Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Ruang Pengadilan Sang Ketos
Sandra berdiri mematung di depan lokernya. Begitu ia menyalakan BlackBerry-nya, perangkat itu terasa panas karena getaran notifikasi yang tak henti-hentinya. Layarnya penuh dengan simbol D (Delivered) dan R (Read).
Beberapa siswa yang lewat melirik ke arahnya dengan tatapan meremehkan, lalu berbisik sambil menunjukkan layar ponsel mereka masing-masing. Sandra memberanikan diri membuka salah satu Broadcast Message yang masuk. Jantungnya seolah berhenti.
BM: HOT NEWS!!!
Ratu sekolah atau Zombi sekolah? Liptint baru atau racun baru? Cek foto-foto eksklusif si bibir biru di lampiran! PING!!!
Foto-foto Sandra yang sedang menutup wajah dengan bibir biru pekat sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah melalui pesan berantai. Tubuh Sandra gemetar hebat. Amarah dan rasa malu bercampur menjadi satu, tapi di tengah kekalutan itu, sebuah pikiran jahat melintas: Bagaimana dengan Yasmin?
Ia ingat Yasmin sempat memakai liptint itu sebelum menghapusnya. Jika ia hancur, Yasmin harus jauh lebih hancur. Dengan napas memburu, Sandra berlari menuju kelas X-2. Ia mencegat Yasmin di koridor saat gadis itu bersiap untuk pulang.
"Yasmin! Tunggu!" teriak Sandra.
Yasmin berhenti, menatap Sandra dengan bingung. Sandra terpaku sejenak melihat bibir Yasmin. Biasa saja. Bersih. Tidak ada noda biru.
"Ini..." Sandra menyodorkan liptint "maut" itu dengan tangan gemetar. "Ini liptint elo, kan? Tadi jatuh di kelas gue. Gue cuma mau balikin ini."
Sandra menahan napas. Jika Yasmin menerimanya dan memakainya lagi untuk touch-up sebelum pulang, maka rencana Sandra berhasil. Ia ingin melihat Yasmin merasakan penderitaan yang sama.
Namun, Yasmin hanya menatap benda itu dengan kening berkerut. "Liptint? Tapi liptint-ku tidak jatuh, Kak."
"Jangan bohong! Ini pasti punya elo. Waktu lo mau pergi tadi ada yang nabrak elo, kan? Dan benda ini jatuh tepat di kakiku!" desak Sandra bersikeras, suaranya meninggi karena panik yang mulai menjalar.
Yasmin menggeleng pelan, wajahnya tampak tulus tanpa beban. "Tapi beneran tidak jatuh, Kak."
Ia perlahan merogoh kantong kecil di dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah wadah liptint yang identik. "Ini punyaku, Kak. Dari tadi ada di dalam tas dan tidak pernah jatuh. Waktu di kelas tadi, Kak Vyan yang memegangnya."
Sandra tersentak. "Apa?!"
Kening Sandra berkerut dalam, otaknya bekerja keras memutar kembali kejadian tadi pagi. Pantas saja Yasmin tetap melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun saat ia mengira benda itu jatuh. Ternyata karena benda itu memang tidak pernah menyentuh lantai! Jadi, sejak awal ada dua liptint yang nampak identik? Satu yang asli dipegang Vyan, dan satu lagi yang... sengaja dijatuhkan untuknya?
"B-berikan padaku liptint-nya. Ayo tukar dengan punyaku!" tuntut Sandra tiba-tiba, tangannya bergerak hendak merebut milik Yasmin. Ia hanya ingin Yasmin mengalami nasib yang sama.
Yasmin dengan cepat menarik tangannya menjauh, menyembunyikan benda itu kembali ke dalam tas. "Tidak bisa, Kak. Kak Vyan bilang, kalau Kak Sandra ingin tukaran liptint denganku, Kak Sandra datang saja ke ruang OSIS."
Yasmin kemudian tersenyum manis, sebuah senyuman tanpa dosa yang justru terasa menyakitkan bagi Sandra. "Mungkin Kak Vyan mau kasih Kak Sandra liptint yang baru kalau punya Kak Sandra sudah habis."
