Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Petang itu langit bergemuruh. Kilat menyambar-nyambar nyalang. Namun, hujan tak kunjung datang. Arumi hanya duduk mendampingi Kayla, puteri kecilnya, yang sedang asyik menggambar di buku gambarnya.
Arumi bersyukur, di tengah kehidupan rumah tangganya bersama Ardi yang semakin dingin dan hambar, ada Kayla yang selalu bisa mencerahkan hari-hari Arumi. Kayla bukan anak manja dan cengeng. Dia selalu ingin tahu dan ceria. Kayla juga anak yang pemberani. Terbukti saat ini, ketika guntur tak henti-hentinya menggelegar, Kayla tetal sibuk menggambar seolah cuaca di luar sana bukan bagian dari dunianya.
"Mama, coba liat!" kata Kayla gembira sambil menunjukkan hasil gambarnya pada Arumi.
"Hm? Gambar apa ini?" tanya Arumi sambil menerima buku gambar yang disodorkan Kayla padanya.
"Gambar mama dan aku. Kita main di taman," kata Kayla ceria.
"Berdua aja? Papa nggak diajak?" tanya Arumi sambil mencermati coretan ala anak umur lima tahun karya Kayla.
"Nggak. Papa kan kerja terus. Nggak seru," kata Kayla dengan nada yang sedikit kesal. Arumi menatap Kayla sesaat sambil menghela nafas panjang lalu kembali menatap coretan Kayla.
Akhir-akhir ini, Kayla hanya menggambar tentang dirinya dan Arumi saja. Bahkan Arumi lupa kapan terakhir kali Kayla menggambar papanya. Arumi mulai menyadari bahwa mungkin bukan hanya dirinya yang merasa kehadiran Ardi di rumah hanya sekedar pelengkap susunan keluarga utuh. Tapi, mungkin, puteri kecil mereka, Kayla, juga merasakan hal yang sama.
Entah sejak kapan, kehidupan rumah tangga Arumi terasa dingin dan hambar. Dahulu, Arumi selalu merasa dicintai dengan segala yang Ardi lakukan. Namun, entah sejak kapan, perhatian-perhatian kecil Arumi dibalas dengan sikap dingin dan cuek dari Ardi.
'Apa aku melakukan kesalahan?' pertanyaan itu selalu terlintas di benak Arumi.
Arumi bahkan berusaha mengingat kejadian apa yang membuat segalanya berubah. Tapi, Arumi tak mengingat apapun.
Segala cara Arumi lakukan untuk kembali mendapat rasa yang sama seperti dulu, untuk mendapat debaran yang sama seperti dulu. Namun, rasanya usahanya sia-sia. Ardi paling hanya melontarkan pujian singkat seperti "Cantik," atau "Bagus," dan lalu kembali sibuk dengan dirinya sendiri dan pekerjaannya.
'Mungkin... tekanan pekerjaannya bertambah?' pikir Arumi.
Bahkan saat libur akhir pekan pun, Ardi menggunakan setengah hari liburnya untuk tidur dan berseluncur ke media sosial, baru sorenya dia akan mengajak Kayla pergi ke taman, yang terkadang ditolak begitu saja oleh Kayla.
Kayla menatap mamanya yang termenung melihat hasil gambarnya. Kayla kecil merasa mamanya terlihat murung akhir-akhir ini. Itulah sebabnya, Kayla berusaha selalu bersikap ceria. Kayla ingin mamanya selalu bisa tersenyum saat bersamanya.
"Assalamu'alaikum," suara Ardi membuyarkan lamunan Arumi.
"Wa'alaikumsalam. Kehujanan nggak, Pa?" tanya Arumi sambil menyalami Ardi.
"Nggak. Nggak hujan. Padahal mendungnya gelap banget," kata Ardi sambil berlalu duduk di sofa ruang keluarga.
Arumi berjalan ke dapur, mengambilkan segelas air putih untuk Ardi. Kayla kembali sibuk menggambar. Ardi menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata, seolah meletakkan seluruh beban pekerjaannya seharian ini disana.
"Ini, Pa," kata Arumi sambil menyodorkan segelas air putih pada Ardi. Ardi membuka matanya lalu menerima segelas air putih dari Arumi.
"Makasih," kata Ardi lalu meminum tiga teguk air putih.
"Mau mandi sekarang? Pake air anget?" tanya Arumi lembut. Ardi menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah. Pake air biasa aja," kata Ardi sambil membuka kancing lengan kemejanya.
