Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata Batin Terbuka
Rumah yang sederhana dengan lampu ayam tidak begitu terang tapi cukup memberikan cahaya. Ada seorang pemuda di depan pintu tak kuat lagi untuk bangun sekedar masuk kerumahnya begitu berat.
Hujan sudah redah, Aldi merasakan badannya begitu dingin dan panas, dia menggigil hebat merasakan tubuhnya. Terasa sakit dari ujung kaki hingga ujung kepala, terutama di pelipisnya.
"Astaghfirullahalazim Aldi kamu kenapa?," suara wanita yang terkejut melihat Aldi di depan pintu rumahnya dengan kondisi baju robek dan luka di pelipisnya.
Baju Aldi merah bercampur lumpur dengan bercak darah yang sudah mengering tidak hilang karena hujan tadi.
"Tolong.. tolong.. tolong..," teriakan cukup keras meminta tolong, wanita itu mondar mandir kebingungan harus bagaimana.
Ternyata Sita datang kerumah Aldi ingin memberikan sedikit makanan karena dia memasak lumayan banyak hari ini, akan tetapi dia di kejutkan dengan kondisi Aldi yang begitu parah.
Tidak berselang lama warga sekitar yang mendengarkan itu mereka keluar bersama-sama, lari menuju sumber suara.
"Ada apa Sita, kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?," ucap ketua desa.
"Itu pak, tolong pak," Sita menangis dengan bingung sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Itu apa Sita, coba kamu tenang nduk," seorang wanita paruh baya merangkul Sita agar lebih tenang.
Sita menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan pelan.
"Aldi pak tolongin Aldi," ujar Sita, setelah dia lebih tenang dari kepanikannya.
Ketua desa itu langsung melihat kebelakang tepat di rumah Aldi. Dia melihat Aldi di depan pintu tak bergerak sedikitpun.
"Ya Gusti pengeran," ucap ketua desa.
"Tolong bantu bawa masuk nak Aldi," pintanya, lalu bapak-bapak yang berada disitu membantu mengbopong Aldi masuk kedalam rumahnya.
Aldi di rembahkan di kursi bambu miliknya, pakaiannya basah dengan tubuh menggigil kedinginan.
Sita memegang dahi Aldi yang sangat panas, di tambah luka cukup besar di pelipisnya terlihat jelas.
"Panggil dokter desa untuk segera kesini, Sita kamu gantikan pakaian Aldi setelah selesai nanti kami pindah ke dalam kamar," ujar ketua desa.
Jantung Sita berdegup kencang karena dia di minta mengganti pakaiannya Aldi. Apalagi dirinya seorang janda anak satu yang baru saja di ceraikan suaminya.
Ketua desa dan warga lainnya keluar dari dalam rumah Aldi, mereka tidak mau mengganti pakaian Aldi karena takut ikut miskin, ucap salah dari warga lainnya.
Sita yang di dalam dia mendengarkan kata-kata itu dia sangat kesal dengan warga yang selalu menghina Aldi, baginya dia tidak miskin tapi pemuda ini sangat baik hati kepada siapapun.
Sita dengan perlahan mengambil pakaian Aldi di dalam kamarnya kemudian dia melepaskan pakaian basah Aldi, disaat itulah Sita membeku melihat sesuatu yang membuat dirinya nyut-nyutan.
Sita menelan ludahnya dia tidak bisa fokus menganti pakaian Aldi melihat tubuhnya begitu sempurna di depannya, di tambah timun yang membuat Sita tidak bisa fokus.
"Fokus Sita Fokus," gumam Sita, namun dia terus meliriknya membuat dirinya merasakan nyut-nyutan.
Setelah lima belas menit akhirnya Sita selesai mengganti pakaiannya lalu meminta bapak-bapak memindahkan Aldi kedalam kamarnya.
Tidak berselang lama dokter desa datang dengan tiga perawatnya. Mereka melakukan jahit manual di pelipisnya Aldi agar tidak infeksi nantinya setelah selesai lalu memberikan obat agar bisa cepat sembuh.
"Dia kedinginan dan kehabisan tenaga, seperti luka ini tadi mengeluarkan cukup banyak darah jadi dia lemas," ujar dokter desa yang selalu membantu warga sekitar.
"Baik Bu dokter terima kasih," balas Sita yang memegang obat Aldi.
"Ya sudah saya permisi bapak, ibu, mari." Dokter desa itu berpamitan pergi.
Warga sekitar pulang ke rumah sedangkan ketua desa tetap di sana dengan satu bapak-bapak yang menemani ketua desa itu.
Mereka menunggu Sita yang pulang mengambil anaknya yang tak jauh dari rumah Aldi.
"Sita kamu rawat dia ya?, nanti soal biaya biar di tanggung khas desa saja karena dia sangat rajin soal bantu warga yang lain," ujar ketua desa, sebenarnya baik hati tapi dia tidak berani menyentuh lebih lama Aldi.
Seperti ada yang di sembunyikan oleh ketua desa.
