NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Pagi itu datang dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Langit masih pucat ketika Seraphina membuka matanya, sementara cahaya matahari baru membentuk garis tipis di balik tirai panjang berwarna krem di sisi kamar. Udara terasa dingin dan sunyi, membuat ruangan itu tampak lebih luas dari biasanya. Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya tetap diam di atas ranjang, matanya menatap langit-langit sambil membiarkan pikirannya perlahan sadar sepenuhnya.

Malam sebelumnya masih tertinggal jelas di kepalanya. Kenangan lama, suara tangisan yang akhirnya lolos setelah sekian lama tertahan, dan keputusan yang ia buat untuk dirinya sendiri terus berputar perlahan di dalam pikirannya. Namun anehnya, pagi ini dadanya tidak lagi terasa seberat biasanya. Tidak ada sesak yang datang tiba-tiba. Tidak ada dorongan untuk mempertanyakan semua yang sudah ia lihat dan dengar selama beberapa hari terakhir. Yang tersisa hanyalah keheningan panjang yang terasa dingin sekaligus kosong.

Seraphina mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pelipisnya sejenak sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang. Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu, sedikit berantakan karena tidur yang nyaris tidak benar-benar terjadi semalam. Tatapannya beralih ke cermin besar di seberang ruangan. Bayangan dirinya terlihat sama seperti biasa. Anggun, tenang, dan tetap rapi bahkan dalam keadaan lelah.

Namun ada sesuatu di matanya yang berubah.

Tatapan itu tidak lagi terlihat seperti seseorang yang terus berharap. Tidak lagi seperti wanita yang diam-diam masih menunggu keluarganya kembali seperti dulu. Semua emosi yang sebelumnya masih tersisa perlahan menghilang, menyisakan ketenangan yang terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri.

Seraphina berdiri perlahan lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa tergesa-gesa. Semua gerakannya teratur dan tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melewati malam penuh kenangan menyakitkan. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat pikirannya semakin jernih. Ia bersiap seperti biasa, memilih pakaian dengan hati-hati, merapikan rambut, lalu memakai riasan tipis yang membuat wajahnya tetap terlihat segar tanpa berlebihan.

Ketika semuanya selesai, ia kembali berdiri di depan cermin untuk beberapa detik. Gaun berwarna lembut membungkus tubuhnya dengan sempurna, sementara ekspresinya tetap tenang seperti biasanya. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa sesuatu di dalam dirinya sudah berubah begitu jauh.

Dan mungkin memang itu masalahnya.

Selama ini semua orang terlalu terbiasa melihat Seraphina sebagai wanita yang selalu lembut, selalu mengalah, dan selalu menempatkan keluarganya di atas dirinya sendiri. Mereka terbiasa melihatnya sibuk memperhatikan orang lain sampai melupakan dirinya sendiri. Sampai akhirnya, perlahan-lahan, tidak ada lagi yang benar-benar memedulikan bagaimana perasaannya.

Seraphina mengalihkan pandangannya dari cermin lalu keluar dari kamar dengan langkah pelan.

---

Ruang makan pagi itu sudah ramai ketika ia turun. Aroma kopi hangat memenuhi udara, bercampur dengan suara kecil alat makan yang saling bersentuhan. Pemandangan di meja makan tampak sama seperti biasanya, begitu normal hingga terasa hampir menyesakkan.

Darius duduk di ujung meja sambil membaca berita di tabletnya. Sesekali pria itu mengangkat cangkir kopi tanpa benar-benar memerhatikan sekelilingnya. Lysandra duduk tidak jauh darinya sambil memainkan ponsel, tertawa kecil setiap kali membaca pesan yang masuk. Sementara Kael terlihat fokus membaca dokumen di samping piringnya, sesekali mengetik sesuatu di layar tablet dengan ekspresi datar seperti biasa.

Seraphina hanya melirik mereka sekilas sebelum menarik kursinya sendiri.

“Pagi,” ucap Darius sambil mengangkat kepala.

