NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Perjamuan Serigala dan Sumpah di Balik Kabut

​Keheningan di vila pegunungan ini terasa jauh lebih berbahaya daripada raungan sirene di bandara semalam. Di luar jendela, kabut putih tebal merayap turun dari puncak bukit, menelan pepohonan pinus dan menyembunyikan dunia dalam selimut abu-abu yang dingin. Aku berdiri di ruang tamu yang luas, menatap gagang telepon yang masih tergeletak di lantai kayu, seolah benda itu adalah ular berbisa yang baru saja mematuk jiwaku.

​Suara Bima masih bergema di dalam rongga telingaku. “Aku ingin ayahmu menyingkir dari jalanku... agar aku bisa menjemput milikku.”

​Kata "milikku" itu terasa seperti bekas luka bakar yang mendesis di kulitku. Selama sembilan belas tahun, aku adalah milik Hendra Kusuma—investasi berharganya, mahakarya porselennya. Dan sekarang, saat pencuci otaknya sudah mendekam di sel, seorang predator baru muncul untuk mengklaim kepemilikan atas diriku. Ternyata, kebebasan yang kujanjikan pada Devan hanyalah sebuah perpindahan dari satu sangkar emas ke sangkar gelap lainnya.

​Aku memejamkan mata, mencoba menstabilkan napas yang mulai pendek-pendek. Aku tidak boleh hancur sekarang. Tidak saat Devan sedang berbaring lemah di kamar sebelah, bertaruh nyawa melawan infeksi yang ia dapatkan karena melindungiku. Aku membungkuk, mengambil gagang telepon itu dengan tangan yang sudah tidak lagi gemetar, lalu meletakkannya kembali ke tempatnya dengan bunyi klik yang mantap.

​Langkah kaki terdengar dari arah teras belakang. Aku menoleh dengan waspada, tanganku secara refleks meraba saku jaket kargoku di mana pisau lipat Devan berada.

​Jaksa Satria masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat jauh lebih suram daripada saat ia berangkat tadi pagi. Ia melepas mantelnya yang basah oleh embun, lalu melemparkannya ke atas kursi rotan. Matanya menangkap ekspresiku yang kaku.

​"Anya? Ada apa? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Satria, suaranya rendah dan penuh selidik.

​"Bima Dirgantara," jawabku singkat. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—dingin, tajam, dan tidak memiliki jejak kerapuhan. "Dia baru saja menelepon. Dia tahu kita di sini."

​Satria membeku di tempatnya. Lencana jaksanya yang tersemat di kemeja tampak berkilat tertimpa lampu ruang tamu. Ia berjalan cepat mendekatiku. "Apa katamu? Bima? Bagaimana mungkin dia—"

​"Folder 'Red-Alpha', Pak Jaksa," aku menunjuk laptop perak yang masih menyala di meja kayu. "Ayahku bukan sekadar ingin menghapus memori tentang Devan. Dia ingin memastikan aku tidak punya pilihan selain menikahi Bima. Ada kontrak bisnis yang ditandatangani lima tahun lalu. Aku adalah syarat mutlak bagi Dirgantara Group untuk tetap menyuntikkan modal ke perusahaan Ayah."

​Satria merampas laptop itu, matanya bergerak cepat menyapu dokumen-dokumen yang terbuka. Rahangnya mengeras. "Sialan. Jadi ini alasan mengapa ayah Bima, sang Chairman Dirgantara, begitu gigih menekan Kejaksaan Agung untuk menutup kasus Proyek Sudirman tiga tahun lalu. Mereka bukan sekadar rekan bisnis; mereka adalah satu tubuh yang saling menyandera."

​"Bima bilang dia yang mengirimkan bukti-bukti itu kepada Devan lewat informan anonim," lanjutku, suaraku tetap tenang meski jantungku bergemuruh. "Dia ingin Ayah dipenjara agar dia bisa mengambil alih kendali penuh atas aku dan saham perusahaan. Dia ingin menjadi penyelamat palsu di tengah kekacauan ini."

​Satria mengutuk di bawah napasnya. "Keluarga Dirgantara jauh lebih licin dari ayahmu, Anya. Hendra Kusuma masih menggunakan cara-cara lama yang kasar. Tapi Dirgantara? Mereka menguasai perbankan dan media. Jika Bima benar-benar bergerak, vila ini tidak akan cukup aman meski dijaga oleh satu batalion."