Ucapan polos Yasmin bagaikan sambaran petir yang tepat mengenai ulu hati Sandra. Lututnya tiba-tiba terasa lemas, wajahnya yang tadinya merah karena marah kini berubah pucat pasi seputih kertas.
Vyan sudah tahu. Vyan sudah merencanakannya. Bahkan Vyan sudah menyiapkan "jawaban" sebelum Sandra sempat bertanya.
Tanpa sepatah kata pun, Sandra berbalik. Ia berjalan dengan langkah sempoyongan, menjauhi Yasmin. Jantungnya berdetak liar hingga terasa menyakitkan di dada, sementara keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia merasa seperti seekor domba yang baru saja sadar bahwa pintu kandang yang ia masuki adalah pintu ruang jagal.
...****************...
Di dalam ruang OSIS yang beraroma kopi dan kertas lama, suasana terasa mencekam. Dhini dan Tegar berdiri mematung di depan meja besar Vyan. Vyan tidak sedang membentak; ia hanya duduk tenang sambil menatap layar ponsel di tangannya. Namun, aura di sekitarnya membuat kedua anggota OSIS itu merasa oksigen di ruangan itu menipis.
Sebelumnya, mereka mendapat pesan untuk datang ke ruang OSIS sepulang sekolah, lalu Agil menyuruh mereka masuk sementara dia berjaga di luar seolah memblokir ruangan ini dari orang yang menginterupsi sidang yang akan berlangsung di sini.
"Tidak perlu tegang. Santai aja sih," ucap Vyan tenang diiringi senyuman. Pandangannya beralih ke wajah mereka yang justru terlihat semakin tegang.
"Kudengar kalian pacaran ya? Kalian sekelas, sama-sama anggota OSIS dan kalian pacaran ... kompak sekali."
"E-e ... iya ...," jawab Tegar ragu. Dhini hanya senyum terpaksa karena aura intimidasi Vyan tidak berubah sekalipun bicaranya santai.
"Apa kalian juga kompak diam dengan pembullyan yang terjadi di kelas kalian? Atau kalian ikut menikmatinya... atau justru menjadi pelaku?"
Deg!
Pasangan itu pucat. Dhini menggeleng cepat. Keringat dingin menetes di dahinya.
"Bukan begitu, Kak. Itu hanya... bercandaan anak-anak biasa—"
"Bercanda? Apa standar moral lu begitu rendah?"
Vyan memperlihatkan rekaman CCTV ketika Yasmin dibully, ditertawakan, buku tulisnya direbut dan dirobek lalu dilemparkan ke tempat sampah.
Dhini ternganga. Suaranya tidak keluar.
"A-aku ga tahu i-itu aku lagi ga di kelas ...." Tegar melirik Dhini. "Dhin, gue juga bilang apa? Lu tuh .... "
Kalimat Tegar terputus saat pintu ruangan terbuka kasar. Sandra masuk dengan napas memburu, maskernya terpasang miring. Begitu melihat Dhini dan Tegar, ia ragu. Dia membetulkan letak maskernya.
"Vy-Vyan, a-ku perlu bicara. Empat mata," ucap Sandra tegang.
Vyan meletakkan ponselnya di atas meja dengan suara dentuman pelan yang gemanya seolah menyapu seluruh ruangan. Ia tidak memandang Sandra. Tatapannya tetap tertuju pada Dhini dan Tegar, seolah kedatangan Sandra hanyalah sebuah interupsi kecil yang sudah ia jadwalkan.
"Bicara saja, Sandra. Tidak ada rahasia di antara rekan kerja, bukan?" Vyan menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada. "Dhini dan Tegar sedang belajar tentang konsekuensi. Kurasa lu bisa menjadi contoh kasus yang sangat menarik buat mereka."
Vyan melemparkan tatapannya lagi pada Sandra. Tubuh Sandra bergetar. Tangannya terkepal kuat.
"Ka-kamu sengaja, kan?" suara Sandra bergetar di balik masker seolah dia telah mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk bicara. "Kamu yang menukar liptint itu. Kamu tahu aku akan mengambilnya. Kamu juga yang menaruh contekan di kolong mejaku waktu ulangan kemarin!"
