LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Teriakan di ruang kelas, Runtuhnya Dunia Marelvin
Waktu berlalu begitu cepat, layaknya air sungai di desa yang tak pernah berhenti mengalir, mengikis batu-batu kecil hingga menjadi halus. Lima belas tahun telah berlalu sejak hari perpisahan mengharukan di bawah pohon rambutan itu. Kini, Sabiru Naverlla Azzura bukan lagi bayi mungil yang digendong Allbiru kecil, melainkan seorang gadis SMA yang cantik nan anggun, dengan mata sebening air sungai dan senyum sehangat matahari pagi. Begitu pula dengan Allbiru Sky Kalangga, yang kini lebih akrab dipanggil Allbiru oleh teman-temannya. Ia telah tumbuh menjadi pemuda tinggi tegap, dengan tatapan mata yang tajam namun selalu melembut saat tertuju pada Sabiru.
Mereka bersekolah di SMA Nusa Bangsa, sekolah bergengsi yang sama dengan tempat Rania dan Aldo dulu menimba ilmu. Di sana, mereka dikenal sebagai duo kakak-adik yang tak terpisahkan. Allbiru selalu berjalan dua langkah di depan Sabiru, memastikan jalan aman, sementara Sabiru selalu tersenyum malu-malu mengikuti jejak kakaknya. Namun, di balik keharmonisan itu, ada awan gelap yang mulai berkumpul.
Namanya Marelvin. Siswa pindahan dari kota sebelah yang terkenal dengan arogansinya. Anak orang kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang dan ancaman. Sejak pertama kali melihat Sabiru di kantin, Marelvin terpaku. Bukan karena kekaguman tulus, melainkan keinginan memiliki yang obsesif. Ia mulai mengirimkan pesan-pesan aneh, menunggu Sabiru di lorong sepi, dan bahkan mencoba menyentuh lengan gadis itu secara tidak sopan beberapa kali. Sabiru, yang lembut hatinya, hanya bisa diam dan menghindar, takut membuat keributan yang akan menyakiti hati ibu angkatnya, Rania, atau ibu kandungnya, Malia, yang kini sudah tinggal bersama mereka dan bekerja sebagai pengelola taman bunga di rumah.
Siang itu, langit Jakarta tampak mendung kelabu, seolah menahan napas menunggu badai. Jam pelajaran terakhir baru saja usai, namun kelas XI IPA 2 masih ramai. Guru belum datang, dan siswa-siswa memanfaatkan waktu luang itu untuk bercanda, tidur, atau bermain gawai. Suasana riuh rendah terdengar sampai ke koridor.
Sabiru duduk di bangku paling belakang, dekat jendela. Ia mencoba membaca buku, tapi matanya terus melirik ke arah pintu dengan cemas. Marelvin baru saja masuk beberapa menit lalu, senyum licik yang membuat bulu kuduk Sabiru berdiri. Teman-teman sekelasnya sudah mulai pulang satu per satu, meninggalkan Sabiru yang terjebak sendirian dengan Marelvin dan dua teman dekatnya yang duduk di barisan depan.
"Sabi... kenapa sih aku terus?" suara Marelvin terdengar serak, ia berdiri dan perlahan mendekati meja Sabiru. "Aku cuma mau ajak kamu jalan sore ini. Nonton bioskop, makan di restoran mahal. Ayahku bisa beliin kamu apa saja."
"T-tidak, Vin. Aku nggak bisa. Kak Allbiru tungguin aku di parkiran," jawab Sabiru gugup, tangannya gemetar memegang tasnya. Ia berusaha berdiri, tapi Marelvin dengan cepat menghalangi jalannya, menumpukan kedua tangan di atas meja, mengurung Sabiru.
"Ah, si Kakak protektif itu lagi," ejek Marelvin sinis. Wajahnya semakin dekat, napasnya berbau rokok murah yang menusuk hidung Sabiru. "Dia cuma anak angkat, Sabi. Kamu tahu kan? Kalian nggak punya darah yang sama. Jadi, nggak ada yang salah kalau kita... dekat-dekat sedikit, kan?"
Tangan Marelvin tiba-tiba terulur, mencoba meraih pinggang Sabiru. "Jangan! Lepasin!" teriak Sabiru panik, mendorong bahu Marelvin sekuat tenaga. Air matanya mulai menetes. Rasa jijik dan takut membuncah di dadanya. Ingatan samar tentang cerita ibunya mengenai bahaya laki-laki jahat berputar di kepalanya.
"Nggak usah pura-pura suci!" geram Marelvin, cengkeramannya semakin kuat. Ia menarik lengan Sabiru hingga gadis itu terhuyung dan hampir jatuh dari kursinya. "Kamu tahu siapa aku? Jangan macam-macam!"
Tiba-tiba, pintu kelas terbanting terbuka dengan suara keras yang menggetarkan kaca jendela. BRAK!
Semua kepala menoleh. Di ambang pintu, berdiri Allbiru. Wajahnya merah padam karena amarah, dadanya naik turun menahan napas berat. Matanya yang biasanya teduh kini menyala seperti bara api, menatap lurus ke arah Marelvin yang masih mencengkeram lengan Sabiru. Di tangan kanannya, Allbiru memegang mikrofon wireless yang biasa digunakan guru untuk presentasi—barang yang tadi sempat ia ambil dari meja guru karena niat awalnya ingin mengumumkan jadwal piket.