​"Aku tidak butuh satu batalion," ujarku, melangkah maju hingga berdiri tepat di depan Satria. "Aku butuh informasi. Berapa banyak personel yang kau miliki di sini?"

​Satria menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Hanya empat orang intelejen luar. Aku tidak bisa membawa pasukan resmi karena ini adalah operasi senyap."

​"Berarti kita kalah jumlah jika Bima datang dengan pengawal pribadinya," aku menganalisis dengan kejernihan yang menakutkan. "Tapi Bima punya satu kelemahan. Dia sangat sombong. Dia menganggap aku masih Anya yang malang, Anya yang linglung dan mudah ditakuti. Dia datang ke sini bukan untuk berperang, tapi untuk melakukan 'penjemputan'."

​Aku berbalik, menatap ke arah pintu kamar Devan yang tertutup. "Kita punya waktu tiga hari. Aku ingin kau menghubungi kembali tim pusatmu. Bukan untuk meminta perlindungan, tapi untuk menggali setiap noda hitam yang dimiliki Dirgantara Group. Jika mereka menyandera masa depanku, aku akan menyandera kekaisaran mereka."

​Satria tampak tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah senyum tipis yang penuh kekaguman muncul di wajah lelahnya. "Kau benar-benar putri Hendra Kusuma, ya? Kau memiliki insting predatornya, tapi kau menggunakannya dengan hati nurani."

​"Aku adalah Anya Mahendra dalam jiwaku," balasku tegas. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Devan lagi."

​Aku melangkah masuk ke dalam kamar tidur. Udara di dalam sini berbau antiseptik dan kayu tua yang lembap. Lampu tidur berwarna kekuningan memberikan nuansa temaram yang hangat namun sekaligus menyesakkan.

​Devan masih terlelap. Namun, tidurnya tidak lagi tenang. Alisnya bertaut rapat, dan ia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas di sela napasnya yang berat. Infeksi itu sepertinya sedang melakukan serangan terakhirnya sebelum antibiotik benar-benar menang.

​Aku duduk di tepi tempat tidur, mengambil kain kompres yang sudah mulai dingin dari dahinya. Aku mencelupkannya kembali ke baskom air hangat, memerasnya, lalu meletakkannya kembali dengan sangat lembut.

​"Anya..." gumamnya parau. Matanya terbuka sedikit, terlihat merah dan berkabut.

​"Aku di sini, Van. Sstt... tidurlah," bisikku, mengusap helai rambut legamnya yang basah oleh keringat.

​"Ponselmu... jangan percaya... Satria..." racauannya mulai membuatku khawatir. Ia sepertinya sedang terjebak dalam delusi akibat demam.

​"Aku tidak percaya pada siapa pun kecuali kau, Devan," aku menggenggam tangannya yang panas. "Satria sudah dipihak kita. Ayah sudah kalah. Kita sudah menang, Van. Kau hanya perlu sembuh."

​Devan tiba-tiba mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang mengejutkan untuk orang yang sedang sakit. Ia membuka matanya lebar-lebar, menatapku dengan intensitas yang seolah menembus tulang rusukku. "Bima... aku melihatnya di mimpiku... dia membawamu pergi..."

​Jantungku mencelos. Apakah ikatan batin kami begitu kuat hingga ia bisa merasakan ancaman Bima bahkan dalam keadaan tak sadar? Ataukah selama tiga tahun ia mengawasiku, ia sudah sering melihat Bima mencoba mendekatiku?

​"Dia tidak akan bisa membawaku pergi, Devan," aku mendekatkan wajahku, menempelkan keningku ke keningnya yang panas. "Aku bukan lagi kaset rusak yang bisa dia putar sesukanya. Aku sudah bangun. Dan aku bersumpah, jika dia berani melangkah ke vila ini, dia akan berhadapan denganku, bukan kau."

​Devan menelan ludah dengan susah payah, jakunnya bergerak naik turun. Tatapan matanya perlahan mulai fokus kembali. Kesadarannya seolah dipaksa pulang oleh suaraku. "Anya... kau berbeda."

​"Ya. Aku harus berbeda agar kita bisa bertahan," aku tersenyum pahit, mengecup punggung tangannya yang dipenuhi bekas luka petarung. "Selama ini kau yang bertarung untukku di lumpur jalanan. Sekarang, biarkan aku yang bertarung untukmu di ruang-ruang gelap ini. Beristirahatlah. Kau harus sehat dalam tiga hari."

