Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembunyi di Bawah Meja Arini
Jika ada yang bertanya pada Satria apa hal paling berbahaya di SMA Wijaya Kusuma, ia tidak akan lagi menjawab "Intel Ghaib" atau "Noni Bergaun Merah". Jawabannya adalah: Sidak Kedisiplinan Dadakan oleh Ibu Ratna.
Ibu Ratna adalah guru Bimbingan Konseling (BK) yang memiliki indra keenam khusus untuk mendeteksi pelanggaran aturan, mulai dari kaos kaki yang kurang putih hingga keberadaan siswa yang berada di ruangan yang salah pada jam yang salah. Dan siang itu, Satria sedang berada di posisi yang sangat salah.
"Sat, laporan keuangan festival budaya ini harus kelar sekarang!" seru Arini di dalam ruang OSIS.
Satria baru saja hendak menyerahkan tumpukan berkas ketika suara langkah kaki sepatu pantofel yang berirama tegas terdengar di koridor. Tuk... tuk... tuk...
"Itu Bu Ratna!" bisik Satria panik. "Rin, gue nggak boleh di sini! Gue harusnya ada di kelas Pak Bambang sekarang. Kalau ketahuan, poin pelanggaran gue bakal bikin gue lulus tahun depan sebagai hantu sekolah!"
"Lari lewat pintu belakang!" Arini ikut panik.
"Pintu belakang dikunci buat renovasi aula kemarin, Rin!"
Langkah kaki itu semakin dekat. Arini melihat sekeliling dengan cepat. Ruang OSIS itu kecil, dan satu-satunya tempat persembunyian yang cukup luas adalah meja kerja Ketua OSIS yang tertutup taplak meja berbahan beludru hijau hingga menyentuh lantai.
"Masuk ke bawah meja gue! Cepet!" perintah Arini.
Satria tidak punya waktu untuk protes. Ia meluncur masuk ke bawah meja kayu jati besar itu tepat saat pintu ruang OSIS terbuka. BRAK!
"Arini? Sedang apa kamu sendirian di sini?" suara melengking Bu Ratna memenuhi ruangan.
Di bawah meja, Satria meringkuk seperti trenggiling yang sedang depresi. Ruangannya sangat sempit. Ia harus melipat kaki panjangnya sedemikian rupa agar tidak menendang kaki Arini yang kini duduk tepat di depannya. Bau harum bedak bayi dan aroma parfum melati dari Arini memenuhi ruang sempit itu, membuat konsentrasi Satria buyar.
“Pssssst... Sat... sempit ya? Mau saya geserin dikit nggak mejanya?” bisik Ucok yang tiba-tiba muncul di samping kepala Satria, duduk bersila dengan santainya.
"Jangan gerak, Cok! Diem!" Satria membalas dengan gerak bibir tanpa suara.
Di atas meja, Arini mencoba bersikap setenang mungkin. "Eh, Bu Ratna. Saya sedang merapikan arsip OSIS, Bu. Ada apa ya?"
"Ibu tadi melihat ada siswa laki-laki yang lari ke arah sini. Ciri-cirinya mirip Satria. Dia seharusnya ada di jam tambahan Matematika. Kamu lihat dia?" tanya Bu Ratna, suaranya terdengar sangat dekat di atas kepala Satria.
Satria menahan napas. Ia bisa melihat ujung sepatu pantofel hitam Bu Ratna yang mengkilap hanya berjarak beberapa sentimeter dari taplak meja.
"Satria? Oh, tadi dia memang lewat sini Bu, tapi dia langsung ke arah perpustakaan. Katanya mau cari referensi rumus," jawab Arini dengan nada paling meyakinkan yang pernah ia gunakan.
"Hmm... mencurigakan. Anak itu auranya makin aneh belakangan ini. Sering bicara sendiri," gumam Bu Ratna. Ia mulai berjalan mengitari ruangan.
Setiap langkah Bu Ratna membuat jantung Satria berdegup kencang. Tiba-tiba, Bu Ratna berhenti tepat di depan meja Arini. "Arini, kenapa kakimu goyang-goyang begitu? Kamu gugup?"
Di bawah meja, Satria tanpa sengaja menyentuh sepatu Arini dengan lututnya. Arini gemetar karena kaget, itulah yang membuat kakinya bergoyang.
"Anu... ini Bu, kaki saya agak kram habis lari-lari tadi," Arini berdalih.
Masalah menjadi semakin rumit ketika Mbak Suryani memutuskan untuk ikut campur. Ia melayang masuk menembus meja dan ikut berdesakan di bawah meja bersama Satria dan Ucok.
“Duh, sempit-sempitan gini kayak naik angkot jurusan alam barzah ya, Sat?” Mbak Suryani terkikik pelan. Rambut panjangnya yang menjuntai mulai mengenai hidung Satria.
Satria ingin sekali bersin. Ia menutup hidungnya dengan tangan sekuat tenaga hingga wajahnya memerah.
Tiba-tiba, Pocong Dudung muncul di samping Bu Ratna (hanya bisa dilihat Satria). Dudung mencoba membantu dengan cara "menakuti" Bu Ratna agar cepat pergi. Ia mulai meniup-niup tengkuk Bu Ratna.
"Duh, kok mendadak dingin ya di sini? AC-nya rusak?" Bu Ratna mengusap tengkuknya.
