Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
##lanjuttt
Senja hari itu terasa lebih hangat dari biasanya.
Keputusan yang diambil Alya seolah mengubah banyak hal dalam dirinya. Langkahnya pulang dari kampus terasa lebih ringan, meskipun hatinya masih menyimpan sedikit kegugupan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Memilih Arka bukan hanya tentang perasaan.
Tapi juga tentang keberanian menghadapi segala konsekuensinya.
Malam itu, Alya duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tengah.
suasana tenang. Hanya suara televisi yang menyala pelan.
“Alya,” panggil ibunya lembut, “akhir-akhir ini kamu terlihat banyak berubah.”
Alya tersenyum kecil.
“Iya, Bu…”
Ibunya menatapnya penuh perhatian. “Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?”
Alya terdiam sejenak.
Ia tahu, ini saatnya.
“Aku… sudah membuat keputusan,” ucapnya pelan.
Ayahnya yang sejak tadi diam, kini ikut menoleh.
“Keputusan tentang Arka?” tanyanya langsung.
Alya mengangguk.
“Aku ingin menjalani hubungan ini dengan serius.”
Hening beberapa detik.
Namun bukan hening yang tegang.
Lebih kepada… memastikan.
Ayah Alya akhirnya menghela napas pelan.
“Kalau itu keputusanmu, kami tidak akan menghalangi,” katanya. “Tapi kamu harus ingat, ini bukan hubungan biasa.”
Alya mengangguk.
“Aku tahu, Yah.”
Ibunya tersenyum lembut. “Yang penting kamu bahagia. Tapi jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri, ya.”
Alya menggenggam tangan ibunya.
“Iya, Bu…”
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar didukung.
Keesokan harinya di kampus
Alya datang lebih awal. Ia duduk di taman, tempat yang kini terasa seperti bagian penting dari hidupnya.
tak lama, Arka datang. Namun kali ini, suasana berbeda, tidak ada lagi jarak dan tidak ada lagi keraguan yang menggantung.
“Alya,” sapanya.
Alya tersenyum. “Pak…”
Arka duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka hanya diam, menikmati suasana.
Lalu Arka berkata
“Aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan kemarin.”
Alya menoleh.
“Tentang semuanya harus jelas,” lanjutnya.
Alya mengangguk.
“Aku tidak ingin ada bayangan masa lalu yang mengganggu kita.”
Kalimat itu membuat Alya sedikit tegang.
“Lalu…?” tanyanya hati-hati.
Arka menarik napas dalam.
“Aku akan menemui Mira.”
Alya terdiam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Aku ingin menyelesaikan semuanya secara langsung,” lanjut Arka. “Tanpa ada yang tertinggal.”
Alya menatapnya.
Ada rasa takut namun juga… kepercayaan.
“Baik,” ucapnya pelan.
Arka menatapnya. “Kamu percaya padaku?”
Alya tersenyum kecil.
“Aku sedang belajar.”
Jawaban itu jujur.
Dan Arka menerimanya.
##
Di sisi lain kampus
Raka duduk sendirian di kantin dan tidak seperti biasanya.
Tidak ada tawa,tidak ada candaan.
Ia hanya menatap gelas minuman di depannya.
Beberapa teman sempat menyapanya, tapi ia hanya menjawab seperlunya. pikirannya masih tertinggal pada kemarin.
Pada Alya.
Namun kali ini ia tidak marah dan tidak juga menyalahkan.
Ia hanya…
belajar menerima.
“Harusnya aku sadar dari awal,” gumamnya pelan.
Meski begitu, bukan berarti perasaannya hilang begitu saja.
Butuh waktu dan tentunya ia tahu itu.
Sore hari....
Arka berdiri di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai tempat itu dipilihnya dengan sengaja.
Tenang,tidak banyak orang dan cukup jauh dari kampus.
Beberapa menit kemudian, seseorang datang.
Mira.
Ia duduk di depan Arka tanpa banyak basa-basi.
“Sudah lama ya,” katanya santai.
Arka tidak tersenyum.
“Kita tidak perlu berlama-lama,” jawabnya.
Mira mengangkat alis. “Langsung ke inti? Seperti biasa.”
Arka menatapnya serius.
“Aku ingin semuanya jelas.”
Mira tersenyum tipis. “Tentang dia?”
Arka tidak menjawab, tapi tatapannya cukup menjelaskan.
Mira menghela napas.
“Kamu benar-benar berubah, Arka.”
“Bukan berubah,” jawab Arka. “Aku hanya memilih untuk tidak kembali.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Lebih dingin.
“Jadi… semua yang dulu?” tanya Mira.
“Selesai,” jawab Arka tegas.
Mira terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum… tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau itu pilihanmu.”
Namun di balik ketenangannya ada sesuatu yang tidak sepenuhnya selesai.
Malam hari
Alya menatap ponselnya. Ia menunggu kabar dari Arka.
hatinya gelisah, bukan karena tidak percaya.
Tapi karena ia tahu pertemuan itu penting.
dan mungkin akan menentukan banyak hal.
Tak lama, ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
Dari Arka.
“Alya, semuanya sudah selesai.”
Alya membaca pesan itu berulang kali.
Dadanya terasa lebih ringan namun entah kenapa…
Ada perasaan kecil yang belum hilang.
Seperti firasat bahwa ini…
Belum benar-benar berakhir.
maaf lancang🙏🙏🙏