(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 22 - RAUNGAN MONSTER
...Satu raungan. Satu perintah. Satu malam yang berubah jadi neraka....
...⚙⚙⚙...
Man-Slayer berdiri di depan gerbang desa seperti gunung hitam yang hidup. Angin malam menggerakkan duri-duri tulang di punggungnya. Matanya yang menyala merah menatap manusia di depannya. Lalu dadanya mengembang perlahan. Udara di sekitarnya terasa berat. Seolah seluruh hutan menunggu sesuatu. Dan kemudian...
RAAAAAGGGHHH...
Raungan Man-Slayer mengguncang langit malam. Burung-burung di hutan terbang panik. Daun-daun berjatuhan dari pohon. Bahkan tanah terasa bergetar di bawah kaki para penjaga.
Suara itu begitu dalam dan mengerikan hingga terasa seperti datang dari perut bumi. Atap rumah bergetar. Debu jatuh dari menara penjaga. Beberapa penjaga desa bahkan menutup telinga mereka. Namun efek terbesar dari raungan itu bukan pada manusia. Melainkan pada para monster.
Arven langsung sadar. “Itu bukan raungan biasa.”
Liora menegang. “Itu perintah.”
Night Claw Stalker yang sebelumnya ragu-ragu tiba-tiba menegakkan tubuh mereka. Mata mereka menyala lebih terang. Mulut mereka terbuka memperlihatkan taring yang dipenuhi air liur hitam. Stonefang Ravager menggeram keras. Kuku batu mereka menggores tanah. Bonebreaker Brute yang tersisa mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Seolah raungan itu adalah perintah berburu.
Seluruh kawanan menjawabnya. Dalam satu detik monster-monster itu berubah. Tidak lagi sekadar menyerang. Mereka mengamuk.
Man-Slayer tidak ikut menyerang. Ia hanya berdiri tegak di depan gerbang, mengawasi pembantaian yang dimulai oleh kawanan monster di bawah komandonya.
“SERANGAN LAGI!”
“BERTAHAN!”
“JAGA GARIS!”
Tubuh-tubuh besar Stonefang menghantam pagar kayu berulang kali. Kayu penyangga pecah berderak. Gerbang yang sudah rusak parah akhirnya jebol terbuka lebar.
“MONSTER MASUK!!”
“ANAK-ANAK MASUK RUMAH! CEPAT!”
“JANGAN TINGGALKAN SIAPA PUN!”
Seorang ibu menarik anaknya masuk ke dalam rumah, pintu ditutup dan dikunci sekuat tenaga. Seorang pria mencoba menahan pintu gudang dengan tubuhnya agar tidak terbuka. Tapi pintu itu hancur lebur diterjang kekuatan luar biasa dari luar. Tubuh pria itu terpental jauh ke dalam ruangan. Jeritan ketakutan pecah di mana-mana memenuhi udara malam.
Di tengah kekacauan yang semakin tak terkendali itu, Garrick tetap berdiri kokoh tak bergeming. Ia mengamati medan tanpa tergesa. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Seolah suara teriakan, runtuhnya rumah, dan jeritan penduduk hanya bagian dari sesuatu yang sudah ia perkirakan sejak awal.
“SEMUA DENGAR!” Suaranya menggelegar keras menembus kepanikan massal. Semua kepala secara refleks menoleh ke arahnya. Untuk sesaat, bahkan monster yang menerobos pun terasa ragu. “Jangan lari tanpa arah!” lanjutnya dengan nada tegas dan berwibawa. Ia mengangkat gagang palunya sedikit. “Bentuk barisan pertahanan! Lindungi bagian dalam desa!”
Ia menunjuk cepat dengan gagang palunya.
“Bram! Ambil alih sisi kanan gerbang!”
“Rogan! Tutup serangan dari atas, jangan biarkan mereka menumpuk di satu titik!”
“Liora! Tahan di kiri!”
“Yang tidak bisa bertarung, mundur ke pusat desa! SEKARANG!”
“YA!” teriak Bram, langsung bergerak cepat menempati posisi.
Rogan mengangkat busurnya kembali siap menembak, meski napasnya masih terdengar gemetar. “Sial, ini belum selesai.”
