NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — MENARIK RATU KE PAPAN PERANG

Langit masih gelap saat kami kembali.

Tidak ada yang bicara di dalam mobil.

Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan.

Tapi karena… terlalu banyak.

Kata-kata terasa tidak cukup untuk menampung semuanya.

Aku menatap keluar jendela.

Bayangan lampu jalan melintas cepat.

Satu demi satu.

Seperti potongan ingatan yang terus muncul tanpa izin.

Ayahku.

Kebenaran.

Nama yang selama ini bukan milikku.

Dan satu hal yang sekarang tidak bisa kuabaikan—

aku bukan korban lagi.

“Kita tidak bisa menunggu,” kataku tiba-tiba.

Arkan langsung melirik.

Aku juga berpikir begitu.”

Leon yang menyetir mengangguk pelan.

“Kalau kita diam, mereka akan bergerak duluan.”

Aku menyandarkan tubuh.

Menutup mata sebentar.

Lalu membukanya lagi.

Lebih fokus.

Lebih tajam.

“Kalau begitu kita serang dulu.”

Mobil berhenti.

Kami masuk ke apartemen.

Langkah kami cepat.

Tanpa jeda.

Tanpa ragu.

Meja kerja langsung penuh lagi.

Laptop terbuka.

File ditarik ulang.

Semua yang tadi terasa rumit—

sekarang mulai terlihat seperti peta.

“Kalau dia adalah pusatnya…”

Aku menunjuk satu nama di layar.

“…maka semua jalur akan kembali ke sini.”

Arkan berdiri di sampingku.

Tangannya bertumpu di meja.

Tatapannya serius.

“Masalahnya… dia tidak pernah muncul di depan.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau dia tidak mau keluar…”

Aku menoleh ke arahnya.

“…kita paksa.”

Leon mengangkat alis.

“Kamu punya ide?”

Aku menarik napas.

Lalu menunjuk satu bagian data.

“Aset ini.”

Arkan langsung melihat.

Matanya menyipit.

“Ini salah satu yang paling besar.”

Aku mengangguk.

“Dan paling bersih di permukaan.”

Leon langsung paham.

“Berarti… kalau ini kita sentuh…”

Aku tersenyum.

“…retakannya akan terlihat.”

Sunyi sebentar.

Lalu Arkan tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena…

ini benar-benar gila.

“Kamu sadar ini artinya apa?”

Aku menatapnya.

“Perang terbuka.”

Jawaban itu keluar tanpa ragu.

Dia mengangguk pelan.

“Bagus.”

Untuk pertama kalinya—

kami benar-benar berada di satu sisi.

“Besok pagi,” kataku.

“Kita mulai dari sini.”

Aku mengetuk layar.

Leon langsung bergerak.

“Kalau begitu aku siapkan semuanya.”

Arkan masih berdiri di tempat.

Menatapku.

“Ada yang belum kamu bilang.”

Aku meliriknya.

“Apa?”

Tentang ayahmu.”

Sunyi.

Aku menghela napas pelan.

“Tidak semua hal harus dibuka sekarang.”

Dia tidak puas.

Terlihat jelas.

“Tapi itu bagian dari semua ini.”

Aku menatapnya dalam.

“Dan itu bagian yang belum waktunya kamu tahu.”

Beberapa detik kami saling diam.

Lalu—

dia mengangguk.

Pelan.

“Baik.”

Bukan karena dia menyerah.

Tapi karena dia memilih—

percaya.

Malam semakin larut.

Leon akhirnya masuk ke kamar tamu.

Arkan masih di ruang kerja.

Aku berdiri di balkon.

Sendirian.

Udara dingin menyentuh wajahku.

Tapi pikiranku…

lebih dingin lagi.

Langkah kaki terdengar.

Aku tidak menoleh.

“Kamu tidak pernah benar-benar istirahat ya.”

Suara Arkan.

Aku tersenyum tipis.

“Kamu juga.”

Dia berdiri di sampingku.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup untuk terasa.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

“Aku masih sulit percaya.”

Aku meliriknya.

“Bagian mana?”

“Semua.”

Aku tertawa kecil.

“Ya, aku juga.”

Sunyi lagi.

“Tapi satu hal jelas,” lanjutnya.

Aku menunggu.

“Kali ini… aku tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan hidupku lagi.”

Aku menatapnya.

Lebih lama.

“Bagus.”

Dia menoleh.

Tatapan kami bertemu.

“Termasuk kamu.”

Aku tersenyum.

“Terutama aku.”

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada luka di antara kata-kata itu.

Hanya…

kesepakatan diam-diam.

Pagi datang lebih cepat dari yang terasa.

Gedung Arkavera kembali ramai.

Tapi kali ini—

suasananya berbeda.

Ada sesuatu di udara.

Tegang.

Seperti semua orang tahu…

hari ini tidak akan biasa.

Aku masuk lebih dulu.

Langkahku tenang.

Tapi pasti.

Beberapa orang langsung menatap.

Berbisik.

Tapi aku tidak peduli.

Arkan masuk beberapa detik setelahnya.

Dan saat kami berjalan berdampingan—

semua mata langsung tertuju.

Tidak perlu kata-kata.

Semua orang tahu—

sesuatu berubah.

Ruang rapat sudah penuh.

Direksi duduk.

Beberapa terlihat gelisah.

Aku berdiri di depan.

Tanpa diminta.

Tanpa izin.

“Langsung saja.”

Suaraku memotong semua pembicaraan kecil.

“Kita akan membahas satu hal penting hari ini.”

Aku mengangkat satu file.

“Audit.”

Ruangan langsung sunyi.

Salah satu direksi langsung bereaksi.

“Ini tidak ada dalam agenda—”

“Sekarang ada.”

Aku memotong.

Tatapanku tajam.

Tidak memberi ruang.

Arkan berdiri di sampingku.

Diam.

Tapi kehadirannya—

cukup untuk menghentikan protes.

“Audit terhadap aset utama perusahaan.”

Aku melanjutkan.

“Dimulai dari yang paling ‘bersih’.”

Beberapa wajah langsung berubah.

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa tegang?”

Sunyi.

Karena mereka tahu—

ini bukan sekadar audit.

Ini pembongkaran.

Salah satu pria di ujung meja akhirnya bicara.

“Kalau ini dilakukan tanpa persiapan…”

“Akan ada yang terbuka?”

Aku menyela.

Dia diam.

Aku mengangguk pelan.

“Bagus.”

Karena itu tujuannya.

Suasana makin tegang.

Dan di saat itu—

pintu terbuka.

Langkah itu masuk.

Tenang.

Terukur.

Dan semua orang langsung diam.

Dia.

Ibu Arkan.

Tatapannya langsung ke arahku.

Senyumnya muncul.

Tipis.

Dingin.

“Sepertinya… kamu mulai bermain lebih berani.”

Aku tidak mundur.

Tidak ragu.

“Baru pemanasan.”

Dia tertawa kecil.

“Kalau begitu…”

Dia melangkah masuk lebih dalam.

“…jangan menyesal kalau kamu tidak bisa berhenti.”

Aku menatapnya lurus.

“Siapa bilang aku mau berhenti?”

Sunyi.

Dan di antara kami—

tidak ada lagi yang disembunyikan.

Karena sekarang—

ini bukan lagi permainan diam-diam.

Ini sudah jadi—

perang terbuka.

Dan kali ini—

aku yang mulai duluan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!