NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Janji Pulang.

“Liora… putriku,” suara Heron terdengar lembut namun serius, “Ayah ingin bertanya sesuatu. Apa… kamu benar-benar mencintai John?”

Pertanyaan itu membuat Liora terdiam. Dadanya terasa menghangat dan sekaligus berdebar. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba merangkai jawaban yang paling jujur.

“Ayah… iya,” ucapnya akhirnya, dengan suara tenang namun penuh keyakinan. “Aku mencintainya. Aku sendiri tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh. Semuanya terjadi begitu saja… tanpa aku sadari. Tapi yang pasti… perasaan itu nyata.”

Liora menarik napas panjang, seolah melepaskan semua keraguan yang pernah membebaninya.

“Sedangkan dengan Javi,” lanjutnya, “aku hanya menganggapnya teman dekat. Sahabat yang penting… tapi tidak lebih.”

Heron menatap mata putrinya dalam-dalam, seakan ingin membaca isi hati Liora paling dalam.

“Kalau begitu,” ucap Heron pelan, “apakah itu berarti kamu sudah siap untuk menikah?”

Liora mengangguk mantap, tanpa keraguan sedikit pun. “Ayah… aku ingin menikah bulan ini. Jika Ayah mengizinkan.”

Senyum kecil muncul di wajah Heron. “Baiklah, Nak. Jika itu pilihanmu… Ayah akan mendukung. Ayah akan memberi tahu keluarga besar.”

Dua Minggu Kemudian

Hari yang ditunggu pun tiba.

Mansion keluarga besar Wiliam Anderlecht tampak megah, penuh dekorasi elegan dan bunga-bunga indah yang memenuhi ruangan. Para tamu berdatangan, membawa suasana hangat, sakral, dan mengharukan.

Di depan altar yang dihiasi cahaya lembut, berdiri dua insan yang siap mengikat janji suci: John Feber Alvison dan Liora Wiliam Anderlecht.

Pendeta Steven Gerrard memimpin upacara itu dengan khidmat.

“John Feber Alvison,” ucap sang pendeta dengan suara jelas, “apakah Anda bersedia menerima Liora Wiliam Anderlecht sebagai istri Anda, pasangan hidup Anda, dan ibu dari anak-anak Anda?”

Dengan nada mantap yang tak menyisakan keraguan, John menjawab, “Saya bersedia.”

Pendeta menoleh kepada Liora. “Dan Liora Wiliam Anderlecht… apakah Anda bersedia menerima John Feber Alvison sebagai suami Anda, pasangan hidup Anda, dan ayah dari anak-anak Anda?”

Liora menatap dalam ke mata John. Dan dengan senyum tenang, ia menjawab, “Saya bersedia.”

“Dengan demikian, hari ini kalian resmi menjadi suami istri.”

Ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan meriah. Keluarga besar bersorak bahagia, termasuk keluarga Bram Alexander.

Setelah Pernikahan

Javi menghampiri pasangan baru itu, dengan senyum hangat yang tampak tulus meski ada sedikit kesedihan tersembunyi.

“Liora, John… akhirnya kalian menikah juga,” ujarnya. “Kalian harus berjanji padaku… tetap bersama sampai maut memisahkan.”

Ia memeluk keduanya. Pelukan yang menandakan perpisahan, restu, dan mungkin… perasaan yang tidak pernah terucap.

“Aku harus kembali ke Amerika,” kata Javi kemudian. “Masih banyak urusan bisnis yang menunggu. Tapi jangan khawatir… aku pasti kembali ke Italia suatu hari nanti.”

“Semoga kamu juga menemukan cinta sejatimu di sana, Javi,” ucap Liora lembut.

Javi hanya tersenyum kecil lalu pergi berpamitan pada kedua orang tuanya.

Malam Pertama

Malam itu, suasana kamar mereka dipenuhi keheningan yang hangat. Lampu redup, udara lembut, dan perasaan gugup bercampur bahagia.

“Liora… kamu gugup?” tanya John pelan, mendekat.

“Tidak, Mas…” jawab Liora, meski wajahnya jelas menunjukkan kebalikannya.

John tersenyum, lembut namun penuh makna. Ia meraih tangan istrinya… dan malam itu pun berjalan dalam kehangatan yang hanya mereka berdua yang memahami keheningan yang menyatu dengan cinta.

Pagi Hari

Cahaya matahari menyusup masuk ke kamar. Suara air mengalir dari kamar mandi.

Tak lama, John keluar dengan rambut basah, handuk melilit pinggang, dan senyum menggoda di wajahnya.

“Sayang… sudah bangun?” tanyanya santai.

“Iya, Mas…” jawab Liora, pipinya memerah.

John terkekeh. “Kalau begitu… mau istirahat lagi, atau kita lanjutkan waktu berdua?”

“Mas!” Liora memprotes sambil menutupi wajah.

John semakin tertawa kecil. Sejak menikah, sisi jahilnya semakin sering muncul.

Sarapan Keluarga

Di meja makan, seluruh keluarga sudah berkumpul. Tiga keponakan Liora menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Tante, kenapa wajah Tante merah begitu?” salah satu dari mereka bertanya polos.

“A-aku… tidak tahu,” jawab Liora gugup.

Suasana meja makan langsung dipenuhi tawa kecil. Mereka semua bisa melihat dengan jelas betapa Liora sekarang tampak seperti wanita yang sedang jatuh cinta—berbeda jauh dari sosok tegas yang mereka kenal.

Satu per satu keluarga pun berpamitan setelah makan, kembali ke negara dan pekerjaan masing-masing.

Beberapa Hari Kemudian Universitas Amerika

Di American University, seorang dosen baru memasuki kelas dengan langkah tegas.

“Saya profesor baru kalian,” ucap laki-laki itu. “Nama saya Javi Alexander.”

Wibawanya membuat seluruh kelas langsung diam.

“Kalian harus disiplin. Saya tidak suka mahasiswa yang terlambat atau membantah. Tidak suka? Silakan keluar.”

Namun tiga mahasiswi di tengah kelas tampak santai: Viora, Viola, dan Viera.

Setelah kelas selesai, hanya tiga gadis itu yang tetap tinggal.

“Paman Javi!” seru mereka bersamaan.

Javi terkejut. “Kalian… keponakan Liora?”

“Benar, Paman! Kami dari keluarga Wiliam Anderlecht.”

Javi tersenyum kecil, hampir tidak percaya. “Dunia ini memang sempit…”

“Kalian ingin jadi pebisnis seperti keluarga kalian?”

“Iya, Paman. Kami ingin meneruskan jejak keluarga.”

Javi mengangguk kagum. “Keturunan Heron Wiliam Anderlecht memang luar biasa.”

Namun dalam hatinya…

Nama Liora kembali muncul. Hening. Dan entah kenapa… masih menyisakan ruang di hatinya.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!