Di sisi kanan gerbang yang sudah setengah runtuh, Bram berlari sambil mengangkat dua tombak mekanisnya. Debu dan serpihan kayu masih berjatuhan dari pagar yang baru saja jebol.
“Formasi! Jangan biarkan mereka masuk lebih dalam!” teriaknya.
Dua Stonefang Ravager menerobos dari celah reruntuhan. Tubuh mereka besar seperti bongkahan batu hidup dengan urat-urat mineral yang bergetar. Di belakangnya, dua Nightclaw Stalker melesat rendah, mencakar tanah, bergerak zig-zag tak menentu.
“Dua Stonefang di depan!” teriak salah satu penjaga panik.
Bram tidak mundur. “Fokus ke kaki mereka!” katanya cepat. “Jangan lawan kekuatannya langsung!”
Ia menghentakkan kaki ke tanah, lalu menusukkan tombaknya tepat ke arah lutut Stonefang pertama. Logam bertabrakan dengan batu keras. Percikan api memercik, tapi ujung tombaknya berhasil membuat retakan tipis di sendi kaki monster itu. Stonefang itu meraung pendek, lalu menghantamkan lengannya ke depan sekuat tenaga.
BOOM...
Tanah di depan Bram pecah berantakan. Ia melompat ke samping tepat waktu, tapi dua penjaga di belakangnya tidak sempat menghindar. Tubuh mereka tersapu hantaman, terpental keras menabrak dinding kayu. Salah satunya tidak kunjung bangkit lagi.
“Jangan berhenti!” geram Bram, suaranya rendah dan tajam.
Seorang penjaga muda maju terlalu gegabah, mencoba menusuk Nightclaw. Namun monster itu jauh lebih cepat. Dalam satu gerakan putar, cakarnya menyayat dada penjaga itu dari samping.
SHHKT...
Darah menyembur tipis ke udara malam. Penjaga itu jatuh berlutut, senjatanya terlepas, lalu roboh ke tanah tanpa suara.
Bram hanya melirik sekilas, tapi tidak punya waktu untuk berhenti. “Tarik dia mundur nanti!” teriaknya. “Sekarang tahan garis!”
Dua Nightclaw lain menerobos masuk dari sisi kanan.
“Dua lagi masuk!” Bram menggertakkan gigi. “Bentuk V! Jangan biarkan mereka lewat!”
Para penjaga bergerak cepat mencoba membentuk sudut pertahanan, tapi formasi mereka belum sempurna. Salah satu Nightclaw melompat tinggi, menembus celah kosong di antara mereka.
“Di atas!!” teriak seseorang.
Bram menoleh cepat. Terlambat. Cakar monster itu sudah siap jatuh ke arah seorang penambang yang tak berdaya. Namun sebuah tombak melesat lebih dulu.
CRACK...
Bram memutar tubuhnya di udara, menghantamkan gagang tombak keras ke sisi tubuh Nightclaw yang melompat itu. Monster itu jatuh terbanting ke tanah.
“Jangan beri ruang!” serunya singkat.
Tapi Stonefang kedua sudah mengayunkan lengannya lagi. Dinding kayu di samping mereka hancur lebur. Beberapa penduduk yang bersembunyi di baliknya langsung berteriak dan berlarian ketakutan. Seorang pria tua terseret keluar dari persembunyiannya.
“Tidak! Tolong—”
Nightclaw menyambar tubuhnya sebelum ia sempat lari menjauh. Jeritan itu terputus di tengah jalan.
Bram hanya mengatupkan rahangnya semakin keras. “Fokus,” bisiknya pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.
Di sisi lain, di atas menara pengawas yang sudah miring dan retak parah, Rogan berdiri dengan lutut yang sedikit gemetar. Kayu di bawah kakinya mengeluarkan suara berderit nyaring setiap kali ia menggeser posisi.
“Menara ini nggak akan tahan lama,” gumamnya cemas.
Dari bawah, beberapa Nightclaw Stalker mulai memanjat. Cakar tajam mereka menancap kuat ke dinding kayu, meninggalkan bekas lubang dalam seperti dibor.
“Masih naik juga kalian,” Rogan mengangkat busurnya siap menembak.
