NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pelukan pertama untuk cika

Sesampainya di rumah, Vivian turun dari mobil hati-hati. Dipapah Bu Ratna seolah dia barang antik yang mudah pecah. Selangkah, berhenti. Selangkah, berhenti.

"Aku baik kok, Bu. Bisa jalan sendiri," ucap Vivian. Senyum. Pelan-pelan ngelepas tangan Bu Ratna. "Kandungan aku kuat. Kata Dokter Hendra tadi."

Sambil melangkah, langkah Bu Ratna terhenti. Dia diem di tempat, natap punggung Vivian yang mulai menjauh. Punggung yang dulu tiap pulang suka sempoyongan karena mabuk. Punggung yang dulu sering ngebanting pintu. Sekarang... punggung itu tegak. Anggun. Jalan pelan tapi pasti.

Entah bagaimana, rasa benci Bu Ratna pada Vivian, rasa benci yang 2 tahun terus dipupuk, disiram tiap hari dengan tingkah menyebalkan gadis itu,sekarang hilang. Lenyap. Kayak gak pernah ada.

Gantinya? Ada perasaan aneh. Hangat. Perasaan ingin melindungi. Perasaan takut... takut kalau Vivian pergi. Takut kalau semua perubahan ini cuma mimpi. Takut kalau besok bangun, Vivian balik lagi jadi menantu durhaka.

_Ya Allah... jaga dia. Jaga cucuku,_ batin Bu Ratna. Tangannya otomatis ngelus dada.

Sementara itu Vivian masuk ke dalam rumah duluan. Begitu pintu kebuka, langsung disambut Bi Ijah dan Yuni. Di belakang mereka, berbaris 5 pelayan lain. Seragam rapi. Nunduk hormat, 90 derajat.

"Selamat datang, Nyonya," sapa mereka serempak. Suaranya bergetar. Takut.

Vivian berhenti. Ngangguk pelan sambil tersenyum. "Terima kasih," jawabnya singkat. Suaranya lembut. Beda.

Lalu dia lewat. Melewati mereka tanpa teriakan, tanpa omelan "lantainya kotor!", tanpa lempar tas.

Semua pelayan tertegun. Saling lirik. Bingung.

_Apa ini masih Vivian?_ _Nyonya kita yang tiap pulang selalu mabuk, marah-marah, nendang kursi?_ _Yang pernah nyiram Bi Ijah pake air panas karena telat bangunin?_

Tapi kali ini berbeda. Vivian datang sambil menunduk. Langkahnya anggun. Gak ada aroma alkohol. Gak ada mata merah. Ada... wibawa. Kayak nyonya rumah beneran. Kayak orang lain yang minjem badan Vivian.

Gadis itu tak langsung mengarah ke kamarnya di lantai 2. Dia belok. Kakinya nuntun dia ke sayap timur. Ke kamar salah satu adiknya. Kamar Cika.

Dari awal dia sudah berjanji sama Silvi. Sama dirinya sendiri. _Akan merubah nasib seluruh keluarga. Satu-satu._

Yang pertama dan menurutnya paling mudah adalah merubah Cika.

Kenapa Cika? Karena Cika pendiam. Penurut. Tak banyak protes. Kebalikan dari kakaknya, Chindy, yang lebih mendominasi, lebih vokal, lebih susah ditembus. Cika itu kayak kaca. Keliatan bening dari luar, padahal retaknya di dalam.

Di novel, Cika terlihat tenang di luar padahal berantakan di dalam. Akademinya bagus. Ranking 3 paralel. Pinter Matematika. Tapi mentalnya tak karuan. Kosong. Rapuh.

Vivian tahu semuanya dari novel. Cika lebih sering memendam masalahnya daripada menceritakan masalah itu pada orang lain. Ke Mama? Mama sibuk ngurusin Chindy sama Eric. Ke Papa? Papa udah meninggal. Ke Chindy? Malah dihakimi. Ke Vivian? Dulu Vivian-nya jahat.

Ini yang menjadi cikal bakal bagaimana mudahnya dia diperdaya nanti. Dirayu senior kampus, dijanjikan nikah, dibawa ke apartemen, diperkosa, direkam, diancam, hamil, dipaksa nikah, lalu meninggal disiksa suaminya saat hamil tua. Ending Cika lebih tragis dari Vivian.

_Gak akan. Gak di timeline ini,_ batin Vivian. Tangannya ngepal.

Tanpa mengetuk, Vivian membuka kamar adiknya. "Klek."

Asap rokok langsung nyerbu keluar. Mengepul, tebal, mengisi seisi kamar sampai langit-langit. Bau nikotin campur parfum murahan. Jendela ditutup. Gorden dibiarin nutup. Pengap. Sumpek. Kayak kamar orang depresi.

Di pojok, di atas karpet, Cika nampak terduduk. Lutut ditekuk, dipeluk. Kaos oversized, rambut acak-acakan. Di jari lentiknya kejepit sebatang rokok yang udah setengah. Matanya... matanya kosong natap keluar jendela. Tapi jendelanya ketutup gorden. Dia gak liat apa-apa. Dia liat ke dalam dirinya sendiri.

"Cika, apa yang kamu lakukan?" tanya Vivian. Suaranya sedikit keras. Tegas. Gak marah, tapi gak bisa ditawar.

Spontan membuat Cika tersentak. Rokoknya hampir jatuh. Dia nengok. Kaget. "Ka... Kak Vivian?"