Biasanya Seraphina akan tersenyum lebih dulu. Ia akan menanyakan tidur mereka, mengomentari sesuatu yang ringan, atau berusaha membuat suasana meja makan terasa lebih hangat. Hari ini, ia hanya mengangguk kecil sebelum mengambil cangkir tehnya sendiri.

“Pagi.”

Nada suaranya tetap lembut, tetapi datar. Tidak dingin secara terang-terangan, hanya kehilangan kehangatan yang biasanya selalu ada.

Darius sempat mengernyit samar sebelum kembali menatap tabletnya. Ia mungkin menyadari perubahan kecil itu, tetapi belum cukup peduli untuk memikirkannya lebih jauh.

“Ibu bangun lebih pagi?” tanya Lysandra sambil melirik sekilas.

“Iya.”

Jawaban singkat itu membuat suasana kembali hening selama beberapa detik. Lysandra terlihat seperti menunggu tambahan kalimat, namun Seraphina sudah kembali fokus pada sarapannya tanpa melanjutkan percakapan.

Keheningan di meja makan terasa berbeda pagi ini. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk disadari jika diperhatikan lebih lama. Biasanya Seraphina selalu menjadi orang yang menjaga percakapan tetap hidup. Ia akan memastikan semua orang makan dengan baik, mengingatkan jadwal, atau sekadar menanyakan rencana mereka hari itu.

Sekarang ia hanya duduk diam sambil menikmati tehnya perlahan.

Kael mengangkat pandangannya sebentar. Tatapannya berhenti pada Seraphina sedikit lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memahami sesuatu. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

“Ayah, nanti sore aku mau keluar,” ujar Lysandra sambil memainkan ujung rambutnya. “Mungkin malam baru pulang.”

Biasanya Seraphina akan langsung bertanya pergi dengan siapa atau mengingatkan agar tidak pulang terlalu larut. Kali ini, ia bahkan tidak mengangkat kepala.

Darius menjawab santai, “Jangan terlalu malam.”

“Hmm.”

Lysandra melirik ibunya lagi. Tatapannya mulai berubah sedikit bingung ketika tidak mendapat respons apa pun.

“Aneh,” gumamnya pelan.

“Apa?” tanya Darius tanpa benar-benar tertarik.

“Tidak ada.”

Namun mata Lysandra kembali tertuju pada Seraphina beberapa detik lebih lama. Ia mulai menyadari perubahan itu sedikit demi sedikit.

---

Siang harinya, Seraphina berada di ruang kerja sambil memeriksa beberapa dokumen ketika salah satu pelayan mengetuk pintu dengan hati-hati.

“Nona Lysandra meminta kartu tambahan yang biasanya Ibu simpan,” ucap pelayan itu pelan.

Seraphina tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan tanda tangannya lebih dulu sebelum akhirnya mengangkat kepala. Ekspresinya tetap tenang tanpa perubahan berarti.

“Katakan padanya gunakan yang sekarang saja.”

Pelayan itu tampak ragu. “Biasanya Ibu langsung memberikan…”

“Katakan saja begitu.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup tegas untuk membuat pelayan itu segera mengangguk sebelum keluar.

Begitu pintu tertutup, Seraphina kembali menunduk pada pekerjaannya. Tidak ada rasa bersalah yang muncul. Tidak ada dorongan untuk langsung memenuhi keinginan Lysandra seperti sebelumnya. Ia hanya merasa semuanya memang tidak perlu lagi dilakukan.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan.

Lysandra masuk dengan ekspresi tidak puas. Langkahnya cepat, sedikit tergesa karena menahan kesal.

“Ibu,” panggilnya.

Seraphina mengangkat kepala perlahan. “Ada apa?”

“Aku cuma minta kartu tambahan. Kenapa harus ditolak?”

Nada manja itu masih ada, tetapi kali ini terdengar lebih menekan dibanding biasanya.

Seraphina menatapnya tenang. “Kamu masih punya kartu yang lain.”

“Tapi limitnya beda.”

“Kalau begitu gunakan seperlunya.”

Jawaban itu membuat Lysandra terdiam beberapa detik. Matanya sedikit membesar, jelas tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu.

