Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.
Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.
Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.
Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
you're mine 13
*Di dalam ruangan Devan.*
Nara mencoba melepaskan pelukan Devan yang posesif, tapi semakin dia berontak, Devan justru memeluknya semakin erat. Saking eratnya sampai dia dapat mendengar jantung Devan yang berdetak stabil, berbanding terbalik dengan miliknya yang kacau.
"Kak... lepas. Nanti ada yang lihat," bisik Nara, tapi dia tidak benar-benar mendorong.
"Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa perintahku. Kamu lupa di sini akulah bosnya," jawab Devan pelan di puncak kepalanya. "Dan kalaupun ada... biar saja. Biar mereka tahu."
_Klik._
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Nara refleks mendorong dada Devan, mundur selangkah. Di ambang pintu berdiri Mama dan Sandra. Raut Mama kaget, matanya membulat melihat Nara di dalam pelukan putranya. Sementara Sandra, wajahnya memutih, lalu merah padam dalam sedetik.
Hening yang memekakkan telinga. Suasana menjadi tegang seketika.
"Devan!" Suara Sandra melengking, memecah sunyi. Tas _branded_-nya jatuh ke lantai. "Ini maksudnya apa?! Di kantor! Di jam kerja! Kamu sama dia!"
Devan tidak panik. Dengan tenang dia menarik Nara ke sampingnya, menggenggam tangan Nara erat. Gestur kepemilikan yang jelas. "Kalian tidak ketuk pintu dulu," katanya datar. Matanya ke Mama, bukan ke Sandra. "Ada perlu apa, Ma?"
Mama menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Dia menatap Nara, lalu ke Devan. Luka lama dan rasa takutnya bertabrakan. "Van... Mama ke sini mau bicara... tentang kabar berita itu... tapi... ini..."
"Sepertinya memang benar," ucap Mama datar.
"Maaf aku harus mengecewakan Mama kali ini, tapi inilah kenyataannya, Ma," potong Devan. "Yang harusnya Mama terima lima tahun lalu."
"Kenyataan?!" Sandra maju, menunjuk Nara dengan jari gemetar. "Kenyataannya dia pelakor! Dia perusak! Dia masuk ke kantor ini cuma buat merebut kamu kembali, Van! Dan kamu bodoh karena sudah masuk perangkapnya. Apa kamu sudah melupakan apa yang pernah terjadi pada Nathan dulu?"
"Jaga mulut kamu, Sandra, jangan bawa-bawa Nathan dalam hal ini," suara Devan turun satu oktaf. Dingin. Mematikan. "Di depan aku, kamu tidak berhak menghakimi Nara, apalagi sampai menghinanya!"
Sandra tertawa histeris. "Aku menghina? Dia pantas mendapatkannya,," sambil menunjuk tepat di wajah Nara, "Aku tunangan kamu! Sebentar lagi kita mau menikah. Dan kamu malah selingkuh dengan dia! Di depan Mama kamu, keterlaluan!"
"Maaf kalau kamu harus melihatnya, tapi baguslah. Jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi," jawab Devan tanpa jeda. "Dan sekarang mumpung Mama dan kamu ada di sini, aku putuskan: aku batalkan semuanya."
Ruangan membeku.
Mama tersentak. "Devan! Kamu tidak bisa seenaknya membuat keputusan. Mama tidak bisa menanggung malu. Berita pernikahan kalian sudah tersebar. Ini akan menjadi aib untuk keluarga kita. Dan lagi, bagaimana Mama harus menghadapi keluarga Sandra?"
"Aku akan memberikan kompensasi yang layak untuk Sandra dan keluarganya sebagai permintaan maaf."
"Tidak semudah itu, Devan!" Sandra menyahut, tidak terima dengan keputusan Devan.
"Terserah. Yang jelas, keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini," jelasnya tanpa perasaan.
"Bagaimana, Ma?" Devan menatap Mama lurus. "Mama sudah cukup mengatur hidupku. Aku sudah berusaha, Ma. Mama mau aku menikah dengan Sandra hanya demi nama baik, hanya demi kepentingan Mama sendiri. Dan aku sudah berusaha menerima itu. Tapi Mama lihat sendiri kenyataannya. Aku tidak bisa, Ma. Aku tidak bisa mencintai Sandra."
"Van, kamu sadar kamu ngomong apa?!" Sandra menjerit. Dia menatap Mama mencari dukungan. "Tante! Bilang sesuatu! Anak Tante menjadi gila karena perempuan ini!"
Mama menatap Devan. Putranya yang selama ini dingin, patuh, menjalankan skenario yang dia buat. Sekarang berdiri tegak, memilih hancur daripada kehilangan Nara lagi. Lalu Mama menatap Nara. Gadis itu pucat, gemetar, tapi tidak menunduk. Tidak lari. Dia berdiri di samping Devan.
