Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 — Hutan Purba
Hutan Purba. Namanya sudah cukup membuat sebagian besar kultivator pemula bergidik. Tapi Li Yao jelas bukanlah seorang pemula.
Di dalam saku jubahnya, tergulung rapi sebuah peta bintang biduk. Bukan peta sembarangan—ini adalah salinan dari peta induk Lingxu Dongtian, yang disimpan di perpustakaan sekte selama ratusan tahun. Meskipun tidak lengkap peta ini tidak lengkap, Wu Qingfeng sendiri yang mengizinkannya meminjam, setelah Li Yao menunjukkan ketertarikannya pada wilayah timur Kerajaan Yan.
“Kamu yakin ingin ke sana?” tetua tua itu bertanya sambil menyeka kacamatanya. “Hutan Purba bukan taman bermain. Banyak murid yang masuk, tidak semua kembali.”
“Aku hanya akan menjelajah pinggirannya,” jawab Li Yao waktu itu. Ia tidak berbohong—tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Kini, berdiri di tepi hutan dengan peta terbentang di tangannya, Li Yao mengamati garis-garis sungai dan titik-titik gunung yang digambar dengan tinta berkilau. Kerajaan Yan memang kecil. Sebuah kerajaan tingkat rendah di pinggiran Wilayah Timur, tidak seberapa dibandingkan dengan kekuatan besar seperti Tanah Suci Yao Guang atau Wilayah Tengah yang sangat luas.
Namun, sekecil apa pun, kerajaan ini tetap memiliki wilayah kekuasaan. Dan di perbatasan timurnya, terbentang hamparan hutan purba yang belum sepenuhnya dipetakan.
Menurut peta, daerah ini relatif aman untuk kultivator ranah alam Roda. Binatang buas di pinggiran hutan kebanyakan berada di level Lautan Pahit hingga Jembatan Roh. Tapi semakin ke dalam, semakin tinggi levelnya. Ada catatan kecil di sudut peta, ditulis dengan tulisan tangan yang sudah luntur: “Hati-hati di lembah timur laut. Konon ada singa api berekor ular. Jangan coba-coba.”
Li Yao tersenyum membaca catatan itu. Singa api berekor ular, ya? Ia tidak tahu apakah itu ada atau hanya cerita turun-temurun. Tapi menarik juga untuk dilihat.
Ia melipat peta dan memasukkannya kembali ke saku.
Tujuannya sederhana: mencari ramuan untuk membantunya menembus Istana Dao. Bukan ramuan biasa—setidaknya raja obat kecil berusia sepuluh hingga dua puluh ribu tahun. Ia tahu harapannya mungkin terlalu tinggi. Tapi bukankah Hutan Purba ini dikenal menyimpan banyak tanaman tua yang tidak ditemukan di tempat lain?
"Ye Fan dan Pang Bo di masa depan nanti... hanya mendapatkan Bunga Anggrek Ular Giok berusia lima ratus sampai enam ratus tahun."
Dan mereka sudah senang bukan main. Padahal, di mata kultivator, ramuan itu cuma cocok jadi bahan dasar pil kelas rendah — menengah. Namun Li Yao tidak merasa bangga, lagi pula saat itu Ye Fan dan Pang Bo masih berada di alam Lautan Kepahitan.
Ia hampir tertawa. Dua pemuda dari Bumi, baru pertama kali masuk hutan, langsung merasa beruntung mendapat ramuan kelas menengah. Tapi berbeda dengan mereka, Li Yao datang dengan penuh persiapan.
Li Yao punya kesabaran, punya peta. Dan ia punya tubuh Kekacauan aktif, yang memungkinkannya bertahan lebih lama di alam liar tanpa perlu banyak makanan atau air.
Ia melangkah masuk ke antara pepohonan.
Hari pertama di hutan terasa seperti ujian kesabaran.
Akar-akar pohon menjulang setinggi pinggang, memaksanya melompat dari satu tonjolan ke tonjolan lain. Lumut basah membuat pijakan licin. Kadang-kadang tanah di bawahnya ternyata berlubang, tertutup daun-daun kering yang menipu.
Dua kali Li Yao hampir terperosok ke dalam jurang tersembunyi—yang pertama ia menyelamatkan diri dengan berpegangan pada akar, yang kedua ia harus berguling cepat ke samping. Tapi Li Yao tidak jatuh. Tubuh Chaos-nya beradaptasi dengan cepat. Setiap langkah, setiap lompatan, setiap kali ia hampir kehilangan keseimbangan, semuanya tercatat dalam otot dan refleksnya.
Perlahan, gerakannya menjadi lebih efisien. Li Yao tidak lagi berlari tergesa-gesa, melainkan melompat dengan ritme tenang—seperti rusa yang sudah puluhan tahun tinggal di hutan ini.
