Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Naga Api dan Perisai Es
Archive Zero
Bab 17 — Naga Api dan Perisai Es
Suasana di dataran luas itu berubah drastis. Kabut debu yang tadinya menutupi pandangan perlahan lenyap tersapu oleh angin panas yang keluar dari tubuh Jenderal Ignis. Di belakangnya, siluet naga raksasa yang terbuat dari api murni terus membesar, kepalanya mengangkat tinggi ke langit, menyemburkan asap panas yang membuat udara di sekitarnya bergelombang dan berbau belerang.
Pasukan musuh yang tadi mundur karena kaget kini kembali berkumpul di belakang pemimpin mereka. Semangat mereka yang sempat runtuh kembali bangkit, melihat kekuatan dahsyat yang dimiliki Jenderal mereka. Sorak-sorai bergema, memanggil-manggil nama Ignis seolah ia adalah dewa perang yang tak terkalahkan.
Di atas bukit, napas Ren masih terengah-engah, kakinya sedikit gemetar karena tenaga yang telah ia keluarkan habis-habisan untuk serangan tadi. Tapi saat ia melihat sosok Ignis yang berdiri tegak tak tergoyahkan itu, rasa lemas itu berubah menjadi ketegangan yang tajam. Ia sadar sepenuhnya: lawan yang sesungguhnya baru saja menampakkan wujud aslinya.
"Kalian mundur sedikit ke belakang," perintah Ren pelan namun tegas, matanya tak sedetik pun melepaskan pandangan dari sosok jenderal itu. "Dia beda dari yang lain. Tenaganya bukan sekadar besar... dia menguasai energi itu sepenuhnya, sama seperti aku. Bahkan mungkin lebih lama dan lebih dalam pemahamannya."
Kai menggeleng keras, menolak. Ia tidak beranjak selangkah pun dari sisi Ren, jari-jarinya bergerak cepat mengatur ulang pola jaringan energi di sekitar mereka.
"Jangan bermimpi. Aku baru saja memetakan aliran tenaganya. Dia kuat, tapi dia punya kelemahan. Energi apinya terlalu padat, terlalu pekat, dan terlalu agresif. Dia membakar segala sesuatu di sekitarnya, termasuk keseimbangan alam. Itu berarti... dia tidak stabil. Dan ketidakstabilan adalah tempat kerjaku."
Anya melangkah maju, berdiri di sisi kiri Ren. Tubuhnya kini dikelilingi lapisan es yang berkilauan, membentuk baju zirah alami yang rapat dan kokoh. Udara dingin yang ia pancarkan bertemu dengan gelombang panas dari bawah sana, menciptakan awan uap putih yang berputar di tengah dataran, seolah dua kekuatan alam sedang beradu dalam tarian maut.
"Api dan Es selalu berlawanan, Ren," ucap Anya tenang, suaranya dingin namun penuh keyakinan. "Dia adalah api terbesar, maka aku akan menjadi es terkeras. Dia ingin membakar dunia ini? Aku akan membekukannya sampai ke intinya. Kita bekerja sama seperti dulu. Kau atur alirannya, aku tahan serangannya, dan Kai cari celahnya."
Ren menatap kedua sahabatnya itu, merasakan kehangatan yang mengalir di dada di tengah situasi yang mengerikan ini. Di saat seperti ini, di ambang kematian dan kehancuran, ikatan mereka justru semakin kuat dan tak terputuskan.
"Baiklah," jawab Ren, rahangnya mengeras kembali, cahaya ungu mulai menyala lagi dari tubuhnya, kali ini lebih terkontrol, lebih tenang namun jauh lebih dalam. "Kita perlihatkan padanya... apa arti kekuatan yang seimbang."
Di bawah sana, Jenderal Ignis tertawa keras, suaranya menggelegar hingga tanah bergetar. Ia mengangkat pedang apinya tinggi-tinggi ke langit. Cahaya merah menyala begitu terang hingga menyaingi sinar matahari, membuat bayangan panjang terlempar ke arah bukit tempat mereka berdiri.
"Indah sekali mendengar keberanian anak-anak kecil!" seru Ignis mengejek. "Kalian berpikir dengan sedikit trik dan sedikit kekuatan warisan, kalian bisa menghentikan pasukan Kerajaan Utara? Kalian berpikir bisa menghentikan aku? Aku telah menaklukkan benua utara, aku telah membakar ribuan kota, dan aku telah menelan api neraka itu sendiri! Kalian hanyalah nyamuk yang berani berdiri di jalan gajah!"
Ia menunjuk tajam ke arah Ren.
"Kau, Pewaris Aran! Kau memegang kunci keseimbangan, kau memegang kekuatan alam... tapi kau masih anak-anak dalam hal penggunaannya! Kau membiarkan energimu mengalir ke mana saja, kau membuang tenagamu untuk hal yang tidak perlu! Lihatlah aku!"
Ignis menebas pedangnya ke udara. Seketika itu juga, naga api raksasa di belakangnya bergerak, melompat ke depan dengan kecepatan mengerikan, menyambar tanah di depannya dan membakar segala sesuatu yang tersentuhnya menjadi abu. Panasnya begitu dahsyat hingga rumput-rumput di lereng bukit bagian bawah langsung layu dan menjadi hitam gosong.
"Aku tidak membiarkan energiku mengalir!" seru Ignis lagi. "Aku mengikatnya! Aku memadatkannya! Aku memaksanya menjadi senjata! Itulah perbedaan antara kami dan kalian! Kalian berbicara tentang kedamaian dan keseimbangan, tapi kami... kami berbicara tentang kekuasaan dan kekuatan mutlak!"
Naga itu mengangkat kepalanya, mulutnya terbuka lebar, dan bola api raksasa seukuran rumah mulai terbentuk di sana, berdenyut ganas siap dilontarkan ke atas bukit.
"Nikmati sambutan hangatku! HANCURKAN MEREKA, NAGA API!"
WUUSHHH!!
Bola api itu melesat ke atas, meninggalkan jejak merah menyala yang membakar udara, meluncur lurus dan cepat menuju puncak bukit.
"MENYINGKIRLAH!" teriak Anya. Ia melompat maju, kedua tangannya mengarah ke serangan itu. Dari tubuhnya, gelombang es raksasa meluncur keluar, beradu tepat di tengah udara dengan bola api itu.
DUARRR!!
Ledakan besar terjadi di ketinggian, memecah langit menjadi warna merah dan putih yang menyilaukan. Gelombang kejutnya mendorong rumput dan bebatuan di bukit ke segala arah. Uap putih mengepul tebal menutupi pandangan sementara waktu.
Saat uap itu mereda, terlihatlah hasil pertarungan itu. Bola api raksasa itu tidak hancur, tapi terbungkus lapisan es tebal yang menahannya agar tidak meledak. Namun, es itu terus mendesis dan menipis dengan cepat karena panas yang luar biasa di dalamnya.
"Aku tidak bisa menahannya lama!" seru Anya, kakinya merosot sedikit ke belakang karena tekanan berat. Pembuluh darah di dahinya menonjol, wajahnya pucat, tapi tangannya tetap tegak tak bergeming. "Panasnya... panasnya bukan main! Dia memampatkan energi api itu sampai batas maksimal!"
Ren langsung bertindak. Ia melompat ke samping Anya, meletakkan tangannya di punggung gadis itu. Cahaya ungu dari tubuhnya mengalir masuk ke dalam diri Anya, menambah tenaga, menstabilkan aliran energinya, dan memperkuat struktur es yang ia bentuk.
"Aku ada di sini, Anya! Aku yang akan menjadi fondasinya! Kau fokus saja mendinginkannya!" seru Ren lantang.
Cahaya ungu itu bercampur dengan cahaya biru es, menciptakan warna ungu kebiruan yang indah namun mematikan di udara. Lapisan es itu kembali menebal, menahan bola api itu agar tidak meledak di dekat mereka.
Di belakang mereka, Kai bekerja secepat kilat. Ia melihat bagaimana Ignis memampatkan energinya. Ia melihat celah yang dikatakan Anya — ketidakstabilan. Semakin padat energi itu, semakin besar keinginannya untuk meledak dan menyebar. Ignis menahannya dengan kekuatan kemauan dan latihan belaka, tapi itu berarti ia tidak bisa bergerak leluasa, dan setiap serangannya membawa risiko melukai dirinya sendiri.
"Ren! Anya! Dengar!" teriak Kai di sela-sela hiruk-pikuk suara desisan api dan retakan es. "Dia memampatkan tenaganya untuk serangan besar! Dia mengandalkan kekuatan murni untuk menghancurkan pertahanan kita! Tapi kalau kita bisa membuat dia mengeluarkan tenaga terlalu banyak, atau membuat dia menyerang terlalu cepat... dia akan kehilangan kendali! Energi apinya akan memakan dirinya sendiri!"
