Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 28: WADA' DI NEGERI SERIBU WALI
Tiga tahun di Tarim telah mengubah Muhammad Nero Vane Akbar menjadi sosok yang nyaris tak dikenali oleh masa lalunya sendiri. Kulitnya kini berwarna cokelat keemasan, terbakar oleh matahari gurun Hadramaut yang tak kenal ampun. Namun, perubahan terbesar terletak pada sorot matanya; api liar dan arogan yang dulu membakar pandangan itu telah padam, berganti dengan ketenangan yang teduh namun tajam menembus jiwa.
Jubah putihnya berkibar ditiup angin gurun yang kering saat ia berdiri di ambang pintu asrama untuk terakhir kalinya. Di hadapannya, "Laskar As-Sittah" telah berkumpul. Suasana perpisahan ini terasa begitu berat, seolah udara Tarim pun ikut menahan napas.
Masing-masing dari mereka membawa takdir baru.
Fikri akan melanjutkan perjuangan intelektualnya di Mesir.
Gus Aris pulang untuk meneruskan estafet kepemimpinan di pesantren ayahnya di Jawa Timur.
Ucok berniat membuka pusat dakwah di pinggiran Medan, menyentuh hati para preman seperti dirinya dahulu.
Zul menerima tawaran prestisius untuk mendigitalisasi naskah kuno di Qatar.
Dan Asep... dengan senyum lebarnya, ia berencana membuka usaha "Seblak Bumbu Yaman" di Bandung, membawa cita rasa gurun ke tanah Pasundan.
"Ro," Ucok tiba-tiba melangkah maju, meluk Nero erat-erat hingga tulang-tulang mereka berdesit. Suaranya serak menahan haru. "Jangan pernah lupain bau kambing Tarim ya. Kalau lo nanti di Jakarta udah mulai sombong lagi, kalau ego lo udah naik ke kepala, telpon gue. Gue bakal samperin, dan gue i'rab-in beneran kepala lo!"
Nero tertawa renyah, meski air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia menepuk punggung sahabatnya itu. "Aman, Sob. Gue titip doa buat perjuangan kalian di tempat masing-masing. Jangan lupa kabari gue."
.
.
Sebelum benar-benar melangkah pergi, seorang santri muda memanggil Nero. "Akhi, Habib Ali memanggil."
Jantung Nero berdegup kencang. Ia berjalan menuju kamar pribadi sang guru. Ruangan itu sangat sederhana, hanya dipenuhi tumpukan kitab-kitab tua yang menjulang dan aroma wangi gaharu yang menenangkan jiwa. Habib Ali duduk bersandar di atas tikar, menatap Nero dengan pandangan seorang ayah yang bangga melihat putranya siap terbang mandiri.
Nero bersimpuh di hadapan beliau, mencium tangan keriput sang guru lama sekali, membasahi tangan itu dengan air mata yang tak lagi bisa ia tahan.
"Nero," suara Habib Ali berat, namun lembut membelah keheningan ruangan. "Tiga tahun lalu, kau datang ke sini membawa 'api' dari Jakarta. Api yang membakar dirimu sendiri, api yang penuh amarah, kesombongan, dan kegelapan. Hari ini, aku melihat api itu sudah padam. Ia berganti dengan cahaya yang hangat."
Habib Ali meraih sebuah bungkusan kain hijau dari sampingnya dan menyerahkannya kepada Nero. Dengan tangan gemetar, Nero membuka bungkusan itu. Isinya adalah sebuah sorban hijau tua yang halus dan sebuah kitab kecil tipis berisi tulisan tangan Habib Ali sendiri.
"Dengar pesanku baik-baik, Muhammad Nero," lanjut Habib Ali, tatapannya menusuk langsung ke relung hati Nero. "Di Indonesia nanti, kau akan bertemu kembali dengan duniamu yang lama. Kau akan bertemu dengan orang-orang yang hanya mengenalmu sebagai 'Nero' sang pembalap liar, bukan 'Muhammad' sang penuntut ilmu. Mereka akan mengujimu. Mereka mungkin akan mengejek, meremehkan, atau mencoba menarikmu kembali ke lumpur masa lalu."
