Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18: Gue Percaya Sama Lo
^^^Minggu, 16 September^^^
Elang terbangun dari tidur yang tidak nyenyak.
Langit-langit kamar kontrakannya yang penuh retakan menyambutnya seperti biasa. Ia menatap garis-garis halus itu—beberapa sudah ada sejak ia pertama kali pindah ke sini, beberapa baru muncul setelah hujan deras minggu lalu. Seperti hidupnya, pikirnya. Retak di sana, retak di sini. Tapi masih berdiri.
Ia bangkit dari kasur tipisnya. Tangannya otomatis meraih ke balik bantal—kebiasaan yang sudah ia lakukan setiap pagi sejak dua minggu terakhir. Dua lembar kertas usang terlipat rapi di sana. Ia membukanya satu per satu.
I want to change.
I am changing.
Ia menatap kedua tulisan itu. Tulisannya sendiri. Dua kalimat yang dulu terasa seperti kebohongan, tapi sekarang mulai terasa seperti kebenaran.
Dulu, ia menulis kalimat pertama setelah keluar dari Geng Bhayangkara. Sendirian. Tidak ada yang percaya padanya. Adiknya sendiri, Aini, mungkin juga ragu—meskipun ia tidak pernah mengatakannya. Tapi Elang terus menulis. Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia ingin berubah. Bahwa ia tidak ingin kembali ke jalan yang salah.
Kalimat kedua ia tulis setelah insiden di gudang. Setelah mereka berempat—Bima, Azril, Faris, dan dirinya—dihajar habis-habisan oleh Marcel dan anak buahnya. Setelah Faris, yang bahkan tidak bisa berbicara di depan kelas, mengambilkan inhaler untuk Azril dengan tangan gemetar. Setelah Bima, yang tangannya berdarah dan diperban, tertawa di tengah gudang yang pengap. Setelah Azril, yang selama ini menyembunyikan asmanya seperti aib, akhirnya menunjukkan inhalernya ke seluruh dunia.
Setelah mereka membuktikan bahwa ia tidak sendirian.
I am changing.
Tapi apakah itu cukup?
Ia meletakkan kertas-kertas itu, lalu bangkit. Di meja kecil dekat jendela, ponselnya bergetar. Grup "Empat".
Bima: Pagi. Hari ini gue yang anterin Aini. Dia ada acara OSIS tambahan katanya.
Faris: Aku ikut.
Bima: Tumben. Biasanya Minggu di rumah aja.
Faris: Aku mau bantu. Semampuku.
Azril: Gue juga ikut. Kalo kalian mau, kita bisa kumpul di perpus kota.
Elang menatap layar ponselnya. Grup ini dibuat khusus untuk membahas ancaman—amplop putih bertinta merah yang sampai ke Bima seminggu lalu. Anggotanya hanya empat: dirinya, Bima, Azril, dan Faris. Sengaja tanpa Aini. Adiknya tidak perlu tahu. Tidak sebelum mereka yakin apa yang mereka hadapi.
Ia mengetik balasan.
Elang: Gue jemput Aini. Kumpul di perpus jam 10.
Bima: Siap!
Azril: Oke.
Faris: Aku siap.
Elang menatap layar ponselnya beberapa saat lagi. Lalu ia meraih jaketnya, mengambil kunci motor, dan melangkah keluar.
~•~•~•~
Rumah keluarga Darmawan berdiri tenang di bawah langit Minggu pagi. Dua lantai. Cat krem. Taman kecil dengan rumput yang terawat—meskipun sedikit lebih panjang dari biasanya, tanda bahwa tukang kebun mungkin belum datang minggu ini.
Elang memarkir motornya di depan pagar. Ia tidak masuk. Sudah lama ia tidak masuk ke rumah ini. Bukan karena ia tidak diizinkan—tapi karena ia memilih untuk tidak. Ada terlalu banyak kenangan di dalam sana. Foto-foto keluarga yang terpajang di dinding, dengan wajah-wajah yang tersenyum tapi terasa asing. Ayahnya yang terlalu sibuk bekerja. Ibunya yang... tidak perlu dibahas sekarang.
