NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Logika Di Balik Semangkok Bakso

Jam empat sore teng. Gua udah berdiri di depan gerbang Lab Komputer dengan penampilan yang... ya, sedikit lebih niat dari biasanya.

Gua pake cardigan warna krem yang menurut temen kost gua bikin gua kelihatan lebih "lembut" dan nggak terlalu "preman akuntansi". Rambut gua juga gua catok dikit biar nggak berantakan kena angin motor.

Gua ngetok pintu Lab. Tok tok tok.

"Masuk, Rey. Nggak dikunci," suara Dedik kedengeran dari dalem.

Gua buka pintu dan nemuin Dedik lagi sibuk masukin beberapa dokumen ke dalem tas ranselnya. Dia masih pake baju andalannya: flanel kotak-kotak.

Tapi gua nyadar satu hal, dia kayaknya baru cukuran. Dagunya bersih, dan bau parfumnya... hmm, dia ganti parfum ya? Bukan bau mawar jaket kemarin, tapi bau sandalwood yang maskulin banget.

"Udah siap? Katanya mau traktir bakso?" tanya gua sambil nyender di pintu.

Dedik nengok, matanya sempet berenti di cardigan gua selama dua detik, rekor terlama dia liatin baju gua sebelum balik lagi ke tasnya.

"Logikanya, kalau gua yang ngajak, berarti gua yang bayar. Ayo. Gua udah riset tempat bakso dengan rating bintang 4.8 di Google Maps dalam radius dua kilometer."

"Dih, makan bakso aja pake riset rating segala!" gua ketawa.

Kita jalan ke parkiran. Dedik manasin motor bebeknya. Pas gua mau naik, dia tiba-tiba nyerahin helm cadangannya ke gua. Tapi beda dari biasanya yang cuma ditaruh di jok, kali ini dia megangin helmnya di depan muka gua.

"Sini, gua pasangin. Kancingnya agak susah," katanya lempeng.

Gua kaget. Jarak kita deket banget. Tangan Dedik yang lincah pas main gitar sekarang ada di bawah dagu gua, sibuk benerin tali helm.

Gua bisa ngerasain napasnya yang pelan. Sumpah, ini lebih bikin deg-degan daripada nyanyi depan Rektor.

"Udah," katanya pendek, terus dia naik ke motor. "Pegangan, Rey. Jalanan ke arah sana banyak polisi tidur yang nggak logis tingginya."

Gua naik dan... ya, gua pegangan di pinggangnya. Pelan. Dedik nggak protes. Dia malah narik tangan gua dikit biar lebih kenceng meluknya. Duh, jantung, tolong kerja samanya ya!

***

Kita nyampe di "Bakso Cak Logika".....oke, namanya bukan itu, tapi bagi Dedik tempat ini adalah puncak pencapaian kuliner karena sistem antriannya yang rapi.

Tempatnya di pinggir jalan, gerobaknya bersih, dan aromanya... beuh, surga dunia. Kita duduk di bangku panjang yang mepet ke tembok.

"Mas, bakso urat dua. Satu nggak pake seledri, satu lagi nggak pake tauge," pesen Dedik tanpa nanya gua dulu.

"Loh, kok lo tau gua nggak suka tauge?" tanya gua heran.

"Gua observasi pas kita makan di penginapan Desa Pinus kemarin. Lo selalu misahin tauge dari mie instan lo selama 3,5 menit."

"Itu pemborosan waktu yang menunjukkan ketidaksukaan tingkat tinggi," jawabnya sambil ngambil sendok dan garpu, terus dilap pake tisu.

Gua cuma bisa geleng-geleng. Observasi dia emang ngeri.

Pas bakso dateng, suasananya jadi agak canggung. Cuma ada suara sendok adu sama mangkok keramik. Gua ngerasa ini momen yang pas buat nanya soal flashdisk dari Rendy kemarin.

"Ded, soal flashdisk itu... lo udah kasih ke Pak Dekan?" tanya gua pelan.

Dedik berenti ngunyah baksonya. Dia naruh sendoknya pelan. "Udah. Tadi pagi jam delapan. Pak Dekan kaget banget liat bukti polimer itu."

"Beliau langsung telepon biro hukum kampus buat nahan pencairan dana sponsor sebelum audit independen dilakukan."

"Terus Arlan gimana?"

"Dia dipanggil Dekanat sore ini. Kayaknya sekarang dia lagi 'disidang' di lantai dua," Dedik ngambil sambel dua sendok.

"Logikanya, kalau Arlan terbukti tau soal sabotase itu tapi diem aja, dia bisa di-DO atau minimal diskors dua semester. Tapi masalahnya, Arlan itu sepupu lo, Rey. Lo... lo nggak apa-apa kalau dia kena masalah?"

Gua diem sebentar. Gua ngaduk-ngaduk kuah bakso gua. "Jujur ya, Ded... Arlan emang keluarga gua. Tapi apa yang dia lakuin ke lo, ke riset kita, itu udah keterlaluan."

"Dia hampir ngerusak masa depan lo. Jadi, biarin aja hukum yang jalan. Gua nggak bakal bela dia."

Dedik natap gua, kali ini tatapannya bener-bener dalem. "Makasih, Rey. Gua sempet mikir lo bakal marah ke gua karena gua terlalu ambisius buat ngebongkar ini."

"Gua nggak bakal marah ke orang yang udah meluk gua pas gua kedinginan di hutan, Ded," goda gua sambil nyengir.