"Marelvin..." suara Allbiru rendah, namun getarannya terasa mencekam seluruh ruangan. "Lepaskan dia. Sekarang."
Marelvin tertawa meremehkan, meski cengkeramannya sedikit longgar karena kaget. "Wah, si Kakak Pahlawan datang. Mau apa kamu? Mau lapor guru? Silakan, aku punya uang, aku bisa beli sekolah ini!"
Allbiru tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu kelas di belakangnya hingga terkunci. Langkahnya tegas, setiap hentakan kakinya di lantai keramik terdengar seperti detak jam kematian bagi Marelvin. Ia berjalan menuju podium guru di depan kelas, menyalakan pengeras suara. Suara dengung feedback mikrofon memekakkan telinga, membuat seluruh siswa yang tersisa terdiam ketakutan.
"Perhatian semua!" teriak Allbiru melalui mikrofon, suaranya menggema ke seluruh koridor sekolah yang sunyi. "Saya, Allbiru Sky Kalangga, ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting sebelum kalian pulang!"
Marelvin terlihat gelisah. "Hei, apa-apaan ini? Matiin mic-nya!" Ia mencoba maju, tapi dua teman Allbiru yang kebetulan baru masuk langsung menahan bahunya.
Allbiru mengabaikan teriakan itu. Ia menatap tajam ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut kelas, lalu kembali menatap Marelvin dengan tatapan menghakimi. "Selama ini, banyak dari kalian mungkin menganggap Marelvin sebagai teman yang asyik, anak orang kaya yang dermawan. Tapi hari ini, saya akan membuka topeng asli pria rendahan ini!"
Suasana hening total. Bahkan guru-guru di ruang tata usaha mulai berlari keluar mendengar teriakan Allbiru.
"Marelvin baru saja mencoba melecehkan Sabiru Naverlla Azzura, adik angkat saya, di dalam kelas ini!" teriak Allbiru, suaranya bergetar karena emosi yang memuncak. "Ia memaksakan kehendak, menyentuh tubuhnya tanpa izin, dan mengancamnya! Ini bukan sekadar bercanda, ini adalah kejahatan seksual! Dan saya punya buktinya!"
Allbiru mengangkat ponselnya, menampilkan rekaman video yang ternyata sudah ia aktifkan sejak ia berdiri di depan pintu. Layar proyektor di kelas menyala, memperlihatkan jelas wajah Marelvin yang sedang mencengkeram Sabiru dan ucapan-ucapan kotor yang baru saja ia lontarkan.
"Wajahmu sudah terekam, Vin. Suaramu sudah terdengar satu sekolah. Tidak ada uang ayahmu yang bisa menghapus fakta ini!" Allbiru menurunkan mikrofon, menatap Marelvin yang kini wajahnya pucat pasi, lututnya lemas hingga hampir jatuh terduduk. "Saya sudah menghubungi polisi dan pihak keamanan sekolah. Tunggu saja proses hukumnya. Kamu akan keluar dari sekolah ini dengan status kriminal, bukan sebagai siswa berprestasi!"
Beberapa menit kemudian, Pak Kepala Sekolah dan dua petugas keamanan berseragam masuk dengan wajah serius. Mereka langsung menggiring Marelvin yang menangis memohon ampun keluar dari kelas. Sorak sorai lega terdengar dari siswa-siswa yang menonton dari balik jendela kelas. Sabiru, yang masih terduduk lemas, akhirnya pecah menangis melepaskan segala ketakutannya.
Allbiru segera mematikan mikrofon, meletakkannya kasar di meja, lalu berlari menghampiri Sabiru. Tanpa peduli pada orang-orang di sekitar, ia memeluk gadis itu erat-erat, membenamkan wajah Sabiru di lehernya.
"Sudah aman, Sabi... Sudah aman. Kakak di sini. Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi. Aku janji," bisik Allbiru di telinga Sabiru, suaranya kembali lembut seperti belaian angin sore. Namun, di dalam dada Allbiru, ada sesuatu yang berdesir hebat. Rasa lega bercampur dengan kemarahan yang belum sepenuhnya padam. Saat memeluk Sabiru, ia menyadari bahwa pelukan ini berbeda. Bukan lagi pelukan seorang kakak pada adik semata. Ada keinginan kuat untuk memiliki, untuk melindungi selamanya, dan rasa sakit yang luar biasa saat melihat air mata Sabiru jatuh.
Di kejauhan, lewat jendela kantor sekolah, Malia yang sedang menyiram bunga di taman melihat kerumunan itu. Ia tidak mendengar apa yang terjadi, tapi ia melihat Allbiru memeluk Sabiru dengan cara yang membuatnya teringat pada masa lalu. Pada suaminya. Pada kecelakaan mobil yang merenggut nyawa suaminya tepat di depan mata Sabiru yang masih bayi, sebuah trauma yang membuatnya menyerahkan Sabiru dulu. Entah mengapa, pemandangan itu membuat hati Malia berdebar kencang, seolah badai yang lebih besar sedang menanti di ujung pelangi.