NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: BELANJA DI UJUNG BELATI

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​London di pagi hari adalah sebuah orkestra abu-abu yang dipenuhi oleh variabel yang tidak terduga. Rintik hujan tipis yang dikenal sebagai English drizzle turun membasahi jalanan aspal Knightsbridge, menciptakan pantulan cahaya lampu jalan yang belum sepenuhnya padam. Aku berdiri di depan jendela kaca besar suite hotel kami yang menghadap langsung ke arah Harrods, pusat perbelanjaan paling ikonik sekaligus paling penuh dengan mata pengintai di dunia.

​"Papa, jika kau masih menghabiskan waktu lima belas menit hanya untuk memilih dasi sutra itu, kita akan melewatkan jendela waktu 'Golden Hour' di mana penjagaan klan pusat sedang melakukan pergantian sif," ucapku tanpa menoleh, jemariku sibuk menyinkronkan data dari drone mikro yang baru saja kulepaskan dari balkon.

​Damian Xavier keluar dari ruang ganti dengan jas Savile Row berwarna biru gelap yang membuat auranya tampak seperti dewa perang yang baru saja turun dari Olympus. "Aku hanya ingin memastikan aku tidak terlihat seperti mafia kasar di depan teman-teman kurator ibumu nanti, Leo."

​"Papa, di London, semua orang adalah mafia dalam balutan jas mahal. Bedanya hanya pada seberapa banyak darah yang mereka sembunyikan di balik sertifikat saham mereka," jawabku datar. Aku menekan satu tombol di tabletku, mengaktifkan mode 'Ghost' pada empat SUV lapis baja yang sudah menunggu di lobi bawah.

​Aku melirik ke arah Lea yang sedang asyik memoles kuku Mama dengan cat kuku transparan. Mereka berdua tampak begitu tenang, seolah-olah hari ini adalah hari libur biasa dan bukan hari di mana kita akan masuk ke dalam perangkap sosial yang dipasang Alexander.

​“Kak, deteksi detak jantung Mama berada di angka 75 bpm. Sedikit gugup, tapi stabil. Aku sudah menanamkan sugesti bahwa setiap orang yang menatapnya dengan sinis hari ini sebenarnya sedang merasa iri dengan kecantikannya. Secara psikologis, ini akan meningkatkan 'Power Pose'-nya sebesar 30%,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.

​“Bagus, Lea. Pastikan dia tidak melepaskan sarung tangan sutranya. Aku sudah memasang sensor kontak di sana. Jika dia bersalaman dengan orang yang membawa zat berbahaya, sarung tangan itu akan memberikan peringatan getar,” balasku lewat pikiran.

​Aku mengambil tas ransel kecilku yang beratnya dipenuhi oleh baterai cadangan dan pemancar sinyal kuantum. "Ayo berangkat. Target hari ini bukan hanya belanja; target hari ini adalah menunjukkan pada Alexander bahwa kita tidak sedang bersembunyi. Kita sedang mengepungnya di tanah kelahirannya sendiri."

​POV: QINANTI (Mama)

​Langkah kakiku di atas trotoar London terasa lebih berat daripada biasanya, namun genggaman tangan Damian di pinggangku memberikan rasa aman yang tak tergoyahkan. Harrods menjulang di depan kami seperti kastil baja. Orang-orang berlalu-lalang dengan terburu-buru, namun aku bisa merasakan tatapan yang berbeda—tatapan yang dingin, tajam, dan penuh selidik dari balik kacamata hitam mereka.

​"Ingat latihan kita, Ma," bisik Lea di sampingku. Dia menggandeng tangan kiriku, sementara boneka kelincinya, Mochi, dipeluk erat di dada kanan. "Bahu tegak, tatapan lurus, dan setiap kali seseorang mencoba mengintimidasi dengan tatapan, bayangkan Mama sedang melihat sebuah lukisan yang gagal. Mereka tidak berharga."

​Aku tersenyum tipis. "Terima kasih, Lea."

​Kami masuk ke dalam gedung megah itu. Aroma parfum mahal dan lilin aromaterapi langsung menyergap. Di lantai dasar, di bagian perhiasan mewah, aku melihat seorang wanita paruh baya dengan topi lebar dan setelan tweed yang sangat mahal. Dia adalah Lady Eleanor, saudara jauh Alexander sekaligus pemegang kunci informasi sosial di klan pusat.

​“Mama, target pukul dua. Lady Eleanor. Dia akan mencoba memicu trauma masa lalu Mama dengan menyebutkan tentang 'insiden api' sembilan tahun lalu. Lea sudah menyiapkan naskah serangan balik. Katakan padanya bahwa api yang tidak membunuh kita hanya akan membuat kita menjadi emas yang lebih murni,” instruksi Lea bergetar di anting mutiaraku.

