Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
BOOOOOOM.
Ledakan api merah-oranye menghantam halaman Akademi Starfell.
Mana panas langsung menyapu udara malam. Beberapa corruption yang baru saja menerjang gerbang depan hancur seketika menjadi abu hitam.
Seluruh halaman akademi membeku.
Freya yang berdiri di koridor asrama langsung membelalak. "...Hah?"
Bahkan Zevian ikut menyipitkan mata kecil.
Sedangkan Ares perlahan menurunkan pistolnya sambil bersiul pelan. "Wah."
Di tengah kobaran api itu… Seseorang berjalan perlahan keluar dari lautan mana merah.
Mantel hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin malam. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Dan di tangan kanannya… Api merah menyala liar membentuk lingkaran sihir.
Namun berbeda dari Crimson Flame milik Freya.
Api pria itu lebih terang. Lebih liar. Lebih kasar.
Dan wajahnya… Terlalu santai untuk situasi seseram ini.
"Wah..." pria itu menghela napas dramatis sambil melihat kehancuran halaman akademi. "Baru beberapa minggu gak ketemu, adikku udah jadi magnet kiamat."
Freya langsung membeku total.
"...Kak?"
Pria itu menoleh. Dan senyum jahil langsung muncul di wajah tampannya.
"Yo, Frey."
DEG.
Freya langsung hampir menangis haru. "KAK FELIX."
Tanpa pikir panjang Freya langsung lari turun dari koridor asrama.
"Freya..." Zevian refleks memanggil.
Namun Freya sudah menerobos turun sebelum siapa pun sempat menghentikannya.
BRAK.
Freya langsung menabrak Felix dalam pelukan penuh drama.
"KAKAK AKHIRNYA DATANG."
Felix tertawa kecil sambil menahan tubuh Freya yang nyaris menjatuhkannya. Hubungan kakak-adik mereka menjadi semakin dekat setelah Freya berubah lebih baik.
"Astaga. Aku baru datang lima detik dan langsung diserang."
"KAMU LAMA BANGET."
"Aku lagi di perbatasan."
"Aku HAMPIR MATI."
"Itulah kenapa aku di sini sekarang."
Kalimat itu diucapkan dengan ringan dan tanpa beban. Namun untuk sepersekian detik... senyum Felix sedikit retak saat melihat luka kecil di tangan Freya. Dan Freya yang terlalu sibuk mengeluh tidak menyadarinya.
Sedangkan dari kejauhan...Zevian memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapan biru gelapnya sedikit menyipit saat melihat Felix Orion Vane.
Karena aura pria itu terlihat sangat aneh. Di luar, Felix terlihat santai dan mudah tertawa. Namun mana di sekelilingnya sangat berbahaya.
Ares sampai menyeringai kecil sambil memasukkan Eclipse Howl ke bahunya.
"Wah." Tatapan emasnya penuh ketertarikan sekarang. "Keluarga Vane ternyata isinya monster semua."
Felix akhirnya mengangkat kepala lalu melirik ke arah mereka. Tatapannya langsung jatuh pada Zevian lebih dulu.
Hening. Dua aura besar langsung bertabrakan diam-diam di udara malam.
Dan anehnya...Felix tetap tersenyum santai.
"...Putra Mahkota." katanya ringan.
"Felix Orion Vane."
Freya langsung merasa atmosfernya berubah menyeramkan.
'Kenapa mereka saling lihat kayak mau duel perebutan hak asuh?'
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar.
"Karena insting laki-laki mereka buruk."
'ITU BUKAN PENJELASAN.'
Namun sebelum suasana makin aneh...
BOOOOOOM.
Ledakan lain mengguncang gerbang depan akademi. Jeritan terdengar dari kejauhan. Corruption terus berdatangan.
Ekspresi Felix langsung berubah. Dan untuk pertama kalinya sejak muncul senyumnya hilang. Tatapan merah gelapnya perlahan mengarah ke pusat halaman akademi.
"...Mereka benar-benar mencoba membukanya."
DEG.
Freya langsung menegang.
"Membuka apa?" tanya Zevian tajam.
Felix diam beberapa detik. Lalu... "Gerbang."
Hening.