Biasanya permintaan seperti ini selesai hanya dalam beberapa menit. Seraphina selalu memberi tanpa banyak pertanyaan. Namun sekarang wanita di depannya justru kembali fokus pada dokumen di meja, seolah percakapan itu tidak penting.

“Ibu marah padaku?” tanya Lysandra pelan.

Seraphina menghentikan gerakan penanya lalu mengangkat pandangan.

“Kenapa aku harus marah?”

Nada suaranya tetap lembut, tetapi kosong. Tidak ada kehangatan yang biasa membuat Lysandra merasa dimanjakan.

“Aku cuma merasa… Ibu berubah.”

Senyum tipis muncul di bibir Seraphina. Sopan, rapi, dan terasa sangat jauh.

“Mungkin kamu terlalu banyak berpikir.”

Lysandra menatapnya beberapa saat lagi sebelum akhirnya keluar dengan ekspresi bingung dan sedikit kesal. Sementara Seraphina kembali bekerja tanpa perubahan apa pun di wajahnya.

---

Malam harinya, rumah kembali tenang setelah aktivitas sepanjang hari berakhir. Kael duduk sendirian di ruang tengah sambil membaca laporan di laptopnya ketika Seraphina melewati area itu.

“Ibu.”

Seraphina berhenti sebentar.

Kael mengangkat kepala. “Aku sudah mengirim dokumen revisi tadi pagi.”

“Hmm.”

“Ada yang perlu diperiksa lagi?”

“Tidak.”

Jawaban singkat itu membuat Kael mengernyit samar. Biasanya Seraphina akan membaca detailnya dengan teliti dan memberi banyak komentar. Bahkan terkadang terlalu banyak bertanya sampai membuatnya kesal sendiri.

Sekarang, wanita itu justru terlihat seperti tidak tertarik.

Seraphina hendak melanjutkan langkah ketika Kael kembali bicara.

“Ibu sibuk akhir-akhir ini?”

Seraphina menoleh sedikit. “Kenapa?”

“Kamu berbeda.”

Kalimat itu keluar datar, namun cukup langsung.

Seraphina menatap putranya beberapa saat. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan panjang yang terasa aneh. Kael tiba-tiba menyadari sesuatu yang sulit dijelaskan. Mata ibunya masih setenang biasanya, tetapi terasa jauh lebih dingin.

Bukan dingin karena marah.

Melainkan dingin karena sudah berhenti peduli.

“Aku hanya lelah,” jawab Seraphina akhirnya.

Kael tidak langsung percaya. Ia sudah menyadari perubahan kecil itu sejak pagi. Cara bicara ibunya lebih singkat, lebih datar, dan tidak lagi dipenuhi perhatian seperti biasanya. Yang paling terasa justru bagaimana Seraphina berhenti berusaha mendekati mereka.

Biasanya wanita itu selalu mencari alasan untuk berbicara.

Sekarang justru sebaliknya.

Ia terlihat tidak lagi tertarik.

Dan perubahan itu terasa jauh lebih mengganggu dibanding kemarahan.

Karena diamnya Seraphina sekarang bukan diam yang emosional. Tidak ada ledakan, tidak ada sindiran, tidak ada usaha membuat mereka merasa bersalah. Yang ada hanyalah jarak dingin yang perlahan muncul tanpa suara.

Seolah sesuatu di dalam dirinya benar-benar sudah terputus.

Seraphina memutus kontak mata lebih dulu.

“Aku mau istirahat,” ucapnya tenang.

Lalu ia berjalan pergi meninggalkan ruang tengah tanpa menunggu jawaban.

Kael tetap duduk di tempatnya. Laptop di depannya masih terbuka, tetapi fokusnya sudah hilang sejak tadi. Tatapannya mengikuti sosok ibunya sampai menghilang di ujung koridor.

Untuk beberapa saat, ruang tengah kembali sunyi.

Dan tanpa ia sadari, sebuah perasaan aneh mulai muncul di dalam dirinya.

Bukan rasa bersalah.

Belum.

Namun cukup untuk membuatnya mulai benar-benar memperhatikan perubahan itu.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!