Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cawan Sang Raja Kegelapan
Griya tawang itu masih menyisakan bau ozon yang tajam, sisa-sisa badai elektrik seminggu lalu. Namun, ketenangan yang seharusnya hadir setelah persalinan tidak pernah mampir ke sana. Satya Aksara, sang bayi yang lahir dalam pendaran hitam, tidak menunjukkan tanda-tanda bayi normal. Ia tidak menangis meminta susu; ia meraung dengan nada yang membuat kaca-kaca kristal di ruangan itu bergetar halus.
"Dia masih tidak mau menyentuh botolnya, Wijaya!" Alexa Kejora membanting botol susu plastik mahal ke lantai. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata. "Dokter bilang dia sehat, tapi kenapa dia seolah-olah menolak semua yang kita berikan?"
Wijaya Aksara berdiri di ambang pintu, menatap putranya yang terbaring di boks bayi berlapis emas. Kelopak mata Satya tetap tertutup rapat, namun kepalanya bergerak-gerak gelisah, seolah sedang melacak keberadaan orang-orang di sekitarnya melalui hawa panas tubuh mereka.
"Mungkin dia tidak butuh nutrisi manusia biasa," gumam Wijaya, suaranya berat dan penuh spekulasi.
Tak lama kemudian, pintu lift pribadi berdenting. Dua sosok pria tua dengan aura kekuasaan yang menyesakkan masuk ke dalam ruangan. Yang satu adalah Surya Aksara, ayah Wijaya, sang pendiri dinasti asuransi. Yang lainnya adalah Jenderal (Purn.) Hardianto Kejora, ayah Alexa, sang penguasa tambang yang tangannya sudah terlalu kotor oleh tanah dan darah.
"Mana dia? Mana titisan yang dijanjikan itu?" suara Hardianto menggelegar, tidak ada nada khawatir, yang ada hanyalah ambisi yang meledak-ledak.
Hardianto mendekati boks bayi, menatap cucunya yang buta. Alih-alih merasa iba, ia justru tersenyum lebar hingga garis-garis keriput di wajahnya tampak seperti parit-parit tua. "Lihat garis rahangnya, Surya. Dia tidak butuh mata untuk melihat ketakutan kita."
Surya Aksara mengangguk pelan, jemarinya yang mengenakan cincin batu kecubung tua mengelus pinggiran boks. "Legenda itu nyata. Setiap seribu tahun, kegelapan akan memilih rahim yang paling haus akan kekuasaan. Dan dia memilih keluarga kita."
"Masalahnya, Ayah," Alexa memotong, suaranya bergetar antara bangga dan takut. "Dia tidak mau minum. Dia menolak semua susu formula, bahkan ASI-ku pun dia tolak seolah itu racun."
Surya Aksara terkekeh, suara tawanya kering seperti daun jatuh. Ia menoleh ke arah menantunya. "Tentu saja dia menolak, Alexa. Dia bukan bayi yang akan tumbuh besar dengan makan bubur bayi atau susu sapi. Dia adalah pemangsa."
"Lalu apa yang harus kami berikan?" tanya Wijaya, langkahnya mendekat ke arah sang ayah. "Aku tidak mau anakku mati di minggu pertama karena kelaparan."
Surya memberi isyarat agar mereka mendekat. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin, seolah AC diatur ke suhu paling rendah.
"Dia butuh ikatan yang lebih kuat dari sekadar biologi," bisik Surya. "Hardianto, kau ingat apa yang tertulis di naskah lama keluarga kita tentang Sang Penelan Cahaya?"
Hardianto mengangguk mantap. "Dia harus meminum kehidupan dari sumbernya langsung. Susu saja tidak cukup. Dia butuh darah dari mereka yang memberinya jalan ke dunia ini."
Alexa tertegun. "Maksud Ayah... darahku? Dan darah Wijaya?" Bulu kuduknya berdiri, ia tahu cerita itu.
"Campurkan ke dalam susunya," perintah Surya tanpa keraguan. "Darah ayah untuk kekuatannya, darah ibu untuk kelincahan dan instingnya. Hanya itu yang bisa memuaskan dahaga batinnya yang kosong."
Wijaya tidak membantah. Baginya, ini adalah sebuah ritual bisnis, sebuah kontrak yang harus ditandatangani dengan cairan merah. Ia mengambil pisau bedah kecil dari kotak medis di sudut ruangan. Tanpa ekspresi, ia mengiris ujung ibu jarinya. Tetesan darah merah pekat jatuh ke dalam botol susu yang baru disiapkan.
