NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Perjamuan Para Serigala

​Udara di pegunungan Alpen yang tadinya menenangkan, kini terasa mencekik.

Elena berdiri di balkon chaletnya, menatap lurus ke arah kegelapan hutan pinus.

Di tangannya, selembar kertas tua yang diberikan Lukas mulai bergetar karena angin—atau mungkin karena amarah yang kembali tersulut.

​"Paman Han," panggil Elena tanpa menoleh.

​"Ya, Nona?" Paman Han muncul dari balik pintu geser, wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua hanya dalam semalam.

​"Siapkan semua aset likuid kita di Singapura dan Swiss. Jika Julian benar, dan organisasi ini—'The Obsidian'—memang mengejar ibuku, maka mereka tidak akan berhenti pada sekadar ancaman. Mereka akan membakar semua yang kusentuh."

​"Nona, apakah Anda benar-benar memercayai pelukis itu?" Paman Han bertanya ragu. "Dia muncul terlalu tepat waktu."

​Elena memutar gelas kristal di tangannya.

"Aku tidak percaya padanya. Tapi aku percaya pada instingku. Dan instingku bilang, Julian adalah satu-satunya orang yang tahu di mana 'leher' organisasi ini berada. Jika aku harus masuk ke kandang serigala, aku butuh pemandu yang juga seekor serigala."

​Tiga hari kemudian, Elena tidak lagi memakai gaun sutra atau perhiasan mewah.

Ia mengenakan setelan taktis hitam ketat dengan rambut yang diikat tinggi.

Di balik jaketnya, terselip sepasang belati keramik dan pistol semi-otomatis yang sudah dimodifikasi.

​Ia berada di dalam mobil van hitam yang melaju menembus kabut menuju sebuah kastel tua di perbatasan Swiss-Prancis.

Villa 'Le Sang', markas rahasia para petinggi The Obsidian.

​"Ingat rencana kita," suara Julian terdengar melalui earpiece Elena.

Julian sendiri berada di posisi pengintai di bukit seberang. "

Kau masuk sebagai 'Elena Adiguna', pewaris yang ingin menegosiasikan hutang ibumu. Itu umpan mereka. Saat kau di dalam, kau punya waktu sepuluh menit sebelum mereka menyadari bahwa semua data di server mereka sedang disedot habis oleh virus yang kau bawa."

​"Sepuluh menit?" Elena mendengus. "Aku biasanya menghancurkan hidup orang dalam lima menit, Julian. Kau meremehkanku."

​"Ini berbeda, Elena. Orang-orang ini tidak punya wajah. Mereka adalah bayangan yang menggerakkan ekonomi dunia. Hati-hati."

​Mobil berhenti di depan gerbang besi raksasa. Dua penjaga bersenjata lengkap mendekat.

Elena menurunkan kaca mobil, memberikan tatapan paling dingin yang pernah ia asah di Jakarta.

​"Katakan pada tuanmu... Elena Adiguna datang untuk melunasi hutang darah ibunya."

​Elena dibawa masuk ke sebuah aula besar yang hanya diterangi oleh obor dinding.

Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari batu hitam dikelilingi oleh lima orang berjubah gelap. Wajah mereka tertutup topeng perak.

​"Putri dari Sarah yang membangkang," suara berat bergema dari pria yang duduk di tengah.

"Kami sudah menunggumu. Haryo Adiguna mengira dia bisa menyembunyikanmu di balik tumpukan uang receh di Jakarta. Dia bodoh."

​Elena duduk di kursi yang disediakan, menyilangkan kakinya dengan santai.

"Haryo memang bodoh, tapi setidaknya dia punya wajah. Kalian? Kalian bersembunyi di balik topeng seperti pengecut yang takut pada cahaya matahari."

​Salah satu orang berjubah itu menggebrak meja.

"Jaga bicaramu! Kau berdiri di depan dewan yang bisa menghapus namamu dari muka bumi dalam semalam!"

​"Oh, silakan coba," tantang Elena. Ia meletakkan sebuah flashdisk kecil di atas meja batu itu.

"Di dalam ini ada kunci akses ke seluruh aset yayasan ibuku. 30% saham perbankan Asia Tenggara. Nilai yang cukup untuk menggoyang pasar global jika tiba-tiba ditarik."

​Suasana aula menjadi sunyi. Keserakahan mulai tercium di udara.

​"Apa maumu?" tanya pemimpin mereka.

​"Kebebasan total. Hapus nama ibuku dari daftar kalian, dan biarkan aku hidup tenang. Jika tidak... aku sudah mengatur pengiriman otomatis data korupsi kalian ke Interpol dan setiap jurnalis investigasi di dunia jika detak jantungku berhenti."

​Elena menunjukkan jam tangannya—sebuah monitor detak jantung yang terhubung dengan server rahasia Paman Han.

​Pemimpin jubah itu tertawa sinis. "Kau pikir kami takut pada jurnalis? Kami yang memiliki media mereka, Elena."

​"Tapi kalian tidak memiliki aku," balas Elena tajam.

​Tepat saat itu, alarm di gedung itu meraung keras. Lampu merah berkedip-kedip.

