NovelToon NovelToon
MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

MISSION : MELTING THE ICE DOCTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KONTRAKSI DAN KODE DARURAT

Apartemen keluarga Dirgantara yang biasanya tenang di pukul tiga pagi, mendadak berubah menjadi zona chaos. Bukan karena ada serangan medis dari luar, melainkan karena Kania baru saja membangunkan Devan dengan cara yang tidak akan pernah ditemukan di jurnal kedokteran mana pun: menyiramkan air dingin ke wajah suaminya.

"D-dok! Bangun! Ini bukan simulasi!" teriak Kania sambil memegangi perutnya yang sudah bulat sempurna.

Devan tersentak, duduk tegak dengan jantung yang berpacu di angka 120 *bpm*. Matanya yang biasanya tajam kini tampak linglung. "Kania? Ada apa? Ada intrusi paksa? Atau ada maling?"

"Maling apanya! Ini dedeknya mau keluar sekarang! Perut aku rasanya kayak diperes pake mesin cuci!"

Detik itu juga, mode "Dokter Bedah Saraf Paling Sigap" langsung aktif, namun dengan sedikit gangguan sistem karena faktor emosional. Devan melompat dari tempat tidur, hampir terpeleset karpet bulu kelinci milik Kania.

"Oke, tenang. Tarik napas, Kania. Saya akan hitung interval kontraksinya. *Start... now*," ucap Devan sambil memegang pergelangan tangan Kania, mencoba menghitung nadi sekaligus durasi kontraksi lewat jam tangannya.

"Nggak usah dihitung, Dok! Sakit banget! Cepetan bawa aku ke RS!"

"Kania, secara statistik, persalinan pertama biasanya memakan waktu 12 hingga 18 jam. Kita masih punya waktu untuk—"

"DEVAN! Kalau Dokter nggak jalan sekarang, aku jalan kaki sendiri ke rumah sakit!"

Melihat kilatan mata istrinya yang lebih berbahaya daripada tuntutan malpraktik, Devan segera menyambar tas persalinan yang sudah disiapkan di sudut kamar. Ia menggendong Kania meskipun Kania memprotes karena merasa dirinya sangat berat seperti karung beras dan membawanya menuju mobil.

Sepanjang perjalanan menuju RS Medika Utama, Devan melanggar hampir semua aturan lalu lintas yang pernah ia pelajari. Ia mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat tangan Kania.

"Sakit, Dok... hiks... kenapa Dokter nggak bilang kalau rasanya bakal kayak begini?" Kania mulai menangis, sebuah fase emosional yang wajar menurut literatur yang Devan baca, tapi tetap saja membuatnya panik.

"Sabar, Sayang. Secara fisiologis, rahimmu sedang melakukan usaha maksimal. Kita hampir sampai. Saya sudah menghubungi tim obgyn, dr. Hana sudah menunggu di lobi."

Begitu sampai di depan IGD, Devan tidak menunggu perawat. Ia sendiri yang mendorong brankar Kania masuk ke dalam. Beberapa suster yang melihat pemandangan itu tertegun; dr. Devan yang biasanya berjalan dengan langkah tenang dan berwibawa, kini berlari dengan kemeja tidur yang kancingnya salah urutan dan rambut yang benar-benar acak-acakan.

"dr. Devan? Anda yang menangani?" tanya seorang perawat junior.

"Bukan saya! Saya suaminya! Mana dr. Hana?!" bentak Devan, membuat perawat itu langsung lari memanggil dokter spesialis kandungan.

Di ruang persalinan, situasi menjadi semakin dramatis. Devan, yang biasanya memimpin operasi besar selama belasan jam tanpa berkeringat, kini tampak pucat pasi melihat Kania berjuang.

"Dok... jangan pergi... tetep di sini," rintih Kania saat dr. Hana mulai melakukan pemeriksaan.

"Saya di sini, Kania. Saya tidak akan ke mana-mana," bisik Devan, mencium kening Kania yang penuh keringat.

"dr. Devan, Anda sebaiknya duduk atau sedikit menjauh. Wajah Anda lebih pucat daripada pasien saya," tegur dr. Hana sambil memakai sarung tangan medisnya.

"Saya baik-baik saja, Hana. Lanjutkan prosedurnya. Saya akan memantau tanda-tanda vitalnya," jawab Devan, mencoba kembali ke mode profesional meski tangannya gemetar.