"Aku sudah di depan," ia mengirim pesan singkat ke Aini.
Beberapa menit kemudian, pintu depan terbuka. Aini muncul dengan tas selempang cokelat yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tapi kali ini ada yang berbeda—di tangannya yang lain, ia membawa sebuah buku bersampul biru gelap. Novel yang ia beli kemarin. Bersama Azril.
Elang memperhatikan itu, tapi tidak berkata apa-apa.
"Pagi, Kak." Aini tersenyum, naik ke boncengan. "Tumben jemput."
"Mereka mau kumpul di perpus."
"Mereka?"
"Bima, Faris, Azril."
"Ah." Aini mengangguk. "Boleh juga. Aku udah lama gak ke perpus."
Motor melaju pelan. Angin pagi masih sejuk, membawa aroma tanah yang basah—sisa hujan semalam. Aini duduk di belakang, satu tangan memegang pinggang Elang, tangan satunya memeluk bukunya.
"Kak."
"Ya?"
"Kemarin... aku ketemu Azril."
Elang tidak menjawab. Ia sudah tahu. Azril sudah cerita di grup "Empat" tadi malam—tentang toko buku, tentang Aini yang menceritakan pesan misterius dari 13 Agustus, tentang perasaan diawasi yang akhir-akhir ini menghantuinya. Tapi Elang tidak bisa memberi tahu Aini bahwa ia sudah tahu. Karena Aini tidak tahu tentang grup "Empat." Jadi ia hanya diam, menunggu.
"Kalian berdua deket banget ya sekarang." suara Aini pelan, hampir terbawa angin. Bukan pertanyaan. Lebih seperti observasi.
"Kita semua deket."
"Maksudku... kamu sama Azril."
Elang menghela napas. "Dia... lumayan."
"Lumayan?"
"Dia gak kayak yang gue kira. Dia lebih kuat dari yang dia pikir."
Aini tersenyum kecil di belakangnya. "Aku juga mikir gitu."
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Tapi bukan diam yang canggung. Diam yang nyaman. Diam dua bersaudara yang sudah terlalu lama tidak berbicara, tapi masih bisa saling mengerti tanpa kata-kata.
~•~•~•~
Perpustakaan kota masih sepi ketika mereka tiba. Bangunannya tua tapi terawat—peninggalan kolonial yang diubah menjadi ruang baca modern. Jam buka baru saja lewat, dan hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di meja-meja panjang dengan buku terbuka di hadapan mereka.
Bima dan Faris sudah sampai duluan. Mereka duduk di meja pojok dekat jendela besar yang membiarkan cahaya pagi masuk dengan leluasa. Faris sedang menggambar sesuatu di buku sketsanya—sepertinya gedung perpustakaan dengan detail jendela dan pilar-pilarnya. Bima sibuk dengan ponselnya, tapi begitu melihat Elang dan Aini, ia langsung melambai.
"LANG! AI! SINI!"
"Suara lo, Bim." Elang mendekat, diikuti Aini yang tertawa kecil.
"Perpus masih kosong. Gapapa." Bima menyeringai. "Azril belom dateng. Katanya masih di jalan."
Mereka duduk. Elang di samping Bima, Aini di samping Faris. Gadis itu melirik ke arah buku gambar Faris.
"Wah, gambar perpusnya bagus banget, Ris."
Faris mendongak, lalu melanjutkan gambarnya. Tapi Elang memperhatikan bahwa sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Lo gambar gue juga dong, Ris," Bima menyahut.
Faris menulis di notebook-nya:
[Nanti. Kalo lo udah gak heboh sendiri.]
"Gue heboh itu karunia!"
"Bencana maksud lo."
Bima memukul lengan Elang pelan. Mereka semua tertawa—bahkan Faris, dengan suara pelan yang sudah mulai terdengar lebih sering belakangan ini.
Elang memperhatikan mereka. Tawa ini. Ringan. Alami. Seperti tidak ada beban yang menggantung di atas kepala mereka. Ia iri pada kemampuan mereka untuk tetap tertawa, meskipun—
Ia mengalihkan pandangan. Dan di saat itu juga ia melihatnya.
