Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Tatapan Sang Penguasa
Episode 23
Langkah kakiku terasa sangat berat saat aku berdiri tepat di depan dua pintu kayu hitam raksasa yang merupakan pintu masuk menuju ruang belajar pribadi Lord Valos. Di kedua sisi pintu tersebut dua ekor serigala neraka berkepala tiga terus mengendus udara dengan lubang hidung mereka yang lebar. Aku bisa mencium bau hawa panas yang keluar dari napas mereka perpaduan antara bau daging terbakar serta aroma belerang yang sangat pekat. Mata merah mereka yang berjumlah enam buah menatapku dengan sangat tajam seolah olah mereka bisa melihat menembus jubah pelayan serta jubah isolasi yang sedang ku kenakan.
Tetap tenang Goma. Ingat saat kau menghadapi beruang gunung di hutan Alaska. Jangan tunjukkan getaran pada ototmu sedikit pun. Mahluk mahluk ini memangsa rasa takut.
Aku mengeratkan pegangan jari jari tanganku pada tepian nampan perak yang kubawa. Cairan biru di dalam tiga botol kristal bergoyang sangat pelan mengikuti setiap denyut energinya yang lembut. Aku merasakan bagaimana otot otot di pergelangan tanganku bekerja dengan sangat halus untuk meredam getaran agar botol botol itu tidak menimbulkan suara denting yang bisa memicu kecurigaan. Jantung esensi ku berdetak sangat lambat hampir tidak terasa seirama dengan instruksi sistem yang kuterima sebelumnya.
[ SISTEM: ANALISIS JARAK DEKAT DENGAN MAHLUK PENJAGA ]
[ SISTEM: JENIS: HELL HOUNDS TINGKAT TINGGI ]
[ SISTEM: TINGKAT KEWASPADAAN: 85 % ]
[ SISTEM: SARAN: TURUNKAN PANDANGAN MATA DAN JAGA TEKANAN JIWA PADA LEVEL TERENDAH ]
Salah satu serigala neraka itu mendekatkan salah satu kepalanya ke arah leherku. Aku bisa merasakan lidahnya yang kasar dan panas hampir menyentuh kulit abu abuku yang tertutup jubah. Ia mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat bulu kudukku merinding namun aku tetap berdiri diam mematung layaknya sebuah patung batu yang tidak memiliki nyawa. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian mahluk itu menarik kembali kepalanya kemudian mengeluarkan suara dengusan tanda bahwa ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Krak...
Mekanisme kunci pintu di depan pintu berbunyi sangat nyaring. Pintu raksasa itu perlahan lahan terbuka secara otomatis mengeluarkan embusan angin dingin yang membawa aroma kertas tua serta tinta esensi yang sangat menyengat. Aku melangkah masuk dengan kepala yang tetap menunduk menatap permukaan karpet hitam yang sangat mewah. Begitu aku melewati ambang pintu pintu di belakangku tertutup kembali dengan suara dentuman yang sangat berat.
Suasana di dalam ruangan ini sangat sunyi sekaligus sangat menekan. Langit langit ruangan ini sangat tinggi dipenuhi oleh rak rak buku tulang yang menjulang hingga ke kegelapan di atas sana. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kerja raksasa yang terbuat dari potongan tulang paha naga purba yang telah dilapisi oleh kristal esensi yang berkilau. Di balik meja itu sesosok mahluk dengan jubah sutra hitam yang sangat mewah sedang duduk membelakangi ku.
"Letakkan esensi itu di atas meja samping dan jangan membuat suara sedikit pun," ucap mahluk tersebut dengan suara yang sangat dingin namun memiliki otoritas yang luar biasa besar.
Itulah Lord Valos. Aku bisa merasakan aura energi yang terpancar dari tubuhnya sangatlah pekat seolah olah udara di sekitar mahluk itu menjadi lebih padat. Dengan penglihatan Eyes of the Abyss aku bisa melihat aliran esensi ungu yang sangat kuat menyelimuti seluruh jubahnya. Mahluk ini berada pada tingkat kekuatan yang jauh melampaui Iron Crusher atau pembunuh bayaran yang ku lawan tadi.
