NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Panggilan yang Tidak Bisa Ditolak

Malam itu terasa berbeda.

Aku duduk di tepi ranjang, menatap daftar “10 cara melihat hantu” yang kini sudah lusuh dan penuh coretan.

Dari sepuluh cara, aku sudah mencoba enam.

Dan hasilnya… bukan hanya sekadar melihat.

Aku merasakan.

Mendengar.

Dan sekarang… sesuatu mulai memanggilku.

Suara itu muncul lagi.

“Datanglah…”

Aku menoleh cepat ke arah jendela.

Tirai bergoyang pelan, padahal tidak ada angin. Jantungku berdetak lebih cepat.

Tanganku gemetar, tapi ada dorongan aneh dari dalam diriku—rasa penasaran yang lebih kuat dari rasa takut.

Cara keenam dalam daftar itu berbunyi: “Dengarkan panggilan".

Jangan abaikan. Mereka tidak akan berhenti.”

Aku menggigit bibir.

“Siapa kamu?” tanyaku pelan.

Hening.

Lalu suara itu kembali, kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

“Di belakangmu…”

Aku membeku.

Perlahan, sangat perlahan, aku menoleh.

Dan di sana…

Sosok itu berdiri.

Wajahnya pucat, matanya kosong, tapi tidak menyeramkan seperti yang kubayangkan.

Justru ada sesuatu yang menyedihkan dalam tatapannya. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.

“Kamu… bisa melihatku sekarang,” katanya.

Aku tidak bisa menjawab.

Tenggorokanku kering.

“Aku tidak akan menyakitimu,” lanjutnya. “Aku hanya… ingin didengar.”

Tanganku mengepal erat.

Semua yang terjadi sudah di luar kendaliku. Ini bukan lagi permainan. Ini bukan sekadar rasa penasaran.

Ini nyata.

“Apa yang kamu mau?” akhirnya aku berhasil bertanya.

Sosok itu mendekat satu langkah. Suhu ruangan langsung turun drastis.

“Ada sesuatu yang belum selesai…” bisiknya.

Aku menatapnya, mencoba tetap tegar meski seluruh tubuhku ingin lari.

Dan saat itu juga aku sadar—

Mencoba melihat hantu bukanlah akhir dari semuanya.

Itu baru awal.

Karena setelah mereka melihatmu…

Mereka tidak akan pernah benar-benar pergi.

Aku menatap daftar itu sekali lagi.

Dan mataku jatuh pada cara ketujuh.

Perasaanku tiba-tiba tidak enak.

Karena jika cara keenam saja sudah seperti ini…

Aku tidak yakin siap untuk yang berikutnya.

Aku hampir tidak tidur semalaman.

Sosok itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya… menghilang dari pandangan.

Tapi perasaannya masih tertinggal.

Dingin.

Sepi.

Menggantung di sudut kamar seperti kabut yang tidak terlihat.

Pagi hari seharusnya membawa rasa aman.

Tapi tidak lagi bagiku.

Aku berdiri di depan cermin, menatap wajahku sendiri. Mata sembab, kulit pucat, dan ada sesuatu yang berbeda.

Seolah-olah… aku bukan satu-satunya yang sedang melihat ke arah sini.

Daftar itu masih tergeletak di meja.

Cara ketujuh.

Tanganku ragu saat mengambilnya.

Tulisan itu terasa lebih gelap dibanding sebelumnya, seperti tinta yang meresap lebih dalam ke kertas.

“Gunakan cermin sebagai perantara.

Tatap dirimu, tapi jangan percaya apa yang kamu lihat.”

Aku menelan ludah.

“Jangan percaya…” gumamku pelan.

Aku kembali menatap cermin.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Pantulanku mengikuti setiap gerakan. Aku mengangkat tangan, dan bayangan itu ikut bergerak.

Aku memiringkan kepala, dan ia melakukan hal yang sama.

Normal.

Terlalu normal.

Lalu… aku berhenti bergerak.

Dan di situlah semuanya berubah.

Pantulanku… tidak berhenti.

Ia masih bergerak.

Perlahan, kepala di dalam cermin miring lebih jauh dari yang seharusnya.

Sudutnya tidak wajar. Senyumnya muncul—tipis, lalu melebar.

Padahal aku tidak tersenyum.

“Nah…” suara itu muncul, tapi bukan dari belakangku.

Dari dalam cermin.

“Akhirnya kamu sampai di sini.”

Aku mundur selangkah, napasku memburu.

“Itu bukan aku…” bisikku.

Pantulan itu tertawa pelan.

Suaranya seperti suara yang sama dari malam tadi—dingin dan bergaung.

“Tentu saja bukan,” katanya. “Tapi aku bisa menjadi apa pun yang kamu lihat.”

Tanganku gemetar hebat.

Aku ingin memalingkan wajah, tapi tubuhku seperti terkunci. Mataku tidak bisa lepas dari cermin itu.

Lalu tiba-tiba—

Pantulan itu mengangkat tangannya lebih cepat dari gerakanku.

Dan… mengetuk dari dalam.

Tok. Tok. Tok.

Suara itu jelas terdengar, seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.

“Buka,” katanya pelan.

Aku menggeleng cepat. “Tidak…”

“Buka,” ulangnya, kali ini lebih tegas.

Retakan kecil mulai muncul di permukaan cermin. Garis halus yang menyebar seperti jaring laba-laba.

Setiap ketukan membuat retakan itu semakin besar.

Tok!

Tok!

Tok!

“Aku sudah lama terjebak di sini…” bisiknya. “Dan kamu… sudah membuka jalannya.”

Air mataku mulai jatuh tanpa sadar.

“Berhenti…” kataku lirih.

Tapi ketukan itu tidak berhenti.

Retakan itu kini membelah wajah pantulanku. Namun anehnya, ia masih tersenyum.

Lebih lebar.

Lebih menyeramkan.

“Kalau kamu tidak membuka…” suaranya berubah serak, “…aku akan keluar sendiri.”

BRAKK!

Cermin itu pecah.

Aku berteriak dan terjatuh ke lantai. Pecahan kaca berserakan, tapi tidak ada satu pun yang melukaiku.

Aku terengah-engah, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Perlahan… aku mengangkat kepala.

Dan jantungku seakan berhenti.

Karena di antara pecahan kaca itu…

Aku masih bisa melihat pantulanku.

Utuh.

Tersenyum.

Padahal… aku tidak lagi berdiri di depan cermin.

Dan dari balik pecahan itu, suara itu berbisik untuk terakhir kalinya hari itu—

“Sekarang… aku bisa melihatmu lebih jelas.”

Tanganku gemetar saat meraih daftar itu lagi.

Cara ketujuh sudah terjadi.

Dan tanpa perlu membaca lebih jauh…

Aku tahu satu hal.

Aku tidak sendirian lagi.

Bukan hanya di dunia ini.

L

Tapi juga… di dalam diriku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!