Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Benci penyihir
" Martin makasih aku, benar-benar kenyang sekali " Kata Laura sembari menaruh sepasang sumpit yang habis ia gunakan, di atas meja Martin hanya menganggukkan kepalanya pelan tatapan nya fokus ke komputer seolah benda tersebut adalah hidupnya.
" Tidurlah, di sana ada kamar kamu bisa pakai kalau mau menganti pakaian ambil di lemari ada baju lama kau! " Kata Martin terdengar acuh. Laura bangkit dari duduknya lalu menganggukkan kepalanya
" Aku tidur dulu ya!, bye! " Martin sejenak menoleh menatap punggung gadis tersebut yang lambat laun, menghilang di balik pintu kamarnya yang ada di ruangan tersebut
Entah kenapa jantung nya berdetak kencang, seperti ada sesuatu yang menelusup masuk ke dalam dadanya. Ia menggeleng kan kepalanya entah kenapa otaknya fokus kepada sosok gadis tersebut,
Sementara itu di dalam kamar Laura terhanyak dengan perkataan Martin tadi,
“𝘣𝘢𝘫𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘶” perkataan itu terulang di otaknya, ia menggeleng kan kepala matanya menatap lekat baju dres berwarna coklat muda tersebut
" Mungkin ini baju Laura zaman dulu, " Kata Laura dengan suara sendu, ia bergegas menganti pakaian nya selepas itu ia memanjangkan badannya di ranjang ia menatap langit-langit kamar tersebut.
" Walaupun di buku, bilang kalau seorang penyihir bereinkarnasi berarti kehidupan orang yang sebelumnya adalah milik kita namun kenapa aku merasa sesuatu yang berbeda? " Gumam Laura
Ia menatap tangannya lekat, " Ini kehidupan orang lain, dan aku harus menjalani nya memperbaiki kehidupan dirinya sedangkan aku tidak tahu bagaiamana perangan 'Laura ' itu! " Lanjutnya ia menghela napas frustasi
Ia beringsut dari rebahannya, ia duduk bersila di atas ranjang lalu menoleh ke kaca yang tertempel di dinding pantulan wajahnya terlihat jelas di kaca tersebut.
" Bagaiamana kalau semua nya tahu, aku bukan Laura yang asli?.. Aku adalah Evelyn seorang dari dunia penyihir? " Tanya Laura pada dirinya sendiri
Ia menghela napas kasar,
" Siapa aku?, kenapa aku harus dengan bodohnya memilih untuk.. Menjadi manusia? " Tetiba Laura teringat perkataan Anto. Membuatnya melupakan masalahnya untuk saat ini mungkin ia harus cari tahu dulu masalah Martin,
" Aku harus cari tahu, siapa penyihir yang pernah mengutuk Martin " Gumam Laura penuh tekad
Krekk!
Bunyi pintu yang memekak kan telinga, membuat Laura menoleh sosok lelaki yang duduk di kursi roda masuk ke dalam kamar tersebut.
" Tidak tidur? " Tanya Martin tatapan matanya sedikit lembut, ia memacu kursi rodanya hingga dekat dengan ranjang ia di bantu Laura duduk di ranjang tersebut
" Ngga, aku ngga bisa tidur jadinya baca komik " Sahut Laura membuat Martin mengerutkan dahinya,
" Genre apa? "
" Tentang penyihir gitu, cerit-
" Berhenti baca tentang penyihir!, karena penyihir itu sosok yang tidak boleh kita kenal. Kalau kamu obses menjadi penyihir hanya akan membuat hidup mu menderita! " Potong Martin dengan suara dingin,
Sreett!
Hati Laura bagaikan tercabik-cabik, andai Martin tahu kalau dirinya adalah sosok penyihir yang bereinkarnasi menjadi sosok manusia. Apa yang akan di katakan Martin mungkin akan lebih menyakitkan daripada ini,
Laura bisa melihat kemarahan terpancar jelas di wajah tampan tersebut, dengan rasa ragu dan juga takut Laura memberanikan diri bertanya. " Kenapa kamu bisa berkata kaya gitu?, sebenci itukah kamu dengan Penyihir? "
Martin mengertatkan rahangnya, ia memukul pahanya dengan kepalan tangannya
" Benci sangat, aku benci penyihir! "
" Apa salahnya? " Martin menegok, tangannya langsung bergerak liar mencekik leher Laura membuat tubuh tersebut ngos-ngosan ia berusaha lepas dari cengkraman tangan Martin
" Karena dia hidup ku hancur!, " Matanya berkilat marah , Laura menitikan air matanya mungkin ini adalah simulasi Martin mengenal dirinya sebagai penyihir.
" Lepas!! " Ucap Laura tergagap-gagap, Martin melepaskan Cengkraman leher tersebut Laura kini tahu sebenci apa Martin dengan Penyihir ia menjatuhkan dirinya di ranjang.
Membiarkan sosok tersebut yang marah, karena dirinya menyebut satu nama yang tabu dalam hidupnya yaitu penyihir.