Di sela-sela perjalanan Li Yao sesekali berhenti, memeriksa tanaman-tanaman yang ia temui. Ada jamur bercahaya di batang pohon lapuk—cendawan malam, bisa dijual seharga sepuluh batu sumber per kilogram. Ada lumut perak di sela-sela bebatuan—lumut es abadi, bagus untuk menyembuhkan luka bakar.
Ada bunga kecil dengan kelopak sebening kristal di dekat aliran sungai—mata air fana, konon bisa memperpanjang umur manusia biasa hingga sepuluh tahun. Semuanya ramuan kelas rendah. Berguna, tapi tidak berarti bagi seorang Li Yao yang butuh loncatan penuh ke Istana Dao.
Belum cukup, pikirnya. Masih terlalu dangkal.
Li Yao terus berjalan ke dalam.
Di tengah perjalanan, beberapa kali ia berpapasan dengan binatang buas. Seekor ular piton raksasa melintas di depannya, panjang lebih dari sepuluh meter, sisik berkilau seperti batu giok. Dari kejauhan Li Yao sudah mendeteksi suara dedaunan bergeser tidak wajar. Ia berhenti, memilih jalur lain, dan melewati ular itu tanpa pernah terlihat.
Seekor serigala hitam bermata merah mengendus-endus di semak-semak. Li Yao memanjat pohon, duduk diam di dahan selama seperempat jam, menunggu serigala itu bosan.
Seekor burung rajawali dengan lebar sayap dua kali tubuhnya terbang rendah di atas kanopi. Ia bersembunyi di bawah akar pohon yang menonjol keluar, menutupi auranya dengan tanah basah.
Bukan karena takut. Tapi karena tidak perlu bertarung.
Tubuh Kekacauan-ku ini terlalu miskin, Li Yao menghelas nafas pelan. Tidak punya teknik serangan jarak jauh yang kuat. Tidak punya mantra pertahanan. Hanya mengandalkan fisik dan refleks. Ia sadar betul akan keterbatasannya.
Tubuh Kekacauan luar biasa dalam menyerap energi dan beradaptasi dengan lingkungan, tapi untuk urusan bertarung, Li Yao masih mentah. Tidak ada jurus andalan. Tidak ada teknik rahasia warisan leluhur.
Jadi buat apa buang-buang energi untuk bertarung dengan binatang yang tidak menjagaku? Ia tersenyum getir. Biarkan mereka berkelahi sesama sendiri. Aku cukup ambil ramuannya dan pergi. Tapi untuk ramuan yang benar-benar berharga, ia pasti harus berhadapan dengan penjaganya. Itu tidak bisa dihindari. Yang bisa Li Yao lakukan hanyalah memilih pertempuran dengan bijak—atau menghindarinya sama sekali.
Hari kedua.
Pepohonan berubah. Batang-batangnya tidak lagi sekadar besar—mereka seperti dinding hidup yang menjulang ke langit, cabang-cabang saling bertaut membentuk kanopi rapat. Sinar matahari nyaris tidak bisa menembus. Yang tersisa hanyalah remang-remang kehijauan dari lumut-lumut yang menempel di mana-mana. Udara terasa lebih lembab, hampir lengket. Dan dari dalam kelembaban itu—aroma samar merembes.
Li Yao mengendus aroma itu. Samar, tapi jelas. Seperti rumput kering direndam air hujan, bercampur madu yang terlalu tua. Itu adalah aroma tanaman yang sudah berusia ribuan tahun. Bukan hanya satu—beberapa, tersebar di berbagai arah.
Ia mengikuti aroma itu, melompat dari akar ke akar, sesekali berhenti memeriksa arah angin. Di satu titik, ia menemukan jejak kaki besar di tanah berlumpur—jejak cakar, dengan kedalaman setengah jengkal. Binatang besar. Sangat besar. Tapi ia tidak menghindar. Ia hanya mencatat bentuk jejak itu dalam ingatan, lalu melanjutkan perjalanan dengan lebih hatihati.
Istana Dao? Li Yao Jelas merasakan jejak aura yang ditinggal monster ini. Ia sangat yakin bahwa setidaknya monster ini berada di ranah Istana Dao.
"Tapi itu tidak penting selama aku bisa mencu–ehem mengambil ramuannya dan lari."
Li Yao menggelengkan kepala pelan, kemudian terus berjalan. Aroma tanaman semakin kuat. Dan di kejauhan, ia mulai mendengar suara air terjun—samar, seperti gemericik yang tertahan oleh pepohonan. Peta menunjukkan bahwa di arah itu ada sebuah lembah kecil. Dan di lembah itu, menurut catatan tua yang hampir luntur, dahulu kala pernah ditemukan jejak tanaman raja obat.
Li Yao mempercepat langkah.