Seorang pria duduk di meja jauh. Bukan siswa—terlalu tua. Mungkin mahasiswa, mungkin sudah bekerja. Rambutnya pendek, rapi. Kacamata tipis. Pakaian kasual: kemeja biru tua dan celana jeans. Di hadapannya ada sebuah buku tebal yang terbuka.
Tapi matanya tidak pada buku itu.
Matanya melirik ke arah mereka.
Elang menegang. Ia tidak langsung bereaksi. Ia belajar dari pengalaman—dari bertahun-tahun di jalanan bersama geng—bahwa reaksi berlebihan hanya akan membuat segalanya lebih buruk. Jadi ia hanya menoleh pelan, kembali ke percakapan, sementara sudut matanya terus mengawasi.
Pria itu tidak melakukan apa-apa selama lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.
Mungkin hanya pengunjung biasa, pikir Elang. Mungkin gue terlalu curiga.
Tapi kemudian ia melihatnya lagi. Pria itu berdiri, berjalan ke rak buku di samping mejanya—rak yang kebetulan lebih dekat dengan meja mereka. Tangannya menarik sebuah buku, tapi matanya kembali melirik. Sekilas. Cepat. Tapi cukup untuk membuat Elang yakin.
Pria itu memperhatikan Aini.
"Ai," Elang berkata pelan.
"Iya, Kak?"
"Tukar posisi sama Faris."
Aini mengernyit. "Kenapa?"
"Tuker aja."
Aini dan Faris bertukar tempat. Kini Aini duduk di posisi yang lebih tersembunyi dari pandangan rak buku. Bima menatap Elang dengan alis terangkat, tapi tidak bertanya. Ia sudah cukup lama mengenal Elang untuk tahu bahwa ekspresi itu berarti "ada sesuatu."
Tak lama kemudian, Azril tiba. Wajahnya sedikit berkeringat, kacamatanya yang masih retak di sudut kiri bertengger di hidung.
"Sorry telat. Tadi bantuin Dinda dulu."
"Gapapa, Zril. Lo duduk sini." Bima menepuk kursi di sampingnya. "Kita baru aja mulai."
Mereka mengobrol ringan. Tentang buku yang dibaca Aini. Tentang gambar Faris yang hampir selesai. Tentang rencana Bima untuk berlatih sepak bola sore nanti. Azril sesekai tertawa. Faris menulis komentar-komentar kering yang membuat semua orang tersenyum. Aini duduk di dekat jendela, cahaya pagi menerpa wajahnya.
Dan Elang... Elang terus mengawasi.
Pria itu masih di sana. Masih di rak yang sama. Kini ia memegang dua buku, tapi halamannya tidak berubah sejak tadi. Ia tidak membaca. Ia hanya... menunggu.
Satu jam berlalu. Mereka memutuskan untuk istirahat makan siang di kantin sekitar. Bima sudah berdiri duluan, mengajak Faris dan Azril untuk memesan makanan duluan.
"Lang, lo gak ikut?"
"Nyusul. Gue sama Aini bentar."
Bima mengangguk, mengerti. Ia menarik lengan Azril dan Faris, dan mereka bertiga berjalan menuju kantin.
Kini hanya Elang dan Aini di meja itu.
"Ai."
"Iya?"
"Orang itu. Yang di rak buku. Lo kenal?"
Aini menoleh pelan, matanya mencari. Ketika menemukan pria itu—masih di sana, masih dengan buku yang sama—wajahnya berubah. Sedikit pucat.
"Aku... aku pernah liat dia sebelumnya."
"Kapan?"
"Beberapa kali. Di dekat sekolah. Waktu pulang. Aku kira cuma kebetulan." Suaranya mulai bergetar. "Kak... dia ngikutin aku?"
Elang tidak menjawab langsung. Ia menatap pria itu. Pria itu—seolah merasakan tatapan—akhirnya menutup bukunya. Ia berjalan ke meja, membereskan barang-barangnya, lalu keluar dari perpustakaan.
Tanpa menoleh.
"Mulai sekarang, lo gak boleh sendirian."
"Kak—"
"Ai." Suara Elang lebih tegas sekarang. "Ini bukan permintaan."