Vyan menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya tampak begitu polos namun mematikan. "Gue nggak menukar apa pun. Gue cuma pastiin milik Yasmin kembali ke tangannya. Kalau lu mungut sesuatu yang bukan milik lo dari lantai dan menganggapnya harta karun ... bukannya itu kesalahan logika lo sendiri?"
Vyan bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di depan Sandra.
"Soal contekan? Ya, gue pernah janji ngasih tahu lo pelakunya hari ini. Dan lo benar, itu... gue."
Perkataan Vyan seolah jatuh di ruang kosong. Berdengung di telinga Sandra. Tatapannya terkunci pada wajah ketosnya yang menawan, yang kini terlihat seperti algojo yang siap memenggalnya dengan sekali hantaman.
"Ke-kenapa?" Suara Sandra sangat lemah.
"Kenapa? Bukannya lo dan dua teman lo lagi cari kunci jawaban itu buat lo beli. Gue cuma ngasih itu gratis buat kalian."
Sandra tersentak. Dia memang sempat tertarik dengan akun anonim yang menawarkan kunci jawaban. Tapi dia urung membelinya karena kekurangan dana. Kalaupun dia beli, mustahil dia jadikan itu contekan karena dia berencana untuk menghafalnya.
"Ti-tidak mungkin. Lo beli kunci jawaban itu a-atau... "
Sandra menutup mulutnya sendiri. Dia tidak berani menyebutkan dugaannya. Entah kunci jawaban itu Vyan beli atau dia dapatkan sendiri, jelas itu pelanggaran. Vyan memakai kejahatan untuk menghukumnya? Jantung Sandra nyaris copot. Dia mengerti sekarang, bagi Vyan entah itu baik atau buruk, benar atau salah, dia tidak peduli dengan label itu selama dia perlu untuk menggunakannya. Dia berdiri di wilayah abu-abu, bahkan mungkin tidak akan berkedip kalaupun harus menjatuhkan seseorang dengan fitnah.
"Gue cuma ngasih apa yang lo mau. Bukan salah gue kalau lo ketahuan. Gue juga ga nyuruh lo ngambil sampah yang lo kira barang mewah itu."
Vyan perlahan melangkah mendekati Sandra. Dia menunduk mendekatkan wajah pada Sandra.
"Lo boleh banget ngadu ke guru. Tapi larutan asam yang mau lo siram ke Yasmin itu ... Gue pegang buktinya dan Ray pasti dengan senang hati mau menjadi saksi."
Air mata Sandra berjatuhan. "A-aku tidak bermaksud melukai Yasmin ... a-aku hanya menakut-nakuti saja."
Vyan hanya tersenyum lalu berbalik dan kembali bersandar di meja.
Sandra panik. Dia mendekati. "Maaf.... maafin aku, Vyan. Aku janji ga akan ganggu Yasmin lagi. Sumpah! Aku ga berani... "
"Keluar ...," ucap Vyan dengan tatapan dan suara dingin.
"Ta-tapi apa lu maafin gue?"
"Minta maaf pada Yasmin dan jangan pernah macam-macam lagi di sekolah ini. Dan ingat, beritahukan ini pada Mia dan Resi. Besok tidak ada seorangpun dari kalian yang boleh bolos sekolah, dengan alasan apapun."
Sandra tersentak. Jelas Vyan tidak mau melepaskannya dari teror. Namun, dia tidak punya jalan keluar. Sandra mengangguk lalu mundur, dan berbalik.
Brak!
Suara pintu yang diterjangnya adalah suara terakhir dari keheningan yang tersisa di ruang itu. Tegar dan Dhini pucat. Tubuh mereka gemetar, tangan mereka terkepal, kepala mereka menunduk dalam. Bahkan mereka bernapas dengan hati-hati seolah takut menjadi sasaran sang Predator selanjutnya.
Mereka berharap menghilang atau tubuh mereka menjadi transparan. Namun, jelas harapan mereka pupus ketika Vyan menoleh ke arah mereka. Tubuh mereka bahkan melonjak kaget hanya karena Vyan berdehem.