​Perlahan, ketegangan di tubuh Devan mengendur. Ia menghela napas panjang, genggamannya pada tanganku melemah, dan ia kembali tenggelam ke dalam tidur yang lebih dalam.

​Aku berdiri, berjalan menuju jendela dan menyibak sedikit gordennya. Di balik kabut, aku tahu ada mata-mata yang sedang mengintai. Bima Dirgantara bukan sekadar cinta obsesif; dia adalah representasi dari sistem yang menganggap manusia sebagai aset. Dan aku, Anya Kusuma, telah memutuskan untuk menjadi aset yang paling menghancurkan bagi mereka.

​Aku kembali ke meja kerja di ruang tengah. Laptop perak itu menungguku. Aku tidak lagi mencari memori tentang tawa atau janji. Aku mencari angka, mencari nama vendor, mencari aliran dana Dirgantara Group yang mencurigakan. Jika Ayah bisa menyimpan rahasia Proyek Sudirman di laptop ini, maka pasti ada jejak lain tentang bagaimana Dirgantara menyelamatkan Ayah tiga tahun lalu.

​Jariku menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Adrenalin ini terasa berbeda dari adrenalin saat lari di bandara. Ini adalah adrenalin dingin yang terorganisir.

​Tiba-tiba, aku menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama 'G-Azure'. Di dalamnya terdapat draf desain hotel mewah di Bali yang akan dibangun oleh Dirgantara Group. Dan yang membuat darahku berdesir adalah daftar pemegang sahamnya: Hendra Kusuma (15% - Atas Nama Anya Kusuma).

​Ternyata, mahar pernikahanku sudah disiapkan sejak lama. Aku adalah jaminan bagi proyek triliunan rupiah itu. Jika aku menolak Bima, maka Dirgantara kehilangan legalitas atas 15% saham yang secara hukum adalah milikku.

​"Kau bukan ingin mencintaiku, Bima," bisikku pada kegelapan ruangan. "Kau hanya ingin kunci untuk brankas raksasamu."

​Terdengar suara ketukan pelan di pintu vila. Aku segera meraih pisau lipat Devan dan berdiri di balik bayangan pilar.

​"Anya, ini aku, Satria," suara jaksa itu terdengar dari luar.

​Aku membuka pintu sedikit. Satria berdiri di sana dengan wajah yang sangat pucat, memegang sebuah map hitam yang tampak baru saja dikirim lewat kurir rahasia.

​"Ada apa?" tanyaku waspada.

​"Kau harus melihat ini," Satria masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Ia meletakkan map itu di meja. "Ini adalah laporan rahasia dari informanku di kantor imigrasi. Bima Dirgantara tidak sedang menunggu tiga hari lagi untuk menjemputmu."

​"Lalu?"

​"Dia sedang dalam perjalanan ke sini dengan helikopter pribadi milik perusahaannya. Dia akan mendarat di lapangan perkebunan teh di bawah vila ini dalam waktu dua jam," Satria menatapku dengan keputusasaan yang nyata. "Dia membawa surat perintah 'pemindahan perlindungan saksi' yang ditandatangani oleh atasan saya sendiri. Dia sudah membeli sistemnya, Anya. Dia datang sebagai penyelamat resmi di mata hukum."

​Duniaku berputar. Dua jam. Devan masih pingsan karena demam. Pasukan Satria hanyalah empat orang intelejen. Dan musuh kami datang dengan otoritas negara di tangannya.

​"Dua jam," aku mengulang kata-kata itu, mencoba memeras otakku untuk mencari jalan keluar terkecil sekalipun. "Pak Jaksa, kau bilang Bima ingin aku sebagai syarat saham, kan?"

​"Ya, berdasarkan dokumen yang kau temukan."

​"Kalau begitu, dia tidak akan membunuhku. Tapi dia akan membunuh Devan sebagai penghalang," aku menatap Satria dengan tatapan yang tajam. "Kita tidak punya waktu untuk lari. Mobil kita akan mudah terkejar oleh helikopter di jalan pegunungan yang sempit ini."

​"Lalu apa rencanamu?"

​Aku menatap laptop perak itu, lalu beralih ke botol antibiotik Devan yang tergeletak di meja. Sebuah rencana gila, berbahaya, dan mungkin akan menghancurkan citra 'putri sempurna' yang selama ini melekat padaku, mulai terbentuk.