Ares mengangkat alis kecil. "Jadi rumor itu benar."
Freya langsung menoleh cepat. "KAMU TAHU?"
"Aku tahu sedikit." jawab Ares santai. "Keluargaku pernah menyelidiki corruption beberapa tahun lalu."
Tatapan emasnya menyipit tipis. "Ada sesuatu yang terkunci di bawah kerajaan ini."
Suasana langsung terasa jauh lebih dingin. Dan Freya tiba-tiba teringat kilasan Lyra tadi.
"Jangan biarkan mereka membuka gerbang."
DEG.
Jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Felix menatap Freya sekarang. Dan untuk pertama kalinya ekspresinya benar-benar serius.
"...Kau mulai melihat ingatannya ya?"
Hening.
Freya langsung membeku. "...Apa?"
Namun Felix sudah menghela napas kecil sambil mengusap rambutnya ke belakang. "Sial. Aku harap masih lebih lama."
Freya langsung berjalan mendekat cepat. "Tunggu dulu. KAKAK TAHU SESUATU KAN?"
Felix tidak langsung menjawab. Dan itu lebih mengerikan.
"Kak."
Tatapan Freya mulai goyah sedikit sekarang. "...Apa sebenarnya Crimson Flame itu?"
Hening panjang memenuhi halaman akademi. Monster masih meraung dari kejauhan. Mana hitam masih memenuhi langit malam. Namun di tengah semua kekacauan itu, Felix hanya menatap adiknya dalam diam. Lalu akhirnya tersenyum kecil. Senyum yang terlalu tenang.
"...Sesuatu yang seharusnya tidak pernah bangkit lagi."
DEG.
Freya langsung merinding. Dan sebelum ia sempat bertanya lebih jauh...
SWOOOOOSH.
Mana hitam tiba-tiba meledak dari langit. Semua orang refleks mengangkat kepala. Lalu mereka melihatnya. Sebuah lingkaran sihir hitam raksasa mulai muncul di atas akademi. Dan di tengah lingkaran itu...sosok berjubah hitam tadi perlahan melayang naik ke udara.
Aura merah gelap memenuhi langit malam. Seluruh Starfell langsung bergetar.
Profesor Rowan yang baru muncul di halaman langsung membelalak. "...Tidak mungkin."
Lingkaran sihir itu perlahan berputar. Dan dari dalamnya terdengar suara. Bukan suara manusia. Melainkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Lebih tua dan lebih mengerikan.
Freya langsung merasa seluruh tubuhnya dingin. Karena entah kenapa jiwanya mengenali suara itu.
FLASH.
Api merah.
Jeritan.
Langit terbakar.
Dan Lyra menangis.
"Jangan biarkan gerbang terbuka."
Freya langsung memegangi kepalanya. "UGH..."
"Freya..." Felix langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh.
Dan saat itulah mata Freya berubah merah keemasan lagi.
BOOOOOOM.
Api Crimson Flame meledak liar dari tubuhnya. Seluruh halaman akademi langsung dipenuhi cahaya merah menyala. Para murid menjerit panik. Mana panas menyapu udara. Namun berbeda dari sebelumnya. Kali ini api itu terasa marah.
Sangat marah.
Crimson Valkyrie langsung bersinar terang. "Freya. Kendalikan dirimu."
"Aku..."
Namun suara lain tiba-tiba terdengar di kepala Freya.
Suara perempuan.Lembut. Sedih. Dan penuh keputusasaan.
"Kalau gerbang terbuka... semuanya akan terulang lagi."
FLASH.
Freya melihat Vernholt.
Kota terbakar.
Manusia berteriak.
Dan di tengah kobaran api merah...Lyra Vane berdiri sendirian sambil menangis.
Bukan menghancurkan.
Melainkan...menahan sesuatu.
DEG.
Freya langsung tersentak sadar. Megap-megap kecil. Dan untuk pertama kalinya dia menyadari sesuatu yang mengerikan.
"...Lyra bukan villain."
Hening.
Felix membeku. Zevian menatap Freya tajam. Sedangkan Profesor Rowan langsung terlihat pucat.
Freya mengangkat kepala perlahan. Tatapannya gemetar.
"...Dia mencoba menghentikannya."