"Kamu anak perempuan, Cika. Cepat matikan rokoknya." Dengan cepat Vivian melangkah ke arah jendela. "Srek." Dibukanya lebar. Gorden disibak. Cahaya sore sama angin langsung masuk. Nyerbu sirkulasi udara kamar yang pengap jadi lebih segar. Debu-debu beterbangan kena sinar.

Cika nurut. Gugup. Dia matiin rokok di asbak yang udah penuh puntung. Ada 7 batang. Matanya nunduk. Gak berani natap Vivian. Tangannya gemeter.

"Cika, apa yang kamu pikirkan?" tanya Vivian lagi. Dia jalan nyamperin, terus jongkok di depan Cika. Sejajar. Biar gak ngintimidasi. "Mau rusak masa depan dengan ini? Mau rusak paru-paru kamu? Kamu masih 17 tahun, Dik. Sekolahmu gimana? Ujian minggu depan kan?"

Vivian mempertanyakan, tapi nadanya bukan ngehakimi. Nadanya... khawatir. Tulus.

Cika mulai mengangkat wajahnya. Pelan. Dan Vivian kaget.

Mata Cika berkaca. Merah. Basah. Penuh air yang ditahan, udah mau tumpah. Bibirnya gemeter. Kayak udah lama banget pengen nangis, tapi gak punya pundak buat sandaran.

"Hidupmu juga tak jauh berantakan dariku, Kak," ucap Cika. Suaranya pecah. Parau. Itu bukan jawaban. Itu tamparan. "Kakak mabuk. Kakak dimusuhin semua orang. Kakak dibilang mandul. Kakak... Kakak mau cerai. Terus aku harus contoh siapa?"

Vivian tersentak. Kayak ditonjok.

_Deg._

Benar. Ini semua salahnya. Salah Vivian yang asli. Andai Vivian asli lebih bersikap baik di rumah ini, andai dia jadi kakak ipar yang bener, Cika akan tumbuh tanpa diabaikan. Tanpa merasa sendirian. Tanpa harus nyari pelarian ke rokok. Tanpa harus dengerin "Eric mandul" "Vivian lonte" tiap hari di meja makan.

Cika itu korban. Korban keluarga yang berantakan. Dan Vivian adalah salah satu penyebabnya.

"Cika..." Suara Vivian melemah. "Justru karena hidupku berantakan... aku tak mau hidupmu sama sepertiku."

Vivian berlutut di depan adik iparnya. Lantai karpetnya kasar di lutut. Tapi dia gak peduli. Wajahnya penuh sesal. Tulus. Mata-nya ikut berkaca. Dia ngangkat tangan, ragu... terus maju. Memeluk tubuh rapuh Cika. Ditarik. Dimasukin ke pelukannya.

Pelukan hangat. Erat. Pelukan yang baru pertama kali Cika rasain seumur hidupnya. Dari siapa pun.

Badan Cika kaku dulu. Kaget. Terus... luluh. Bahunya turun. Tangannya awalnya diam, terus pelan-pelan naik, bales meluk pinggang Vivian. Erat banget. Kayak takut dilepas.

"Cika, kita akan rubah nasib kita sama-sama," batin Vivian sambil menekankan pelukannya. Dagu-nya ditaruh di puncak kepala Cika. Ngusap-ngusap rambutnya. "Kakak janji. Gak akan ada yang nyakitin kamu lagi. Gak akan ada senior brengsek. Gak akan ada pernikahan neraka. Kakak lindungin kamu."

Membiarkan air mata Cika tumpah tanpa harus ditahan lagi. Bahu Vivian basah. Baju-nya basah. Tapi dia diem. Dia cuma nguatin pelukannya.

Isakan Cika pecah. "Kak... aku capek... aku gak tau harus cerita ke siapa... Mama cuma dengerin Kak Chindy... Kak Eric dingin..."

"Iya, Kakak tau. Sekarang ada Kakak. Cerita ke Kakak. Mau nangis, nangis. Mau teriak, teriak. Mau ngerokok? Jangan. Ganti permen aja ya?"

Cika ketawa di tengah nangis. Kecil. Patah-patah. "Iya..."

Mereka diem lama di pojok kamar itu. Cahaya sore masuk, nge-frame dua perempuan yang lagi saling nyembuhin. Yang satu nyesel sama masa lalu. Yang satu ketakutan sama masa depan.

Di luar kamar, Bu Ratna berdiri. Pintu gak ditutup rapet. Dia denger semuanya. Dia liat semuanya dari celah pintu.

Tangannya nutup mulut. Air matanya netes.

_Ya Allah... ini Vivian yang mana? Bidadari dari mana?_

Bu Ratna mundur pelan. Gak mau ganggu. Di hati dia ada satu tekad baru.

_Apa pun yang terjadi, Vivian gak boleh pergi dari rumah ini. Dia bukan menantu. Dia... dia malaikat buat anak-anakku._

1
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
Uthie
masih gagal maniing...gagal maning... pusiiinggg dehhhh tuhhh /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
Hikmal Cici
nunggu bab selanjutnya
lexxa
aaaaaa suka bngettttt
Uthie
Jadi makin favorit ceritanya 👍😘😍😍
Uthie
Lanjjjjjuuuuttttt 😍😍💪💪💪
Uthie
harusnya tunduk😆
Uthie
100😆👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!