Satu panah mekanis melesat cepat. Salah satu monster itu jatuh, tubuhnya menghantam tanah dengan keras.
“Dua lagi di kiri!” teriak seorang penjaga dari bawah menara.
Rogan segera memutar badan menghadap ancaman baru. “Kenapa bany—”
Belum selesai bicara, seekor Nightclaw sudah muncul tepat di pinggir platform. Ia melompat menyerang. Rogan menghindar dengan memutar badannya cepat. Cakar monster itu menyambar udara kosong lalu menghantam tiang penyangga di belakangnya. Tiang itu retak parah. Seluruh menara berguncang hebat seolah akan roboh.
“Jangan roboh sekarang,” geram Rogan menahan napas. Ia menendang keras dada monster itu, membuatnya kehilangan keseimbangan sejenak. Lalu tanpa menunggu, ia menarik tali busur kembali. Panah itu menancap tepat di leher Nightclaw. Monster itu terhuyung mundur, lalu jatuh terguling dari ketinggian menara.
Namun saat Rogan baru saja menarik napas lega, satu lagi sudah naik diam-diam dari sisi belakang. Cakarnya langsung menyambar bahu Rogan.
“Argh!!”
Rogan terseret kasar ke lantai kayu. Busurnya hampir terlepas dari genggaman. Monster itu menindih tubuhnya, mulutnya terbuka lebar siap menerkam.
Rogan menggertakkan gigi menahan sakit dan ketakutan. “Tidak hari ini.”
Dengan cepat ia mengeluarkan pisau lipat kecil dari pinggangnya, lalu menusukkannya sekuat tenaga tepat ke sisi mata monster itu.
SHRAK...
Nightclaw mengerang keras, lalu mundur terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke samping menabrak pagar pembatas.
Rogan bangkit berdiri dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan. “Menara ini sudah tidak aman lagi,” gumamnya putus asa.
Dari bawah, suara jeritan dan teriakan semakin ramai terdengar. Api kecil mulai menjalar dan membakar atap beberapa rumah penduduk.
Dan di kejauhan, tepat di depan gerbang utama yang kini terbuka lebar, Man-Slayer masih berdiri diam di tempatnya. Seolah semua kekacauan dan pertumpahan darah ini baru sekadar pemanasan baginya.
Di sisi kiri medan pertempuran, Arven dan Liora sudah kembali sibuk bertarung mati-matian. Titan Wrench menghantam keras kepala seekor Nightclaw hingga retak. Panah energi tembakan Liora menembus dada monster lain yang mencoba mendekat. Namun jumlah musuh yang datang seolah tidak ada habisnya dan tidak pernah berkurang.
“Jumlahnya makin banyak!” seru Liora sambil mengayunkan senjatanya.
Arven melirik sekilas ke arah gerbang utama. Man-Slayer masih berdiri diam di sana. Sama sekali tidak bergerak.
“Dia tidak perlu bergerak,” gumam Arven pelan.
Liora mengernyitkan dahi bingung.
“Cukup berdiri saja mereka jadi seganas ini,” lanjut Arven.
BOOM...
Sisi pagar lain runtuh terbawa hantaman. Monster-monster itu masuk semakin dalam menerobos desa.
“Arven, awas kiri!”
Pertarungan menjadi makin kacau dan tak teratur. Penduduk desa berlari kesana-kemari mencari selamat. Formasi penjaga terpisah-pisah. Api mulai menjalar dan membakar atap salah satu rumah penduduk.
“ARVEN—!”
Suara panggilan Liora terdengar jelas, lalu hilang seketika ditelan hiruk-pikuk suara pertempuran yang menderu.
Arven menoleh, tapi yang terdengar hanya pecahan kata yang tidak utuh. Liora terlihat sudah terdorong mundur beberapa meter, tubuhnya kini terkepung oleh banyak monster dari segala arah.
“…Li—!”
Sisanya hilang, seolah dunia menelan suara itu.
Ia mencoba menerobos maju untuk menolong tapi seekor Nightclaw melompat menghadang jalannya dengan cakar siap menyayat.
Arven mengayunkan Titan Wrench ke samping dengan refleks penuh tenaga.
