"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Dansa di Atas Api
Dua minggu setelah Paman Bram berhasil didepak dari posisinya, efek dari pengumuman merger antara Arsa Food Group dan Luminous Beauty benar-benar mengguncang jagat bisnis. Saham gabungan mereka meroket tajam, dan posisi Elena sebagai CEO kini berdiri kokoh tanpa ada satu pun komisaris yang berani membantah. Namun, baik Adrian maupun Elena tahu kalau ketenangan ini hanyalah ilusi. Musuh besar mereka, Syndicate, sedang menahan amarah setelah jalur uang mereka diputus paksa lewat audit forensik.
Malam itu, puncak dari segala ketegangan bisnis ini beralih ke aula utama hotel bintang lima, tempat diadakannya Aero-Pangan Global Gala Dinner. Ini adalah acara tahunan paling bergengsi yang dihadiri oleh para menteri, duta besar, dan taipan kelas atas dari berbagai belahan dunia. Bagi Adrian dan Elena, malam ini bukan sekadar menghadiri undangan biasa, melainkan panggung sandiwara terbesar untuk memancing bos besar organisasi bayangan itu keluar dari tempat persembunyiannya.
Suasana aula begitu megah, dipenuhi alunan musik orkestra klasik yang lembut dan kilauan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan. Elena tampil sangat memukau malam itu. Ia mengenakan gaun malam panjang berpotongan sabrina berwarna merah marun pekat yang kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Rambut hitamnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai di dekat pipi. Dan tentu saja, di leher jenjangnya, kalung safir The Blue Seraph berkilau dengan sangat indah, menjadi magnet perhatian bagi setiap orang yang berpapasan dengannya.
Di sampingnya, Adrian berdiri tegap dengan ketampanan yang mengintimidasi. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam tiga potong yang sangat pas membingkai bahu kokohnya. Tangan kiri Adrian melingkar posesif di pinggang ramping Elena, sementara tangan kanannya memegang segelas sampanye. Senyuman tipis yang penuh wibawa terus terpasang di wajah tegasnya saat menyapa beberapa menteri perdagangan yang menghampiri mereka.
"Kamu terlihat luar biasa malam ini, Elena," bisik Adrian rendah, suaranya yang bariton terdengar sangat dekat di telinga Elena saat mereka sedikit menjauh dari kerumunan untuk menuju ke tengah lantai dansa. "Tetap fokus. Hendra dan tim keamanan bersenjata kita sudah menyamar sebagai pelayan dan tamu di setiap sudut ruangan ini. Jangan lepaskan pandanganmu dari perimeter."
Elena tersenyum manis ke arah Adrian, aktingnya di depan kamera penonton malam ini benar-benar sempurna layaknya istri yang sedang dimabuk cinta. "Aku tahu, Adrian. Jantungku berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah bajingan yang sudah menghancurkan hidup ayahku."
Saat musik orkestra berganti menjadi alunan melodi waltz yang lambat dan romantis, Adrian menaruh gelasnya lalu menuntun Elena ke tengah lantai dansa. Dengan gerakan yang sangat ksatria, Adrian menarik tubuh Elena mendekat hingga dada mereka menempel tanpa jarak. Tangan besar Adrian yang hangat memegang jemari kecil Elena, sementara tangannya yang lain mendekap punggung Elena dengan erat.
Mereka mulai berdansa, bergerak mengikuti irama musik dengan kekompakan yang mengerikan. Di bawah sorotan lampu sorot lembut lantai dansa, mereka berdua terlihat seperti pasangan paling sempurna yang tidak tersentuh oleh masalah apa pun. Namun, di balik tatapan mata mereka yang saling mengunci dengan mesra, ada obrolan taktis yang terus mengalir pelan.
"Adrian, lihat ke arah pilar marmer di sudut kanan pukul dua," bisik Elena sambil menyandarkan kepalanya sedikit di bahu kokoh Adrian saat tubuh mereka berputar mengikuti ritme dansa. "Sejak sepuluh menit yang lalu, ada seorang pria paruh baya bertubuh tinggi dengan rambut beruban yang terus menatap ke arah kalungku. Penampilannya sangat rapi, tapi tatapan matanya... sedingin es."
Adrian tidak langsung menoleh. Ia membawa tubuh Elena berputar perlahan dengan langkah dansa yang anggun, memanfaatkan perubahan posisi itu untuk melirik tajam ke arah sudut yang ditunjuk Elena. Begitu matanya menangkap sosok pria tersebut, rahang tegas Adrian seketika mengeras.
Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas abu-abu mahal, memegang tongkat jalan berkepala perak. Namun, yang membuat darah Elena dan Adrian mendadak berdesir dingin adalah sebuah aksesori kecil yang terpasang di kerah jasnya. Sebuah pin logam berbentuk mawar hitam yang ditusuk oleh paku besi kecil. Simbol eksklusif dari petinggi organisasi Syndicate.
Pria itu menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan. Bukannya menghindar atau pergi, ia justru mengangkat gelas anggurnya ke arah Adrian dan Elena, memberikan sebuah senyuman kepalsuan yang sangat tenang namun sarat akan ancaman kematian. Ia kemudian meletakkan gelasnya, berbalik lambat, dan berjalan keluar menuju arah taman belakang hotel yang sepi melalui pintu kaca besar.
"Dia sengaja memancing kita, Elena," ucap Adrian, suara baritonnya mendadak berubah menjadi sedingin malam yang paling kelam. Ia menghentikan langkah dansanya tepat saat melodi musik berakhir.
Adrian melepaskan rengkuhannya di pinggang Elena, namun langsung beralih menggenggam jemari tangan Elena dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan fisik yang seolah menegaskan kalau ia tidak akan membiarkan wanita itu menghadapi bahaya sendirian.
"Ini adalah momen yang kita tunggu-tunggu selama ini. Kita tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja dari tempat ini," Elena menatap Adrian dengan binar mata yang menyala penuh tekad. Rasa takutnya sudah menguap habis, digantikan oleh amarah yang membara untuk menuntaskan dendam masa lalu ayahnya.
"Aku tahu," jawab Adrian sambil merapikan jasnya, lalu memberi kode kedipan mata yang halus kepada Hendra yang sedang berdiri menyamar di dekat meja bar. "Kita ikuti permainannya, Elena. Tapi kali ini, kitalah yang akan menentukan bagaimana akhir dari malam berdansa di atas bara ini. Ayo."
Dengan langkah kaki yang mantap dan berwibawa, Adrian menuntun Elena berjalan melewati kerumunan tamu undangan, melangkah keluar meninggalkan aula yang ramai menuju kegelapan taman belakang hotel yang sunyi. Di sana, di balik bayang-bayang pohon-pohon besar, sebuah kebenaran akhir dan pertempuran fisik yang sesungguhnya telah menanti mereka berdua.
......BERSAMBUNG......