Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Sebulan & Jejak Digital
Melihat punggung Ziva yang berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan dengan penuh wibawa, Zea mendengus kesal. Rasa tidak puas menyelimuti hatinya. Ia merasa Ziva terlalu dingin, terlalu angkuh, dan seolah tidak terpengaruh sama sekali oleh omelannya tadi.
'Hmph! Dasar wanita sombong. Baru pulang sebentar sudah berani melawan dan menatap sinis padaku. Tunggu saja,' batin Zea geram.
Daniel, yang sudah merasa lelah dan puas menasihati Zio, kini juga memilih pergi meninggalkan ruangan. Suasana di ruang keluarga kembali hening, hanya menyisakan Zea dan Zio yang masih duduk di sana.
Zea berjalan malas dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa tepat di sebelah Zio. Wajahnya yang tadi terlihat manis dan penuh akting, kini berubah menjadi lelah dan jujur. Ia menghela napas panjang sambil melempar bantal ke udara.
"Aduh... capek juga ya jadi aktris," keluh Zea sambil mengurutkan keningnya. "Pura-pura jahat dan manja itu bikin capek mental tau nggak sih, Kak?"
Zio yang masih tertunduk diam, kini mendongak dan menatap saudara angkatnya itu. Wajahnya terlihat serius.
"Zea..." panggil Zio pelan. "Mendingan kau hentikan saja rencanamu itu. Jangan ganggu Ziva lagi."
Zea membelalakkan matanya. "Hah? Kenapa? Aku belum puas lho!"
"Kau tidak tahu apa-apa," jawab Zio sambil menggelengkan kepala. "Aku sudah merasakannya hari ini. Ziva itu bukan gadis biasa seperti yang kau bayangkan. Dia lembut memang, tapi ada aura kuat di dalam dirinya. Matanya tajam, dia orang yang punya prinsip dan pasti sangat pintar. Kalau kau terus mengujinya, takutnya malah kau sendiri yang kena getahnya. Dia jauh di atas level kita."
Zio benar-benar menyarankan agar Zea berhenti. Ia takut jika Zea terus bertindak berlebihan, Ziva yang sebenarnya adalah Ratu Mafia akan kehilangan kesabaran dan hal buruk bisa terjadi.
Namun, Zea justru menggeleng tegas. Ia tidak mau mundur begitu saja.
"Tidak! Aku tidak mau berhenti," tolak Zea dengan mantap. "Aku sudah memutuskan. Aku akan memberinya waktu satu bulan. Selama satu bulan ke depan, aku akan terus mengujinya, melihat seberapa sabar dia, seberapa tulus dia menerima kita semua, dan apakah dia pantas menjadi bagian dari keluarga ini."
Mata Zea berbinar penuh tekad. "Jika dalam satu bulan itu dia lulus ujianku... jika dia benar-benar baik dan tulus... aku janji, Zea akan berhenti. Aku akan menerimanya dengan tulus!"
Wajah Zea yang tadinya masam, tiba-tiba berubah menjadi sangat cerah dan imut. Imajinasinya mulai melayang jauh. Ia mulai membayangkan jika Ziva benar-benar menjadi kakaknya sendiri.
'Wah... bayangkan saja! Punya kakak perempuan yang cantik, keren, dan pasti kaya raya! Pasti seru banget!' batin Zea melonjak kegirangan.
'Nanti aku bisa manja-manja sama dia, minta ditemenin belanja, jalan-jalan, makan enak, dan dia pasti akan membelikanku banyak barang bagus! Hahaha! Jadi kakak perempuan kesayangan itu pasti asik banget!'
Senyum lebar tak sengaja terukir di wajah Zea, membuatnya terlihat sangat polos dan bahagia membayangkan masa depan yang manis bersama Ziva.
"Pokoknya satu bulan! Setelah itu... kita jadi saudara yang baik-baik saja!" tekad Zea.
Zio hanya bisa menggelengkan kepala melihat perubahan ekspresi wajah Zea yang begitu cepat dari galak menjadi bermimpi indah.
