Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan Hanif
Hanif terus menggenggam erat tangan riyani, menatap wajahnya dengan lembut.
"Neng, Aa gak pernah melihat kesetaraan hubungan harus dalam bentuk materi, pekerjaan atau bahkan gelar. Siapapun bisa mendapatkan gelar itu, pekerjaan itu. Tapi Aa benar-benar menyukai kamu dalam bentuk segala hal tentang kamu."
"Aa bangga kamu perempuan yang dijaga baik sama keluarga kamu, Aa bangga kamu gak selalu mengeluh dengan apa hal yang terjadi, Aa bangga karena Aa bisa lebih dekat dengan kamu dibanding orang lain. Dan kamu cantik, sangat cantik melebihi apa yang kamu kira."
Riyani menangis.
Mendengar apa yang dikatakan Hanif membuatnya semakin dalam jatuh pada pelukan hangat cinta hanif.
Hanif mengusap air matanya.
"Jangan menyerah ya! Aa pengen sama kamu, selamanya. Aa masih merayu Allah biar bisa sama kamu dalam waktu yang lama."
Riyani tersenyum.
Ia mengangguk mengiyakan.
"Aa masih pengen tau alasan kamu keluar dari rumah sakit itu kenapa? Terus tiba-tiba pengen jauhin Aa."
"Waktu Aa marah, Neng mau minta maaf. Tapi waktu keluar, Neng liat Aa lagi ngobrol sama dokter cewek cantik, terus kata perawatnya kalau dokter itu suka sama Aa dan setara kalau bersanding sama Aa. Dia juga cantik, terus rela pindah ke Sukabumi karena Aa."
Hanif terkekeh mendengarnya.
"Dokter yang kamu maksud itu, Dokter Velia?" tanyanya.
Riyani mengangguk.
"Neng, kamu ini gak boleh loh membuat kesimpulan sendiri hanya karena denger cerita dari orang lain yang belum tentu benar. Kan Seyila juga udah pernah bilang kalau Aa gak pernah ada gosip apapun. Apalagi dekat sama cewek, kenapa sekarang kamu percaya omongan perawat itu?"
"Abisnya kata dia dokter velia lebih cocok sama Aa dibanding cewek lain," ucap Riyani.
Hanif terkekeh pelan.
Ia cubit pipi wanitanya gemas.
"Cemburu ternyata."
"Ih apaan sih! Enggak ya. Aku cuman ngerasa omongan perawat itu bener aja," timpal Riyani.
Hanif menahan senyumannya.
"Kamu ngerasa begitu karena kamu gak ngeliat value kamu sendiri. Padahal gak harus jadi dokter biar dianggap setara kan? Lagipula ini hubungan Aa, calon istri Aa, apa hubungannya sama omongan orang lain."
"Lagian dengerin ya! Velia itu tunangannya Yanuar, dia baru dipindahin ke Sukabumi. Sedangkan, tunangannya itu masih proses buat pindah ke sini. Dia bukan seneng pindah ke sini karena Aa, tapi karena dia emang suka Sukabumi sejak dulu emang pengen kerja di sini."
"Beneran?" tanya Riyani.
Hanif mengangguk.
"Iya Neng. Yanuar itu kerja di perusahaan yang ternyata di Sukabumi juga ada, dia ajukan buat pindah karena Velia ada di sini."
"Emang bisa begitu? Kenapa gak LDR aja?"
"Berat, Neng. Emang kamu mau LDR sama Aa?" tanya Hanif.
"Mau, mau aja sih. Lagian kita gak ada hubungan apapun," ucap Riyani sembari mengedar pandangan.
Hanif menahan senyumannya.
"Oh gitu?"
Riyani ikut tersenyum.
Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, membukanya, lalu memasangkan benda kecil dengan satu permata itu dipasangkan pada jemari riyani.
Riyani menoleh terkejut.
"Ini apa? Apa artinya?"
"Aa mau serius sama kamu. Tapi kalau karena kamu maunya lamaran langsung, Aa nunggu kamu siap dulu. Jadi sementara ini Aa ikat kamu pake cincin ini ya?"
"Gak apa-apa kan?"
Riyani menatap cincinnya bergantian pada Hanif yang masih berjongkok di hadapannya.
"Aa yakin sama aku?"
"Kalau gak yakin Aa gak bakal cari cincin buat kamu," jawab Hanif.
"Tapi ibu sama ayah gimana?"
"Kamu yakin masih mempertanyakan pendapat mereka?"
