Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
Darah mengalir deras dari pelipis Darren, menetes hingga membasahi jok mobil yang sudah hancur di bagian depan. Airbag di balik kemudi sudah mengembang sempurna, tetapi benturan keras itu tetap membuat tubuhnya terpental hebat. Pecahan kaca berserakan di mana-mana, sementara asap tipis keluar dari kap mobil yang ringsek parah.
Tubuh Darren terjepit di balik kemudi. Napasnya tersengal lemah. Pandangannya mulai kabur. Namun di tengah kesadarannya yang perlahan menghilang, hanya satu wajah yang terus muncul di kepalanya.
Daniela.
Nama itu bahkan masih sempat terucap lirih dari bibir pucatnya.
"Daniela..."
Tak lama kemudian tubuh Darren rubuh di atas setir mobilnya dan suara klakson panjang yang terus berbunyi menarik perhatian beberapa pengendara yang melintas. Mereka langsung menghentikan kendaraan dan berlari mendekat.
"Astaga! Cepat panggil ambulans!"
"Kondisinya parah banget!"
"Pintunya nggak bisa dibuka!"
Beberapa orang mencoba menarik pintu mobil Darren yang penyok parah, sementara yang lain menghubungi ambulans dan polisi.
Hujan masih turun deras membasahi jalanan malam itu.
Tak lama polisi berdatangan dan suara sirine ambulans pun terdengar memekakkan telinga. Petugas medis dan tim penyelamat segera turun dari kendaraan.
"Korban masih hidup!"
"Tekanan darah turun drastis!"
"Kita harus keluarkan dia sekarang juga!"
Proses evakuasi berlangsung sulit karena bagian depan mobil sudah hancur total. Setelah beberapa menit yang menegangkan, tubuh Darren akhirnya berhasil dikeluarkan dalam keadaan penuh darah dan sudah tak sadarkan diri.
Petugas medis langsung memasangkan alat bantu napas.
"Detak jantung melemah!"
"Segera bawa ke rumah sakit!"
Tubuh Darren pun dinaikkan ke atas brankar dengan sangat hati-hati, lalu dimasukkan ke ambulans.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kondisi Darren terus menurun. Mesin monitor jantung beberapa kali berbunyi nyaring membuat suasana di dalam ambulans semakin menegangkan.
"Pasien kehilangan banyak darah!"
"Siapkan oksigen tambahan!"
"Saturasi terus turun!"
Seorang petugas medis terus memberikan penanganan darurat sambil berusaha menahan pendarahan di bagian kepala dan dada Darren.
Sementara itu di kediaman Darren, Antonio mulai merasa gelisah karena putranya belum juga bisa dihubungi.
"Panggilannya nggak masuk terus?" tanya Citra cemas.
Antonio menggeleng pelan.
"Entah kenapa Papa merasa tidak tenang."
Belum sempat percakapan itu berlanjut, ponsel Antonio tiba-tiba berdering. Sebuah nomor asing muncul di layar.
Antonio segera mengangkatnya.
"Halo?"
Suara wanita di seberang sana terdengar buru-buru.
"Apakah ini keluarga Tuan Darren Callister?"
Antonio langsung berdiri.
"Iya, saya papanya. Ada apa?"
"Maaf Pak, Tuan Darren mengalami kecelakaan serius dan sekarang sedang dibawa ke Rumah Sakit Sentosa."
Wajah Antonio langsung pucat.
"Apa?!"
Citra yang mendengar suara suaminya langsung menghampiri dengan panik.
"Kenapa? Ada apa sama Darren?!"
Antonio menurunkan ponselnya perlahan. Sorot matanya berubah kosong.
"Darren kecelakaan..."
Tubuh Citra langsung limbung seketika.
"Ya Tuhan..."
Antonio menurunkan ponselnya perlahan. Sorot matanya berubah kosong.
"Darren kecelakaan..."
Tubuh Citra langsung limbung seketika. Untung saja Antonio sigap menahannya sebelum wanita itu jatuh ke lantai.
"Mama!"
Wajah wanita itu mendadak pucat pasi. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya gemetar hebat.
"Putra kita..." suaranya bergetar. "Darren... Darren kecelakaan kenapa...?"
Antonio berusaha menenangkan istrinya meski dirinya sendiri sama paniknya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Citra mengangguk cepat sambil menahan tangis yang mulai pecah. Tangannya bahkan sampai kesulitan menggenggam tas karena terlalu gemetar.
"Dia pasti nggak apa-apa kan...? Darren pasti selamat kan, Pa...?" tanyanya dengan suara nyaris putus asa.
Antonio terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak.
"Ayo sekarang!"
Keduanya segera bergegas keluar rumah menuju mobil dengan perasaan kacau dan penuh ketakutan.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Citra terus menangis sambil menggenggam erat tangan Antonio. Wajah wanita itu sudah basah oleh air mata sejak tadi.
"Harusnya aku tahan dia tadi..." isaknya lirih. "Harusnya aku nggak biarin Darren pergi dalam keadaan emosi seperti itu."
Antonio sendiri mencengkeram setir begitu erat. Rahangnya mengeras menahan kecemasan yang sejak tadi menghantam pikirannya tanpa ampun.
Tidak lama kemudian mobil mereka akhirnya tiba di Rumah Sakit Sentosa. Antonio segera turun lebih dulu, lalu membantu Citra yang langkahnya sudah terasa lemas.