"Aku mandi dulu," kata Ardi sambil berlalu begitu saja.
Arumi menatap punggung Ardi. Dulu, selalu ada kecupan mendarat di dahi Arumi sepulang Ardi kerja. Sekarang? Bahkan menyapa Kayla saja tidak.
Kayla berhenti menggambar, mengamati mamanya yang terlihat murung lagi. Kayla tak tahu mengapa. Yang Kayla tahu, hal itu berhubungan dengan papanya. Kayla memiringkan kepalanya, bingung. Papa dan mama tampak baik-baik saja, tak ada pertengkaran atau perdebatan. Tapi, Kayla merasa mamanya sedih tentang sesuatu yang berhubungan dengan papanya.
Arumi beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar untuk menyiapkan baju ganti Ardi. Kayla menatap mamanya, lalu kembali sibuk menggambar.
Ardi mengguyur seluruh tubuhnya bagai sedang meluruhkan rasa lelahnya hari itu. Hari ini, lagi, dia menghindari Arumi. Dia terlalu lelah untuk sekedar memberi Arumi sebuah perhatian kecil.
Entah sejak kapan, dirinya tak begitu bergairah saat melihat Arumi. Tumpukan pekerjaan di kantornya membuat dia kehabisan tenaga dan lebih memilih tidur pulas sepulang bekerja daripada bercinta dengan Arumi seperti saat awal pernikahan mereka.
Ardi menengadah, membiarkan air dari shower membasahi wajahnya. Terkadang, Ardi begitu ingin menyentuh Arumi seperti saat dulu. Namun, entah mengapa, saat melihat Arumi, seleranya untuk bercinta seketika menguap.
Arumi sempat begitu tak terawat setelah melahirkan Kayla. Namun, kini, Ardi melihat Arumi tengah berusaha kembali mempercantik dirinya, berusaha membuat dirinya kembali terlihat menarik. Cantik. Ardi mengakui itu. Tapi, getaran itu tak juga muncul.
Ardi mengusap wajahnya yang basah seolah menghapus rasa bersalahnya pada Arumi. Mungkin malam ini, Ardi akan berusaha memercikkan getaran itu.
Langit diluar masih bergemuruh. Kayla sudah mengucek mata kirinya. Namun, tangan kanannya masih sibuk menggambar. Arumi yang sedari tadi memperhatikan puterinya, tersenyum tipis.
"Kayla udah ngantuk? Bobok yuk? Kita gosok gigi dulu," ajak Arumi. Kayla mengangguk pelan lalu meletakkan krayon kuning begitu saja.
"Mama, gendong?" pinta Kayla. Arumi tersenyum, lalu melingkarkan tangannya ke tubuh Kayla yang berdiri di depannya.
"Udah ngantuk banget ya? Sampe nggak kuat jalan," tanya Arumi sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ardi keluar dari kamar mandi saat Arumi akan membuka pintu kamar mandi. Ardi mengelus kepala Kayla yang terkulai di bahu Arumi.
"Udah mau tidur?" tanya Ardi pada Arumi. Arumi mengangguk.
"Hari ini nggak tidur siang dia. Kecapekan pasti jam segini udah ngantuk," kata Arumi. Ardi tersenyum lalu melongok untuk melihat wajah Kayla yang terlihat sudah tak sanggup membuka matanya.
"Ya udah, buruan gosok gigi. Kayla udah ngantuk banget," kata Ardi lalu berlalu menuju kamar tidur.
Arumi segera menggosok gigi Kayla dan mencuci tangannya yang penuh bekas krayon. Kayla segera tertidur begitu Arumi membaringkan tubuh mungilnya di atas tempat tidur kamarnya.
Arumi perlahan berjalan keluar dari kamar Kayla, lalu masuk ke kamarnya. Disana, Ardi terlihat duduk di atas tempat tidur, meluruskan kaki sambil memainkan ponselnya. Arumi duduk di sisi kasur yang lain.
"Kamu nggak makan, Mas?" tanya Arumi. Ardi hanya menggeleng.
Arumi kemudian membaringkan tubuhnya, memiringkan posisinya membelakangi Ardi. Ardi menoleh ke arah Arumi, menatap punggung Arumi yang seolah menatapnya balik dengan dingin. Ardi berjalan menuju saklar lampu lalu mematikannya, menyisakan cahaya lampu tidur di atas nakas samping tempat tidurnya.
'Mungkin tidak hari ini. Kita sama-sama capek,'
***