"Dokter... aku mau martabak..." igau Kania di tengah rasa sakitnya.

Devan tertegun. "Martabak? Sekarang? Kania, perutmu sedang kontraksi hebat, lambungmu tidak akan bisa mencerna martabak dengan baik saat ini."

"Nggak mau tahu! Pokoknya nanti kalau dedeknya udah lahir, aku mau martabak keju yang paling mahal!"

"Iya, iya. Saya beli satu tokonya kalau perlu. Sekarang fokus, tarik napas..."

Persalinan itu berlangsung selama enam jam yang terasa seperti enam dekade bagi Devan. Ia melihat Kania berteriak, menangis, bahkan sempat mencaci maki dirinya karena "memberinya anak yang tendangannya sekuat pemain bola". Devan hanya bisa pasrah, membiarkan tangannya dicakar dan diremas sampai memerah.

Hingga akhirnya, sebuah tangisan kencang memecah ketegangan di ruangan itu.

"Selamat, Devan, Kania. Bayi laki-laki. Sangat sehat, skor APGAR-nya sempurna," ujar dr. Hana sambil mengangkat sesosok bayi mungil yang masih kemerahan.

Devan terpaku. Selama hidupnya, ia sudah ribuan kali melihat anatomi manusia, tapi melihat kehidupan baru yang lahir dari istrinya sendiri memberikan sensasi yang jauh lebih dahsyat daripada keberhasilan operasi paling rumit sekalipun. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya jatuh juga.

"Dia... dia mirip siapa, Dok?" tanya Kania dengan suara sangat lemah, namun matanya berbinar bahagia.

Devan mendekat, mencium kening Kania dengan penuh rasa syukur sebelum beralih menatap putranya yang kini diletakkan di dada Kania untuk proses IMD.

"Dia memiliki hidungmu, Kania. Dan syukurlah, dia tampak sangat vokal. Sepertinya dia mewarisi bakat 'berisik' darimu," ucap Devan sambil tertawa kecil di tengah tangisnya.

Dua hari kemudian, ruang perawatan VIP RS Medika Utama penuh dengan bunga dan balon. Prof. Gunawan, Bianca, dan bahkan dr. Sarah datang berkunjung.

"Jadi, siapa namanya, Pak Dokter?" tanya Bianca sambil asyik mengambil foto bayi yang sedang tidur itu.

Devan menatap Kania, meminta persetujuan lewat mata. Kania mengangguk kecil.

"Namanya **Arlo Devan Dirgantara**," ucap Devan dengan bangga. "Arlo artinya sang pembela. Saya harap dia bisa menjadi pembela kebenaran seperti ibunya, tapi tetap memiliki ketenangan seperti... ya, setidaknya tidak seberisik ibunya saat lapar."

"Dih! Masih aja ya!" Kania melempar bantal kecil ke arah Devan, yang dengan lincah ditangkap oleh sang dokter.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, ponsel Devan bergetar. Sebuah kode darurat masuk dari unit Gawat Darurat. Ada kecelakaan bus pariwisata yang membawa puluhan anak sekolah, dan semua dokter spesialis diminta segera turun.

Devan menatap Kania dengan tatapan bimbang. Ia baru saja ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Arlo.

Kania tersenyum, ia meraih tangan Devan. "Pergilah, Dok. Anak-anak itu lebih butuh Dokter sekarang. Arlo biar sama aku. Dia bakal bangga punya Papa yang jadi pahlawan buat orang lain."

Devan terdiam, lalu ia mencium kening Kania dan pipi kecil Arlo. "Saya akan kembali secepat mungkin. Janji kelingking."

"Janji!" jawab Kania.

Devan berlari keluar ruangan, mengenakan jas dokternya sambil melangkah cepat menuju ruang operasi. Perjalanan hidupnya sebagai seorang ayah baru saja dimulai, dan ia menyadari bahwa tantangan terbesarnya bukan lagi membedah saraf, melainkan membagi hati antara profesi yang ia cintai dan keluarga yang menjadi nyawanya.

Di dalam kamar, Kania memandangi Arlo yang menggeliat kecil. "Lihat, Arlo. Papa kamu itu hebat banget. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu harus sekeren Papa, tapi jangan sekaku Papa ya?"

Arlo hanya menjawab dengan uapan kecil, seolah setuju dengan perkataan ibunya. Petualangan baru keluarga Dirgantara benar-benar baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!