"Baik Tuan," jawabku dengan suara yang sengaja ku buat serak serta sangat pelan agar tidak menonjolkan nada suaraku yang asli.
Aku berjalan menuju meja samping yang terletak di dekat sebuah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Kota Oksidian dari ketinggian. Saat aku melangkah mataku mulai bekerja dengan sangat cepat memindai seluruh isi ruangan. Aku mencari tumpukan buku atau peta yang memiliki segel energi yang sama dengan yang kulihat di perpustakaan kota kemarin.
[ SISTEM: MEMULAI PEMINDAIAN RUANGAN TINGKAT DETAIL ]
[ SISTEM: MENDETEKSI OBJEK BERPOTENSI: GULUNGAN DIMENSI PADA RAK NOMOR TIGA ]
[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI ADANYA MAHLUK LAIN DI POJOK RUANGAN ]
Aku melirik ke arah pojok kiri ruangan melalui sudut mataku. Di sana di atas sebuah tumpukan bantal sutra raksasa seekor mahluk berbentuk kucing namun berukuran sebesar singa sedang berbaring. Mahluk itu memiliki bulu yang menyerupai api hitam yang terus bergerak serta memiliki ekor yang ujungnya berupa sengat kalajengking. Itulah peliharaan Lord Valos yang dibicarakan oleh pengawas pelayan tadi. Mahluk itu tidak tidur ia sedang menatapku dengan ketiga matanya yang berwarna hijau neon.
Mahluk itu jauh lebih berbahaya daripada anjing di depan pintu tadi. Ia sedang memindai setiap inci keberadaan ku.
Aku meletakkan nampan perak di atas meja samping dengan gerakan yang sangat hati hati. Tuk. Suaranya hampir tidak terdengar namun Lord Valos tiba tiba memutar kursinya secara perlahan lahan. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah mahluk yang telah mengirim pembunuh untuk mengambil kepalaku itu.
Wajah Lord Valos sangat manusiawi namun kulitnya berwarna merah marun yang sangat pucat. Ia memiliki tanduk kecil yang mencuat dari pelipisnya serta mata yang tidak memiliki bagian putih sama sekali hanya dua lubang hitam yang dipenuhi oleh galaksi energi ungu. Ia menatapku selama beberapa detik yang sangat menyiksa bagi mentalitas mahluk kasta rendah sepertiku.
"Kau pelayan baru ya. Di mana pelayan yang biasanya mengantar esensi ini," tanya Lord Valos sambil mengambil salah satu botol kristal yang kubawa.
"Dia jatuh sakit Tuan. Saya diminta untuk menggantikannya hari ini," jawabku sambil tetap menundukkan kepala sedalam mungkin.
Lord Valos membuka tutup botol tersebut kemudian menghirup aromanya dengan mata terpejam. "Sakit ya. Di istana ini sakit berarti tidak berguna. Dan sesuatu yang tidak berguna biasanya berakhir di dalam perut peliharaanku di pojok sana."
Aku tetap diam tidak memberikan reaksi apa pun. Aku merasakan bagaimana Kharis di dalam jubahku menggigil hebat hingga ia harus menempelkan dirinya pada kulit punggungku agar tidak terjatuh karena gemetar. Aku terus memfokuskan jiwaku untuk menekan emosi kemarahan yang muncul saat aku melihat mahluk sombong ini di depan mataku.
Dewa lihatlah betapa sombongnya mahluk mahluk yang kalian berikan kekuatan ini. Mereka memandang nyawa seperti mainan yang bisa dibuang kapan saja.
"Kau boleh pergi sekarang. Tapi tunggu sebentar," Lord Valos menghentikan ucapannya sejenak membuatku kembali menahan napas. "Ambilkan gulungan kulit yang ada di rak nomor tiga paling atas. Aku sedang malas untuk berdiri hanya untuk mengambil sebuah catatan lama."