"Iya pak, saya akan rawat Aldi. Tapi saya juga izin akan tinggal disini sampai besok pagi Aldi terbangun," ucap Sita.
"Iya gak masalah, ya sudah saya pulang dulu," balas ketua desa lalu berpamitan pulang.
Kini Sita disana sendirian di temani anaknya yang terbangun dari tidurnya.
Aldi Mahendra terbaring di atas tempat tidurnya menggigil hebat tak sadarkan diri, membuat Sita panik harus bagaimana lalu dia memberikan selimut sedikit tebal milik Aldi yang berada di kamar satunya.
Akhirnya Aldi tidak menggigil lagi. Sita keluar dari kamar Aldi dia tidur di kamar satunya bersama anaknya yang sedang bermain ponselnya.
"Ma, om Aldi kenapa?," tanya Bima anak Sita yang baru bisa berbicara lancar.
"Mama gak tau nak, doakan om Aldi cepat sembuh," balas Sita, membelai rambut anak laki-lakinya.
"Kan tadi ketemu di pasar sekarang om Aldi hanya diam saja ma," Bima yang penasaran akan dunia dia bertanya lebih banyak.
"Mungkin om Aldi capek Bima, sudah kamu tidur lagi saja," ujar Sita, lalu merebahkan tubuhnya yang juga lelah akan hari ini.
Sita dan Bima kini terlelap akan tidurnya.
°°°°
Dalam alam bawah sadar Aldi terbangun tidak tau dimana dia berada, Aldi memandang keseluruhan tempat yang asingnya baginya.
"Tempat apa ini," ucap Aldi.
"Kamu berada di alam bawah sadarmu anak muda," suara yang menggema terdengar jelas di telinga Aldi.
"Siapa itu?," tanya Aldi yang kebingungan memandangi keseluruhan.
"Tidak perlu tau siapa aku, aku akan memberikan sesuatu yang seharusnya kamu miliki," balas suara yang menggema di langit-langit.
Seberkas cahaya menghantam keras di dahi Aldi menjalar panas di kedua matanya.
"Ahh.. panas.. panas...," rintihan Aldi merasakan kedua matanya sangat panas oleh seberkas cahaya yang menghantam dahinya tadi.
Kemudian Aldi membuka matanya lebar-lebar merasakan panas luar biasa hebatnya.
Sita yang mendengarkan suara teriakan terbangun kaget lalu berlari melihat Aldi yang berteriak-teriak kepanasan memegang matanya.
"Aldi kamu kenapa Al," Sita yang panik kebingungan dengan keadaan Aldi yang seperti ini.
Dia ingin berteriak keluar meminta bantuan tapi sudah tengah malam jadi dia mengambil air dingin dan kain tipis di lemari Aldi.
Dengan perlahan Sita meletakkan kain basah di Mata Aldi. Akhirnya Aldi kini tenang.
Dalam alam bawah sadar Aldi merasakan dingin di kedua matanya dia terdiam lalu melihat sebuah layar siapa yang membantu dirinya di dunia nyata.
"Gunakan mata itu dengan baik anak muda dan jangan ketakutan," suara itu kembali menggema di cakrawala, seperti asli berada di dunia nyata.
"Siapa sebenarnya anda tuan?," tanya Aldi yang masih bingung.
"Tidak perlu tau siapa saya, suatu saat kau akan tau. Ingat anak muda duniamu akan berbeda mulai saat ini, jangan takut dengan apa yang kau lihat beranilah seperti tubuhmu yang kekar itu," balas suara yang mulai samar-samar menghilang.
"Segeralah bangun anak muda kasihan wanita yang membantumu itu," suara lebih jelas lalu hilang seperti di potong oleh dinding yang tidak jelas.
Aldi Mahendra terhempaskan begitu kuat hingga dia terbangun di dunia nyata.
Dengan napasnya terengah-engah seperti dari lari maraton Aldi duduk dengan wajah tegang sekaligus bingung siapa sebenarnya orang itu.
Sita yang duduk disana kaget melihat Aldi bangun tiba-tiba.
"Gusti pengeran kaget aku Al," ujar Sita memegang dadanya karena kaget.
"Loh.. lukamu kok hilang Al," lanjut Sita yang tanpa sengaja melihat luka Aldi yang sudah hilang tanpa bekas sedikitpun.
"Bentar mbak jangan banyak pertanyaan kepalaku pusing ini," balas Aldi, dia memegang pelipisnya.
Aldi mulai bingung kenapa luka kemarin tidak ada sama sekali, dia terheran-heran kebingungan lalu menampar wajahnya sendiri.
"Aduhh.. sakit juga," ucap Aldi.
Kemudian Aldi berdiri dan di bikin bingung lagi oleh pakaiannya yang berubah sendiri.
Sita yang melihat Aldi kebingungan dengan pakaiannya wajahnya memerah karena malu.
"Jangan bingung aku yang ganti semalam," ujar Sita sambil memalingkan wajahnya.
Aldi terkejut lalu memandang wajah Sita dengan kebingungan harus berterima kasih atas malu karena seluruh tubuhnya di lihat oleh janda anak satu.
°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.