​Lady Eleanor mendekat, matanya yang biru pucat menatapku seperti seekor elang yang melihat kelinci. "Damian... aku tidak menyangka kau punya keberanian untuk membawa 'kenangan lama' ini ke London. Aku dengar dia sangat ahli dalam melarikan diri?"

​Aku merasakan Damian menegang di sampingku, namun aku mendahuluinya. Aku melangkah maju satu langkah, menatap Lady Eleanor tepat di manik matanya dengan ketenangan yang bahkan membuatku terkejut.

​"Pelarian adalah strategi untuk menunggu waktu yang tepat, Milady," ucapku, suaraku jernih dan tegas. "Dan seperti yang Anda lihat, waktu yang tepat itu telah tiba. Api sembilan tahun lalu memang membakar banyak hal, tapi ia gagal membakar masa depan klan Xavier yang sekarang berdiri di depan Anda."

​Eleanor tertegun. Dia menatapku seolah tidak percaya bahwa wanita yang dulu dianggap 'lemah' ini bisa bicara dengan otoritas seperti itu.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Aku membiarkan Mama melakukan bedah sosialnya, sementara aku tetap waspada pada perimeter 360 derajat. Melalui kacamata AR-ku, aku melihat tiga siluet hitam bergerak di lantai dua, tepat di atas posisi kami.

​Analisis: Unit Gorgon. Mereka membawa perangkat penangkap sinyal. Mereka mencoba meretas tabletku melalui jaringan publik Harrods.

​“Lea, alihkan perhatian kerumunan. Aku butuh lima detik tanpa pengawasan mata sipil untuk melumpuhkan drone pengintai mereka di langit-langit,” perintahku lewat pikiran.

​Lea tidak membuang waktu. Dia tiba-tiba menjatuhkan Mochi ke arah seorang pelayan yang membawa nampan champagne. "Oh tidak! Mochi!" serunya dengan nada anak kecil yang sangat meyakinkan.

​Prang!

​Nampan itu jatuh, perhatian semua orang teralih ke arah kekacauan itu. Dalam lima detik emas itu, aku menekan tombol 'Signal Burst' di tabletku.

​ZAP!

​Drone mikro milik klan pusat yang menyamar sebagai lampu dekorasi di atas kami mendadak meledak kecil dan terbakar. Tidak ada yang menyadari, tertutup oleh suara pecahan gelas. Tiga siluet di lantai dua mendadak panik karena kehilangan input visual.

​"Papa," ucapku pelan, menarik ujung jas Damian.

​"Aku tahu, Leo. Aku merasakan mereka di atas," Damian berbisik, tangannya yang bebas kini berada di dekat kancing jas bawahnya, posisi siap tempur.

​"Bawa Mama ke arah bagian busana pria. Jalur itu memiliki ventilasi udara yang bisa kumanipulasi untuk menyebarkan gas pelumpuh jika mereka menyerang secara fisik," instruksiku.

​Kami bergerak dengan presisi sebuah unit tempur yang menyamar sebagai keluarga kerajaan yang sedang belanja. Setiap langkah Damian adalah perlindungan, setiap langkah Mama adalah proklamasi, dan setiap langkahku serta Lea adalah manajemen kehancuran musuh.

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Kami sampai di area yang lebih sepi. Eleanor masih mengikuti kami dari jarak sepuluh meter, tampak seperti sedang menelepon seseorang—Alexander, pastinya.

​“Kak, Alexander memerintahkan Eleanor untuk memancing Mama ke arah lift barang di sisi barat. Ada jebakan fisik di sana. Kita harus membalikkan keadaan,” lapor kuku.

​“Diterima. Lea, lakukan teknik 'Mirroring Agression'. Buat Eleanor merasa bahwa dialah yang sedang dijebak,” balas Leo.

​Aku melepaskan tangan Mama sejenak, berjalan mundur dan berdiri tepat di jalur Eleanor. Aku menatapnya dengan senyum yang paling manis, namun dengan tatapan yang sangat kosong.

​"Tante Eleanor," panggilku. "Tante tahu tidak? Di duniaku dulu, ada seorang wanita yang persis seperti Tante. Dia suka menjebak orang lain, sampai suatu hari dia menyadari bahwa dia berdiri di atas lantai yang sudah dipasangi bom oleh orang yang dia remehkan."

​Eleanor berhenti, wajahnya memucat. "Apa... apa maksudmu, anak kecil?"

​"Maksudku adalah," aku menunjuk ke arah ponselnya. "Ponsel Tante baru saja mengirimkan koordinat lokasi Tante ke polisi London atas tuduhan konspirasi penculikan yang sedang Kakek Alexander rencanakan. Dalam dua menit, unit taktis kepolisian akan sampai di sini. Dan jika Tante tetap berada di jalur lift barang itu... Tante akan menjadi tersangka utama."