Ren mengerti. Rencana mereka berubah. Bukan lagi menahan, tapi memancing.
"Kai! Buat dia marah! Buat dia menyerang habis-habisan!" perintah Ren.
Kai menyeringai lebar. Ia langsung berteriak sekeras-kerasnya ke bawah sana, suaranya diperkuat oleh alat di lengannya agar terdengar jelas sampai ke telinga Jenderal itu.
"Hei, Jenderal Besar yang hebat! Itu saja kemampuanmu? Kami belum bahkan berkeringat sedikit pun! Kau bilang kau penguasa api? Rasanya panas ini sama hangatnya dengan napas anak kecil saja!"
Ejekan itu langsung kena sasaran.
Wajah Ignis yang keras dan dingin seketika berubah merah padam karena marah. Matanya menyala nyalang menatap ke atas bukit, menatap Kai yang melambaikan tangan mengejek.
"Kau berani... kau berani menghina api milikku?!" raung Ignis, amarahnya meluap-luap. Ia tidak tahan dihina, terbiasa dipuji dan ditakuti oleh semua orang. "Baiklah! Kalian ingin merasakan panas yang sesungguhnya? Kalian akan terbakar sampai menjadi debu yang paling halus sekalipun!"
Ignis mengangkat kedua tangannya ke langit kali ini. Naga api di belakangnya mengaum panjang, tubuhnya membesar dua kali lipat, membentangkan sayap raksasa yang menutupi matahari, membuat bayangan hitam besar menutupi seluruh dataran. Panas di sekitarnya naik berkali-kali lipat, sampai-sampai tanah di bawah kakinya meleleh menjadi lahar cair berwarna merah terang.
"Aku akan gunakan seluruh cadangan tenagaku! Serangan terkuatku! BOLA MATAHARI NAGA!"
Di langit di atas kepala Ignis, bola api raksasa lain mulai terbentuk. Kali ini ukurannya jauh lebih besar, jauh lebih terang, dan jauh lebih panas daripada yang sebelumnya. Cahayanya begitu menyilaukan hingga siapa pun yang melihatnya harus memejamkan mata. Energi di sekitarnya berputar kacau, tersedot masuk ke dalam bola itu, membuat angin kencang berhembus turun ke arahnya.
"Dia gila!" teriak Kai, matanya melotot melihat ukuran serangan itu. "Dia mengumpulkan seluruh energi di wilayah ini! Dia tidak peduli lagi apakah dia akan selamat atau tidak! Dia hanya ingin menghancurkan kita!"
Ren menatap bola api raksasa itu, lalu menatap Anya yang sudah bersiap mengerahkan seluruh tenaganya lagi. Tapi Ren tahu, kali ini Anya tidak akan sanggup menahannya sendirian meski dibantu tenaganya. Serangan ini terlalu besar, terlalu padat, dan terlalu ganas.
Namun, di tengah kekacauan itu, Ren melihatnya.
Saat Ignis mengerahkan seluruh tenaganya, saat ia memusatkan segala kekuatannya ke atas langit... pertahanan di sekeliling tubuhnya menjadi lemah. Ia mengorbankan perlindungan dirinya demi kekuatan serangan. Dan lebih dari itu... Ren bisa merasakan betapa tidak stabilnya energi di dalam bola api itu. Ia bergetar hebat, ingin meledak kapan saja, dikendalikan hanya oleh kemauan keras Ignis yang dipenuhi amarah.
"Kai! Siapkan pemantul energi! Di titik paling atas bukit itu!" perintah Ren cepat, suaranya tajam dan penuh perhitungan.
Kai menoleh bingung. "Pemantul? Kau mau apa?"
"Aku tidak akan menangkis serangan itu, Kai! Aku akan mengubah arahnya!" seru Ren sambil melesat meninggalkan sisi Anya, berlari menuju puncak tertinggi bukit. "Kau bilang dia tidak stabil kan? Kalau aku bisa membelokkan serangan raksasa itu tepat kembali ke arahnya... dia tidak akan sempat mengubahnya lagi! Tenaganya sendiri yang akan menghancurkan dia!"
Anya terkejut. "Tapi Ren... tenaganya terlalu besar! Kalau kau salah sedikit saja, kita semua ikut hancur!"
Ren berhenti di puncak bukit, berbalik menatap mereka berdua dengan senyum tegas.