Alexa ragu sejenak. Tangannya sedikit bergetar. Ia menatap bayi Satya yang kembali mengerang, sebuah suara yang terdengar seperti geraman serigala kecil. Ada rasa takut yang merayap di punggungnya, namun rasa bangga karena melahirkan "legenda" jauh lebih kuat. Ia mengikuti jejak suaminya, membiarkan beberapa tetes darahnya bercampur ke dalam cairan putih itu hingga warnanya berubah menjadi merah muda pucat.
"Berikan padanya sekarang," titah Hardianto dengan mata berkilat.
Alexa mengangkat Satya dari boksnya. Begitu botol itu mendekat ke bibir sang bayi, sesuatu yang ganjil terjadi. Satya yang tadinya meronta mendadak diam. Hidung mungilnya kembang kempis, seolah mencium aroma yang ia kenal selama ribuan tahun dalam ingatan genetiknya.
Ia menyambar dot itu dengan rakus. Suara sedotannya terdengar sangat kuat, bersemangat, memenuhi kesunyian ruangan tawang tersebut.
"Lihat itu!" seru Hardianto bangga. "Dia meminumnya! Dia menyukai darah kalian!"
Wijaya memperhatikan dengan seksama. Ia melihat urat-urat hitam di pelipis Satya mulai berpendar redup, seolah mesin raksasa di dalam tubuh bayi itu baru saja diberi bahan bakar yang tepat.
"Dia akan menjadi monster yang luar biasa," gumam Wijaya. "Jakarta tidak akan siap menghadapi apa yang akan dia lakukan dua puluh tahun dari sekarang."
"Bukan hanya Jakarta, Wijaya," sahut Surya Aksara sembari menatap ke luar jendela ke arah cakrawala yang mulai gelap. "Seluruh dunia persilatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi di dimensi lain, akan berlutut di depannya. Tapi ingat satu hal..."
Surya menggantung kalimatnya, membuat Alexa dan Wijaya menoleh serempak.
"Di luar sana, keseimbangan selalu ada. Jika ada kegelapan semurni ini yang lahir, maka di sudut bumi yang lain, cahaya yang sama kuatnya pasti telah muncul. Tugas kalian bukan hanya membesarkannya, tapi memastikan bahwa sebelum cahaya itu sempat bersinar, Satya sudah memadamkannya."
Alexa memeluk bayinya lebih erat. Satya telah menghabiskan isinya, dan kini bayi itu tampak tenang, bahkan terlihat ada seringai tipis di bibirnya yang masih kemerahan karena darah.
"Aku akan memastikan tidak ada cahaya yang tersisa untuk menandinginya," ucap Alexa dengan nada dingin yang mematikan. "Dia adalah Satya Aksara. Kebenaran yang akan membungkam dunia."
Di bawah lampu kristal yang mewah, empat orang dewasa itu berdiri mengelilingi seorang bayi buta yang baru saja merasakan rasa darah pertamanya. Tidak ada kasih sayang orang tua yang tulus di sana; yang ada hanyalah ambisi, perhitungan untung-rugi, dan kesiapan untuk berperang.
"Hardianto," panggil Surya. "Siapkan jaringan intelijen kita. Cari tahu jika ada bayi lain yang lahir dengan tanda-tanda aneh di malam yang sama. Kita tidak boleh kecolongan."
"Sudah jalan, Surya. Semua rumah sakit besar sedang aku pantau," jawab sang Jenderal singkat.
Mereka tidak tahu bahwa bayi yang mereka cari tidak lahir di rumah sakit mewah dengan peralatan canggih, melainkan di sebuah rumah kayu yang hampir hangus tersambar petir di pinggiran Ciampea. Mereka tidak tahu bahwa lawan Satya saat ini sedang menangis karena kehabisan susu formula, bukan karena lapar akan darah.
Malam itu, di puncak gedung PT Aksara Murni, sebuah pakta kegelapan telah dikukuhkan. Satya Aksara telah diterima sepenuhnya oleh garis keturunannya, bukan sebagai anak, melainkan sebagai senjata. Dan senjata itu kini sedang tertidur lelap, bermimpi tentang dunia yang gelap, dunia yang hanya miliknya sendiri.
"Selamat tidur, Rajaku," bisik Alexa, sementara di jarinya, luka iris itu masih meneteskan darah, menandai awal dari pengabdian panjangnya pada sang putra kegelapan.