Dedik langsung buang muka, sibuk lagi sama baksonya yang tinggal dua biji. "Itu murni pertolongan pertama, Rey. Jangan dicampur sama perasaan."

"Masa sih? Kok jantung lo waktu itu detaknya kenceng banget? Apa itu juga 'logika medis'?"

"Itu... itu efek kaffein dari kopi yang gua minum sorenya," jawabnya ngasal banget.

Gua ketawa kenceng. Liat Dedik salting itu adalah hiburan terbaik minggu ini. Tapi tiba-tiba, suasana berubah pas gua liat ke arah jalan raya. Ada mobil sport item yang gua kenal banget berenti di depan tukang bakso.

Arlan keluar dari mobil. Mukanya berantakan. Kemejanya keluar, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah. Dia langsung jalan nyamperin meja kita.

"DEDIK! PUAS LO?!" teriak Arlan sampe semua orang di tukang bakso nengok.

Dedik berdiri dengan tenang. Dia naruh tisu bekas lap mulutnya ke meja. "Logikanya, Lan... gua cuma nyerahin bukti. Keputusan ada di tangan Dekanat."

"Gue dipecat dari kantor sponsor! Gue juga kena skors satu tahun! Karier gue ancur gara-gara lo!" Arlan mau narik kerah Dedik, tapi Dedik langsung nangkep pergelangan tangan Arlan dengan gerakan yang cepet banget.

"Karier lo ancur karena lo milih buat kerja sama sama orang yang nyabotase keselamatan lo sendiri, Lan," kata Dedik dingin.

"Polimer itu ditaruh di jalan buat bikin lo jatuh, biar riset ini gagal. Lo hampir mati gara-gara mereka, tapi lo malah belain mereka dan nyalahin gua? Di mana logika lo?"

Arlan diem. Dia kayak baru sadar kalau dia itu cuma pion di mata sponsornya. Dia nengok ke gua dengan tatapan hancur. "Rey... lo juga setuju sama dia?"

"Lan, lo harus belajar tanggung jawab," kata gua tegas. "Mending lo balik sekarang sebelum lo bikin keributan yang makin memperparah posisi lo di kampus."

Arlan ngelepasin tangannya dari Dedik. Dia mundur dua langkah, ketawa pahit, terus balik ke mobilnya dan melesat pergi gitu aja.

Gua lemes dan duduk lagi. "Ded... dia beneran hancur ya."

Dedik duduk di samping gua, kali ini dia nggak jaga jarak. Dia naruh tangannya di pundak gua pelan. "Kadang, sistem harus di-reset biar bisa jalan normal lagi, Rey. Arlan butuh reset itu."

Gua ngangguk. Kita lanjutin makan bakso dalam diam, tapi kali ini rasanya lebih lega. Masalah besar udah lewat. Riset sukses, sabotase terungkap, dan sekarang tinggal gua dan si Partner Sialan ini.

"Eh, Ded," panggil gua pas kita mau bayar.

"Apa?"

"Besok kan hari Minggu. Kita nggak ada riset lagi, kan?"

"Secara jadwal, enggak. Tugas kita udah selesai 100%," jawabnya sambil ngeluarin dompet.

"Terus... lo mau ngapain besok?"

Dedik diem sebentar pas lagi bayar ke tukang baksonya. Dia dapet kembalian, terus dimasukin ke dompet. Dia nengok ke gua, terus benerin kacamata hitamnya (yang entah sejak kapan udah dia pake lagi).

"Gua dapet info kalau di gedung auditorium besok ada festival film klasik. Logikanya, nonton film itu bagus buat refreshing kognitif setelah kerja keras," katanya tanpa liat mata gua.

"Oh... gitu ya? Sama siapa lo nontonnya?" tanya gua pura-pura nggak peka.

Dedik ngehela napas, seolah-olah gua adalah soal kalkulus yang paling susah. "Ya sama variabel yang paling susah dihitung dalam hidup gua lah.

Jam sepuluh pagi gua jemput di kostan. Jangan telat, atau gua bakal nulis jurnal soal 'Ketidakteraturan Waktu Mahasiswi Akuntansi'."

Gua senyum lebar banget. "Siap, Bos Teknik!"

Kita balik ke motor. Sore itu langit warna ungu cantik banget. Gua meluk pinggang Dedik lebih erat, dan kali ini, gua ngerasa dia sengaja bawa motornya lebih pelan. Mungkin dia juga mau lama-lamain momen ini.

Gua nyenderin dagu di bahu dia. "Ded, lo tau nggak?"

"Apa?"

"Lo itu partner paling sialan yang pernah gua temuin."

"Gua tau, Rey."

 "Tapi gua suka."

Motor bebek itu terus melaju nembus jalanan kampus yang mulai sepi. Gua nggak tau masa depan riset "Harmoni Nada" bakal gimana, tapi satu hal yang pasti: frekuensi gua dan Dedik sekarang udah bener-bener sinkron.

***

Hari Minggu yang dinanti! Kencan pertama (yang disebut Dedik sebagai refreshing kognitif) dimulai.

Tapi apakah Arlan beneran udah menyerah, atau dia lagi ngerencanain pembalasan terakhir di hari Minggu itu?

Dan apa yang bakal dilakuin Dedik kalau ternyata film klasiknya adalah film romantis yang bikin suasana makin 'berbahaya'?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!