Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan Kasih Sang CEO
Matahari sudah menggantung tinggi di langit Jakarta, menembus kaca jendela apartemen yang megah dengan cahaya yang teramat terang. Di dalam kamar utama, suasana masih terasa hening, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan dan aroma percintaan yang masih tertinggal di udara.
Arselan berdiri di samping ranjang, sudah mengenakan celana kain santai dan kaos tipis yang mencetak jelas lekuk tubuh atletisnya. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, memberikan kesan segar yang kontras dengan wajahnya yang tampak sangat puas. Ia menatap ke arah gundukan selimut di tengah ranjang. Di sana, Gisella masih terlelap dengan sangat pulas. Rambut panjangnya tersebar berantakan di atas bantal, dan napasnya terdengar sangat teratur.
Arsel tersenyum tipis, rasa bersalah yang manis menyelinap di hatinya. Ia tahu ia telah bertindak terlalu jauh pagi tadi. Tenaga Gisel benar-benar telah ia kuras habis sampai gadis itu tidak berkutik lagi begitu ronde ketiga berakhir.
"Tidurlah yang nyenyak, Sayang," bisik Arsel pelan. Ia mengecup kening Gisel dengan sangat lembut agar tidak mengusik mimpi indah gadis itu.
Arsel melangkah keluar menuju dapur. Perutnya sendiri sudah mulai keroncongan, dan ia tahu Gisel pasti akan sangat lapar begitu bangun nanti. Biasanya, Arsel akan memesan makanan dari restoran bintang lima melalui asistennya atau layanan pesan antar, tapi hari ini ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda.
Ia ingin memasak untuk wanitanya.
Arsel membuka kulkas hasil belanjaan mereka kemarin. Ia mengeluarkan beberapa potong daging salmon segar, asparagus, dan kentang. Meskipun ia jarang turun ke dapur, Arsel adalah pria yang perfeksionis. Ia mulai memotong bahan-bahan dengan presisi layaknya sedang memotong anggaran perusahaan.
Bunyi desisan daging yang bertemu dengan mentega panas di atas wajan memenuhi ruangan. Arsel tampak sangat fokus, sesekali ia mencicipi saus lemon mentega yang ia buat sendiri. Baginya, memasak ternyata memiliki kesamaan dengan bisnis: butuh takaran yang pas, kesabaran, dan waktu yang tepat.
Setelah hampir empat puluh lima menit, dua piring Pan-Seared Salmon dengan mashed potato yang lembut dan asparagus renyah tersaji di atas meja bar. Aromanya sangat menggoda, perpaduan antara gurih, segar, dan aroma rempah yang harum.
Arsel kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, memerhatikan wajah Gisel yang masih tertutup sebagian oleh selimut. Ia mengulurkan tangannya, mengelus pipi Gisel yang terasa sangat halus.
"Gisel... Sayang, bangun," bisik Arsel di dekat telinga Gisel.
Gisel hanya menggumam tidak jelas, ia justru menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi hidungnya, mencoba bersembunyi dari suara yang mengganggu tidurnya.
Arsel terkekeh rendah. Ia menarik perlahan selimut itu. "Ayo bangun. Kamu harus makan, nanti kamu sakit."
Gisel perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur dan sayu. Begitu melihat wajah Arsel yang sudah segar bugar, ia langsung teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Wajahnya seketika memerah panas.
"Mas Arsel... jam berapa sekarang?" tanya Gisel dengan suara yang sangat serak.
"Sudah hampir jam dua siang, Sayang. Kamu tidur sangat lama," Arsel membantu Gisel duduk bersandar pada *headboard* ranjang.
Gisel mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa pegal di seluruh persendiannya membuatnya meringis pelan. Ia menatap Arsel dengan tatapan menuduh yang menggemaskan. "Ini semua gara-gara Mas. Aku berasa nggak punya tulang sekarang."
Arsel tertawa lepas, ia meraih tangan Gisel dan mengecup jemarinya. "Maafkan aku. Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu di luar. Bisa jalan, atau perlu aku gendong?"
Dengan bantuan Arsel, Gisel akhirnya berhasil beranjak. Ia mengenakan jubah mandi milik Arsel yang tampak kebesaran di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat mungil. Saat melangkah ke ruang makan, mata Gisel membelalak melihat hidangan yang tertata rapi di atas meja.
"Mas... Mas Arsel yang buat semua ini?" tanya Gisel tidak percaya.
"Tentu saja. Siapa lagi pria tampan di apartemen ini selain aku?" goda Arsel sambil menarikkan kursi untuk Gisel.
Gisel mencicipi suapan pertama. Matanya membulat sempurna. "Enak banget! Mas beneran nggak pesen dari restoran kan?"
"Kejujuran adalah kebijakan utama perusahaanku, Gisel. Itu murni buatanku," Arsel duduk di hadapan Gisel, menikmati pemandangan Gisel yang makan dengan lahap.
Melihat Gisel yang makan dengan penuh semangat, Arsel merasa sebuah kebahagiaan yang sangat sederhana namun mendalam. Ia menyadari bahwa kekayaan triliunan tidak ada artinya jika dibandingkan dengan momen berbagi makanan hasil masakannya sendiri dengan wanita yang ia cintai.
"Terima kasih, Mas," ucap Gisel tulus di sela makannya. "Bapak CEO ternyata punya bakat jadi koki juga ya."
Arsel tersenyum, ia menjangkau tangan Gisel di atas meja dan menggenggamnya erat. "Aku hanya ingin memastikan energimu kembali pulih, Gisel. Karena aku tidak menjamin malam ini aku akan membiarkanmu tidur lebih awal lagi."
Gisel hampir saja tersedak kentang tumbuknya. Ia melemparkan tisu ke arah Arsel sambil tertawa malu. "Mas Arsel! Berhenti menggoda atau aku mogok makan!"
Di tengah tawa dan aroma masakan itu, mereka seolah lupa pada hiruk pikuk Jakarta di luar sana. Di dalam apartemen itu, hanya ada mereka berdua, merayakan rasa syukur atas kehadiran satu sama lain yang kini telah melampaui segala batasan dan kontrak.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