Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Semburat jingga di ufuk barat mulai padam saat Juan tiba di depan rumahnya. Langkahnya terseret, terasa berat seolah kakinya terbuat dari timah. Meskipun liontin di lehernya kerap menyuntikkan energi tambahan, tubuh manusianya tetap punya batas. Dan hari ini, ia telah melampaui batas itu.
Dengan napas yang berat dan pendek, ia mendorong pintu kayu rumah sederhananya. Keheningan menyambut, hanya derit genting tua yang ditiup angin terdengar lamat-lamat.
Juan bahkan tak sudi menyentuh sakelar lampu, ia tak punya sisa tenaga untuk itu. Dalam kegelapan yang akrab, ia berjalan gontai menuju kamar, menendang sandalnya asal, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang sudah mulai kempes.
Kasur itu tipis dan keras, jauh dari kata mewah, namun bagi tubuhnya yang remuk, permukaannya terasa selembut surga. Detik berikutnya, dunia di sekitarnya perlahan lenyap. Kesadarannya memudar, tersedot ke dalam lubuk tidur yang sangat dalam.
Seolah tubuh dan pikirannya benar-benar memutus kontak dengan dunia fana.
Dalam lelapnya, suara gemericik air mulai terdengar. Bukan dari keran yang bocor atau hujan di luar sana, melainkan suara air yang jernih dan menenangkan, seperti aliran sungai di tempat yang jauh.
Perlahan, Juan menyadari ia tak lagi berbaring di kamar. Dinding kayu dan atap bocornya menghilang, berganti dengan hamparan cahaya lembut yang membasuh pandangan. Ia berdiri di tengah kabut putih yang berkilau seperti pantulan sinar bulan di permukaan danau.
Di tengah kabut itu, sebuah siluet terbentuk. Anggun dan tenang, serta pakaiannya yang seksi mengundang syahwat. Seorang perempuan berjalan mendekat dengan rambut panjang yang tergerai indah. Saat sosok itu makin jelas, jantung Juan berdegup kencang. Ia mengenal wajah itu, Teteh Ayu. Apalagi dua melonnya yang naik turun itu.
Juan tersentak, refleks mundur setengah langkah. Sosok di depannya terasa terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Ia bukan bayangan kabur, Juan bisa melihat helai rambutnya dan binar di matanya dengan sangat jelas.
Namun, ada yang ganjil. Meski parasnya identik dengan Teteh Ayu, aura yang dipancarkannya berbeda. Tidak ada kesan genit yang biasa ia lihat. Sosok ini tenang, tatapannya dalam, dan pembawaannya terasa agung.
Sosok itu tersenyum tipis. "Akhirnya kau sadar."
Suaranya persis seperti Teteh Ayu, hangat dan bergetar halus, namun nadanya terdengar jauh lebih dewasa, seolah suara itu datang dari jiwa yang telah hidup ribuan tahun.
Juan menelan ludah yang terasa kering. "Te… Teteh Ayu?"
Perempuan itu tertawa kecil, suara yang renyah namun berwibawa. "Bukan. Aku mengambil rupa ini karena inilah yang paling ingin kau lihat. Aku muncul sebagai sosok perempuan yang memenuhi pikiranmu, atau perempuan yang baru menghabiskan sore yang panas denganmu."
Juan tertegun. Ia ingin melangkah maju, namun akal sehatnya menahan kakinya agar tetap terpaku di tempat.
Sosok itu mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Juan bisa menghirup aroma harum yang asing sekaligus menenangkan. Kulit sosok itu halus bak porselen, bibirnya merah alami, bukit kembar yang menantang sama persis seperti Teteh Ayu, namun di balik matanya yang mengkilap, ada sesuatu yang kuno dan tak terjangkau.
"Aku adalah ruh yang bersemayam dalam liontin itu," ucapnya. "Aku bisa berwujud apa saja sesuai keinginan pemilikku. Dan kebetulan, kau tampaknya lebih nyaman bicara jika aku berwujud seperti ini."
Juan mengerutkan dahi, mencoba mencerna. "Jadi... kau benar-benar bukan dia?"
"Bukan. Jika nanti kau bertemu dengan janda lain yang lebih membekas di hatimu, wujudku mungkin akan berubah lagi mengikuti apa yang ada di kepalamu."
