Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Perjalanan dimulai
“Memangnya untuk apa, kamu mencari itu?” lanjut tuan Arga dengan tatapan yang menyelidik seakan mencari tahu, kenapa Nova mencari berlian langka itu kepadanya.
Nova kemudian memberikan alasan, jika dia akan memulai sebuah usaha dan meminta bantuan tuan Arga, Ayah dari Aruna. Nova memanfaatkan itu, dan menginvestasikan sebagian uang yang dia miliki ke perusahaan Tuan Arga.
Mendengar penuturan dari Nova itu, tuan Arga menjadi terkesan. Dan tentu saja ia langsung memberikan akses kepada Nova, untuk berbisnis dengannya.
“Tapi, ini memerlukan waktu yang cukup lama, apa kamu tidak keberatan Nova?” tanya Tuan Arga.
Nova mengangguk sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
“Tentu saja om, aku percayakan saja pada om, jika sebagian uangku di investasikan untuk penambangan berlian, maka aku juga ingin membeli sebagian saham milik perusahaan om apa itu bisa?” tanya Nova.
Mendengar itu, tuan Arga sedikit terkejut seorang anak yang baru saja berusia delapan belas tahun akan menginvestasikan uangnya, dan membeli saham yang tidak mungkin bisa di lakukan oleh pemuda seusianya.
Belum sempat tuan Arga menjawab, Aruna bersama ibunya datang membawa nampan berisi beberapa minuman dan cemilan.
Setelah beberapa saat, akhirnya tuan Arga menjawab pertanyaan dari Nova itu.
“Kebetulan sekali perusahaan om akan menjual salah saham yang memang harganya cukup lumayan, dan jika kamu memang serius untuk itu, om akan bantu,” jelas tuan Arga.
Nyonya Kinan dan Aruna yang mendengar itu sedikit terkejut, seorang Nova akan membeli saham di perusahaan yang memang sangat terkenal di kota Meikarta dan bisa di bilang adalah raja dari semua perusahaan yang ada di kota itu.
“Hah! Kamu serius Nova? Mau membeli saham di perusahaan Papa?” ujar Aruna setengah tak percaya, meskipun ia tahu Nova memiliki uang, tapi harga saham yang cukup tinggi akan membuat uang Nova akan terkuras habis.
Nova mengangguk sambil menyunggingkan senyum seperti tak memiliki beban apapun.
“Ya, aku serius. Aku harus menyimpan uangku dengan cara yang bermanfaat, dan aku meminta bantuan Om Arga untuk membimbingku,” jelasnya.
Mendengar itu, Nyonya Kinan dan Tuan Arga semakin kagum dengan sosok Nova. Terlebih keduanya tahu jika Nova memiliki kepintaran di atas rata-rata.
Sementara Nova terlihat tetap tenang saja, melepas uang miliaran atau triliunan bukanlah masalah, karena di ruang dimensi ia memiliki gunung berlian yang tak terbatas. Jika pun uangnya habis, ia tinggal mengambil dan menjual kembali berlian yang ada di ruang dimensi.
“Baiklah, jika begitu besok datang ke kantor om bersama Aruna, dan lebih baik kamu pelajari dulu langkah-langkahnya, karena ini bukanlah perihal yang mudah,” pungkas tuan Arga sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka.
Nova akhirnya tersenyum, satu masalah sudah ia selesaikan. Meskipun ia harus menunggu sedikit lama.
“Baik om, terimakasih.”
***
Di ruang dimensi Nova menghampiri Zira yang sedang berada di sebuah ruangan yang di penuhi dengan gulungan perkamen kuno, banyak dan berderet rapi, dari mulai perkamen teknik beladiri, alkemis dan berbagai macam lainnya yang mungkin suatu saat akan bisa di pelajari oleh Nova.
“Apa yang sedang kau baca itu?” tanya Nova saat melihat Zira sedang membuka sebuah perkamen yang bertuliskan huruf kuno yang tak di mengerti sama sekali oleh Nova.
Zira menoleh lalu kembali menggulung perkamen di tangannya lalu melemparnya kepada Nova.