Bukannya pergi, Bu Ratna malah mendekat ke arah jendela di belakang meja Arini untuk memeriksa ventilasi. Hal ini membuat ia berdiri tepat di belakang Arini, yang artinya ia hanya butuh sedikit menunduk untuk melihat apa yang ada di bawah meja.
“Tenang Sat, biar saya urus!” Ucok memberikan jempol.
Tuyul kecil itu merayap keluar dari bawah meja dengan sangat cepat. Ia menuju ke arah tas Bu Ratna yang diletakkan di atas kursi tamu. Ucok mulai menarik-narik tali tas tersebut hingga tas itu jatuh ke lantai dengan suara keras. BRAK!
"Loh! Tas Ibu!" Bu Ratna segera berbalik dan menghampiri tasnya.
Di saat yang sama, Arini memanfaatkan momen itu untuk menendang pelan kaki Satria sebagai kode. "Sat, pindah ke sisi sebelah kanan meja!" bisik Arini sangat pelan.
Satria merayap dalam posisi jongkok, berusaha tidak menimbulkan suara gesekan pada lantai. Namun, ujung jaketnya tersangkut pada paku di bawah meja. SREEEET!
"Suara apa itu?" Bu Ratna menajamkan pendengarannya.
"Itu... itu suara tikus ghaib, Bu! Eh, maksud saya tikus gudang!" seru Arini panik.
Bu Ratna mulai curiga. Ia berjalan kembali ke arah meja Arini. "Tikus? Di ruang OSIS yang bersih ini? Ibu harus cek sendiri."
Bu Ratna mulai membungkukkan badannya. Satria sudah pasrah. Ia memejamkan mata, membayangkan surat panggilan orang tua yang akan ia terima besok.
Namun, tepat sebelum wajah Bu Ratna mencapai level bawah meja, Suster Lastri muncul di ambang pintu (kali ini ia mewujudkan diri sedikit lebih padat sehingga suaranya bisa terdengar samar oleh manusia biasa).
"Permisi... ada yang butuh bantuan medis? Ada bau stres di ruangan ini..." suara Lastri terdengar seperti bisikan angin yang dingin.
Bu Ratna tersentak dan berdiri tegak kembali. "Siapa itu?!"
Tidak ada siapa-siapa di pintu. Namun, lampu neon di ruangan itu tiba-tiba meledak satu per satu. PYARR! PYARR!
"Astagfirullah! Ruangan ini memang harus segera diruwat!" seru Bu Ratna ketakutan. Tanpa pikir panjang lagi, ia menyambar tasnya dan lari keluar ruangan secepat kilat.
Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar detak jam dinding dan napas Satria yang memburu di bawah meja.
"Sat... dia sudah pergi," bisik Arini.
Satria merangkak keluar dari bawah meja dengan susah payah. Rambutnya berantakan penuh debu, dan wajahnya merah padam. Saat ia berdiri, ia baru menyadari betapa dekatnya posisinya dengan Arini tadi.
Mereka berdua terdiam sejenak, saling menatap dalam kecanggungan yang luar biasa.
"Makasih, Rin. Gue beneran hampir mati tadi," Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu sih, pakai acara bolos segala," Arini mencoba merapikan taplak mejanya, namun tangannya masih sedikit gemetar. "Gimana di bawah sana? Nyaman?"
"Harum," jawab Satria jujur tanpa berpikir.
Wajah Arini seketika berubah merah seperti tomat matang. "Satria! Mesum ya kamu!"
"Eh, bukan gitu! Maksudnya parfum lo! Arumanis! Eh, melati!" Satria makin salah tingkah.
“Cieee... baunya bau cinta ya, Sat? Bukan bau menyan lagi?” goda Mbak Suryani yang masih melayang di atas meja.
“Iya nih! Satria tadi mukanya merah banget kayak habis makan cabai ghaib!” tambah Ucok sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Satria segera merapikan penampilannya dan bersiap kembali ke kelas sebelum Bu Ratna kembali dengan balatentara guru lainnya.
"Rin, gue balik dulu ya. Nanti sore gue jemput di depan," kata Satria.
Arini mengangguk, ia menatap Satria dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hati-hati, Sat. Jangan sembunyi di bawah meja guru lain. Belum tentu taplaknya setebal meja gue."
Satria tersenyum lebar dan berlari keluar. Di koridor, ia bertemu dengan Meneer Van De Berg yang sedang menggeleng-gelengkan kepala.
“Anak muda, taktik persembunyianmu sangat amatir. Di zaman perang, kau sudah tertangkap sejak menit pertama karena bau keringatmu yang mencurigakan itu,” kritik sang Meneer.
"Tapi yang penting berhasil kan, Meneer?" balas Satria sambil terus berlari.
Satria berhasil masuk ke kelas Matematika tepat waktu, meskipun ia harus menjelaskan pada Pak Bambang kenapa ada sarang laba-laba di pundaknya. Di ruang OSIS, Arini duduk kembali di kursinya, menyentuh permukaan meja kayunya, dan tersenyum sendiri mengingat "tamu tak diundang" yang baru saja menghuni kolong mejanya.
Misteri di SMA Wijaya Kusuma mungkin berat, tapi bagi Satria, sembunyi di bawah meja Arini adalah jenis ketegangan yang ia tidak keberatan ulangi lagi—asal tidak ada Bu Ratna.