NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Final Berdarah

Gelanggang Penilaian Puncak Luar telah menjadi panggung pembantaian sepihak selama dua hari terakhir.

Dari ribuan peserta, kini hanya tersisa dua orang yang berdiri di Gelanggang Utama untuk memperebutkan gelar juara pertama, sekaligus hak mutlak untuk memasuki Wilayah Terbengkalai.

Di satu sisi gelanggang, berdiri Chu Chen. Jubah abu-abunya masih terlihat rapi tanpa setetes pun noda darah. Selama babak penyisihan hingga babak sebelum puncak, tidak ada satu pun lawannya yang mampu bertahan lebih dari satu tamparan atau satu tendangan. Beberapa bahkan langsung menyerah dan melompat turun dari gelanggang begitu melihat wajahnya, terlalu ngeri mengingat nasib Lei Kuang yang tangannya remuk menjadi bubur daging.

Di sisi lain gelanggang, berdirilah lawan terakhirnya. Seorang pemuda bertubuh kurus dengan wajah yang sangat biasa, nyaris tidak memiliki ciri khas yang mudah diingat. Namanya Wu Ying.

Tidak ada yang memperhatikan bagaimana Wu Ying bisa mencapai babak penentuan. Pertandingannya selalu dimenangkan dengan cara lawannya tiba-tiba pingsan, salah melangkah dan jatuh dari gelanggang, atau mendadak kejang-kejang. Di mata para murid biasa, Wu Ying hanyalah pemuda beruntung yang lolos karena kebetulan.

Namun, di mata naga Chu Chen, pemuda ini adalah keganjilan yang mematikan.

Napasnya terlalu pelan. Detak jantungnya disembunyikan. Dan langkah kakinya tidak menyentuh lantai giok sepenuhnya, batin Chu Chen. Tatapannya sedingin es. Ini bukan ilmu bela diri Murid Luar. Ini adalah tata cara pembunuh bayaran yang dilatih sejak kecil untuk menyembunyikan hawa keberadaan.

Chu Chen melirik sekilas ke arah panggung kehormatan. Tepat di barisan depan, Penatua kurus yang dulu membuangnya ke Jalur Asura—Penatua Wu—sedang menatap ke arah gelanggang dengan senyum tipis yang penuh perhitungan.

Wu Ying. Penatua Wu. Menarik sekali, Chu Chen menyeringai dalam hati. Tampaknya anjing tua itu kehabisan kesabaran dan mengirim pisau rahasianya sendiri untuk melenyapkanku di bawah kedok kecelakaan gelanggang.

"Babak Penentuan! Mulai!" teriak wasit, memecah ketegangan.

Berbeda dengan lawan-lawan Chu Chen sebelumnya yang langsung menerjang, Wu Ying tidak bergerak. Ia menundukkan kepalanya, tubuhnya sedikit bungkuk, tampak seperti orang yang sedang ketakutan.

"S-Saudara Chu," suara Wu Ying bergetar, terdengar sangat menyedihkan. "Aku tahu aku bukan tandinganmu. Aku... aku menyerah saja—"

Wu Ying mengangkat tangannya, seolah memberi isyarat kepada wasit untuk menghentikan pertandingan.

Ribuan penonton menyoraki Wu Ying dengan kekecewaan. Babak puncak yang sangat dinantikan berakhir dengan penyerahan diri?

Namun, di saat sorak-sorai kekecewaan penonton meledak dan kewaspadaan semua orang mengendur, mata Wu Ying yang tertunduk tiba-tiba memancarkan kilatan kejam yang mematikan. Tangan kanannya yang terangkat setengah jalan melakukan satu jentikan yang sangat samar, nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang.

SYUUUT!

Sebuah kilatan cahaya perak yang setipis rambut, tidak memiliki gejolak Qi, dan tidak bersuara, melesat membelah udara lurus ke arah pusar Chu Chen!

Itu adalah Jarum Pengejar Jiwa. Pusaka gelap sekali pakai yang diolesi dengan Racun Pelarut Meridian. Senjata ini dirancang bukan untuk membunuh seketika, melainkan menembus Dantian, menghancurkan fondasi kultivasi, dan membuat korbannya mati perlahan dalam penderitaan yang mengerikan selama berhari-hari.

Di atas panggung, Penatua Wu melebarkan senyumnya. Jaraknya terlalu dekat. Siasatnya terlalu sempurna. Dalam waktu kurang dari setengah tarikan napas, Dantian bocah sombong itu akan hancur lebur!

Bagi ahli Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan biasa, serangan diam-diam secepat kilat ini memang mustahil dihindari. Bahkan dengan Zirah Tulang Naga Hitam, Chu Chen tahu jarum pusaka yang dirancang khusus ini mungkin bisa menemukan celah kecil di antara lapisan tulangnya jika dibiarkan menghantam Dantian.

Ingin menghancurkan fondasiku? Chu Chen tidak panik. Di dalam Dantiannya, Lautan Qi yang tenang mendadak bergolak. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan fisik murni untuk menangkis sesuatu yang setipis dan secepat ini. Ia harus menggunakan Qi.

Namun, ia tidak boleh meledakkan aura Lautan Qi-nya di depan belasan Penatua!

Dalam sepersekian kedipan mata, Chu Chen memompa setetes cairan Lautan Qi-nya, memampatkannya hingga batas puncak, dan mengalirkannya ke ujung dua jarinya: telunjuk dan jari tengah kanan.

Chu Chen mengangkat tangannya, bukan dengan kecepatan kilat, melainkan dengan gerakan yang mengalir dan sangat wajar, seolah ia hanya sedang menangkap daun yang gugur.

Ting!

Sebuah suara nyaring bergema pelan di tengah gelanggang.

Mata Wu Ying membelalak ngeri. Senyum Penatua Wu di atas panggung membeku seketika.

Di udara, tepat setengah cun dari Dantian Chu Chen, dua jari pemuda berjubah abu-abu itu menjepit ujung Jarum Pengejar Jiwa dengan ketepatan mutlak. Ketajaman jarum pusaka itu dihentikan sepenuhnya oleh dua jari yang terlihat seperti daging biasa!

Tidak ada Penatua yang menyadari bahwa tepat di ujung jari Chu Chen, sebuah lapisan Qi yang sangat tipis dan tak kasat mata—dipadatkan hingga sekeras berlian—telah menahan jarum tersebut. Di mata fana mereka, Chu Chen menangkap jarum itu murni dengan kecepatan gerak naluriah dan kekuatan kulit Lapis Kesembilan Puncak!

"K-Kau... menangkapnya?!" Wu Ying tersentak mundur, topeng ketakutannya hancur, digantikan oleh kepanikan mutlak seorang pembunuh yang penyamarannya terbongkar.

"Mainan yang bagus," bisik Chu Chen.

KRAK. Dua jari Chu Chen mematahkan jarum pusaka itu menjadi dua bagian.

Tanpa membuang waktu satu tarikan napas pun, Chu Chen melesat maju. Lantai giok di bawah kakinya retak halus. Kecepatannya jauh melampaui gerakan Wu Ying sebelumnya. Ini bukanlah kecepatan lari, melainkan luncuran seekor pemangsa yang menukik ke arah mangsanya.

Wu Ying merogoh lengan bajunya, berniat menarik senjata rahasia lainnya, namun tangan kiri Chu Chen telah menembus pertahanannya dan mencengkeram lehernya dengan kekuatan yang mencekik napas.

Chu Chen mengangkat tubuh Wu Ying ke udara. Kaki pembunuh bayaran itu meronta-ronta panik.

Bukannya menatap musuh di tangannya, Chu Chen justru mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah panggung kehormatan. Matanya yang segelap malam bertabrakan tepat dengan mata Penatua Wu yang sedang berdiri dari kursinya dengan rahang menegang.

Tatap-menatap itu terjadi dalam keheningan. Namun, pesan yang disampaikan oleh tatapan Chu Chen sangat jelas dan memekakkan telinga: 'Anjing peliharaanmu... aku membunuhnya di depan matamu.'

"H-Hentikan! Dia sudah tidak berdaya!" teriak Penatua Wu, akhirnya kehilangan ketenangannya, melepaskan aura Alam Inti Emasnya untuk menekan gelanggang. "Turunkan murid itu, Chu Chen!"

"Oh? Saya pikir dalam Ujian Penilaian, pertandingan belum berakhir sebelum salah satu pihak menyerah dengan jelas atau terlempar dari gelanggang," jawab Chu Chen dengan nada datar, suaranya dikeraskan dengan sedikit Qi agar terdengar ke seluruh pelataran.

Ia menatap Wu Ying yang wajahnya sudah membiru karena kehabisan napas. "Apakah kau menyerah, Saudara Wu?"

Wu Ying mencoba membuka mulutnya untuk berteriak menyerah, namun cengkeraman Chu Chen di tenggorokannya adalah jepitan mutlak. Pemuda itu tidak bisa mengeluarkan suara apa pun selain bunyi gemeletuk tulang rawan yang mulai retak.

"Tampaknya dia belum ingin menyerah, Penatua," ucap Chu Chen dingin.

"KEPARAT! LEPASKAN DIA ATAU AKU YANG AKAN MENGHUKUMMU!" Penatua Wu meraung, bersiap melompat dari panggung.

Namun, semua sudah terlambat.

Chu Chen tidak menggunakan Seni Penelan Semesta. Di depan ribuan pasang mata, ia hanya menggunakan kekuatan fisiknya yang ganas. Ia mengayunkan tubuh Wu Ying ke bawah, membanting pemuda kurus itu lurus ke lantai batu giok dengan kekuatan yang bisa meremukkan gunung.

BAMMM!

Lantai giok hancur, menciptakan jaring laba-laba retakan yang meluas hingga tiga tombak. Tubuh Wu Ying terpantul sedikit sebelum jatuh kembali, tidak bernyawa. Tulang punggung dan organ dalamnya hancur seketika akibat benturan murni. Darah segar mengalir dari mulut dan telinganya.

Keheningan yang menyesakkan menyelimuti seluruh pelataran. Para murid menelan ludah dengan susah payah. Kebrutalan Chu Chen benar-benar tidak mengenal batas.

Di atas panggung, Penatua Wu gemetar karena amarah yang mendidih. Ia telah kehilangan salah satu benih pembunuh rahasia terbaiknya. Namun, ia tidak bisa bertindak. Ribuan murid melihat bahwa Wu Ying tidak pernah mengutarakan kata menyerah, dan jarum pembunuh rahasia itu telah disembunyikan buktinya oleh Chu Chen. Jika Penatua Wu turun tangan menghukum Chu Chen sekarang, itu sama saja dengan mengakui bahwa ia yang mengatur pembunuhan licik tersebut.

Chu Chen berdiri tegak di tengah gelanggang, melepaskan cengkeramannya dari mayat Wu Ying. Ia membalikkan badan, menghadap ke arah wasit ketua yang berdiri membeku di pinggir gelanggang.

"Pertandingan telah berakhir," ucap Chu Chen pelan, seolah baru saja membersihkan debu dari sepatunya. "Umumkan hasilnya."

Wasit itu menelan ludah, melirik ke arah para Penatua yang duduk terdiam tegang di atas panggung, lalu mengangkat tangannya dengan gemetar.

"P-Pemenang Gelanggang Utama... dan Juara Pertama Ujian Penilaian Puncak Luar tahun ini... Chu Chen!"

Sorak-sorai meledak, namun bukan sorakan penuh kegembiraan, melainkan sorakan yang dipenuhi oleh rasa segan dan kengerian. Mulai hari ini, nama Chu Chen tidak lagi dikenal sebagai pemuda berakar roh cacat, melainkan raja iblis baru dari Puncak Luar.

Namun, di tengah kemenangannya, tatapan Chu Chen justru menerawang jauh melewati panggung kehormatan, menuju barisan pegunungan yang tertutup kabut tebal di wilayah paling utara sekte.

Wilayah Terbengkalai.

Hadiah Batu Roh tidak ada artinya bagi Dantiannya yang seperti samudra rakus. Wilayah terlarang yang dipenuhi bahaya kuno itulah alasan utamanya berdiri di gelanggang ini.

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!