Mereka berdua berjalan cepat memasuki ruang IGD.
"Maaf, pasien atas nama Darren Callister di mana?" tanya Antonio buru-buru pada salah satu perawat.
Perawat itu langsung mengecek data di komputer.
"Pasien sedang dipersiapkan untuk operasi darurat, Pak. Tim dokter baru saja membawanya ke lantai tiga."
Antonio dan Citra langsung bergegas menuju lantai tiga menggunakan lift khusus keluarga pasien.
Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung melihat beberapa dokter dan perawat mendorong brankar Darren dengan tergesa-gesa menuju ruang operasi.
Tubuh pria itu dipenuhi darah. Selang oksigen terpasang di wajahnya, sementara monitor jantung di samping brankar terus berbunyi nyaring.
"Darren!" teriak Citra histeris.
Wanita itu refleks berlari menghampiri putranya, tetapi salah satu perawat segera menahan.
"Maaf Bu, pasien harus segera dioperasi!"
Air mata Citra langsung pecah semakin deras saat melihat kondisi Darren yang nyaris tak dikenali lagi. Tubuh putranya penuh luka dan sama sekali tidak bergerak.
Antonio mematung beberapa langkah di belakang istrinya. Wajah pria itu menegang hebat. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar terlihat kehilangan kendali.
Brankar itu terus didorong cepat menuju ruang operasi.
Tidak lama kemudian pintu ruang operasi tertutup rapat.
Lampu merah di atas pintu langsung menyala.
Citra terduduk lemas di kursi lorong rumah sakit sambil menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Darren, aku nggak sanggup..." ucapnya terbata-bata.
Antonio mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya duduk di samping sang istri. Meski berusaha terlihat tegar, sorot matanya dipenuhi ketakutan yang sama besar.
***
Sejak semalam Daniela tak bisa tidur. Ia terus gelisah dan pikirannya melayang ke mana-mana. Ingin rasanya menelepon Haruni dan menceritakan apa yang terjadi padanya saat ini. Tapi dia tak ingin menyeret sahabatnya itu ke dalam kisaran permasalahannya. Sehingga, Daniela yang biasanya selalu tegar dalam menghadapi apa pun, kini hanya bisa menangis tertahan dalam kamarnya yang tidak terlalu luas dan hanya berpintu selembar kain.
Tiba-tiba dari luar Harsiwi memanggilnya.
"Daniela..." panggilnya datar.
Cepat-cepat wanita itu menghapus pipinya yang basah.
"Iya Mak Tua, masuklah!" jawabnya lirih dan serak.
Harsiwi pun masuk tanpa menunggu lama. Lalu duduk di sisi pembaringan Daniela. Saat keponakannya itu akan turun dari ranjangnya, Harsiwi cepat-cepat mencegahnya.
"Tetap saja di situ!"
Daniela mengangguk. Beberapa saat Harsiwi menatap keponakannya. Ada rasa iba di hatinya, tapi ia berusaha tak menunjukkannya. Ia tahu sifat Daniela sama dengan Hasnita. Yang tak pernah ingin terlihat orang lain menyedihkan.
"Daniela... apa kamu tidak berniat memberitahu suamimu tentang keadaanmu sekarang?"
Mendengar itu, wajah Daniela langsung terangkat, menatap wajah Harsiwi dingin. Lalu menggeleng kuat.
"Tidak Mak Tua! Dia sudah merendahkan harga diriku. Aku tak sudi lagi bertemu dengannya," kata Daniela berapi-api. Matanya berkilat penuh kebencian.
"Tapi bagaimana nanti anakmu? Dia juga kan butuh sosok seorang ayah."
"Aku bisa menjadi ibu dan ayahnya sekalian! Aku bahkan tidak sudi dia tahu tentang anaknya kelak."
Harsiwi terdiam. Dia tahu Daniela masih emosional, tapi perlahan suatu saat nanti, ia akan coba lagi mengingatkan keponakannya itu.
"Ya sudah, terserah kamu. Sekarang bagaimana rencanamu? Apa kamu sanggup menghadapi warga kampung ini yang masih sangat kolot? Mereka masih menjunjung tinggi adat istiadat. Walaupun nanti kamu memberikan bukti surat nikahmu, tapi tanpa kehadiran suamimu di sini, mereka akan tetap menuntutmu untuk mengucap sumpah ini, sumpah itu dan dengan berbagai ritualnya."
Daniela terdiam. Otaknya benar-benar blank, tak bisa berpikir. Harsiwi mengerti keresahan keponakannya, ia pun mengusap lembut punggung tangan Daniela.
"Kita akan segera pindah ke kota."
Tentu saja ucapan Harsiwi membuat Daniela terkejut.
"A-apa Mak Tua serius?"
"Iya Daniela, Mak Tua serius. Kamu dan calon anakmu ini adalah penerus keluarga kami. Makanya sekuat tenaga Mak Tua harus menolongmu," ucap wanita paruh baya itu sambil mengelus perut Daniela yang masih rata.
Mata Daniela berkaca-kaca karena haru. Setelah sekian lama ia hidup sebatang kara tanpa perlindungan siapa pun setelah kepergian kedua orang tua dan kakeknya, kini ada lagi yang bisa memberikan semua itu padanya. Daniela langsung memeluk wanita itu sambil menangis di bahunya.
"Terima kasih Mak Tua, terima kasih..."
Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut