NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Manja Suami Dan Sekotak Brownies

Pagi itu, suasana kamar terasa jauh lebih tenang. Shakira keluar dari kamar mandi dengan langkah yang tak lagi gontai. Rambutnya basah terlilit handuk, dan aroma sabun stroberi yang segar menggantikan bau minyak kayu putih yang semalam mendominasi. Wajahnya yang kemarin pucat pasi kini mulai menampakkan rona kemerahan alami. Efek kompres hangat dan susu cokelat buatan Zidan semalam benar-benar bekerja seperti sihir.

Zidan sedang duduk di tepi ranjang, baru saja selesai mengenakan kaos polo berwarna marun. Ia mendongak, matanya berbinar melihat istrinya sudah bisa berdiri tegak tanpa memegangi perut.

"Gimana? Udah enakan, Sayang?" tanya Zidan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Shakira mengangguk kecil sambil merapikan sikat gigi ke dalam wadahnya. "Udah... jauh lebih mendingan. Makasih ya, Dan."

Zidan menopang dagu dengan satu tangan, menatap Shakira dengan tatapan jahil yang mulai kembali. "Cuman makasih aja nih? Nggak ada bonusnya gitu buat suami siaga yang semalam rela jadi pemanas manusia?"

Shakira yang sedang mengoleskan pelembap wajah langsung berhenti. Ia melirik Zidan lewat pantulan cermin. "Ya... terus apa? Mau aku bayar pakai uang lembur?"

Zidan terkekeh, ia bangkit dari ranjang dan melangkah mendekat ke arah Shakira. Gerakannya yang perlahan namun pasti membuat Shakira otomatis mundur satu langkah sampai punggungnya mepet ke meja rias.

"Zidan! Kamu jangan macem-macem ya! Ini masih pagi!" pekik Shakira, tangannya refleks terangkat di depan dada seolah ingin membentengi diri.

Zidan tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa belas sentimeter. Ia tidak melakukan apa yang Shakira takutkan. Sebaliknya, ia sedikit menunduk, menyamakan tingginya dengan Shakira, lalu menunjuk ke arah rambutnya yang tampak berantakan sehabis dikeringkan dengan handuk asal-asalan.

"Rapihin rambut aku dong," pinta Zidan pelan.

Shakira mengerjap bingung. "Apa sih. Kan bisa pake sisir, Zidan. Itu di depan mata kamu ada sisir kayu."

"Nggak mau pake sisir. Sisir mah benda mati, nggak ada rasanya," Zidan meraih tangan kanan Shakira, lalu meletakkannya di atas kepalanya sendiri. "Maunya pake tangan kamu. Jemari calon sarjana Tata Boga kan katanya sakti, bisa bikin masakan enak, harusnya bisa bikin rambut suaminya ganteng juga."

Shakira terdiam sesaat. Jantungnya berulah lagi, berdegup kencang karena posisi mereka yang sangat intim. Namun, melihat binar harapan di mata Zidan—sisi manja yang jarang ia tunjukkan—membuat Shakira tak tega menolak.

"Yaudah duduk. Jangan banyak gerak, atau aku tarik rambut kamu sampe botak," ancam Shakira ketus, meski suaranya sedikit bergetar.

Zidan langsung patuh. Ia menarik kursi meja rias dan duduk di sana, membiarkan Shakira berdiri di belakangnya. Shakira mulai menyisipkan jemarinya ke sela-sela rambut hitam Zidan yang tebal dan sedikit kaku. Ia merapikan helai demi helai, membelahnya dengan telaten, lalu mengaturnya agar tampak lebih rapi ke arah samping.

Zidan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan ujung kuku dan telapak tangan Shakira yang lembut di kulit kepalanya. Senyum tipis yang penuh kepuasan tak lepas dari bibirnya.

"Enak ya, Ra," gumam Zidan tanpa membuka mata.

"Apanya yang enak? Rambut kamu ini banyak anak rambutnya, susah diatur," gerutu Shakira, padahal hatinya mulai menghangat.

"Sentuhan kamu. Rasanya semua capek aku di bengkel semalam langsung ilang. Kayak dapet treatment mahal di salon, tapi versi gratis dan lebih spesial," Zidan tertawa kecil.

"Udah. Udah rapi. Jangan centil terus," ucap Shakira setelah sekitar lima menit bermain dengan rambut suaminya. Ia menepuk pundak Zidan sebagai tanda sudah selesai.

Zidan berdiri dan berbalik, menatap pantulan dirinya di cermin sebentar sebelum beralih ke Shakira. "Makasih, Istriku. Gantengnya nambah sepuluh persen nih berkat kamu."

Zidan menyambar jaket denimnya yang tersampir di kursi. "Ayo, siap-siap. Aku anter ke kampus sekalian kita beli brownies."

Shakira yang sedang membereskan kosmetiknya menoleh dengan kening berkerut. "Brownies? Tumben kamu makan manis, Dan? Biasanya kamu paling anti makanan yang 'enek' gitu, lebih milih kopi pait atau gorengan."

Zidan memakai jaketnya, lalu merangkul bahu Shakira dengan santai menuju pintu kamar. "Bukan buat aku, Sayang. Buat kamu. Aku baca di internet, katanya kalau perempuan lagi dapet, makan cokelat itu bisa bikin mood-nya bagus dan ngurangin rasa sakit. Makanya aku mau beliin brownies yang paling lumer di deket kampus kamu."

Shakira tertegun. Ia tidak menyangka Zidan sampai mencari tahu hal-hal detail seperti itu hanya karena melihatnya kesakitan semalam. "Kamu... baca di internet?"

"Iya dong. Mekanik itu kalau mesin rusak liat buku manual, kalau istri 'rusak' eh sakit, ya liat Google," jawab Zidan asal sambil tertawa. "Ayo cepet, nanti keburu antre di toko brownies-nya."

Di atas motor, dalam perjalanan menuju kampus, angin pagi terasa begitu sejuk. Shakira yang biasanya menjaga jarak, kali ini memeluk pinggang Zidan dengan lebih erat. Bukan karena takut jatuh, tapi karena ia merasa perlu memberikan "amunisi" balasan atas perhatian Zidan semalam.

Zidan merasakannya. Ia menepuk pelan tangan Shakira yang melingkar di perutnya. "Kenapa, Ra? Masih sakit perutnya?"

"Nggak... udah nggak apa-apa," sahut Shakira di balik helmnya. "Cuma... makasih ya, Dan. Soal semalam, soal browniesnya juga."

"Sama-sama, Sayang. Tapi janji ya, brownies-nya dimakan. Jangan dikasih ke Nina semua," goda Zidan sambil menambah kecepatan motornya.

"Iya, nggak bakal! Brownies mahal itu, enak aja dikasih Nina," balas Shakira sambil tertawa.

Sesampainya di depan toko brownies langganan mereka, Zidan turun dan memesan satu kotak besar dengan tambahan topping cokelat melimpah. Saat menyerahkan kotak itu pada Shakira, Zidan menatapnya dengan lembut.

"Makan yang banyak ya. Aku nggak mau liat kamu nangis kesakitan lagi kayak semalam. Kalau perlu apa-apa, telepon aku. Jangan nunggu aku pulang baru bilang."

Shakira menerima kotak itu dengan perasaan yang sulit digambarkan. "Iya, Bawel. Makasih ya."

"Nah, gitu dong. Senyum dikit kenapa? Biar browniesnya makin manis," Zidan mencubit pipi Shakira pelan sebelum menyuruhnya naik lagi ke motor untuk menuju kampus.

Sepanjang sisa perjalanan, Shakira memeluk kotak brownies itu erat-erat. Ia menyadari bahwa Zidan bukan hanya sekadar "mekanik tengil" yang hobi menggodanya, tapi pria itu adalah sosok yang paling mengerti bagaimana cara merawat lukanya, baik yang fisik maupun yang ada di hati. Dan pagi itu, rasa brownies yang belum ia makan sudah terasa sangat manis di benaknya, semanis perhatian Zidan yang perlahan meruntuhkan seluruh pertahanannya.

"Dan," panggil Shakira saat mereka sudah hampir sampai di gerbang kampus.

"Ya?"

"Nanti sore... jemputnya jangan telat ya."

Zidan tersenyum lebar di balik helmnya. "Siap, Bos Besar! Aku bakal dateng lebih awal biar kita bisa makan brownies bareng di rumah."

Mungkin 'Garis Khatulistiwa' itu masih ada, tapi pagi ini, guling itu terasa jauh lebih tipis dari biasanya.

1
apiii
novel yg selalu bikin senyum" sendiri🤭
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!