Aini menatap kakaknya. Ada sesuatu dalam mata Elang yang jarang ia lihat—ketakutan. Bukan ketakutan pada dirinya sendiri, tapi ketakutan pada sesuatu yang bisa terjadi pada adiknya.
"Iya, Kak. Aku ngerti."
Elang mengangguk. Ia berdiri. "Ayo, kita ke kantin. Yang lain nunggu."
Aini mengikutinya. Tapi sebelum mereka sampai ke kantin, Aini tiba-tiba berbicara lagi.
"Kak."
"Ya?"
"Tentang Azril..."
Elang berhenti. Ia menoleh, menatap adiknya.
"Aku... aku suka sama dia, Kak." Suara Aini bergetar, tapi ia melanjutkan. "Maksudku... aku udah lama suka sama dia. Sejak dia pertama kali pindah. Aku gak tau kenapa. Dia pendiem. Dia suka nyembunyiin diri. Tapi dia... dia berbeda."
Elang tidak langsung menjawab. Ia menatap adiknya—adik yang dulu masih kecil, yang dulu menangis saat ia pulang terluka, yang dulu takut padanya saat ia masih di geng. Sekarang adiknya sudah besar. Sudah berani mengakui perasaannya.
"Apa dia tau?"
"Belum."
"Kenapa gak kasih tau?"
"Aku takut." Aini menunduk. "Aku takut semuanya berubah. Aku takut... persahabatan kita berubah."
Elang menghela napas. Ia meletakkan tangan di bahu adiknya. "Ai, lo denger gue."
Aini mendongak.
"Gue gak bisa ngatur perasaan lo. Gue gak bisa bilang 'jangan suka sama dia' atau 'suka aja sama dia.' Itu urusan lo." Ia berhenti sejenak. "Tapi gue cuma mau lo tau satu hal."
"Apa?"
"Azril... dia baik. Dia lebih kuat dari yang dia kira. Dan dia..." Elang menatap ke arah kantin, di mana Azril sedang tertawa mendengar lelucon Bima. "Dia udah jadi bagian dari kita. Dari keluarga kita."
Aini menatap kakaknya. Matanya berkaca-kaca.
"Jadi kalo lo suka sama dia," Elang melanjutkan, "lo harus jujur sama diri sendiri. Sama dia juga. Nanti, kalo lo udah siap. Tapi jangan karena takut."
"Kak..."
"Tapi kalo dia nyakitin lo," mata Elang menyipit, "gue pastiin dia berurusan sama gue."
Aini tertawa kecil. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya. "Kakak jahat."
"Itu bukan ancaman. Itu janji."
Mereka berdua berdiri di lorong perpustakaan yang sepi. Kakak dan adik. Yang satu mantan anggota geng yang mencoba berubah. Yang satu Ketua OSIS yang sedang jatuh cinta. Dua orang yang sudah terlalu lama tidak berbicara dari hati ke hati.
"Makasih, Kak."
"Udah. Jangan nangis."
"Aku gak nangis."
"Itu mata lo udah berkaca-kaca."
"Ini alergi."
"Alergi apa?"
"Alergi kakak yang tiba-tiba jadi bijak."
Elang hampir tersenyum. Hampir.
~•~•~•~
Kantin perpustakaan ternyata lebih ramai dari yang mereka kira. Tapi mereka berhasil mendapatkan meja di sudut—dekat jendela, seperti biasa.
Bima sudah menghabiskan setengah piring nasi gorengnya. Faris makan bekal dengan tenang. Azril membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi. Begitu melihat Elang dan Aini mendekat, Bima langsung melambaikan sendoknya.
"Lama banget! Kirain kalian diculik!"
"Macet," Elang menjawab datar, duduk di sampingnya.
"Macet di perpus?!"
"Macet otak lo."
Mereka semua tertawa. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—Elang merasa normal. Seperti tidak ada ancaman. Seperti tidak ada amplop putih bertinta merah. Seperti tidak ada pria asing yang mengawasi adiknya.
Tapi ia tahu perasaan ini tidak akan bertahan lama.
