Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. pemotor jatuh
Gubraaaaak.
Ketika rombongan para wanita itu sedang bergosip membicarakan tentang penyakit Aina, mendadak saja ada motor nyasar dan menabrak kursi tempat duduk mereka sehingga kehebohan langsung terjadi dan pengendara motor itu juga berteriak kesakitan, terlebih lagi rombongan para wanita ini juga berteriak marah karena merasa tidak terima dengan kelakuan pengendara motor yang terlihat ugal-ugalan.
Kursi tempat duduk mereka tadi sudah terjengkang semua karena tertabrak kendaraan berwarna merah tersebut, sementara pengendara motor yang berjumlah dua orang itu segera bangkit karena mereka juga tidak terluka cukup parah dan hanya lecet saja pada bagian tangan atau dengkul sehingga bisa langsung berdiri tanpa membutuhkan bantuan.
Namun terlihat kalau si wanita yang tadi sempat dibonceng sangat marah karena tidak terima mereka telah jatuh dengan cara seperti ini dan menurut dia itu sangat memalukan sekali, jadi rombongan Dinda masih diam saja terlebih dahulu karena takut juga melihat betapa sadisnya wanita itu ketika sedang memarahi pria yang tadi mengendarai motor.
Padahal Mereka ingin marah karena kursi mereka sudah hancur seperti ini namun karena melihat pengendara motor itu jauh lebih galak maka mereka memutuskan untuk diam saja terlebih dahulu, sekali sembur maka mereka bertiga akan segera habis dan tidak akan pernah sanggup untuk berkutik lagi bila sampai berani melawan wanita berbaju hitam itu.
"Kan aku sudah bilang kalau naik motor jangan banyak gaya seperti itu!" Purnama mengomel panjang lebar kepada sang adik.
"Itu tadi bukan banyak gaya tapi karena menghindari lubang." Arya berusaha memberikan alasan.
"Aku sudah memberi peringatan kalau jalan ini memang jelek seperti para warga yang tinggal di sini, tapi kau saja yang tidak pernah mendengarkan aku." sembur Purnama dengan emosi tinggi.
"Heh Kakak kalau ngomong sembarangan saja sih." Arya menatap para warga yang kebetulan ada di sini.
"Apa? memang benar apa yang aku katakan saat ini, kalau mereka tidak jelek maka tidak akan membicarakan kebusukan orang lain secara nyata!" sindir Purnama dengan nada begitu pedas.
"Aduh ini kenapa malah jadi ke sana ke sana sih?!" Arya bingung sendiri karena Purnama malah mengurus omongan para wanita itu.
"Sialan, sebenarnya aku juga malas datang ke desa ini tapi malah harus datang dan ini akhirnya!" Purnama menepuk baju dia yang terkena debu.
Arya segera mendirikan motor yang sempat roboh karena mereka tadi memang menghantam dengan kecepatan cukup tinggi, sebab tadi Arya menghindari lubang karena dia takut nanti Purnama akan mengomel bila motor ini menghantam lobang yang cukup dalam itu, namun ternyata mereka malah menabrak rombongan para wanita yang sedang bergosip sehingga emosi Purnama jauh lebih tinggi lagi.
"Bukan kah dia adalah wanita yang bernama Purnama dari desa pandan Arum?" Dinda berbisik kepada Marni.
"Kalau melihat dari emosi dia sih sepertinya begitu, aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan dia." Marni menjawab dengan gaya angkuh.
"Banyak orang bilang jangan pernah mencari urusan dengan dia." Ratna juga mengenal siapa Purnama ini.
"Alah kadang orang itu hanya menyebar gosip saja tanpa bukti yang jelas, mungkin karena melihat gaya dia yang sok angkuh begitu sehingga percaya bahwa dia adalah wanita yang sangat mandiri." Marni berkata dengan sinis.
"Tapi banyak yang membicarakan soal dia dan bukan hanya dari desa ini saja." Dinda berusaha mengingatkan Marni.