“Itu adalah teknik dasar beladiri kuno, pelajari lah karena mulai sekarang kehidupanmu tidak akan bisa kembali normal seperti dulu,” jelasnya.
Nova menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil memperhatikan gulungan di tangannya itu. Menyadari Nova belum memahami cara membacanya, Zira memberikan arahan agar Nova memasukkan auranya ke dalam gulungan itu dan otomatis Nova akan mengetahui semua isinya.
“Cobalah,” ucap Zira setelah menunjukan caranya kepada Nova.
Dengan satu kali arahan, Nova langsung melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Zira tadi. Ia memakai jari telunjuknya menarik aura dari keningnya lalu menempelkan jari telunjuknya ke permukaan perkamen yang dia genggam.
Seketika jari Nova memancarkan cahaya keemasan, membuatnya takjub, terlebih saat puluhan informasi yang ada di dalam perkamen itu masuk kedalam ingatannya seperti serpihan film.
“Hebat! Hahaha, luar biasa!” seru Nova.
Zira senang saat melihat Nova bisa, ia tak akan kesulitan untuk mengarahkan Nova, karena ia tahu Nova memiliki sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya. Jika tidak, mana mungkin Zira bisa datang ke bumi hanya untuk mengajarkan sesuatu yang mustahil bagi seorang manusia fana.
Di balik matanya Zira menyimpan banyak kekaguman kepada Nova, meskipun Nova terlihat seperti pemuda biasa saja ia tahu bahwa di balik sikapnya itu, Nova menyimpan sesuatu yang sangat menakutkan yang suatu saat akan bangkit di dalam dirinya, dia yakin akan hal itu.
“Dia memang tidak bisa di remehkan,” batin Zira.
Ia memperhatikan Nova yang sedang melihat berbagai macam perkamen dan botol-botol giok yang tersimpan rapih di sebuah rak khusus.
“Zira, apa ini?” ucap Nova saat menemukan sebuah botol giok berwarna hijau tua yang berbeda dari botol lainnya.
Zira kemudian menjelaskan bahwa yang ada di dalam botol giok itu, adalah pil tingkat tinggi yang hanya bisa di gunakan saat ranah Nova mencapai mortal langit. Dan botol giok yang berwarna hijau muda itu berisi pil tingkat rendah sampai menengah.
Senyum mengembang di wajah Nova, matanya berbinar saat melihat ratusan botol pil yang ada di rak di hadapannya.
“Pil apa saja yang ada disini?” tanya Nova.
Zira menjawab dengan sabar, karena ia tahu bahwa Nova akan banyak bertanya kepadanya.
“Pil pemulih jiwa, pil energi, pil terobosan, pil fondasi dan masih banyak lagi. Cukup itu dulu yang perlu kau ketahui, sisanya kau akan tahu sendiri,” jelasnya.
Nova mengangguk paham.
“Apa aku boleh menyimpan pil energi dan pemulih jiwa ini?”
Zira mengangguk.
“Ambil lah yang hanya berada di tingkat rendah dan menengah, sisanya simpan disini.”
Nova pun menyimpan beberapa botol, ia begitu antusias hingga tak sadar sudah memasukan puluhan botol ke dalam ruang penyimpanannya.
Setelah dirasa cukup, Nova dan Zira pergi menuju ke arah hutan. Keduanya berhenti tepat di depan hutan yang ada di ruang dimensi itu, hutan yang di penuhi dengan kabut astral yang memiliki aura magis serta di dalamnya tentu berisi mahluk-mahluk spiritual berbagai tingkat.
“Tempat ini akan menjadi arena latihan untuk menempa fondasi fisikmu, karena untuk menembus ranah yang lebih tinggi fondasi tubuhmu harus memadai, jika tidak tubuhmu akan hancur karena dantian mu tidak akan kuat menampung aliran energi yang masuk saat menembus ranah selanjutnya.”
Mendengar itu, Nova semakin bersemangat untuk memulai semuanya. Meskipun ia tahu semua yang akan di laluinya tidak akan semudah yang di bayangkannya.