Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Sesuatu yang Tidak Cocok
Namun, Belvina tidak mundur. Tidak juga menepis tangannya. Ia hanya menatapnya.Tenang.
“Kesabaran?” ulangnya pelan.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kamu yakin itu yang kamu punya?”
Udara di antara mereka menegang.
Perlahan, Alden menurunkan tangannya. Bukan karena kalah. Tapi karena, ia memilih mundur.
Untuk sekarang.
Tatapannya tidak bergeser. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa ia pahami.
“Jangan terlalu percaya diri,” ucapnya akhirnya.
Nada suaranya kembali datar. Namun tidak sepenuhnya sama. Ada sesuatu yang tertinggal.
“Perubahan kecil tidak akan mengubah apa pun." Ia tersenyum. Senyum yang tak sampai ke mata. "Atau kamu kira aku mudah dibodohi?”
Belvina tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Lalu—
“Kalau begitu,” katanya tenang, “kenapa kamu masih di sini?”
Satu kalimat. Sederhana. Tapi cukup.
Alden terdiam. Sepersekian detik. Cukup lama untuk terasa.
Kemudian, ia berbalik. Langkahnya tetap tenang. Namun kali ini, tidak sepenuhnya tak terganggu.
Pintu terbuka. Lalu tertutup kembali.
Klik.
Di dalam kamar, Belvina masih berdiri di tempatnya.
Diam.
Beberapa detik berlalu. Baru kemudian, ia akhirnya mengembuskan napas.
“Gila…” gumamnya.
Bukan karena takut. Tapi karena, permainan ini… jauh lebih berbahaya dari yang ia kira.
-
Di kamar sebelah.
Malam itu Alden tidak langsung memejamkan mata.
Ia berbaring telentang, satu tangan di atas dahi, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Biasanya, begitu tubuhnya menyentuh kasur, pikirannya akan otomatis kosong. Lelah bekerja lebih dari cukup untuk membuatnya tidur tanpa gangguan.
Tapi tidak kali ini.
Bayangan itu terus muncul.
Tatapan Belvina. Datar. Tenang. Seolah-olah tidak lagi membutuhkan apa pun darinya.
Dulu, tatapan itu selalu penuh harap. Mudah ditebak.
Biasanya, ia yang mengakhiri sebelum dimulai. Kali ini, ia tidak ingin berhenti.
Rahangnya mengeras.
“Bukan aku.”
Kalimat itu terngiang lagi. Pendek. Ringan. Tapi mengusik.
Alden mengembuskan napas kasar, lalu memiringkan tubuhnya. Ia mencoba menutup mata. Beberapa detik berlalu, namun pikirannya justru semakin aktif.
Terlalu rapi.
Itu yang mengganggu. Ia terbiasa melihat celah. Kali ini, tidak ada yang bisa ia pegang.
Tidak ada kegugupan yang dibuat-buat. Tidak ada usaha menarik perhatian yang biasanya berlebihan.
Yang ada justru sebaliknya. Jarak. Penolakan.
Alden membuka matanya lagi. Tatapannya menggelap.
“Permainan baru?” gumamnya pelan.
Masuk akal.
Itu lebih mudah diterima daripada kenyataan lain yang bahkan tidak ingin ia pertimbangkan.
Namun, ingatannya kembali ke satu detail kecil. Napas yang tertahan. Bahunya yang sempat kaku. Reaksi spontan yang tidak sinkron dengan sikap dinginnya.
Alden mengernyit.
Itu bukan sesuatu yang bisa direncanakan dengan sempurna.
Ia bangkit duduk. Tangannya menyisir rambut yang masih sedikit lembap.
"Kalau itu akting… maka terlalu bagus. Kalau bukan…"
Pikirannya berhenti di situ. Tidak ia lanjutkan. Ia tidak suka kemungkinan yang tidak bisa ia kendalikan.
Matanya menyipit tipis. Menghitung ulang.
Wajah yang sama. Tapi cara dia menatap… berbeda. Bukan lagi seseorang yang meminta. Melainkan seseorang yang… memilih.
Alden berdiri, berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit disibakkan. Cahaya lampu luar masuk tipis, memantul di matanya yang kini jauh dari tenang.
