NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: PENGORBANAN YANG TAK TERELAKKAN

Keputusasaan telah merayap masuk ke dalam setiap sudut Istana Celestia. Aula Cahaya yang dulu megah dan penuh wibawa kini terasa seperti perahu kertas yang terombang-ambing di tengah badai raksasa. Para Seraph kembali mundur ke dalam ruangan itu, napas mereka memburu, tubuh mereka lelah, dan hati mereka dipenuhi oleh rasa ngeri yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di luar sana, Nihilum terus melahap langit. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak peduli seberapa kuat serangan mereka, seberapa cerdik strategi yang mereka susun, semuanya lenyap tak berbekas saat menyentuh tubuh kegelapan itu.

Mereka adalah penguasa alam semesta, pencipta hukum dan keseimbangan. Namun hari ini, mereka merasa seperti anak kecil yang sedang bermain api di tepi jurang.

“Tidak ada cara biasa untuk menghentikannya…”

Suara itu terdengar pelan, namun cukup jelas untuk memecahkan kebisuan yang berat. Semua kepala menoleh serempak. Itu adalah Lunareth.

Sang peramal berdiri dengan tubuh yang gemetar, wajahnya pucat pasi seolah ia sendiri sedang menanggung beban rasa sakit itu. Matanya yang biasanya menembus masa depan kini tampak redup, penuh dengan kesedihan yang mendalam.

“Lunareth?” Altharion melangkah mendekat, suaranya bergetar menahan harapan yang nyaris mati. “Apa yang kau lihat? Katakan padaku! Pasti ada jalan keluar!”

Lunareth menggeleng pelan, air mata perak mulai menetes di pipinya.

“Tidak ada jalan keluar, Altharion. Tidak ada kemenangan dengan cara kita kenal. Musuh ini tidak bisa dipukul mundur, tidak bisa dipenjara, dan tidak bisa dibunuh. Karena ia adalah lawan dari kehidupan itu sendiri.”

Ia mengangkat tangannya yang lemah, dan sekali lagi, sebuah gambaran muncul di udara. Namun kali ini bukan gambaran pertempuran atau kehancuran. Itu adalah gambaran tentang keseimbangan.

“Untuk menutup celah yang sedemikian besar,” bisik Lunareth, “untuk menyatukan kembali realitas yang robek, kita membutuhkan sesuatu yang setara dengan kekuatan yang membukanya.”

Semua orang terdiam, mencerna kata-katanya.

“Energi setara dengan penciptaan…” lanjut Lunareth, suaranya hampir tak terdengar. “Harus digunakan untuk menutupnya kembali. Hanya ledakan eksistensi yang murni dan tak terukur yang bisa menciptakan daya hisap cukup kuat untuk menyeret Nihilum kembali ke dalam kegelapan dan menyegel pintu itu selamanya.”

Solmira, sang penyeimbang, yang selama ini berdiri diam, kini menutup matanya perlahan. Wajahnya berubah pucat. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

“Itu berarti…” ucap Solmira pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. “Itu berarti kita harus memberikan sesuatu yang nilainya sama dengan seluruh dunia ini.”

“Ya,” jawab Lunareth tegas, meski matanya berkaca-kaca. “Pengorbanan.”

Kata itu jatuh seperti palu godam yang menghantam dada setiap orang di sana.

Pengorbanan Seorang Seraph.

Karena tidak ada benda, tidak ada sihir, tidak ada kekuatan lain di alam semesta ini yang nilainya setara selain nyawa dan esensi dari salah satu dari mereka. Salah satu Penguasa Langit harus rela melepaskan seluruh keberadaannya, meledakkan seluruh kekuatan, ingatan, dan jiwanya sekaligus, untuk menjadi kunci penutup gerbang itu.

Keheningan yang mematikan kembali menyelimuti aula.

Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani menunjuk seseorang. Karena tawaran ini bukan sekadar kematian. Bagi makhluk abadi seperti mereka, lenyapnya esensi berarti bahwa mereka tidak akan pernah ada lagi. Tidak ada arwah, tidak ada reinkarnasi, tidak ada kenangan yang tertinggal selain di hati orang lain. Mereka akan dihapuskan, sama seperti apa yang dilakukan Nihilum.