"Ah peduli amat aku dengan hal itu, sudah mengganggu ketenangan kita duduk dan ini sama sekali tidak ada minta maaf!" sengit Marni.
"Heh Kau mau apa mendatangi dia seperti itu?!" Ratna berusaha menahan Marni namun wanita itu sudah menghampiri Purnama.
Dengan gaya yang begitu angkuh dan seolah sangat bisa menghadapi Purnama maka Marni datang di hadapan wanita berbaju hitam ini, Purnama menatap wanita angkuh yang ada di hadapan dia dan tentu saja ratu ular ini begitu menyukai bila ada mangsa yang sangat sok keras namun nanti ketika sudah diberi pelajaran maka akan memohon ampun.
"Kau punya mata tidak saat mengendarai motor?!" Marni langsung menyala.
"Ya menurutmu saat ini dia punya mata atau tidak? kau lihat dengan bola matamu itu!" Purnama menarik Arya dan menunjukkan di hadapan Marni.
"Bila kau memang punya mata maka tidak sampai menghantam kursi kami." teriak Marni.
Plaaaaaaak.
Purnama langsung memberikan tamparan karena dia memang sudah terlanjur emosi dan gaya bicara Marni juga begitu angkuh sekali, perpaduan yang sangat cocok sehingga sudah tidak bisa dielakkan bahwa mereka pasti akan bertengkar sebentar lagi di hadapan mereka semua, Marni sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa tangan Purnama bisa bergerak secepat itu memberikan tamparan maut.
"Yah! berani sekali kau menampar aku seperti itu." Marni berteriak tidak terima.
"Loh jangankan cuma menampar membunuh kau saja saat ini aku juga berani." Purnama berjalan mendekati Marni.
"Kakak!" Arya segera menahan Purnama karena dia tidak tahu kenapa Purnama sedang terbawa emosi seperti ini.
"Kau diam, ini semua gara-gara kau dan aku jadi malu!" geram Purnama karena awal mula emosi dia setelah di ajak jatuh oleh Arya.
"Aduh sialan ini, gimana kalau dia tambah marah dan bisa membunuh orang!" Arya panik dan terus berusaha mengejar Purnama yang akan menghajar Marni.
Purnama tidak pernah main-main bila sudah emosi seperti ini dan terlihat dia memang begitu malu karena tadi jatuh di depan orang banyak dibuat oleh Arya, itu adalah awal mula emosi Purnama terkumpul di dalam hati sehingga dia akan menghajar siapa saja yang berani mencari masalah dengan dia saat ini.
Marni malah datang sehingga Purnama semakin naik darah dan dia langsung menghajar tanpa berpikir dua kali, tabiat Purnama memang gampang sekali emosi dan dia tidak akan pernah mengampuni orang yang sudah berani mencari masalah dengan dirinya, padahal kalau ditelusuri maka ini semua adalah salah Arya karena dia yang mengendarai motor mereka tadi.
"Kemari, Kau pikir saat ini aku tidak berani menghajar kau?" Purnama mencengkeram erat leher Marni.
"Heh apa yang kau lakukan kepada teman kami?!" Dinda berusaha untuk membela Marni.
"Kakak, jangan membuat keributan seperti ini karena kita datang ingin melihat kebun kelapa." Arya berusaha untuk menahan Purnama.
"Diam, dia berani menantang aku sehingga sekarang harus berani juga untuk menghadapi emosi yang ada di dalam diriku!" Purnama tetap tidak bisa dicegah.
Arya juga sudah habis kesabaran bila seperti ini sehingga dia tidak mungkin bila diam saja, dicegah secara baik-baik pun tidak bisa sehingga Arya mengambil tindakan nekat agar Purnama mau menghentikan aksi gila itu, tanpa pikir panjang area langsung menghantam bagian kepala Purnama di belakang sehingga ratu ular ini tersentak kaget atas tindakan sang adik.
selamat sore semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
semoga ada kemudahan stlh kejadian barusan ,,, bisa melanjutkan perjalanan lg ke padepokan kyai Ahmad
apa cuma perasaanku ya kok sedikit ceritanya 🤭