NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Perjodohan dan Dinginnya Takhta

Musim gugur di Kerajaan Aethelgard membawa angin yang lebih tajam dari biasanya, menusuk hingga ke balik dinding-dinding batu istana yang kokoh.

Di usianya yang saat ini menginjak 22 tahun, Putri Aurelia seharusnya sudah terbiasa dengan kesunyian koridor istana, namun kabar yang ia dengar pagi ini membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.

Rencana perjodohan antara dirinya dan Pangeran Theo bukan lagi sekadar desas-desus pengiring minum teh, melainkan sebuah agenda yang mulai disusun di atas meja-meja perundingan.

Aurelia melangkah menuju paviliun mawar, tempat sepupunya, Elara, biasanya menghabiskan waktu sore. Elara melihat kedatangan Aurelia dan segera menyuruh para pelayan untuk mundur. Wajah Aurelia yang pucat sudah cukup menjelaskan segalanya bagi Elara.

"Jadi, kabar itu benar?" bisik Elara sambil menuangkan teh ke cangkir Aurelia. "Ayahmu benar-benar ingin meresmikan aliansi dengan Kerajaan Valeront melalui dirimu?"

Aurelia duduk dengan bahu yang tampak berat. "Aku mendengarnya sendiri saat melewati ruang kerja Ayah tadi pagi. Mereka membahas soal distribusi wilayah dan kekuatan militer yang akan menyatu jika aku menikah dengan Theo. Kak Elara, mereka bahkan tidak memanggilku untuk sekadar bertanya apakah aku bersedia."

Elara memegang tangan Aurelia, mencoba menyalurkan kekuatan. "Ayahmu memang masih sulit ditembus, Aurelia. Hubungan kalian belum membaik sejak bertahun-tahun lalu. Dia memandang segalanya sebagai bidak catur, termasuk... keluarganya sendiri."

"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mencairkan hatinya," suara Aurelia merendah, nyaris putus asa. "Setiap kali aku mencoba bicara secara pribadi, beliau selalu membelokkan percakapan ke urusan kenegaraan. Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri."

"Sabar, Aurelia. Kita harus mencari cara agar suara kamu didengar tanpa terlihat seperti pemberontakan," hibur Elara, meski di matanya sendiri tersimpan kekhawatiran yang sama besar.

---

Sore harinya, Aurelia dipanggil menghadap ke ruang kerja Raja Valerius. Ruangan itu luas, tinggi, dan dipenuhi aroma kertas tua serta lilin yang terbakar. Raja Valerius duduk di balik meja besarnya, menatap tumpukan laporan logistik yang baru saja dikirim oleh Lucas.

Aurelia berdiri tegak, tangannya bertaut di depan. "Hormat saya, Ayahanda. Ayahanda memanggil saya?"

Raja Valerius tidak langsung mendongak. Ia masih mencoretkan pena bulunya di atas perkamen. Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara retakan api di perapian. Menit demi menit berlalu, sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan sang Raja untuk menunjukkan otoritasnya tanpa perlu berteriak.

"Duduklah," perintah Raja Valerius akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki berat yang menekan.

Aurelia duduk di kursi kayu di depan meja ayahnya. "Ada hal penting yang ingin Ayahanda sampaikan?"

Raja Valerius meletakkan penanya dan menatap Aurelia. Tatapannya dingin, seperti es di puncak gunung utara. Tidak ada kemarahan di sana, tapi juga tidak ada kehangatan seorang ayah yang melihat putrinya yang sudah dewasa.

"Laporan administrasi internal yang kau susun sudah cukup baik," ucap sang Raja singkat. "Namun, kau harus mulai belajar tentang urusan luar negeri lebih dalam lagi. Pangeran Theo akan datang lusa untuk kunjungan kenegaraan yang lebih panjang. Saya ingin kamu yang mendampinginya dalam setiap perjamuan."

Dada Aurelia berdegup kencang. "Ayahanda, soal kunjungan Pangeran Theo... apakah ada tujuan lain di balik ini? Kabar tentang perjodohan sudah tersebar di seluruh istana."

Raja Valerius terdiam sejenak. Ia tidak membentak, namun auranya seketika mendingin. "Kabar itu adalah urusanku. Tugasmu saat ini hanyalah menunjukkan bahwa putri Aethelgard adalah wanita yang layak mendampingi pemimpin besar. Jangan biarkan emosi pribadimu mengganggu martabat kerajaan."

"Tapi ini soal hidup saya, Ayahanda," desak Aurelia pelan, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

"Hidupmu adalah milik kerajaan ini, Aurelia. Sama seperti hidupku," balas Raja Valerius sambil kembali mengambil penanya, tanda bahwa pembicaraan sudah selesai. "Kamu boleh pergi."

Aurelia berdiri, membungkuk hormat dengan perasaan hancur yang tertahan. Ia melangkah keluar dari ruangan itu tanpa mendengar satu pun kata penyemangat atau kasih sayang. Hubungan mereka tetap berada di titik beku, sebuah jarak yang tampaknya mustahil untuk dijembatani.

---

Dengan hati yang berkecamuk, Aurelia berjalan menuju kantor logistik pusat. Ia butuh bicara dengan satu-satunya orang yang tidak akan menilainya sebagai bidak catur. Lucas sedang berdiri di dekat peta besar saat Aurelia masuk tanpa mengetuk pintu.

Lucas segera menyadari kehadiran Aurelia. Ia melihat gurat kesedihan di wajah sang putri yang ia kenali sejak kecil. "Aurelia? Ada apa?" tanyanya, melupakan sejenak sebutan formal karena tidak ada orang lain di sana.

Aurelia menyandarkan punggungnya di pintu yang baru saja ia tutup. "Ayah sudah memastikannya, Lucas. Theo akan datang lusa. Ayah memintaku mendampinginya terus-menerus. Beliau bahkan tidak membantah kabar perjodohan itu saat aku bertanya langsung."

Lucas mengepalkan tangannya di sisi meja. Ia melangkah mendekati Aurelia, namun berhenti pada jarak yang sopan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku tidak tahu. Ayah bersikap sangat dingin, seolah-olah aku hanya sebuah dokumen yang harus ia tanda tangani untuk kesepakatan militer," ucap Aurelia dengan mata berkaca-kaca. "Lucas, aku merasa sangat sendirian di atas sana."

"Kamu tidak sendirian," potong Lucas dengan nada yang sangat yakin. "Aku mungkin tidak bisa membantah perintah Raja, tapi aku tahu semua jalur keluar masuk istana ini. Aku tahu setiap pergerakan yang direncanakan Theo di gudang logistik nanti. Apapun yang mereka rencanakan, kita akan menghadapinya bersama."

Aurelia menatap Lucas, menemukan satu-satunya kehangatan di tengah musim gugur yang membekukan ini. "Terima kasih, Lucas. Aku tidak tahu bagaimana caraku bertahan tanpa ada kamu di sini."

"Jangan menyerah dulu," ucap Lucas sambil memberikan senyum tipis yang menguatkan. "Selama aku masih menjadi Kepala Logistik, aku akan memastikan kamu selalu punya tempat untuk mengadu. Sekarang, mari kita pikirkan cara agar kunjungan Theo lusa tidak berjalan semulus yang mereka bayangkan."

Aurelia akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Di tengah dinginnya takhta sang ayah dan ancaman perjodohan yang membayang, ia tahu bahwa di ruang kerja yang penuh dengan aroma kertas dan gandum ini, ia masih memiliki seorang kawan sejati yang siap berdiri di sisinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!