Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Rencana Kabur
"Gue bosen! Gue bisa mati muda kalau begini caranya! Aluna, lo punya hati nggak sih?!"
Elora berguling-guling di sofa ruang tengah mansion keluarga Diwantara. Rambutnya acak-acakan, wajahnya ditekuk persis seperti cucian basah yang lupa dijemur.
Aluna duduk anteng di sofa seberangnya sambil menyeruput teh manis hangat—gratisan dari dapur orang kaya. Dia baru saja selesai merekap pengeluaran harian Elora yang hari ini rekor bersih: Nol Rupiah.
"Hati saya ada, Mbak. Tapi fungsinya buat menetralisir racun, bukan buat menoleransi drama Korea versi live action," jawab Aluna santai tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya. "Lagian Mbak lebay banget. Baru juga dua hari puasa belanja."
"Dua hari itu rasanya kayak dua abad buat gue!" Elora bangkit duduk, menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca yang dibuat-buat. "Anak-anak genk gue lagi pada party di Club X. Gue dapet undangan VIP, Luna. VIP! Lo tahu artinya? Gratis masuk, sofa paling depan, dan DJ internasional!"
"Terus?"
"Terus gue harus mendekam di sini nonton TV bareng lo? Ini penyiksaan HAM!"
Aluna menutup buku catatannya. Dia melirik jam dinding besar yang berdetak malas. Pukul delapan malam. Jadwal kerjanya sebagai pengasuh keuangan Elora harusnya selesai jam sembilan.
"Mbak Elora, denger ya. Dugem itu boros. Tiket masuk gratis, tapi open table bayar. Minuman alkohol pajaknya tinggi. Belum lagi parkir valet. Belum lagi kalau Mbak mabuk terus muntah di mobil, kena biaya cleaning," Aluna mendaftar potensi kerugian dengan lancar. "Jadi, keputusan auditor tetap: Izin ditolak."
Elora tidak membantah. Anehnya, dia tidak meledak marah seperti biasanya. Gadis itu malah menghela napas panjang, lalu berdiri dengan wajah lesu.
"Ya udahlah. Percuma ngomong sama tembok kayak lo," gumam Elora pelan. Dia berjalan gontai menuju tangga. "Gue mau tidur aja. Capek hati, capek pikiran."
Aluna mengernyit. Alisnya bertaut curiga.
"Tidur? Ini baru jam delapan, Mbak. Biasanya jam segini Mbak baru bangun dari tidur siang."
"Gue mau tobat, puas lo?" Elora menoleh sinis di bordes tangga. "Gue mau merenungi nasib gue yang mendadak miskin ini di dalam selimut. Jangan ganggu gue. Jangan ketuk pintu kamar gue sampai matahari terbit. Gue butuh ketenangan batin."
Setelah mengucapkan kalimat dramatis itu, Elora masuk ke kamarnya di lantai dua dan membanting pintu cukup keras. Brak!
Kemudian terdengar suara kunci diputar dari dalam. Klik.
Hening.
Aluna meletakkan cangkir tehnya. Instingnya sebagai kakak tertua yang biasa mengurus tiga adik bandel di kampung langsung menyala. Sinyal bahaya berkedip-kedip di kepalanya.
"Tobat? Elora?" Aluna terkekeh pelan. "Mustahil. Buaya darat bisa jadi vegetarian, tapi Elora nggak mungkin tobat dugem cuma gara-gara diceramahin sekali."
Ada yang tidak beres. Gerak-gerik Elora terlalu pasrah. Terlalu menyerah. Itu bukan gaya Elora. Itu gaya orang yang sedang menyusun rencana jahat.
Aluna membereskan barang-barangnya. Dia berpamitan pada kepala asisten rumah tangga, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tapi, bukannya langsung pulang, Aluna malah mengendap-endap ke area taman samping yang posisinya tepat di bawah balkon kamar Elora.
Dia merogoh tasnya yang butut, mengeluarkan sebuah benda pusaka: Ponsel Android keluaran lima tahun lalu yang layarnya sudah retak seribu, tapi mesinnya masih bandel. Ini ponsel cadangan Aluna.
"Maaf ya, Hp butut. Kamu harus lembur malam ini," bisik Aluna pada ponsel itu.
Dengan cekatan, Aluna membuka aplikasi keamanan gratisan yang dia unduh tadi siang—Home Security Camera: Motion Detector. Dia sudah menyambungkan akun di hp butut itu dengan hp utamanya.
