rumor skandal Maharani mencuat, investor mulai menarik diri, dan kompetitor hotel-hotel internasional menunggu untuk menyalip.
Rakha terkekeh rendah, mengetukkan jarinya di lengan kursi.
“Keluarga Soetomo… sekuat apa pun mereka berdiri, tetap punya musuh yang menunggu di setiap sudut. Dan lihatlah, satu video saja bisa bikin fondasi mereka retak.”
Ia meneguk bourbon, lalu meletakkan gelas itu dengan bunyi clink di atas meja marmer. Tatapannya kembali pada layar televisi, menatap wajah Maharani yang tersorot kamera paparazi—kusut, mata sembab, berusaha menutupi wajah dengan masker,
Senyum Rakha melebar. Kali ini bukan sekadar pongah, tapi benar-benar terhibur.
“Kamu kuat, Maharani?” suaranya lirih, seakan sedang berbicara langsung dengan perempuan itu. “Atau kamu akan datang padaku sendiri, minta perlindungan?”
Di balik kaca jendela besar, lampu-lampu kota Jakarta berkelip seperti lautan bintang. Namun di ruangan itu, hanya ada satu sosok pria yang duduk dengan aura penguasa—Rakha Adiwangsa Wiratama, pengacara dingin yang tahu persis: badai ini baru saja dimulai.
Rakha baru saja menghembuskan asap cerutunya ketika ketukan pelan terdengar di pintu kayu berukir ruang kerjanya. Suara tumit sepatu yang teratur mendekat memecah keheningan. Tak lama, sosok Nadia, sekretaris pribadinya, masuk. Perempuan muda itu tampil profesional: blazer hitam pas badan, kemeja putih rapi, rambut disanggul sederhana. Senyum sopan ia tampilkan, tapi sorot matanya menyimpan ketegangan—ia tahu berita yang dibawanya bukan kabar biasa.
“Pak Rakha,” ucapnya hati-hati, “ada panggilan penting dari luar negeri.”
Rakha yang masih bersandar santai di kursi kulit hitamnya menoleh perlahan, cerutu di ujung jarinya masih mengepulkan asap. “Siapa?”
Nadia menelan ludah sebelum menjawab. “Pak Hardi Adi Soetomo. Ayahnya Maharani Soetomo. Beliau meminta waktu untuk bertemu secepat mungkin. Katanya… ini menyangkut masalah keluarga dan skandal yang sedang beredar.”
Keheningan kembali turun, hanya terdengar suara televisi di sudut ruangan yang menyiarkan ulang potongan berita tentang video skandal Maharani. Wajah cantik Maharani yang menangis di balik kaca mobil ditayangkan berulang-ulang, disandingkan dengan judul berita sensasional.
Rakha tidak langsung bereaksi. Ia mengangkat gelas Bourbon kristal, meneguk perlahan sisa minuman berwarna keemasan itu, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi ting halus di atas meja marmer hitam. Bibirnya melengkung tipis, senyum penuh ironi.
“Jadi… akhirnya raja itu menundukkan kepalanya.”
Kalimatnya terucap rendah, tapi mengandung kepuasan yang nyata.
Nadia menunduk sopan, menunggu perintah. “Apakah saya perlu menjadwalkan pertemuan resmi, Pak? Atau… Bapak ingin saya menolak dengan alasan kesibukan?”
Rakha bangkit perlahan dari kursinya, posturnya yang tinggi menjulang membuat Nadia otomatis mundur setengah langkah. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap Jakarta malam hari—lampu kota berkilau seperti lautan bintang yang tersebar tak beraturan. Rakha berdiri tegak, punggungnya lebar, dan di kaca refleksi, wajahnya tampak keras, dingin, matanya menyala seperti predator yang baru saja mencium aroma mangsa.
“Tidak usah ditolak,” ucapnya datar, sambil menghembuskan asap ke udara. “Katakan pada Hardi Adi Soetomo… saya akan beri dia waktu. Tapi biarkan dia yang datang ke sini. Ke markas saya. Supaya dia mengerti… siapa sebenarnya yang sedang ia mintai pertolongan.”
Nadia mencatat cepat di tabletnya, suaranya tenang meski jantungnya ikut tertekan oleh aura tuannya. “Baik, Pak.”
Rakha tidak menoleh. Ia menatap lampu-lampu kota, seolah melihat papan catur raksasa terbentang di hadapannya. Dan satu per satu bidak mulai bergerak sesuai rencananya.
Pelan, ia menggumam—lebih kepada dirinya sendiri, dengan nada penuh keyakinan dan dingin:
“Dan begitulah… permainan akhirnya dimulai.”
Asap cerutu kembali mengepul, menari di udara, seolah menandai dimulainya sebuah babak baru—babak di mana keluarga Soetomo akan masuk ke dalam jaring balas dendam yang sudah ia tenun hampir dua puluh tahun lamanya.