"Kita tidak punya pilihan lain. Percayalah padaku. Seperti dulu... kita selalu menemukan jalan keluarnya. Anya! Terus pertahankan pertahananmu, buat dia berpikir kita sedang berusaha menahannya! Kai! Pasang pemantulnya SEKARANG!"
Tanpa menunggu jawaban, Ren mengangkat kedua tangannya ke langit. Seluruh energi ungu di dalam dirinya meledak keluar, membentuk jaring-jaring cahaya yang luas, menjalar ke langit, bersiap menangkap bola api raksasa itu saat diluncurkan.
Kai menggerakkan tangannya dengan kecepatan dan ketangkasan luar biasa, memasang perangkat pemantul yang ia bawa, mengkalibrasinya secepat mungkin, keringat bercucuran deras di wajahnya.
"Selesai! Siap diaktifkan!" teriak Kai akhirnya.
Di bawah sana, Ignis sudah tidak sabar lagi. Amarah dan kekuatan yang meluap-luap sudah tak bisa ditahan. Ia menggerakkan kedua tangannya ke depan dengan sekuat tenaga.
"HANCURKAN MEREKA! RASAKAN PEMBAKARAN ABADI!"
Bola api seukuran bukit itu meluncur turun dengan kecepatan cahaya, menghantam langit dan bumi, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Semua makhluk di dataran itu merunduk ketakutan, merasakan akhir zaman telah tiba.
Saat serangan raksasa itu tinggal beberapa puluh meter lagi dari puncak bukit... Ren berteriak sekuat tenaganya, memfokuskan seluruh kekuatan hidupnya ke jaring cahaya ungu itu.
"SEKARANG! PANTULKAN!"
ZUUUUUMMM... DUAARRR!!!
Jaring cahaya ungu itu menangkap bola api raksasa itu tepat sasaran. Dampaknya begitu hebat hingga lutut Ren tertekuk ke bawah, tanah di kakinya retak dan amblas, darah menetes dari hidungnya karena tekanan yang luar biasa. Tapi ia tidak melepaskannya. Dengan kekuatan alam yang mengalir deras di dalam dirinya, ia memutar arah bola api itu, mengubah lintasannya dari menuju ke bawah menjadi melengkung tajam kembali ke arah asalnya.
Di saat yang sama, Kai menekan tombol pemantul. Gelombang cahaya halus memperkuat belokan itu, membuat lintasan itu tak terubah lagi.
Bola api raksasa itu, penuh amarah, penuh kekuatan, penuh kehancuran... berbalik arah dan meluncur kembali ke bawah, lurus ke arah Jenderal Ignis yang masih berdiri tegak dengan senyum kemenangan yang belum sempat hilang dari wajahnya.
Mata Ignis membelalak lebar, penuh ketidakpercayaan dan teror saat ia menyadari apa yang terjadi. Ia tidak sempat menghentikan serangannya, tidak sempat membelokkannya lagi, tidak sempat lari. Tenaganya sendiri yang sudah ia keluarkan habis-habisan kini datang kembali menagih nyawanya.
"TIDAAAAAKKK!!"
Teriakannya tertelan oleh ledakan dahsyat yang mengguncang seluruh dataran hingga ke dasar bumi.
DUAARRRRR!!!!!!!!
Kilatan merah dan putih menyilaukan memenuhi pandangan. Gelombang kejut mendorong debu, tanah, dan pasukan musuh ke segala arah bagai badai dahsyat. Naga api raksasa itu hancur berkeping-keping menjadi percikan api yang mati seketika. Di tengah awan jamur debu yang menjulang tinggi ke langit, tidak ada lagi tanda kehidupan. Tidak ada lagi Jenderal Agung Ignis. Ia lenyap, ditelan oleh kekuatannya sendiri yang tak terkendali.
Hening sejenak menyelimuti medan pertempuran.
Perlahan-lahan, debu turun kembali. Pasukan Kerajaan Utara yang tersisa, ribuan prajurit yang tadinya begitu percaya diri dan ganas, kini berdiri diam terpaku, gemetar ketakutan. Pemimpin terkuat mereka, jenderal yang dianggap dewa perang, dikalahkan dan dimusnahkan dalam sekejap mata oleh pemuda di atas bukit itu.
Ketakutan mulai menyebar di barisan mereka. Kepercayaan diri mereka runtuh total.
Ren jatuh berlutut di tanah, napasnya tersengal-sengal berat,
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"