~•~•~•~
Mereka menghabiskan sisa siang itu dengan berbincang ringan. Bima bercerita tentang rencananya mengikuti seleksi tim sepak bola kota—"siapa tau bisa jadi batu loncatan," katanya. Faris menunjukkan gambar perpustakaannya yang sudah selesai—detail pilar dan jendelanya begitu hidup hingga Aini memujinya berkali-kali. Azril berbicara tentang buku yang ia baca, dan Aini menyahut dengan pendapatnya sendiri.
Elang lebih banyak diam. Tapi diamnya bukan lagi diam yang dingin dan menolak. Ini diam yang hangat. Diam seseorang yang mendengarkan.
Sore harinya, mereka berpisah. Bima pamit duluan—ia ada janji dengan mamahnya. Faris ikut Bima karena rumah mereka searah. Azril menawarkan untuk mengantar Aini pulang, sekalian mau mampir ke toko buku—"cuma lihat-lihat," katanya.
Elang menatap Azril. Tatapan yang sulit diartikan.
"Jaga dia," katanya singkat.
Azril mengangguk. "Pasti."
Elang menyalakan motornya. Aini melambai dari boncengan motor Azril. Ketika mereka berdua melaju pergi, Elang masih berdiri di tempatnya. Menatap sampai mereka menghilang di tikungan.
Ia tidak tahu apakah ia sudah siap melepaskan adiknya. Ia tidak tahu apakah Azril adalah orang yang tepat. Tapi ia tahu satu hal: adiknya bahagia. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Malamnya, Elang duduk di kamar kontrakannya. Dua kertas terlipat di balik bantal. I want to change. I am changing.
Ia meraih pulpen dan secarik kertas baru.
Pikirannya melayang ke percakapan dengan Aini tadi. Ke kepercayaan yang diberikan adiknya padanya. Ke Azril yang menatapnya dengan tatapan yang anehnya bisa ia percaya. Ke Bima yang selalu membuat semua orang tertawa meskipun hidupnya sendiri tidak mudah. Ke Faris yang terus berjuang melawan ketakutannya sendiri.
Ia menulis.
I will protect them.
Tinta itu mengering perlahan. Elang melipat kertas itu, lalu menyelipkannya di balik bantal. Di samping dua kertas lainnya.
I want to change.
I am changing.
Kini genap tiga. Tiga kertas. Tiga tahap.
Dulu ia pikir perubahan adalah tentang dirinya sendiri—tentang menjadi lebih baik, tentang meninggalkan masa lalu. Tapi sekarang ia sadar: perubahan adalah tentang orang-orang di sekitarnya. Tentang adiknya. Tentang teman-temannya. Tentang orang-orang yang memilih untuk percaya padanya.
Dan ia akan melindungi mereka. Apapun yang terjadi.
Ponselnya bergetar. Grup "Empat."
Azril: Besok gue mau ngomong sesuatu. Soal Aini.
Elang: Apa?
Azril: Aini cerita sesuatu kemarin. Pesan aneh yang dia terima tanggal 13 Agustus.
Bima: Pesan apa?
Azril: Seseorang cemburu karena dia deket sama gue. Orang itu ngirim pesan: "Apa lo suka sama Azril? Jawab!"
Jeda panjang.
Elang: 13 Agustus? Itu hari pertama gue liat kalian berdua bareng.
Azril: Iya. Gue juga baru sadar. Orang ini... udah ngawasin Aini dari sebelum semuanya dimulai.
Bima: Jadi ini bukan cuma soal amplop. Ada yang ngincer Aini juga.
Elang: Mulai sekarang, Aini gak boleh sendirian.
Faris: Aku bisa bantu jagain.
Azril: Gue juga. Elang: Bima?
Bima: Besok gue yang anterin dia. Abis itu lo, Lang. Abis itu Azril. Kita giliran.
Elang menatap layar ponselnya. Grup "Empat." Empat orang yang berjanji untuk melindungi satu orang. Empat orang yang dulu tidak saling kenal, sekarang menjadi keluarga.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Rintik-rintik membentur jendela. Elang menatap bayangannya sendiri di kaca yang mulai buram.
I will protect them.
TBC