"Mereka udah kenal kamu, jauh lebih dulu dibanding Aa. Jadi gak mungkin gak setuju, mereka justru yang mendorong Aa supaya gak lama-lama bawa kamu di hubungan yang gak jelas ini."
Riyani menarik napasnya terharu.
"Kalau Aa yakin sama aku. Neng juga mau yakin sama Aa, mau belajar biar pantas bersanding sama Aa."
Hanif tersenyum.
"Janji kalau ada apa-apa cerita dan tanyakan sama Aa ya? Jangan ambil keputusan sendiri."
Riyani mengangguk.
...----------------...
2 minggu berlalu,
Siang ini, Riyani akan pergi ke Bandung bersama dengan Hanif dan keluarganya. Tapi berhubung lelaki itu harus bekerja lebih dulu di hari sebelumnya, Riyani memintanya untuk beristirahat lebih dulu. Sedangkan orang tua dan adiknya pergi pagi tadi.
Hanif meminta izin pada kakek dan nenek riyani, mengajak gadis yang sudah dijaga dengan baik untuk menginap dan akan dikenalkan pada keluarga besarnya.
Hanif menoleh pada Riyani yang berdiri di belakangnya. Ia pasangkan helm pada Riyani dengan hati-hati.
"Beneran gak apa-apa pake motor?"
"Gak apa-apa, Aa. Lagian kayaknya lebih seru pake motor, terus cuaca juga lagi panas ini," jawab Riyani.
"Ya udah kalau gitu. Yuk!" ajak Hanif.
Perjalanan tidak terlalu macet, apalagi memang masih hari kerja dan bukan jadwal pulang. Kendaraan tidak terlalu padat, sampai Riyani sudah sampai Bandung setelah adzan magrib.
Hanif memarkirkan motornya pada halaman rumah yang cukup besar. Di sampingnya ada pelaminan yang masih dalam pengerjaan. Bunga-bunga dipasangkan dengan cantik, dengan nuansa biru di seluruhnya.
"Ini calonnya hanif?" tanya seseorang membuat Hanif dan Riyani menoleh.
Wanita tua yang terlihat cukup mirip dengan Seyila baru keluar dari rumahnya. Disusul Seyila dan juga ibu.
Hanif menggandeng tangan riyani untuk menghampiri mereka.
"Kenalin Nek, Riyani panggilannya Neng. Calon istri Hanif."
"Dih ngaku-ngaku, emang Neng udah mau?" tanya Seyila.
Hanif mengangkat tangan riyani, terlihat cincin yang dibelinya terpasang dengan baik.
"Udah dong."
Riyani terkekeh pelan mendengarnya.
Ia bersalaman pada nenek dan ibunya.
Riyani akan tidur dengan Seyila malam ini. Sedangkan Hanif mengobrol dengan bapak-bapak—bergabung dengan ayah dan saudaranya yang menjaga pelaminan untuk besok hari.
Seyila menyamping pada sahabatnya.
"Neng, kamu kemarin marahan sama abang ya?"
Riyani mengangguk.
"Cuman udah selesai kok."
"Neng, aku gak mau ikut campur tentang hubungan kalian. Tapi aku berani jamin, kalau abang aku itu akan beda dengan laki-laki yang lain yang pernah kamu kenal sebelumnya."
"Aku kan udah pernah bilang kalau dia itu mantep luar dalem. Jangankan aku, ibu aja sempet ragu kalau dia suka perempuan. Dikira anaknya itu suka laki-laki lagi makanya gak pernah pacaran. Ternyata dia suka sama temen aku yang sering ke rumah."
Riyani terkekeh pelan.
"Tapi kok dia bisa kenal sama aku ya? Maksudnya, aku belum pernah ketemu dia pas ke rumah kamu dulu."
"Kayaknya pernah, cuman kamu gak nyadar. Kamu inget ruangan baca yang sering kita pake buat belajar?"
Riyani mengangguk.
"Itu ruang baca dia."
"Kayaknya dia pernah liat kamu di sana."
"Ah pantesan."
"Tapi dia baik kan sama kamu, Ri? Kalau dia jahat, mau dia abang aku ataupun bukan. Kasih tau aku."
Riyani kembali mengangguk.
"Kan kata kamu juga dia mantep luar dalem. Dia baik kok sama aku, katanya dia gak mau bawa aku lama-lama di hubungan gak jelas ini. Dia mau serius La."
"Beneran? Kapan? Ihhh nanti kita bakal jadi ipar."