​Eleanor gemetar. Dia melihat ke arah lift barang, lalu melihat ke arah pintu keluar. Ketakutan primal menguasai dirinya. Dia berbalik dan lari sekencang mungkin menuju pintu keluar utama, mengabaikan semua martabat aristokratnya.

​Mama menatapku dengan takjub. "Lea, apa kau benar-benar melaporkannya ke polisi?"

​"Hanya mengirimkan sinyal palsu ke ponselnya, Ma. Leo yang melakukannya. Tapi ketakutan di kepalanya itu nyata," aku kembali memegang tangan Mama. "Ayo, pameran berliannya ada di depan. Mama harus memilih mahkota yang paling cantik untuk pesta perjamuan besok malam."

​POV: DAMIAN XAVIER

​Melihat istri dan anak-anakku mengendalikan salah satu keluarga paling berbahaya di London dengan cara yang begitu elegan membuatku menyadari satu hal: aku adalah pria paling beruntung di dunia sekaligus pria paling ngeri. Aku dulu memimpin dengan senjata dan ketakutan, tapi anak-anakku... mereka memimpin dengan realitas yang mereka ciptakan sendiri.

​Kami sampai di depan etalase berlian Graff. Seorang pelayan dengan sarung tangan putih membukakan pintu untuk kami. Di dalam, suasana sangat sunyi dan eksklusif.

​"Pilih yang paling besar, Qin," ucapku, memeluk bahunya dari belakang. "Aku ingin Alexander melihat bahwa seluruh kekayaan klan pusat tidak cukup untuk membeli satu senyummu."

​Qinanti menatap deretan berlian itu, namun kemudian matanya terpaku pada sebuah kalung zamrud kuno yang dikelilingi berlian kecil. "Ini... ini indah sekali."

​"Pilihan yang cerdas, Mama," Leo muncul di samping kami, menatap kalung itu dengan analisis teknisnya. "Zamrud itu memiliki tingkat kejernihan 98%. Dan desainnya sangat cocok untuk menyembunyikan sensor deteksi racun yang baru saja kuselesaikan semalam. Aku akan membelinya sekarang."

​Leo mengeluarkan kartu hitamnya—kartu yang dananya berasal dari pengalihan aset rahasia Alexander di Swiss.

​"Leo," aku berdeham. "Bukankah itu uang kakekmu?"

​"Bukan, Papa. Ini adalah 'pajak kompensasi' atas stres yang dia berikan pada Mama selama sembilan tahun ini. Aku hanya mengembalikannya pada pemilik yang benar," jawab Leo datar.

​Saat pelayan itu memproses pembayaran, aku membawa Qinanti ke sudut ruangan yang lebih privat. Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. "Kau hebat hari ini, Qin. Kau benar-benar menjadi Ratu di London."

​"Aku hanya tidak ingin anak-anak kita bertarung sendirian, Damian," bisiknya, menyandarkan keningnya di keningku. "Jika London ingin perang, maka mereka akan mendapatkan perang yang indah."

​Aku mencium bibirnya dengan lembut, sebuah ciuman di tengah kepungan musuh yang terasa lebih manis daripada kemenangan mana pun. Kami adalah Xavier. Kami adalah keluarga yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh tradisi berdarah klan mana pun.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Aku menatap mereka berdua dari balik monitor kecilku.

​Analisis: Tingkat sinkronisasi emosional Damian dan Qinanti: 99%. Kesolidan unit keluarga: Absolut.

​"Kak, kakek Alexander baru saja membanting vas bunganya di mansion setelah Eleanor melapor," Lea berbisik di sampingku, ia asyik memakan sepotong cokelat Godiva yang baru saja dibelikan Mama.

​"Bagus. Biarkan dia hancur dari dalam sebelum kita datang untuk skakmat terakhir," aku menutup tabletku. "Ayo pulang ke hotel. Kita harus menyiapkan logistik untuk perjamuan besok. Aku butuh unit 'Ghost' menyusup sebagai staf katering."

​Kami berjalan keluar dari Harrods dengan langkah yang tenang. Di luar, hujan sudah berhenti, digantikan oleh cahaya matahari yang menembus awan London. Di belakang kami, klan pusat sedang meratap karena kehilangan drone, kehilangan muka, dan kehilangan jutaan dolar dalam satu pagi.

​"Checkmate, London," bisikku saat kami masuk ke dalam mobil.

​Damian merangkul kami semua, dan untuk pertama kalinya sejak kami mendarat di London, aku merasa bahwa kota ini bukan lagi medan perang yang asing. Kota ini adalah papan catur kami. Dan kami adalah pemain yang memegang kendali penuh atas setiap bidak yang tersisa.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!