Fiturnya sederhana tapi efektif: Kamera akan terus menyala, dan jika sensor menangkap gerakan mencurigakan, aplikasi akan mengirimkan notifikasi alarm nyaring ke hp utama Aluna secara real-time.
Aluna celingukan mencari posisi strategis.
Di sana. Ada pot tanaman monstera besar di sudut teras, posisinya menghadap langsung ke arah pipa talang air yang letaknya strategis di samping jendela kamar Elora.
Kalau Elora nekat kabur lewat jendela ala film remaja, dia pasti lewat situ. Atau kalau dia lewat pintu depan, dia harus melewati lorong ini untuk menuju gerbang samping yang tidak dijaga satpam.
Aluna menyelipkan hp itu di antara dedaunan monstera. Lensa kameranya mengintip sempurna ke arah jalur pelarian. Dia menancapkan powerbank agar baterainya awet semalaman. Semoga.
"Oke. Jebakan batman terpasang," gumam Aluna puas. Dia mengaktifkan mode Motion Detection. "Awas aja kalau lo macem-macem, Tuan Putri."
Tiga jam kemudian.
Aluna sedang rebahan di kamar kosnya yang sempit. Kipas angin berputar berisik di langit-langit, mencoba mengusir udara panas. Dia sedang menghitung sisa uang di dompetnya—tinggal dua puluh ribu untuk bertahan sampai nerima uang makan dan transport besok.
Ya, meski pelit, Elvano menepati ucapannya. Aluna menerima gaji harian untuk uang makan dan transport sebesar seratus ribu rupiah setiap harinya.
Matanya sudah tinggal lima watt. Lelah seharian berdebat dengan Elora dan Elvano menguras energinya lebih parah daripada kuli panggul.
"Tidur, Lun. Tidur. Besok perang lagi," gumamnya pada diri sendiri sambil menarik selimut tipis bermotif bunga-bunga.
Baru saja matanya terpejam, ponsel utamanya yang dia taruh di sebelah bantal tiba-tiba menjerit.
WIU WIU WIU WIU!
Suara sirene polisi yang dia setel sebagai nada dering khusus aplikasi CCTV itu memecah keheningan malam. Aluna terlonjak kaget sampai hampir jatuh dari kasur. Jantungnya berdegup kencang.
"Maling?!"
Dia menyambar ponselnya. Layar menyala terang menampilkan notifikasi merah: GERAKAN TERDETEKSI DI TERAS SAMPING.
Aluna buru-buru membuka notifikasi itu untuk melihat siaran langsung dari kamera hp butut yang dia sembunyikan di pot bunga tadi.
Gambar di layar sedikit grainy dan gelap karena mode malam, tapi cukup jelas memantulkan cahaya lampu taman untuk melihat sesosok bayangan manusia sedang mengendap-endap.
Itu bukan maling.
Itu Elora.
Tapi bukan Elora yang tadi pamit tidur pakai piyama.
Di layar kecil itu, terlihat Elora mengenakan mini dress berkilauan. Rambutnya sudah di-curly badai. Kakinya telanjang, sementara sepatu hak tingginya dia tenteng di tangan supaya tidak berisik saat berjalan di lantai teras.
Elora terlihat celingukan kiri-kanan seperti maling profesional, lalu mengendap-endap menuju pintu gerbang samping yang kecil.
"Dasar bocah nakal!" umpat Aluna gemas. "Udah gue duga! Tobat apanya? Tobat sambel!"
Di layar, terlihat sebuah mobil sedan hitam—taksi online—sudah menunggu di balik gerbang dengan lampu dimatikan. Elora buru-buru membuka pintu mobil dan melompat masuk.
Mobil itu langsung tancap gas, menghilang di kegelapan malam.
"Oke. Lo mau main kucing-kucingan sama gue?" Aluna melempar selimutnya. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan adrenalin. Dia langsung tahu ke mana gadis itu pergi. Club X.
Aluna menyambar jaket ojek online milik tetangga kosnya yang sedang dijemur di depan (dia sering pinjam kalau darurat), menyambar kunci motor bututnya, dan berlari keluar kamar.
"Tunggu gue, Elora. Gue bakal seret lo pulang sebelum lo sempet pesen minum!"
Malam ini bakal panjang. Dan Aluna pastikan, besok pagi Elora bakal kena denda besar dari jatah uang jajannya.
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