“Tidak…” bisik Elyndra, kepalanya bergeming kuat-kuat. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. “Tidak bisa! Kita tidak bisa kehilangan salah satu dari kita! Kita adalah satu! Kita bersaudara!”

“Tidak ada pilihan lain, Elyndra!” seru Lunareth, suaranya meninggi karena keputusasaan. “Jika tidak ada yang berkorban, dalam waktu kurang dari sejam, seluruh Elarion akan lenyap! Semua yang kita cintai, semua yang kita jaga, akan hilang selamanya! Apakah itu yang kau inginkan?”

Perdebatan itu menyakitkan. Logika mengatakan satu hal, namun hati menjerit hal lain.

Namun di tengah kepanikan dan kesedihan itu, satu sosok mulai bergerak.

Langkahnya pelan, tenang, dan penuh keteguhan. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan yang terlihat dari gerakannya.

Semua mata tertuju padanya.

Itu adalah Myrrha.

Wanita itu berdiri tegak di tengah aula. Sayap-sayapnya yang berwarna emas murni terkulai lembut di punggungnya, namun memancarkan cahaya yang begitu hangat dan menenangkan, seolah-olah ia adalah satu-satunya matahari di tengah malam yang paling gelap. Wajahnya teduh, penuh dengan kasih sayang yang melampaui batas pemahaman.

“Aku akan melakukannya,” katanya.

Suaranya tidak keras, namun memiliki kekuatan yang membuat seluruh ruangan menjadi hening total.

“TIDAK!”

Elyndra berteriak dan langsung melesat ke depan, menangkap kedua tangan Myrrha dengan erat, seolah takut jika ia melepaskan sedikit saja, sahabatnya itu akan lenyap ditelan angin.

“Jangan, Myrrha! Kumohon! Jangan katakan itu! Kita pasti bisa mencari cara lain! Kita bisa mencoba segalanya! Tapi jangan kau yang pergi!” seru Elyndra, isak tangisnya pecah. Hatinya hancur lebur membayangkan kehilangan sosok yang paling ia cintai, sosok yang selalu menjadi pendengar setia dan sumber kehangatan bagi mereka semua.

Myrrha tersenyum.

Senyum itu indah, namun juga menyakitkan untuk dilihat. Senyuman seseorang yang telah damai dengan takdirnya. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap pipi Elyndra dengan lembut, menghapus air mata yang mengalir di sana.

“Elyndra, sahabatku…” bisik Myrrha lembut. “Kau tahu sendiri bahwa waktu kita hampir habis. Tidak ada cara lain. Dan jika harus ada satu yang pergi untuk menyelamatkan jutaan bahkan miliaran nyawa lainnya… maka biarlah aku.”

“Tapi kenapa kau?!” tangis Elyndra semakin keras.

“Karena kasih sayang bukan hanya tentang menyelamatkan,” jawab Myrrha bijak, matanya menatap jauh ke depan, menembus dinding istana, menembus langit, menembus batas-batas realitas. “Kadang… kasih sayang yang paling murni adalah tentang melepaskan.”

Ia menatap satu per satu wajah para Seraph lainnya. Altharion yang terpaku, Kaelthar yang menundukkan kepalanya karena tak kuasa menahan emosi, Seraphel yang menatapnya dengan hormat tertinggi.

“Aku tidak takut,” kata Myrrha dengan tegas. “Karena aku tahu, meskipun bentukku hilang, apa yang aku lakukan akan tetap ada. Aku akan menjadi bagian dari langit ini. Aku akan menjadi angin, menjadi cahaya, menjadi perlindungan bagi dunia yang kita cintai.”

Di luar sana, gemuruh Nihilum semakin keras. Langit semakin gelap. Waktu hampir habis.

Myrrha melepaskan tangan Elyndra perlahan. Ia melangkah mundur, menjauh dari mereka semua, menuju pintu yang terbuka menuju angkasa luar.

“Jangan bersedih,” serunya terakhir kali. “Ingatlah… ini bukan perpisahan selamanya.”

Dan dengan langkah yang penuh keanggunan, Myrrha berbalik, membentangkan sayap emasnya yang megah, dan terbang menuju kegelapan yang mengerikan itu. Terbang menuju kematiannya sendiri, demi kehidupan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!