"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Perjamuan Sang Raja Kegelapan
Pagi itu, udara di sekitar The Art-Void Museum terasa sangat kontras dengan keramaian pengunjung yang mengantre. Baskara tampil sangat rapi dengan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, sementara Arini mengenakan gaun simpel berwarna krem yang membuatnya tampak seperti pengunjung elit pada umumnya. Namun, di balik kacamata hitamnya, mata Arini terus bergerak waspada.
"Genggam tanganku, Arini. Jika kamu merasa pusing atau mual, kita langsung keluar," bisik Baskara sambil merangkul pinggang Arini saat mereka melewati pintu detektor logam.
Arini mengangguk pelan. "Aku akan mencoba bertahan, Bas. Aku harus melihat apa yang mereka sembunyikan."
Begitu kaki Arini melewati garis pembatas galeri kedua, suasana berubah drastis bagi indranya. Mika yang tadi sempat mencoba menemani, langsung gemetar hebat.
"Rin, aku nggak kuat! Aura tempat ini menolakku mentah-mentah!" bisik Mika dengan suara pecah. Tanpa menunggu aba-aba, Mika langsung melesat masuk ke dalam botol parfum di tas Arini, bersembunyi di balik aroma melati yang kini menjadi satu-satunya pelindung tipis baginya.
Arini mencoba tetap tenang, tangannya menggenggam lengan Baskara dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.
"Arini? Kamu pucat sekali. Dingin?" tanya Baskara, suaranya terdengar jauh dan samar bagi Arini.
Bagi Baskara, ruangan itu sejuk dan mewah. Namun bagi Arini, udara di sana terasa mendidih dan amis. Suhu panas yang tak kasat mata seolah memanggang kulitnya. Di telinganya, ribuan jeritan melengking—suara-suara wanita yang meminta tolong, meratap, dan mengutuk—beradu dengan musik klasik yang diputar di museum.
Jangan menoleh. Jangan berikan perhatianmu, Arini terus merapalkan pesan Sang Ratu dalam hatinya. Ia memejamkan mata sejenak, menahan rasa pusing yang hebat karena dinding-dinding galeri itu seolah berdenyut seperti jantung monster.
Namun, kepura-puraan Arini tidak bertahan lama. Dari arah singgasana seni di tengah ruangan, muncul sebuah energi hitam yang luar biasa besar. Sosok itu bukan sekadar hantu, melainkan "Raja" yang menguasai tempat tersebut. Wajahnya tertutup kabut, namun matanya yang merah berkilat tajam ke arah tas Arini.
"Berani sekali kamu membawa sampah dari luar masuk ke wilayahku..." suara itu menggelegar di kepala Arini, diikuti oleh tekanan udara yang membuat Arini sesak napas.
Raja Jin itu tahu. Dia tahu ada Mika yang bersembunyi di dalam botol parfum. Dia merasa terhina karena Arini membawa entitas lain ke dalam "kuil" buatannya.
Tiba-tiba, sebuah pukulan energi hitam menghantam ulu hati Arini.
"Arini!" Baskara tersentak saat Arini mendadak tumbang.
"Uhukk!" Arini memuntahkan darah segar ke lantai marmer yang putih bersih. Darah itu terlihat kontras dan mengerikan.
"Arini! Ada apa?! Penjaga! Panggil ambulans!" teriak Baskara panik, ia langsung menggendong Arini.
Namun, Raja Jin itu belum selesai. Ia melihat Arini lemah dan bersiap melakukan serangan terakhir untuk menghancurkan sukma Arini sepenuhnya. Energi hitam pekat berkumpul di tangan sosok besar itu, siap dilontarkan.
Saat itulah, sebuah bisikan tajam menusuk telinga Arini. Suara Satria.
"Sekar! Keluarkan batu itu! Giok dari kakek tua itu! Cepat!"
Arini, dengan sisa tenaganya, merogoh saku gaunnya. Jarinya menyentuh permukaan dingin batu giok pemberian kakek di Taman Sari Jogja. Begitu batu itu dikeluarkan dari sakunya, sebuah cahaya hijau zamrud yang sangat murni meledak dari telapak tangan Arini.
Cahaya itu tidak terlihat oleh manusia, namun bagi penghuni dimensi lain, itu adalah ledakan energi suci dari tanah Jawa.
DUMMM!
Serangan hitam sang Raja Jin berbalik seketika. Seperti ombak yang menabrak karang, energi negatif itu menghantam balik tuannya sendiri. Sang Raja Jin terpental hingga menabrak instalasi seni di belakangnya, suaranya menggeram kesakitan saat auranya terkoyak oleh kemurnian giok tersebut.
Baskara hanya melihat Arini menggenggam batu hijau dan tiba-tiba suasana terasa sedikit lebih ringan. "Arini, kamu bertahanlah..."
Arini terengah-engah, wajahnya masih pucat namun matanya kini kembali fokus. Ia menatap ke arah tempat Raja Jin itu terpental. Sosok itu tampak kaget dan murka, namun ia tidak berani mendekat selama giok itu ada di tangan Arini.
"Bas... bawa aku ke arah pintu staf tadi," bisik Arini parau, bibirnya masih merah karena sisa darah. "Sekarang. Selagi dia sedang lemah."
Mika di dalam botol parfum akhirnya bisa bernapas lega. "Gila... Kakek Jogja itu beneran sakti! Rin, jangan lepasin batunya! Itu jimat paling paten yang kita punya!"
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