Cakar Nightclaw terpental, tapi makhluk itu langsung berputar di udara, mendarat ringan dan kembali menerjang tanpa ragu.
“Sial,” gumam Arven, napasnya berat dan memburu.
Dari sisi lain, Nightclaw kedua sudah masuk lebih dalam. Gerakannya sangat cepat, langsung mengarah ke celah pertahanan Arven.
Ia sempat menoleh sekilas ke arah Liora. Itu satu detik jeda yang terlalu lama.
DUAK...
Arven dihantam keras dari samping. Tubuhnya terdorong hebat, kehilangan keseimbangan seketika. Belum sempat ia memulihkan posisi, Nightclaw pertama menyusul dengan hantaman bahu yang jauh lebih berat.
Arven jatuh terguling melewati reruntuhan, melewati sisa pagar yang sudah hancur total, lalu terseret masuk lebih dalam ke jalur sempit di antara barisan rumah-rumah desa. Ia mencoba menahan laju tubuhnya dengan menancapkan Titan Wrench ke tanah.
Logam menggores permukaan tanah keras, memperlambat geraknya sedikit tapi tidak cukup untuk menghentikannya sepenuhnya.
Sementara itu di luar gerbang, Liora sudah terdorong mundur beberapa meter menjauh. Tiga Stonefang Ravager menutup jalannya rapat-rapat, membentuk garis setengah lingkaran mengepung. Di belakang mereka, kawanan Nightclaw bergerak gelisah, menunggu celah untuk menerkam.
“Jangan biarkan dia lewat!” suara Liora terdengar tajam, namun napasnya mulai terputus-putus kehabisan tenaga.
TWANG...
Panah energi melesat cepat dari busurnya. Satu Stonefang tersentak ke samping, retakan cahaya biru muncul di bahunya, tapi dua lainnya tetap terus maju tanpa berhenti sedikit pun. Tanah bergetar hebat setiap kali kaki raksasa mereka menghentak.
Di sela suara gemuruh pertempuran, jeritan ketakutan penduduk pecah di berbagai arah. Api mulai menjilat atap rumah kayu di sisi desa, menerangi langit malam dengan cahaya oranye yang bergoyang-goyang tidak stabil. Salah satu atap rumah runtuh sebagian terbawa api. Penduduk berlarian panik tanpa arah, sebagian terjatuh, sebagian tersandung puing-puing yang berserakan.
Dan di tengah kekacauan yang memusingkan itu, Arven akhirnya terbentur keras ke dinding rumah kayu di bagian dalam desa.
BRAK...
Ia terhenti sesaat, napasnya tersengal berat, seluruh tubuhnya masih terasa bergetar hebat akibat benturan tadi.
Dari celah bangunan yang mulai terbakar di kejauhan, hanya satu hal yang masih bisa ia lihat dengan jelas, Liora. Masih tertahan di luar sana, terpisah jauh oleh garis monster yang terus menutup ruang gerak.
Dan di antara mereka berdua, medan perang sudah tidak lagi berbentuk garis pertahanan yang teratur. Semuanya sudah hancur berantakan dan pecah tak terkendali.
Untuk pertama kalinya malam ini, mereka benar-benar terpisah jauh. Dan tepat di depan gerbang, bayangan besar Man-Slayer itu akhirnya bergerak.
...
^^^*gambar buatan AI...^^^
THOOOM...
Satu langkah kaki raksasa. Tanah di bawahnya bergetar hebat, terasa hingga ke tulang.
Garrick mengangkat palunya perlahan ke posisi siap. Tatapan matanya tidak goyah sedikit pun. “Akhirnya dia bergerak.”
Di belakangnya, seorang penjaga berbisik dengan suara gemetar ketakutan, “kita tidak akan bertahan.”
Garrick tidak menoleh ke belakang. Suaranya terdengar datar namun penuh tekanan.
“Bertahan...” ia menggenggam gagang palunya semakin erat, “…atau mati di sini!”
Man-Slayer mengangkat kepalanya sedikit ke atas. Pandangan matanya yang merah menyala, terkunci tepat menatap ke arah desa yang mulai terbakar.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya