Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Di Bawah Langit Tanpa Bulan
Malam turun seperti tirai hitam yang dijatuhkan dengan sengaja. Tidak ada bulan. Tidak ada bintang. Hanya awan-awan tebal yang menutupi seluruh cakrawala, seolah ikut bersekongkol dengan kegelapan Teluk Tanpa Bulan.
Xiao Chen berdiri di tepi tebing karang, menatap ke bawah. Di sana, sekitar tiga puluh meter di bawahnya, air laut berwarna hitam pekat bergulung-gulung pelan. Tidak ada ombak besar, hanya riak-riak kecil yang nyaris tak terlihat. Teluk itu berbentuk bulan sabit yang sempurna, dikelilingi tebing-tebing karang tinggi di tiga sisinya. Satu-satunya jalan masuk adalah dari laut lepas, atau melompat dari tebing.
Hui mengendus-endus udara. Bulu tengkuknya berdiri. Serigala hitam itu menggeram pelan, nyaris tak terdengar.
"Aku tahu," bisik Xiao Chen. "Aku juga merasakannya."
Ada sesuatu di dalam air itu. Bukan hanya ular laut yang disebut Mo Gui. Tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih tua. Energi Chaos di tulang-tulangnya beresonansi pelan, seperti lonceng yang dipukul dari kejauhan.
"Tempat ini adalah bekas medan perang," kata Yue Que tiba-tiba. Suara pedang itu terdengar waspada. "Aku bisa merasakan sisa-sisa Energi Chaos kuno di dasar teluk. Mungkin dari zaman Leluhur Pertama."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Karena baru sekarang aku yakin. Semakin dekat kita ke air, semakin jelas. Teluk ini... mungkin adalah salah satu titik di mana Ras Dewa Patah bertempur melawan Utusan Langit. Ratusan ribu tahun lalu."
Xiao Chen menatap air hitam di bawah. Jadi tempat ini bukan sekadar sarang ular. Ini adalah kuburan massal kuno.
"Mo Gui tidak bilang apa-apa tentang ini."
"Mungkin dia tidak tahu. Atau mungkin dia sengaja tidak bilang."
Xiao Chen tidak punya waktu untuk mempertanyakan motif Mo Gui. Ia harus mendapatkan Mutiara Kegelapan malam ini. Setiap hari yang ia habiskan tanpa Kapal Tulang adalah hari yang mendekatkan Utusan Langit pada jejaknya.
"Aku akan turun. Kau tunggu di sini, Hui."
Hui menggeram tidak setuju.
"Aku butuh kau menjaga dari atas. Kalau terjadi sesuatu... kau tahu apa yang harus dilakukan."
Serigala itu menatapnya lama, lalu akhirnya duduk di tepi tebing, telinganya tegak, matanya waspada. Ia akan menjaga.
Xiao Chen mencari jalan turun. Tebing itu tidak sepenuhnya vertikal—ada tonjolan-tonjolan batu karang yang bisa dijadikan pijakan. Ia mulai menuruni tebing dengan hati-hati, jari-jarinya mencengkeram celah-celah batu. Jubah Perangnya berkibar-kibar ditiup angin laut.
Setiap pijakan ia pilih dengan cermat. Mo Gui bilang ular itu buta tapi pendengarannya tajam. Satu batu yang jatuh ke air bisa membangunkan monster itu.
Krrrk.
Suara kecil. Kerikil yang terlepas dari pijakannya.
Xiao Chen membeku. Kerikil itu jatuh, jatuh, jatuh... dan mendarat di permukaan air dengan bunyi plik yang nyaris tak terdengar.
Tapi di bawah sana, di kedalaman hitam, sesuatu bergerak.
Xiao Chen merasakannya melalui getaran di tulang punggungnya. Sesuatu yang besar. Sangat besar. Bergeser di dalam air, mengubah posisi. Tapi tidak naik ke permukaan.
Ia menunggu, tidak bergerak, nyaris tidak bernapas.
Lama. Sangat lama.
Akhirnya, gerakan di bawah air itu berhenti. Ular itu kembali ke posisi semula.
Xiao Chen menghela napas lega. Ia melanjutkan turun, kali ini lebih hati-hati. Setiap gerakan diperhitungkan. Setiap tarikan napas ditahan.
Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, kakinya menyentuh permukaan datar. Sebuah ceruk kecil di dasar tebing, tepat di atas permukaan air. Di hadapannya, teluk hitam membentang. Dan di seberang teluk, sekitar lima puluh meter darinya, ia melihatnya.
Mulut gua bawah laut.
Setengah terendam air, mulut gua itu seperti mulut raksasa yang menganga. Stalaktit-stalaktit hitam menggantung di atasnya seperti gigi-gigi batu. Di dalamnya, kegelapan total.
Dan di suatu tempat di dalam kegelapan itu, tidurlah Ular Laut Bermata Satu. Penjaga Mutiara Kegelapan.
Xiao Chen menatap air di hadapannya. Untuk mencapai gua itu, ia harus berenang melintasi teluk. Tapi sekali ia masuk ke air, ular itu akan merasakan getarannya.
Ia harus menemukan cara untuk masuk tanpa membangunkan monster itu.
"Lihat ke kanan," bisik Yue Que.
Xiao Chen menoleh. Di sepanjang dinding tebing, ada serangkaian tonjolan batu yang bisa dijadikan pijakan—cukup lebar untuk berjalan menyamping, tepat di atas permukaan air. Itu akan membawanya ke mulut gua tanpa harus menyentuh air.
"Kau melihat itu?"
"Aku melihat banyak hal yang tidak kau lihat. Sekarang bergeraklah. Sebelum ular itu berubah posisi lagi."
Xiao Chen mulai bergerak menyamping. Punggungnya menempel ke dinding tebing, kakinya melangkah hati-hati di atas tonjolan batu yang licin oleh lumut laut. Di bawahnya, air hitam bergulung-gulung pelan. Kadang-kadang, ia melihat bayangan samar bergerak di bawah permukaan—sesuatu yang panjang, sangat panjang, melingkar-lingkar di dasar teluk.
Ular itu.
Butuh waktu hampir setengah jam untuk mencapai mulut gua. Ketika akhirnya ia tiba, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia melangkah masuk ke dalam gua, menjauh dari air.
Di dalam, kegelapan total. Tapi mata Xiao Chen sudah terbiasa. Energi Chaos di tulang-tulangnya memberinya penglihatan yang berbeda—ia bisa merasakan bentuk-bentuk di sekitarnya. Dinding gua yang dipenuhi lumut berpendar redup. Stalaktit-stalaktit yang menggantung rendah. Dan di ujung gua...
Sebuah cahaya.
Bukan cahaya biasa. Cahaya itu hitam. Hitam yang bersinar. Seperti permata yang menyerap semua cahaya di sekitarnya, lalu memancarkannya kembali dalam bentuk kegelapan.
Mutiara Kegelapan.
Mutiara itu seukuran kepalan tangan, mengambang di atas sebuah altar batu alami. Di sekelilingnya, air laut membentuk kolam kecil yang tenang. Dan di dalam kolam itu...
Dia ada di sana.
Ular Laut Bermata Satu.
Tubuhnya melingkar di sekeliling altar, memenuhi seluruh dasar kolam. Sisiknya hitam berkilau, seperti batu bara yang basah. Kepalanya—sebesar kereta kuda—tergeletak di atas tubuhnya sendiri, tidur. Satu matanya tertutup, kelopaknya pucat dan transparan, memperlihatkan bola mata putih susu di baliknya.
Buta. Tapi telinganya... telinganya adalah lubang-lubang kecil di sisi kepalanya, dan Xiao Chen bisa melihat gendang telinganya bergetar pelan, menangkap setiap suara di dalam gua.
Bahkan suara napasnya sendiri.
Xiao Chen menahan napas. Ia menghitung jarak. Lima belas langkah ke altar. Mutiara itu melayang, tidak terikat apa pun. Ia hanya perlu mengambilnya dan keluar. Tapi begitu ia menyentuh mutiara itu...
Ular itu pasti akan bangun.
Ia harus cepat. Sangat cepat.
Xiao Chen menutup mata, mengatur Energi Chaos di tubuhnya. Bukan untuk menyerang—tapi untuk bergerak. Ia akan membutuhkan semua kecepatan yang dimiliki Lapis Ketiga lengan kanannya, semua kekuatan dari tulang punggungnya, semua keheningan yang bisa ia kumpulkan.
Ia membuka mata.
Dan bergerak.