"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Sang Ibu yang Kembali Menghakimi
"Jadi, ini wanita yang kau pertahankan sampai harus mengancam relasimu dengan Andreas, Ralph?"
Suara itu lembut, namun setajam sembilu. Lily Alexander—wanita yang seharusnya menjadi abu dua puluh tahun lalu—berdiri di tengah ruang tamu mansion dengan keanggunan yang mengintimidasi. Tatapannya padaku penuh dengan penghinaan yang tidak ditutup-tutupi.
Aku berdiri mematung di samping Liam. Otakku berputar cepat. Sialan kau, Elodie! Kau benar-benar merombak naskah ini. Di draf awal yang kubaca, Lily meninggal karena kecelakaan. Tapi sekarang? Dia hidup, bugar, dan tampaknya memiliki dendam kesumat padaku.
"Mama, tolong jangan bicara begitu pada Blair," suara Liam terdengar rendah, penuh permohonan.
[Aku sangat merindukannya... aku ingin memeluknya setiap detik. Tapi kenapa Mama begitu membenci Blair? Apa dia tidak lihat kalau Blair sudah berubah? Kenapa hatiku rasanya seperti dibelah dua melihat mereka bersitegang?]
Lily tertawa hambar, jemarinya yang lentik mengelus bros safir di dadanya. "Kau lupa, Ralph? Wanita ini menolak perjodohan bisnis keluarga kita saat SMA dengan cara yang paling memalukan. Dia menyebutmu 'anak mami yang manja'. Dia bilang kau bukan tipenya sama sekali!"
Aku tersentak. Ingatan masa lalu 'Blair asli' berkelebat di kepalaku. Benar. Dulu, Liam adalah remaja pendiam yang selalu menempel pada ibunya. Blair yang angkuh saat itu lebih memilih bergaul dengan geng populer dan Andreas, daripada menoleh pada Liam yang 'membosankan'.
"Itu masa lalu, Ma," tegas Liam, meski tangannya sedikit gemetar saat menggenggam jemariku.
"Masa lalu yang menyebabkan kecelakaan memalukan di malam kelulusan itu, kan?" Lily melangkah mendekat, aroma parfum mawar klasiknya menyesakkan paru-paruku. "Kau menikahinya hanya karena tanggung jawab, Ralph. Dan dia? Dia hanya ingin hartamu. Wanita seperti ini tidak layak menjadi permaisuri Alexander."
Aku menarik napas panjang, menatap langsung ke mata Lily. "Nyonya Lily, saya akui saya di masa lalu adalah kesalahan besar. Tapi jika Anda benar-benar mengenal putra Anda, Anda akan tahu bahwa dia bukan lagi anak manja yang Anda kenal. Dan saya... saya tidak akan pergi ke mana pun."
"Berani sekali kau menjawabku!" Lily mendesis, lalu bertepuk tangan sekali.
Dari balik pintu besar, muncul seorang wanita muda yang tampak sangat sempurna. Kulitnya seputih porselen, rambutnya hitam legam tergerai indah, dan tatapannya memancarkan kepatuhan yang luar biasa.
"Perkenalkan, ini Adeline," ucap Lily dengan senyum penuh kemenangan. "Putri dari rekan bisnisku di London. Dia cerdas, penurut, dan yang paling penting... dia mencintai Ralph sejak mereka masih di bangku sekolah dasar. Dia adalah calon istri yang sebenarnya sudah kusiapkan untukmu, Ralph."
Adeline membungkuk sopan, matanya melirik Liam dengan binar pemujaan yang dalam. "Lama tidak bertemu, Kak Ralph. Aku harap kehadiranku tidak mengganggu."
[Adeline? Kenapa dia di sini? Aku bahkan hampir lupa wajahnya. Mama... apa yang kau lakukan? Aku mencintai Blair! Aku hanya menginginkan Blair! Tapi kenapa lidahku kelu saat menatap mata Mama? Kenapa aku merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya lagi?]
Aku merasakan remasan tangan Liam di jariku melemah. Ketakutan Liam terhadap ibunya adalah trauma masa kecil yang sengaja dieksploitasi Elodie.
"Maaf, Nona Adeline," aku melangkah maju, memutus kontak mata antara dia dan suamiku. "Rumah ini sudah punya nyonya. Dan suamiku sudah punya istri yang sangat dia cintai. Jadi, sebaiknya Anda mencari 'Kakak' lain untuk digoda."
Lily tertawa sinis. "Kita lihat saja, Blair. Ralph adalah anak yang berbakti. Dia tidak akan pernah bisa menolak keinginanku. Adeline akan tinggal di sini mulai malam ini."
"Apa?!" seruku dan Liam bersamaan.
"Ini rumahku juga, Ralph," ucap Lily dingin. "Atau kau ingin aku mati untuk kedua kalinya karena serangan jantung akibat ulah istrimu ini?"
Liam membeku. Suara hatinya berteriak histeris antara kewajiban dan cinta. Aku tahu, Elodie sedang tertawa di luar sana. Dia baru saja mengirimkan badai yang jauh lebih besar daripada Andreas.
Pertempuran di sekolah hanyalah pemanasan. Sekarang, aku harus menghadapi 'Ibu Mertua dari Neraka' dan 'Pelakor Suci' di bawah satu atap yang sama.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/