Antara takjub dan ngeri, Juan hanya bisa terpaku. Sosok itu mulai berjalan mengelilingi Juan, seakan sedang memeriksa kondisi "tuannya".
"Kau sudah melangkah cukup jauh," lanjutnya. "Kau melewati penghinaan dan membuktikan harga dirimu di depan mereka yang meremehkanmu. Liontin itu merespons tekadmu. Kau merasakannya tadi, bukan? Kekuatanmu meningkat."
Juan mengangguk pelan. Saat melawan Ferdiyan tadi, ia merasa tubuhnya bukan miliknya sendiri. Gerakannya terlalu presisi, pukulannya terlalu kuat untuk ukuran pemuda biasa.
"Itu baru permulaan."
"Permulaan?" ulang Juan.
Sosok itu berhenti tepat di depan Juan, menatap langsung ke manik matanya. "Liontin ini adalah warisan kuno yang berevolusi. Ia tumbuh seiring dengan pertumbuhan pemiliknya."
Langit putih di sekitar mereka bergemuruh rendah, seolah alam semesta mengamini ucapannya.
"Kau ingin membalikkan nasib, kan? Menghancurkan orang-orang yang pernah meludahimu? Mendapatkan kekuatan yang tak terbayangkan?"
Juan menahan napas.
"Maka dengarkan baik-baik. Untuk membuka segel kekuatan berikutnya, kau harus menghabiskan malam panas dengan tujuh janda yang berbeda."
Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah keheningan. Namun, sosok itu mengucapkannya dengan nada yang sangat datar dan sakral, seolah itu adalah hukum alam yang tak bisa diganggu gugat, bukan sebuah godaan murahan.
"Setiap janda akan membawa berkah tersendiri. Kekayaan, keberuntungan, kesehatan, atau apa pun yang dibutuhkan liontin itu untuk berkembang."
Juan tidak membantah. Ada bagian dalam dirinya yang seolah sudah menduga bahwa kekuatan besar ini menuntut bayaran yang tidak biasa. "Tujuh janda," gumamnya pelan.
Sosok itu mengangguk. "Dan ada instruksi pertama untukmu."
Nada suaranya berubah serius. "Di gunung belakang desa, ada air terjun yang dianggap biasa oleh penduduk. Namun di dasar lubuknya yang terdalam, ada peti mutiara yang tersembunyi. Ambillah. Itu akan menjadi modalmu untuk membangun kekuasaan di dunia nyata."
"Bagaimana cara mengambilnya? Lubuk itu dalam dan berbahaya," tanya Juan sangsi.
"Kau memiliki liontin itu. Air tidak akan menenggelamkanmu. Kekuatannya akan melindungimu."
Hening sejenak. Sosok itu menatap Juan dengan tatapan yang sangat tajam. "Ingat, Juan. Kekuatan besar akan menarik musuh yang besar pula. Kekayaan akan mengundang iri. Begitu kau melangkah di jalur ini, tidak ada jalan untuk pulang."
Bukannya takut, Juan justru merasakan api tekad menyulut dadanya.
Sosok perempuan itu mulai memudar, menyatu kembali dengan kabut putih yang menebal. "Bangunlah. Hidupmu yang sebenarnya baru saja dimulai."
Sebelum benar-benar lenyap, sebuah bisikan terakhir menyapa telinganya: "Takdir hanya berpihak pada mereka yang berani melangkah."
Cahaya putih meledak di pandangannya, lalu semuanya gelap.
Juan tersentak bangun.
Ia duduk tegak di kasurnya dengan napas memburu dan keringat dingin membasahi kausnya. Ia mengedarkan pandangan. Kamar itu masih sama. Bau debu dan kayu lapuk masih menyengat. Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Liontin di dadanya terasa hangat, berdenyut pelan seolah detak jantung kedua.
Juan menggenggam logam itu. Ia tahu itu bukan sekadar mimpi. Peti mutiara di bawah air terjun itu nyata. Evolusi liontin itu nyata. Dan takdir tujuh janda itu pun nyata.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kusam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan lurus.
"Baik... tujuh janda."
Suaranya tenang. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa bingung. Hari itu, Juan tidak sekadar terjaga dari tidurnya. Ia terbangun sebagai pria dengan tujuan yang baru dan berbahaya.