Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Rawa Kabut Beracun dan Jejak Sang Predator
Matahari baru saja tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan semburat jingga yang kontras dengan kepekatan Hutan Kematian Hijau. Di bawah naungan pohon-pohon purba yang tingginya mencapai seratus meter, atmosfer berubah menjadi dingin dan lembap. Wang Jian melangkah dengan hati-hati, setiap pijakannya tidak menimbulkan suara sedikit pun—sebuah hasil dari latihan kontrol angin yang mulai ia integrasikan ke dalam gerak tubuhnya.
Targetnya adalah Bunga Pemakan Roh, tanaman langka yang tumbuh di wilayah transisi antara hutan lebat dan rawa beracun. Tanaman ini unik karena tidak menyerap nutrisi dari tanah, melainkan menjerat energi spiritual (Qi) dari makhluk hidup yang lewat di sekitarnya.
Seni Bertahan Hidup: Manipulasi Tekanan Udara
Saat memasuki wilayah rawa, kabut hijau pekat mulai menghalangi pandangan. Kabut ini dikenal sebagai Miasma Busuk, gas beracun yang dapat melumpuhkan sistem saraf seorang kultivator Fase Bumi dalam hitungan menit.
Wang Jian tidak memiliki pil penawar racun tingkat tinggi, namun ia memiliki pemahaman tentang angin. Ia duduk bersila sejenak, memejamkan mata, dan mengaktifkan Teknik Sembilan Putaran Angin Primordial.
"Angin bukan hanya tentang kecepatan, tapi tentang pemisahan," gumamnya.
Ia menciptakan pusaran udara tipis yang berputar sangat cepat di sekeliling tubuhnya. Dengan teknik Manipulasi Tekanan, ia menciptakan zona tekanan tinggi di permukaan kulitnya, yang secara mekanis menolak partikel kabut beracun agar tidak menyentuh pori-porinya. Ini adalah aplikasi defensif dari Alkimia Dingin yang ia temukan tempo hari—memurnikan udara yang ia hirup sebelum masuk ke paru-paru.
Pertemuan dengan Beast Peringkat 2: Badak Besi Bercula Ganda
Tepat di pinggir rawa, di bawah akar pohon raksasa yang melilit, sebuah cahaya ungu lembut berpendar. Itulah Bunga Pemakan Roh. Namun, kegembiraan Jian segera sirna saat tanah di bawah kakinya bergetar hebat.
GRRRRRR....
Dari balik semak berduri, muncul sesosok makhluk raksasa setinggi tiga meter. Tubuhnya dilapisi kulit tebal yang tampak seperti lempengan logam berkarat, dengan dua cula besar di hidungnya yang berkilau tajam. Ini adalah Badak Besi Bercula Ganda, Monster Peringkat 2 yang kekuatannya setara dengan kultivator Ranah Kristalisasi Inti Bintang 1.
Bagi Wang Jian yang masih berada di Ranah Penguatan Tulang Bintang 5, menghadapi monster ini adalah kegilaan. Perbedaan kekuatannya sangat jauh. Namun, ia tidak lari. Ini adalah kesempatan emas untuk menguji batas kekuatan tulang bajanya.
DHUAR!
Badak itu menyeruduk dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukurannya. Wang Jian tidak sempat menghindar sepenuhnya. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
BRAAK!
Tubuh Wang Jian terlempar sejauh dua puluh meter, menghantam batang pohon hingga retak. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di lengannya, namun ia terkejut—tulangnya tidak patah! Berkat latihan di bawah Air Terjun Surgawi, struktur tulangnya telah menjadi sangat padat sehingga mampu meredam benturan yang seharusnya menghancurkan tubuh manusia biasa.
Mempelajari Teknik: Langkah Kilat yang Dimodifikasi
"Kekuatan murni saja tidak cukup," batin Jian sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Aku harus menggunakan teknik yang kudapatkan dari Wang Han."
Ia mengeluarkan gulungan Langkah Kilat. Teknik ini biasanya menggunakan Qi elemen air untuk meluncur di permukaan tanah. Namun, Jian tidak memiliki Qi air yang cukup. Ia mencoba memodifikasinya dengan elemen Angin Primordial miliknya.
Ia memusatkan tekanan udara di bawah telapak kakinya. Saat badak itu kembali menyerang, Jian melepaskan tekanan tersebut secara mendadak.
BOOM!
Ledakan udara kecil itu melontarkan tubuhnya ke samping dengan kecepatan yang jauh melampaui teknik Langkah Kilat aslinya. Inilah versi modifikasi yang ia sebut Langkah Angin Kilat.
Selama satu jam berikutnya, Jian tidak menyerang. Ia membiarkan badak itu mengejarnya di sela-sela pohon. Ia menggunakan momen hidup dan mati ini untuk mengasah insting bertarungnya dan menyempurnakan kontrol tekanannya. Setiap kali ia hampir tertangkap, ia menggunakan ledakan udara untuk bermanuver di udara—sebuah kemampuan yang seharusnya hanya dimiliki oleh kultivator Ranah Nascent Soul.
Serangan Balasan: Titik Lemah Tekanan
Setelah mengamati pola serangan monster itu, Jian menyadari bahwa lempengan logam di kulit badak itu memiliki celah kecil di bagian leher bawah.
Ia tidak memiliki senjata tajam, jadi ia menggunakan jari-jarinya. Ia memusatkan pusaran angin yang sangat tajam di ujung jari telunjuknya, menciptakan efek bor udara yang berputar ribuan kali per detik.
Saat badak itu kelelahan dan melambat, Jian melesat menggunakan Langkah Angin Kilat. Ia muncul tepat di bawah leher monster itu dan menusukkan jarinya dengan seluruh kekuatan tulang bajanya.
CRASH!
Jari Jian menembus kulit keras monster itu seperti pisau panas menembus mentega. Ia melepaskan tekanan udara di dalam luka tersebut, menyebabkan organ dalam monster itu hancur karena emboli udara.
Badak raksasa itu meraung sekali lagi sebelum akhirnya tumbang, menciptakan dentuman keras di tanah rawa.
Memanen Hasil dan Refleksi
Wang Jian terduduk lemas di samping bangkai monster itu. Seluruh ototnya gemetar karena kelelahan, namun matanya bersinar dengan kepuasan. Ia berhasil membunuh monster peringkat 2 tanpa menggunakan Qi konvensional, hanya dengan memanfaatkan fisika angin dan kekuatan tulang.
Ia mendekati Bunga Pemakan Roh yang masih utuh. Dengan hati-hati, ia memetiknya.
"Dengan bunga ini, aku bisa membuat Pil Pemurni Jiwa. Tapi aku belum akan menelan pil apa pun," gumamnya teringat pesan Kakek Ge. "Fondasi adalah segalanya. Aku harus mempelajari cara menyatukan teknik Langkah Angin Kilat ini ke dalam setiap gerakanku secara alami terlebih dahulu."
Malam itu, di tengah hutan yang mematikan, Wang Jian tidak berkultivasi untuk naik level. Ia duduk diam, mendengarkan suara angin yang bergesek dengan dedaunan, mencoba memahami lebih dalam tentang "Napas Alam" yang menjadi inti dari kekuatan sejati keturunan Wang Tian.
Status Wang Jian di Akhir Bab 3:
* Ranah: Penguatan Tulang (Bintang 5) - Tanpa Kenaikan.
* Teknik Baru: Langkah Angin Kilat (Tahap Pemula), Bor Udara (Teknik Serangan Jari).
* Item: Bunga Pemakan Roh, Inti Monster Peringkat 2.