Nero menunduk dalam-dalam, menyimak setiap kata bagai mutiara.
"Jangan pernah merasa lebih suci dari mereka," tegas Habib Ali. "Ingatlah, kau pun pernah berada di posisi mereka. Dakwahmu nanti bukan dengan lisan yang tajam menghakimi, tapi dengan akhlak yang luas memeluk. Jadilah seperti air yang sejuk yang memadamkan dahaga, bukan seperti api yang membakar dan menghakimi. Dan satu lagi..."
Habib Ali tersenyum, senyum yang penuh rahasia dan kedalaman makna.
"Tentang 'dia'... gadis yang dulu secara tidak langsung membawamu ke jalan hidayah ini... jangan kau cari dia dengan paksa. Jangan kau kejar bayangannya. Jika memang Allah telah menuliskan namamu bersamanya di Lauh Mahfuzh, maka seluruh dunia pun takkan bisa menghalangi pertemuan kalian. Gunung akan runtuh, laut akan kering, namun takdir akan tetap mempertemukan kalian. Tapi jika tidak, maka ketahuilah dengan yakin: Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik untukmu di ujung jalan dakwahmu."
Nero tertegun. Dadanya sesak. Sang Guru seolah bisa membaca apa yang masih tersisa di pojok paling gelap hatinya, sisa rindu pada Ainun yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
"Pergilah, Muhammad Nero Vane Akbar," ucap Habib Ali memberkati. "Bawalah cahaya Tarim ke aspal Jakarta yang panas. Biarkan suara motormu nanti bukan lagi simbol kesombongan dan kecepatan duniawi, melainkan musik yang mengajak orang menoleh ke arah kebaikan."
Nero mencium tangan Habib Ali untuk terakhir kalinya, air matanya tumpah ruah membasahi gamis putih sang guru. "Doakan saya, Habib. Doakan saya istiqomah. Doakan saya tidak jatuh lagi."
BANDARA INTERNATIONAL SEIYUN
Nero melangkah mantap menuju pesawat. Di tangannya, ia menggenggam erat paspor dan kitab pemberian Habib Ali, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia. Saat pesawat mulai take off, mengangkat tubuhnya meninggalkan bumi Yaman, Nero menempelkan wajahnya ke jendela.
Ia melihat hamparan padang pasir yang luas, bangunan-bangunan tanah liat Tarim yang kian mengecil, dan langit biru yang telah menjadi saksi pertobatannya.
"Selamat tinggal, Tarim," bisiknya lirih, suaranya bergetar. "Terima kasih sudah menghidupkan hatiku yang mati. Terima kasih sudah mengubah Nero si pendosa menjadi Muhammad sang hamba."
Pesawat menembus awan, meninggalkan gurun di bawah. Nero memejamkan mata. Bayangan Jakarta mulai muncul di benaknya: kemacetan yang tak ada habisnya, lampu neon yang menyilaukan, suara bising klakson, hiruk-pikuk manusia, dan mungkin... sosok Ainun yang entah kini berada di mana.
Namun, kali ini, Nero tidak merasa takut. Tidak ada lagi gejolak cemas seperti tiga tahun lalu. Ia tersenyum tipis. Ia sadar, ia kini sudah punya "rem" yang pakem untuk menahan diri dari dosa, dan "mesin" yang jauh lebih bertenaga untuk melaju menuju akhirat.
Mesin itu bernama Iman.
"Jakarta, tunggu aku," gumam Nero sambil mengepalkan tangan. "Aku pulang bukan untuk balapan lagi. Aku pulang untuk berlomba dalam kebaikan."
Di ketinggian 30.000 kaki, Muhammad Nero Vane Akbar menutup mata, memulai perjalanan barunya dengan hati yang penuh cahaya.