​"Kita akan menyambutnya," jawabku pelan. "Tapi bukan sebagai korban yang pasrah. Kita akan membuat perjamuan serigala untuk Bima Dirgantara."

​Aku mulai memberikan instruksi pada Satria. Aku menyuruhnya untuk menyembunyikan Devan di dalam bunker penyimpanan anggur di bawah lantai vila, dan memastikan salah satu intelejen menjaganya dengan senjata terkokoh. Sementara itu, aku akan tetap di ruang tengah, menunggunya sendirian.

​"Ini bunuh diri, Anya!" protes Satria.

​"Tidak jika aku memiliki 'peluru' yang lebih besar dari helikopternya," balasku, sambil menyalin seluruh data 'G-Azure' ke dalam sebuah flashdisk dan menyembunyikannya di dalam liontin kalung pemberian ibuku.

​Saat Satria mulai melaksanakan instruksiku, aku berjalan kembali ke kamar Devan untuk terakhir kalinya. Aku membungkuk, membisikkan sebuah janji di telinganya yang kini terasa lebih dingin karena demam yang mulai turun.

​"Tunggu aku, Devan. Kali ini, biarkan aku yang menjadi cahaya bagimu."

​Di tengah kesunyian vila yang menanti kedatangan sang predator, kepalaku kembali berdenyut. Sebuah memori terakhir dari masa SMA—masa di mana Bima pertama kali menunjukkan sisi iblisnya—muncul dengan begitu tajam, seolah memberikan bahan bakar bagi dendamku malam ini.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG PESTA ULANG TAHUN ANYA KE-16 - MALAM HARI (MASA LALU)

​Suasana sangat mewah. Lampu kristal menggantung megah, musik orkestra mengalun lembut. ANYA (16 tahun) mengenakan gaun sutra berwarna putih, terlihat seperti boneka porselen yang sempurna. Ia berdiri di sudut ruangan, merasa terasing di pestanya sendiri.

​Tiba-tiba, BIMA (18 tahun) mendekat. Ia mengenakan tuksedo mahal, rambutnya tertata rapi, dan senyumnya memancarkan kepercayaan diri yang memuakkan.

​BIMA

(Menyodorkan gelas minuman non-alkohol)

"Selamat ulang tahun, Calon Istriku. Kau terlihat sangat cantik malam ini. Jauh lebih cantik daripada saat kau bersembunyi di bengkel kotor itu."

​Anya menatap Bima dengan jijik, menolak minumannya.

​ANYA

"Aku bukan calon istrimu, Bima. Dan jangan pernah berani menghina Devan lagi."

​Bima tertawa kecil, ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia menarik seuntai rambut Anya dan menciumnya dengan cara yang sangat posesif.

​BIMA

"Ayahmu baru saja menjaminkan kepemilikanmu padaku di ruang kerja tadi, Anya. Kau tahu kenapa Devan tidak datang malam ini? Karena aku menyuruh pengawal Ayahku untuk mematahkan kaki kirinya di gang belakang sekolah satu jam yang lalu."

​Anya terkesiap, gelas di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.

​ANYA

"KAU... KAU PEMBUNUH!"

​BIMA

(Berbisik tajam, menekan pergelangan tangan Anya hingga memerah)

"Bukan pembunuh, Sayang. Hanya seorang pebisnis yang sedang membersihkan inventarisnya. Ingat ini, Anya... tidak ada tempat di dunia ini di mana kau bisa lari dariku. Karena Ayahmu sendiri yang sudah menjual jiwamu padaku."

​Kamera fokus pada wajah Bima yang menyeringai kemenangan, sementara Anya berdiri mematung dengan air mata yang mulai mengalir. Di kejauhan, AYAH ANYA sedang bersulang dengan ayah Bima, tertawa seolah baru saja memenangkan lotere.

​ANYA (V.O)

(Suaranya bergema penuh determinasi yang baru lahir)

"Malam itu aku menangis karena aku tidak punya kekuatan. Tapi malam ini, di atas bukit berkabut ini, aku akan memastikan Bima Dirgantara belajar satu hal: bahwa porselen yang retak bisa menjadi lebih tajam dari sebilah pedang."

​Layar perlahan memudar menjadi warna hitam, diiringi suara helikopter yang sayup-sayup mulai terdengar dari kejauhan.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!