Aku menelan ludah secara mental. Rak nomor tiga adalah tempat di mana sistem mendeteksi adanya informasi tentang dimensi. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa sekaligus sangat berbahaya. Jika aku salah mengambil atau jika tanganku gemetar saat memegang gulungan itu maka semuanya akan berakhir di sini.
"Baik Tuan. Saya akan mengambilkannya untuk Anda," ucapku sambil berbalik menuju ke arah rak buku yang ditunjuk.
Aku berjalan menuju rak buku tulang yang sangat tinggi itu. Sebagai seorang pendaki aku sudah terbiasa dengan ketinggian namun mendaki rak buku di depan musuh terkuat mu adalah hal yang berbeda. Aku melihat tangga kayu hitam yang ada di samping rak tersebut. Aku menaikinya selangkah demi selangkah merasakan setiap derit kayu yang sangat halus.
Setelah mencapai bagian atas aku melihat beberapa gulungan kulit yang terikat oleh benang emas. Aku menggunakan Eyes of the Abyss untuk memastikan mana gulungan yang berisi tentang Bumi. Sistem memberikan tanda warna merah pada salah satu gulungan yang letaknya agak tersembunyi di balik buku raksasa tentang anatomi iblis.
[ SISTEM: TARGET TERLOKALISASI: PETA DIMENSI TERRA ]
[ SISTEM: PERINGATAN: TERDAPAT SEGEL PEMICU ALARM PADA GULUNGAN TERSEBUT ]
[ SISTEM: SARAN: JANGAN MENYENTUH GULUNGAN ITU SECARA LANGSUNG DENGAN TANGAN TELANJANG ]
Aku menggunakan kain jubah pelayanku untuk menutupi tanganku kemudian mengambil gulungan lain yang diminta oleh Lord Valos sebagai penyamaran terlebih dahulu. Aku memberikan gulungan tentang sejarah perang kepada Lord Valos dengan sangat sopan.
"Ini yang Anda minta Tuan."
Lord Valos mengambil gulungan itu kemudian mulai membacanya tanpa memperhatikanku lagi. "Pergilah sekarang. Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi sampai siklus energi berikutnya."
Aku membungkuk sekali lagi kemudian berjalan mundur menuju pintu keluar. Aku sudah memetakan setiap inci ruangan ini. Aku sudah tahu di mana letak peta itu berada serta aku sudah tahu apa saja hambatan yang ada di sana. Malam ini saat Lord Valos sedang tidur atau sedang melakukan meditasi esensi aku akan kembali ke ruangan ini sebagai Goma sang pendaki bukan sebagai seorang pelayan yang patuh.
Ibu Widya aku sudah menemukan kuncinya. Aku sudah tahu di mana peta itu disimpan. Aku akan kembali lagi nanti malam untuk mengambilnya serta aku tidak akan membiarkan kucing api itu atau Lord Valos menghentikan ku.
Aku keluar dari ruangan tersebut saat pintu tertutup dengan suara yang berat. Begitu aku berada di koridor aku menarik napas panjang merasakan kelegaan yang luar biasa. Tubuhku yang tadi sangat tegang kini mulai melemas secara perlahan lahan. Aku berjalan kembali menuju ke arah dapur istana untuk mengembalikan nampan perak tersebut.
"Goma kau benar benar memiliki nyali yang terbuat dari baja hitam," bisik Kharis dengan nada suara yang sangat lega setelah kami cukup jauh dari pintu ruang belajar.
"Ini baru permulaan Kharis. Pendakian yang sesungguhnya akan dimulai saat lampu lampu kristal di kota ini padam. Kita harus mempersiapkan rute pelarian kita sekarang juga."
Setiap detak jantungku sekarang dipenuhi oleh rencana rencana taktis. Aku tidak lagi merasa seperti mahluk yang dibuang melainkan aku merasa seperti mahluk yang sedang mengendalikan takdirnya sendiri di tengah sarang musuh. Goma sang pendaki telah menemukan puncaknya serta malam ini puncak itu akan menjadi miliknya sepenuhnya.