Kemudian Mama melihat Sandra. Perempuan yang dia pikir sempurna untuk menjadi pasangan anak lelakinya. Dia menjadi dilema. Siapa yang harus dia pilih sekarang? Kebahagiaan Devan, tapi dengan begitu dia harus menerima Nara? Atau tetap memilih Sandra, dan menyakiti putranya sekali lagi?
Melihat Mama diam, Sandra semakin gelisah. Dia pikir mungkin Mama Devan sudah mulai melunak dan tidak akan memihaknya lagi. Kemudian dia berkata pada Mama dengan nada mengancam, "Ingat, Tante sudah berjanji dengan Mama-ku untuk memastikan aku menikah dengan Devan. Tante tentu tidak ingin kan, persahabatan kalian yang sudah lama hancur karena masalah ini? Mama pasti akan membenci Tante kalau sampai Tante berubah pikiran!"
Untuk pertama kalinya, Mama melihat dengan jelas. Sandra bukan korban di sini. Sandra adalah dirinya lima tahun lalu—tapi versi yang lebih kejam. Dia melihat ambisi yang sangat besar di mata Sandra. Itu bukan pertanda baik. Dengan sikapnya yang seperti ini, tentu saja Sandra akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya. Tidak bisa. Devan yang dingin tidak mungkin bisa bersatu dengan Sandra yang ambisius dan keras kepala.
Mama memejamkan mata. Saat dibuka lagi, suaranya lirih tapi tegas. "Cukup, Sandra."
Sandra menoleh kaget. "Tante?"
"Kita sebaiknya pergi. Jangan buat keributan di sini. Tante minta maaf. Devan sudah dewasa, dia sudah bisa membuat keputusannya sendiri."
"Maksud Tante apa? Ini tidak benar. Tante sudah janji akan terus memihakku!" ucapnya dengan nada menuntut.
"Kamu lihat sendiri, kan? Devan bahkan sudah tidak mau mendengar kata-kata Tante lagi. Sepertinya Tante sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Tante minta maaf sama kamu," kata-katanya begitu pasrah, sambil meraih tangan Sandra, mencoba memberinya pengertian.
"APA?!" Sandra membelalak. "Tante nggak bisa giniin Sandra! Tante janji—"
"Janji Tante untuk melindungi anak Tante," potong Mama. Air matanya jatuh. "Dan hari ini Tante sadar, apa yang Tante lakukan demi melindungi anak Tante itu salah. Tante tidak pernah bertanya apa yang diinginkan Devan. Tante hanya melakukan apa yang menurut Tante benar. Tante lupa kalau Devan juga punya keinginannya sendiri."
Sekeras apa pun Mama memberi pengertian, Sandra tetap tidak mau mengerti. Justru perkataan Mama membuat Sandra semakin tersulut amarah. Dia tidak bisa menerima keputusan sepihak ini. Baginya ini tidak adil. Dengan marah Sandra mengambil tasnya yang tergeletak di lantai dari tadi, kemudian pergi membanting pintu. Tapi sebelum pergi dia sempat meluapkan amarahnya, "Ini belum selesai, Nara! Aku pasti akan membalasmu! Dan kamu, Devan, aku pasti akan membuat kamu menyesal!"
"Aku tunggu," jawab Devan dingin. Dia menatap Sandra untuk terakhir kalinya. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak peduli."
Mama masih berdiri di sana, di ruangan Devan. Wajahnya terlihat lelah. Dia sudah pasrah. Dia menatap Nara lama, mengamati dalam-dalam perempuan yang membuat kedua putranya hampir mati. Dia berpikir, apakah selama ini dia telah salah menilai Nara? Kehancuran putranya membuat Mama langsung menghakimi dan membenci Nara. Padahal kalau dipikir-pikir, Nara tidak bersalah dalam hal ini. Dia hanya terjebak dalam pilihan sulit.
"Tante tidak tahu harus memulai dari mana, karena selama ini Tante tidak benar-benar mengenal kamu, Nara," ucap Mama menghampiri Nara yang berdiri di samping Devan.
Nara tercekat. Panggilan itu. Baru kali ini selama lima tahun Mamanya Devan menyebut namanya dengan lembut, tanpa emosi.
"Maaf, Tante... saya..." Nara menunduk, kata-katanya terhenti di tenggorokan.
"Tante juga minta maaf sama kamu dan Devan," sambil menoleh ke arah putranya. "Mama pulang dulu, Van. Mama tidak akan ikut campur lagi. Mama akan menghormati semua keputusan kamu." Ucapnya sambil melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Langkahnya ringan. Untuk pertama kalinya dia berjalan tanpa beban.
Di ruangan itu tinggal Devan dan Nara.
Devan menghela napas, lalu menarik Nara ke pelukannya lagi. "Sudah selesai."
Nara mengangguk di dadanya. Hatinya terasa tenang untuk pertama kalinya.
---