Di lantai atas, kamar Ziva...
Ziva duduk bersandar di kepala ranjangnya dengan laptop tipis yang terbuka di pangkuannya. Wajahnya tampak serius, alisnya sedikit berkerut menatap layar komputer.
"Arsen..." gumamnya pelan.
Sejak bertemu pria itu tadi malam, rasa penasaran Ziva terus mengganggunya. Instingnya sebagai pemimpin organisasi mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada pria itu. Tatapannya, caranya berbicara, dan aura yang dipancarkannya... itu bukan aura seorang pegawai biasa.
"Aku harus memastikan," bisik Ziva.
Jari-jemari Ziva bergerak lincah di atas keyboard. Ia meretas sistem data kependudukan dan perusahaan dengan mudah—hal yang biasa ia lakukan untuk mencari info musuh.
Ia mengetik nama Arsen.
Layar berkedip, dan data pun muncul.
Nama: Arsen.
Pekerjaan: Staf Administrasi di Perusahaan William Group.
Pendidikan: Lulusan universitas biasa.
Status Ekonomi: Menengah ke atas.
Ziva mengerutkan keningnya semakin dalam. Ia membaca berulang-ulang data yang muncul di sana.
"Benar saja... data mengatakan dia hanya pegawai biasa," gumam Ziva bingung. "Tapi kenapa perasaanku berkata lain? Kenapa dia terlihat begitu berwibawa dan terbiasa memimpin?"
Ziva tidak tahu bahwa saat ini, ia sedang memakan umpan palsu.
Di tempat lain...
Di sebuah apartemen mewah lantai tertinggi di pusat kota, Arsen sedang duduk di ruang kerjanya. Perutnya sudah diobati dan dibalut perban rapi oleh dokter pribadinya. Wajahnya tampak lelah namun ada senyum tipis di sana.
Di hadapannya, asisten pribadinya yang setia berdiri dengan hormat.
"Sudah selesai, Tuan. Semua data digital mengenai identitas Tuan sudah kami ubah total. Sekarang jika ada yang mencari nama Tuan di sistem manapun, yang akan muncul hanyalah data sebagai pegawai biasa," lapor asisten itu dengan tegas.
Arsen mengangguk pelan, matanya menatap foto Ziva yang diam-diam ia ambil tadi di arena tinju.
"Bagus. Jangan biarkan dia tahu siapa aku sebenarnya untuk saat ini," perintah Arsen lembut.
"Tapi Tuan, bukankah Nyonya Ziva itu dari keluarga Sterling? Keluarga setara dengan kita. Mungkin dia tidak akan masalah..."
"Kau tidak mengerti," potong Arsen cepat. "Aku ingin dia menyukaiku karena diriku sendiri, bukan karena jabatan atau hartaku. Jika dia tahu aku adalah CEO dan orang terkaya kedua di kota ini, aku takut dia akan merasa minder, atau merasa ada jarak di antara kita. Biarkan dia mengira aku orang biasa. Biarkan hubungan ini tumbuh dengan natural."
Arsen menghela napas, pipinya sedikit memerah. "Lagipula... dia gadis yang luar biasa. Aku tidak mau menakutinya dengan statusku."
Asisten itu hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Segera kami amankan semua data."
Kembali ke kamar Ziva, gadis itu akhirnya menutup laptopnya dengan kesal.
"Hufftt! Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan memikirkannya," gerutu Ziva sambil melempar tubuhnya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamar.
Bayangan wajah Arsen, ciuman tadi malam, dan rasa hangat saat berada di dekatnya kembali muncul di benaknya.
"Tapi... siapa pun kau, terima kasih sudah membuat malam ini menjadi menarik," bisik Ziva pelan, tanpa sadar senyum kecil terukir di bibirnya.
Mereka berdua, di tempat yang berbeda, sama-sama tersenyum memikirkan satu nama yang sama, namun sama-sama terbungkus dalam rahasia dan kebohongan putih demi cinta.