Ia tidak menyukai ini.
Perubahan itu seharusnya tidak berpengaruh. Tapi nyatanya, ia masih memikirkannya.
Sudut bibirnya menegang.
“Berhenti mengejar… lalu membuatku yang memerhatikan?”
Ia tertawa pelan, tanpa humor.
“Licik." Ia terdiam sejenak. "Atau… kamu memang berubah?”
Namun kata itu tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti pengakuan.
Ia kembali ke tempat tidur, menarik selimut dengan satu gerakan kasar. Matanya terpejam lagi, tapi kali ini bukan untuk benar-benar tidur.
Pikirannya masih bekerja. Masih berputar di orang yang sama.
Dan tanpa ia sadari, yang berubah bukan hanya Belvina.
Tapi juga… fokusnya.
***
Pagi itu, meja sarapan sudah tertata rapi. Alden sudah duduk di sana. Tenang. Seolah tidak menunggu siapa pun.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Alden mengangkat pandangannya. Dan saat itulah, matanya sedikit menyipit.
Belvina.
Wanita itu berjalan masuk dengan langkah mantap. Tenang. Tanpa ragu. Namun ada yang berbeda. Sangat berbeda.
Biasanya, Belvina selalu tampil sempurna. Glamor. Mencolok. Seolah setiap detailnya dibuat untuk menarik perhatian.
Tapi hari ini, lebih sederhana. Justru lebih menarik.
Alden memerhatikannya tanpa sadar. Beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
"Dia bahkan hampir tidak terlihat seperti orang yang sama."
Belvina tidak membalas tatapan itu. Tidak tersenyum. Tidak juga menyapa. Ia berjalan melewati meja, lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Alden. Sama seperti semalam.
Jarak yang jelas. Pilihan yang disengaja.
Para pelayan saling bertukar pandang diam-diam. Ada yang berubah. Dan semua orang bisa merasakannya.
Belvina duduk dengan tenang. Seolah posisi itu adalah hal yang paling wajar di dunia.
Sementara di depannya, Alden masih menatapnya. Lebih fokus dari sebelumnya.
Belvina menatap makanan yang tersaji. Roti hangat. Telur. Buah segar. Minuman yang bahkan namanya tidak ia kenali sebagai Dina.
Ia menahan diri. Sangat menahan. Namun ketertarikan itu tetap muncul. Kecil. Cepat. Tapi nyata.
Ia mengambil roti. Mengoleskan sesuatu di atasnya dengan gerakan yang ia tiru dari ingatan Belvina. Namun tidak berlebihan seperti Belvina asli.
Gigitan pertama, dan lagi-lagi rasa itu. Rasanya terlalu enak. Ia hampir lupa diri.
“Tidak, tidak. Aku tidak mau merusak tubuh indah ini.”
Ia menahan ekspresi, berusaha tetap tenang. Matanya sempat berubah. Lalu tenang kembali.
Tapi tidak untuk Alden.
Pria itu duduk di depannya. Mengawasi. Detail kecil itu tertangkap jelas. Sama seperti semalam. Detail kecil itu kembali muncul.
Alden meletakkan cangkirnya pelan. Kini ia yakin. Ini bukan sekadar perubahan sikap. Ada sesuatu yang… tidak sinkron.
Dan itu menarik. Sangat menarik.
Ia berdiri. Langkahnya tenang saat mendekat ke sisi Belvina.
Para pelayan langsung menunduk sedikit. Suasana berubah. Lebih tegang.
“Besok malam,” ucapnya.
Belvina tidak menoleh.
“Apa?”
“Kamu ikut denganku.”
Tidak ada penjelasan tambahan. Nada itu sudah cukup jelas—bukan ajakan.
...✨“Beberapa perubahan tidak meminta perhatian, justru itu yang membuatnya diperhatikan.”...
...“Kecurigaan tidak muncul dari hal besar, tapi dari detail kecil yang berulang.”...
...“Yang tidak masuk akal selalu lebih mengganggu daripada yang salah secara jelas.”✨...
.
To be continued
pepet saja terus dan kasih Pelukan biar hangat di saat tidur🤣
Putramu kalah telak🤭