​"Apa yang kau lakukan?!" teriak salah satu anggota dewan.

​"Sepuluh menit sudah habis," Elena menyeringai. Ia menendang meja batu itu, lalu dengan gerakan kilat menarik pistol dari balik jaketnya.

​DOR! DOR! DOR!

​Dua penjaga yang mencoba mendekat tersungkur sebelum sempat menarik pelatuk.

Elena berguling di balik pilar marmer besar saat rentetan peluru menghujani posisinya.

​"Julian! Sekarang!" teriak Elena ke mikrofonnya.

​Tiba-tiba, ledakan keras mengguncang sisi kanan bangunan.

Julian melakukan serangan pengalihan dari luar. Elena memanfaatkan kekacauan itu untuk berlari menuju ruang server.

Ia tidak datang hanya untuk bicara; ia datang untuk mencuri daftar hitam anggota The Obsidian agar ia punya kartu as selamanya.

​Ia berlari melewati lorong panjang, menembak setiap kamera keamanan dan penjaga yang menghalangi jalannya.

Darahnya mendidih.

Ini bukan lagi soal uang atau status. Ini adalah soal bertahan hidup melawan monster yang telah menghancurkan hidup ibunya.

​Saat ia sampai di depan pintu baja ruang server, seorang pria menghalanginya.

Pria itu tidak memakai jubah, melainkan setelan jas rapi.

​"Lukas?" Elena tertegun.

​Pengacara Haryo itu tersenyum licik sambil memegang detonator.

"Kau pikir aku di pihakmu, Elena? Haryo membayarku untuk menjagamu, tapi The Obsidian membayarku untuk menyerahkanmu. Bisnis tetaplah bisnis."

​"Kau pengkhianat menjijikkan," desis Elena.

​"Dan kau adalah gadis kecil yang terlalu percaya diri," Lukas menekan detonator itu.

​BOOM!

​Bagian atas ruangan runtuh. Debu dan puing-puing menutupi pandangan.

Elena terlempar ke belakang, kepalanya menghantam lantai dengan keras.

Pandangannya mengabur.

Ia bisa mendengar langkah sepatu Lukas mendekat, dan suara kokangan pistol tepat di depan dahinya.

​"Selamat tinggal, Alana. Harusnya kau tetap berada di dasar jurang itu," ujar Lukas dingin.

​KLIK.

​Suara tembakan terdengar, tapi Elena tidak merasakan sakit.

Ia membuka matanya dan melihat Lukas terjerembap dengan lubang peluru di lehernya.

Di belakangnya, Julian berdiri dengan senapan laras panjang yang masih berasap.

​"Waktunya pergi, Ratu Jakarta," Julian mengulurkan tangan.

"Kastel ini akan rata dengan tanah dalam tiga menit."

​Elena meraih tangan Julian. Mereka berlari menembus api dan asap yang memenuhi gedung.

Di luar, Paman Han sudah menunggu dengan helikopter yang melayang rendah di area taman.

​Helikopter itu terbang tepat saat seluruh bagian bawah kastel meledak hebat.

Elena melihat ke bawah, melihat sejarah gelap ibunya terbakar menjadi abu di tengah salju Alpen.

​Di dalam helikopter, Elena duduk lemas. Wajahnya penuh jelaga dan luka gores, tapi matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Ia menggenggam sebuah hard drive yang berhasil ia selamatkan.

​"Kau mendapatkan daftar itu?" tanya Julian sambil membersihkan luka di pelipis Elena.

​"Semuanya. Sekarang, akulah yang memegang leher mereka," jawab Elena. Ia menatap Julian dengan tajam.

"Dan itu termasuk kau, Julian. Aku tahu kau bukan sekadar pembangkang organisasi. Kau adalah putra dari salah satu dewan yang mati di dalam sana, kan?"

​Julian terdiam sejenak, lalu tersenyum pahit.

"Kecerdasanmu memang menakutkan, Elena. Ya. Aku ingin mereka mati karena mereka membunuh nuraniku. Sekarang, aku tidak punya siapa-siapa."

​Elena menyandarkan kepalanya, menatap lampu-lampu kota di bawah yang semakin menjauh.

"Kau punya aku sekarang. Tapi ingat satu hal... jangan pernah berkhianat, atau kau akan tahu kenapa aku dipanggil 'Nyonya yang Terbuang'."

​Julian tertawa kecil. "Aku tidak akan berani."

​Paman Han menoleh dari kursi pilot. "Ke mana kita sekarang, Nona? Kembali ke Jakarta?"

​Elena tersenyum—senyum seorang pemenang yang sesungguhnya.

"Tidak, Paman. Jakarta terlalu kecil untuk kita sekarang. Kita akan ke New York. Aku punya perusahaan yang harus kubeli, dan sebuah dunia yang harus kuberi tahu... bahwa Elena Adiguna tidak bisa dihancurkan."

​Di bawah sinar bulan yang dingin, helikopter itu membelah awan, membawa sang Nyonya menuju takhta yang jauh lebih besar.

Dendamnya mungkin telah selesai, tapi kekuasaannya baru saja dimulai.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!